
Lesya meneguk minuman dan mengangkat kedua bahunya acuh. "WOY KALIAN NGAPAIN DI SINI? " tanya Amel yang menghampiri kedua gadis tersebut.
"Tidur lah! Gw gadang kemaren! " Lesya membuang begitu saja satu botol aqua di tong sampah yang ada. Beruntung tepat sasaran membuat Lesya tak perlu membuang lagi.
Amel duduk di sebelah Luna dan menatap Lisa yang masih berdiri menikmati langit biru. "Ngapa lo? " Lisa menggeleng cepat. "Gw ke sini aja ya kalo bolos? Enak! "
"Nyeh! Ini tempat gw sama Lesya bolos! Kalo lo mau pilih tempat lain aja sono! " Lisa menatap sengit Luna. "Tempatnya bukan punya lo kan? Punya om gw! "
Lesya malas menghadapi perdebatan yang unfaedah di depannya ini memilih menyandarkan tubuhnya di sofa dengan posisi yang masih duduk.
Amel menatap Lesya yang tertidur dan beralih menatap keenam lelaki yang hanya menyaksikan berharap membantunya melerai perdebatan unfaedah ini.
Elvan merasakan ada seseorang yang mengintip di dekat tebing rooftop. Tiba-tiba saja mata Lesya terbuka lebar dan berlari melompati rooftop membuat mereka kaget namun tidak dengan Elvan. "Sya?! "
Valen menepuk pundak Elvan agar mengejar Lesya. Di antara mereka berlima, hanya Elvan yang ahli bahkan lihai dalam memanjat, menyerang, bertindak.
Dengan cepat Elvan meloncati tebing dan menyusul Lesya yang sedang mengejar baju berjubah hitam. Bahkan Lesya sempat melihat mata orang tersebut yang dia yakini dia sangat kenal. "Tunggu! "
Orang tersbeut was-was dan perlahan berhenti di tebing gedung sekolah itu. Dia berbalik dan mendapati Lesya disusul Elvan yang menatap dirinya datar. Lesya dengan cepat membuka topi orang itu.
Namun dengan cepat orang tersebut memiting tangan Lesya dan dibalas oleh Lesya. Mereka terus menyerang satu sama lain di tebing rooftop itu.
Orang tersebut mendorong Lesya agar lebih mudah kabur dari oangdangan Elvan yang menyeramkan. Lesya yang di dorong mementok kembali dada bidang Elvan. "Aw! "
Dengan cepat sosok berjubah itu berlalu meninggalkan mereka berdua di sana. Elvan terus memperhatikan gelagat orang tersebut dari ujung rambut hingga kaki.
Lesya mengelus jidatnya dan menepuk dada bidang Elvan yang selalu membuat lawannya kabur. "Sial*n! "
__ADS_1
"Balik! " Lesya mencebikkan bibirnya beberapa detik seraya mengelus jidatnya itu. "Bisa gak sih jangan ikut campur urusan gw?! "
"Gak! " Lesya menatap aneh Elvan seolah bertanya. Dia memiringkan wajahnya agar menatap Elvan yang terus memandang ke arah depan. "Why? Please give me one reason! "
Elvan berhenti dan menatap Lesya sekilas. "Lo istri gw! " Lesya terdiam membeku. Apa maksud dari kata-kata ketbok di sampingnya itu? Pikir Lesya.
Elvan berjalan terlebih dahulu dengan gaya khasnya. Tangannya selalu dimasukkan ke dalam saku celananya. Sementara Lesya masih diam mematung di sana. "Balik! "
"Ha? Iyya tunggu! " Lesya mengejar Elvan yang berjalan jauh dibandingkan dirinya. Dia yang hampir jatuh di saat berhenti di hadapan Elvan ditangkap dengan baik oleh lelaki itu. "Huft! Thank" kikuknya.
Elvan mengangguk dan melanjutkan langkahnya berjalan menuju rooftop diikuti Lesya di sampingnya. Lesya masih terdiam memikirkan maksud dari kata Elvan tadi.
Bahkan perkataan tersebut terngiang-ngiang di telinga dan pikirannya. "Gak usah dipikirin! " datar Elvan yang tahu mengapa Lesya terdiam.
Bahkan dia tahu jika Lesya tak melihat langkahnya kali ini. Terbukti dari tapi sepatu gadis itu yang terlepas. Beruntung tak jatuh kembali.
