
Lesya pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong. Kantin tampak lumayan padat karena kelas 10 dan 11 sudah istirahat.
"Bu, bakso dua sama es tehnya dua seperti biasa ya" Setelah memesan menu makannya, Lesya bersender dipojok kantin.
Dia mengutak-atik ponselnya dan mencari ada hubungan apa keluarganya dengan keluarga 'Rums'.
Tak lama pundaknya ditepuk oleh seseorang. Lesya menatap tajam orang tersebut. Dan yang ditatap hanya menyengir.
"Ini neng pesanannya" Lesya mengangguk dan mengambil pesanannya dari nampan.
"Makasih bu" Kompak mereka. Lesya memasukkan satu bakso besar ke dalam mulutnya dan melanjutkan pencariannya.
Luna yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Bakso ukuran 'bapak bakso' muat dalam mulut Lesya? Impresif!
"Nyari apaan sih? Pokus amat, liat dong" Lesya menyodorkan ponselnya kepada Luna.
Luna terkejut dengan pencarian Lesya yang tak masuk akal menurutnya. Lesya paham, terlihat wajah Luna yang kebingungan dengan pencariannya.
"Jadi gini, gw heran aja gitu ya kenapa gw dimusuhi oleh orang yang notabenya gak sama sekali gw kenal? Gw baru masuk tiba-tiba dia nyebutin nama panjang mami gw waktu itu, heran gak sih?
Emang dia ada masalah ya sama mami? " terka Lesya dengan nada yang pelan hingga hanya Luna dan dia yang mendengarnya.
Dia mengingat betul kejadian saat dirinya baru masuk kelas dan 'dia' menyebutkan nama maminya. Awalnya Lesya tak peduli, namun rasanya orang yang bernama 'Dila Rums' membuat Lesya jengkel dengan sikapnya.
Sering menuduhnya yang tidak-tidak, memfitnahnya bahkan mempermalukan nya di depan umum. Bahkan dia terkadang berpura-pura di-bully oleh Lesya.
Luna mengangguk setuju dengan pemikiran Lesya. Dia berpikir akan keanehan yang baru saja terlintas di benak Lesya.
"Nanti hubungin bang Alam kasih tau soal ini! Sementara gw bakal cari di laptop gw" Luna mengangguk dan mengirimkan pesan kepada Alam.
Kini kantin menjadi ramai akibat banyaknya siswa-siswi yang mengantri memesan makanan mereka. Lesya dan Luna berhenti makan ketika seorang siswa yang memanggil mereka.
"Permisi, kak Lesya sudah ditunggu pak Rio di ruang kepsek" ucapnya dan langsung pergi karena takut berhadapan dengan Lesya.
"Ditunggu? Buat apaan? " gumam Lesya pelan. Luna yang mendengar itu memijit pelipisnya.
"Bukannya lo bakal bawa wakil buat nuntasin masalah lo? " Okeh! Kali ini Lesya bodoh dan si*l!
Lesya terburu-buru berlari ke bawah hingga menjadi pusat perhatian orang lain selama dia berlari. Posisi kantin berada di lantai 2 sementara parkiran di lantai paling bawah.
bruummm...
Lesya dengan bodohnya menancapkan gasnya ketika sudah masuk ke dalam mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dia lupa mobilnya yang diparkir paling pojok harus melewati gerbang yang sudah ditutup. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, Lesya mendobrak pintu gerbang dengan kecepatan penuh.
Banyak siswa-siswi yang melihat itu karena kantin berkaca tembus pandang. Sementara ada juga yang melihat dari koridor sekolah.
Luna sendiri yang melihat dari pantulan kaca mengangga tak percaya. Bar-bar sekali kelakuan sahabatnya yang satu ini!
...~o0o~...
Lesya buru-buru memarkirkan mobilnya dan berlari ke arah rumah mewah nan megah. Satpam yang bertugas menggelengkan kepala sambil mengernyit heran kelakuan nona mudanya.
Setelah sampai di kediaman Grey, Lesya berlari menuju kamar Mayang yang terkunci di lantai bawah. Nihil!
Lesya memanggil satu pelayan untuk menanyakan keberadaan Mayang saat ini.