Lesya yang melihat Elvan berhenti ikut memberhentikan langkahnya. "Why? " Dia tak menjawab justru berjongkok dan membenarkan tali sepatu Lesya yang terlepas itu.
Lesya yang sudah biasa pasrah saja jika tali sepatu nya diikat. Bahkan dia sendiri bingung kapan tali sepatunya terlepas. "Sejak kapan tali sepatu gw lepas? " gumam nya kecil.
Lesya mendongkak melihat Elvan yang kembali berdiri tegap dan memasukkan tangannya ke dalam saku. Rupanya dia tersadar jika Elvan jauh lebih tinggi dirinya. "Tinggi bener sih lo! "
Elvan kembali melangkah diikuti Lesya yang mengikuti dirinya dari samping. "Papan! Lo bisa gak sih jangan dingin-dingin sama gw? Bisa beku gw lama-lama! " sindir nya.
"Oke! " Lesya tercengang dengan jawaban Elvan. Jujur saja dia hanya bercanda saja. "Eum.. Gw bercanda Pan! Lo seriusan amat! "
Elvan menggedik kan bahunya acuh saja mendengarnya. Dia tahu jika Lesya hanya sekedar bercanda saja dengannya. Dia dapat membedakan yang mana bercanda dan yang mana yang serius hanya saja wajahnya saja yang selalu serius.
__ADS_1
Elvan mendekatkan wajahnya ke arah Lesya membuat Lesya memundurkan wajahnya kebelakang. "Mau apa lo? " tanya Lesya sedikit gugup.
Netra mata Lesya dan Elvan bertemu bahkan menatap lekat satu sama lain. "Serius juga gak papa! " Lesya tercekat sedetik dengan senyuman simpul Elvan.
Fyuhh!
Lesya mematung seketika melihat perubahan Elvan hanya karena sindiran nya tadi. Dia berpikir sebenarnya siapa yang merasa tersindir? Mengapa dirinya ikut tersindir?
"Ayok! " Lesya tersadar dan kemudian melangkah kembali menyusul Elvan yang berada beberapa langkah di depannya. "Apa ini namanya senjata makan tuan? Tapi dia bukan tuan gw kan? " gumamnya.
Elvan tersenyum kecil mendengar gumaman Lesya yang menurutnya sedikit menggelikan. Senyum kecilnya luntur ketika dirinya berbalik dan melihat sosok berjubah merah memberinya jempol ke bawah berniat meremehkannya.
Dia tak peduli yang terpenting dia pasti akan membuat orang berjubah merah tersebut kalah hingga memohon ampun kepadanya nanti nya. Dengan cepat dirinya melangkah menatap dingin orang tersebut.
Bukan hanya Elvan namun Lesya ikut menoleh karena merasa penasaran dengan pandangan Elvan yang terlalu banyak berbalik. "Lo kenal dia? " tanya Lesya menunjuk sosok tersebut dengan jari telunjuknya.
Elvan menatap Lesya seraya mengangkat alisnya satu ke atas. Dia mengangguk dan melanjutkan jalannya. "Siapa? Kok gw kayak kenal ya? Tapi gw lupa siapa! "
Elvan menatap Lesya seolah bertanya 'sejak kapan mereka kenal? ' Pikirnya. Lesya berpikir sejenak karena dia tahu kode dari Elvan itu. "Kalo gak salah dia itu sekretaris terkenal itu dulunya bukan? Sekarang udah enggak lagi ya? Kenapa? "
"Di rumah gw ceritain! " Lesya mengangguk. Mereka meloncat dari tebing menuju rooftop lagi dan menemui sahabat mereka yang menunggu dengan perasaan cemas. "Sya! "
"Yo.. Gw balik dengan utuh dan selamat! " Luna menatap aneh Lesya seolah bertanya. "Ngapa tiba-tiba lo loncat? Kaget gw! "
"Ada tikus sama kucing berantem di tebing! " Luna yang masih tak paham bertanya kembali, "Tikus? Kucing? Itu doang? " Leon mengetuk kepala Luna agar tak lemot. "You know kucing and tikus? "
Luna meringis kecil. "Iya gw tau elah! " Valen teringat dengan kejadian semalam yang tak terduga itu. "Bentar! Kalian beneran yang kema-ren? "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