"Nyonya, Nona dan Tuan pergi ke sekolah Tuan Muda Non" jawabnya.
"Makasih bi, Lesya boleh minta tolong bi? " Bi Lilis mengangguk sebagai jawaban.
"Minta kunci motor sport Lesya yang sempat disimpan Bunda bi" bi Lilis mengambil kunci tersebut dan memberikannya kepada Lesya.
"Makasih bi, Lesya pamit ke sekolah ya" Lesya buru-buru pergi setelah mendapat jawaban dari bi Lilis.
"Nona muda sangat ramah walaupun seperti lelaki" gumamnya.
Namun, dia memodifikasi motor hadiah balapnya menjadi lebih cepat. Lesya selalu memakai motor itu ketika dikejar waktu.
brruuummm....
Lesya mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata dan mengabaikan sirene police yang mengejarnya. Bahkan semua polisi kehilangan jejak ketika mengikuti Lesya.
...~o0o~...
Dengan santai Lesya memarkirkan motornya di parkiran. Dia berakting seolah tak merasa salah dengan perlakuannya hari ini.
Dengan langkah seolah tak ada salah, Lesya meyusuri sekolah hingga kantin. Dia menjadi pusat perhatian karena sikapnya yang sudah di luar kendali.
Lesya memijit pelipisnya pening. Mengapa hari ini begitu si*l? Pikirnya. Niatnya yang mencari keberadaan Mayang terganggu mendengar celetuk kan musuhnya.
"Wow! Lo pikir keren ya klo lo ngerusakin pagar gerbang sekolah dengan kecepatan tinggi? " celetuk Dila.
Lesya terdiam. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Kupingnya mendengar ocehan Dila namun mulutnya malas menanggapi.
"Kenapa diam? Malu gak sih lo? Udah keluar masuk BK, bikin orang pusing! Beban! " pedas Dila.
__ADS_1
Semua orang menonton aksi perdebatan kedua rival ini. Termasuk Luna, Letha dkk, Angga, Mayang, Elena, anggota OSIS lainnya.
Lesya mengeluarkan smirk jahatnya, "Gw? Beban? Lo kali! Kalo ngeremehin diri sendiri gak usah libatin gw! "
Dila geram. Dia tak kuasa menahan tangannya yang akan menjambak rambut Lesya.
kreak!
"ARGGHH! " pekik Dila.
Lesya menepis tangan Dila yang hampir menjambak rambut nya. Dia membalikkan badan Dila dan menendang kaki Dila dengan kasar hingga terdengar suara patah tulang.
"Aman gak tuh tulangnya? "
"Keren cuy! Ahh, makin fans gw sama kak Lesya"
"Ada OSIS sama pemilik sekolah loh! Hancurin reputasi diri aja"
Banyak sindiran dan sorakkan dari fans kedua pihak tersebut. Bahkan Elena saja sempat bergumam, "Daebak! "
Luna memberi dukungan kepada Lesya berupa sorakkan, "Habisin aja Sa! Biar mamp*s dia"
Lesya makin mengencangkan tenaga tangannya menahan kepala Dila hingga menunduk. Rambutnya yang ugal-ugalan membuat penampilannya semakin keren.
"Gimana? Enak? Jangan pernah berurusan dengan gw klo gak mau mat* " peringat Lesya mendorong Dila kepada temannya.
"Dila! Are you okay? " tanyanya.
"Argghh! Kaki gw sakit! Gak bisa gerak! " pekiknya.
"Ya iyalah gak gerak kan lo lumpuh!" Dengan santai Lesya mengucapnya seraya membersihkan tangannya dengan kasar.
Semua melongo. Lumpuh? Separah itu? Tukang bully kalah dengan tukang badgirl?
"LUMPUH?! Gak mungkin! Gw masih bisa jalan" Lesya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Niat gw cuman nyari wali gw tapi lo ganggu gw, jangan salahin gw yang ngeladenin lo"
Setelah menguncapkan hal itu, Lesya pergi dari kantin dan mencari Mayang kembali. Dia tak sadar orang yang dia cari menonton aksinya sedari tadi.
Dila dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan lumpuh oleh pihak rumah sakit.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1