
Lesya berbicara seraya mengelus motor kesayangannya itu. Dia memakai helmnya lalu melaju pergi melewati salah satu jalan pintas sekolah.
Jika tak mampu melewati pagar depan dan belakang sekolah, Lesya pasti akan melewati jalan pintas lain yang hanya dapat digunakan oleh keluarga Grey.
Sebenarnya dia tak peduli jika itu dikhususkan untuk keluarga Grey. Toh dia sering menggunakan jalan itu walau akhir ini tidak.
Bahkan dirinya saja tak tahu jika itu dikhususkan untuk keluarga Grey. Dia asal saja memakai jalan tersebut di saat keadaan genting.
Beruntung ada sedikit celah gerbang yang terbuka. Dan celah tersebut sangat pas dengan motor sport milik Lesya.
brumm...
Berhasil! Lesya segera melajukan motor sport miliknya itu ke arah jalan yang lumayan sepi. Lesya tiba di satu gang yang dipastikan tak berpenghuni dikarenakan tak adanya satu penduduk yang lewat.
Gadis tersebut mengecilkan suara motornya. Bahkan dia dengan sengaja menekan tombol hitam di motor sportnya itu. Alhasil motor sport yang besar yang ditumpangi Lesya tersebut tak mengeluarkan suara sama sekali.
Tak bersuara bukan berarti tak melaju. Motor sport itu tetap melaju seperti biasanya. Namun, suara klakson motor tersebut tak berbunyi.
Motor Lesya berhenti melihat jalan yang diisi satu pria yang asik merokok seraya membelakangi Lesya. Dia duduk di jembatan beton dan menghisap rokoknya.
"Heh!! " Lesya membelokkan motornya dan pergi dari tempat itu. Pria tersebut tak menyadari keberadaan Lesya di sana.
Malahan, pria tersebut masih asik bersantai menghisap asap rokok yang ada di tangannya dan memejamkan matanya.
Lesya membenci pria yang baru saja dia temui tadi walau hanya sekilas. Namun, dia sadar seharusnya dirinya tak membenci dia. Dengan segera dia menepis pikiran bencinya dan fokus mengendarai motor sport nya.
~o0o~
Lesya berjalan seraya membawa satu buket bunga mawar putih di tangannya. Dia ingin mengunjungi pemakaman Agra di TPU khusus.
Setelah tiba di pemakaman Arga, Lesya berjongkok dan berdoa untuk Arga yang sudah tenang di alam sana. Setelah berdoa, Lesya meletakkan satu buket bunga yang dia bawa sebelumnya.
__ADS_1
"Hai pih, Rara dateng ke sini bawa bunga nih. Semoga papih di sana tenang terus ya biar Rara di sini bahagia" lirih Lesya.
Tak terasa satu lelehan bening berhasil lolos dari pelupuk mata cantiknya. "Pih, papi tau? Rara mau banget ikut papi ke sana tapi, Rara gak bisa tinggalin Ara sendiri di sini"
Lesya tersenyum dan mengelus batu nisan sang ayah. Memori kenangan di mana dirinya bermain kejar-kejaran di halaman rumah kembali melintas di benaknya.
"Papi tau? Ara sekarang benci sama Rara! Tapi Rara yakin di lubuk hati yang paling dalam, Ara masih sayang sama Rara dan Rara yakin itu! "
"Rara gak bisa biarin orang itu berkeliaran di mana-mana! Dan Rara bakal pastiin kalo Gilang dan kakaknya itu akan menyusul papi ke sana oke? Dan Rara pastiin orang itu akan habis di tangan Rara sendiri! "
Lesya menatap kosong ke arah batu nisan sang ayah. Semua memori dimana dia bahagia memiliki superhero seperti Arga hingga tragedi dimana hilangnya sosok tersebut memenuhi pikirannya.
Lesya menepis lelehan bening yang jatuh di pelupuk matanya. Dia menatap datar pohon besar yang berada di ujung TPU khusus tersebut.
Setelah merasa lega karena dapat bertemu dengan Arga walau hanya tanah dan batu, Lesya pergi dari sana menuju motor sport-nya. Tak lupa dirinya sudah berdoa dan pamit kepada Arga.
Matahari sudah berada di atas. Dan motor sport Lesya perlahan meninggalkan area TPU tersebut. Dapat dia tangkap, di tengah perjalanan, dirinya diikuti mobil hitam yang dipastikan Lesya kenal.
Lesya menarik senyumnya miring dan melajukan motor sport-nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bahkan sirene polisi mengikuti dirinya hingga mobil yang mengikutinya terpaksa berhenti.
Lampu merah masih belum berganti. Lesya yang berhasil menerobos kendaraan di belakangnya hingga dirinya tak sengaja berada di samping mobil yang digunakan Angga, Mayang dan Elvan.
Dirinya mengangkat kacanya hingga terlihat jelas manik matanya. Karena disebelah kanannya terdapat truk yang besar, sementara kirinya mobil Angga, Mayang dan Elvan, Lesya membuka helmnya diam-diam.
"Hah! Gerah banget gw anj! " Lesya melirik kanan kirinya seraya mengibaskan tangannya ke wajahnya.
Polisi yang berlari mencari keberadaan Lesya yang terjebak di lampu merah, celingak-celinguk tak jelas. Bahkan sudah ada lima polisi yang berada di depan berjaga-jaga.
"Di depan ada lima mobil polisi, yang nyari dua mobil polisi! Kabur gak ya? Terobos slurr! " teriak Lesya memakai helmnya kembali dan menyalakan mesinnya.
Para polisi kembali ke mobil mereka dan mengejar Lesya yang menertawakan mereka. "TANGKEP KALO MAMPU! "
__ADS_1
Lesya tertawa kecil dan melajukan motor sport-nya menerobos lampu merah. Sontak 5 mobil polisi ikut mengejar Lesya. Sayangnya mereka tertinggal jauh semua dari Lesya.
Lesya tertawa kecil di perjalanan karena berhasil membuat polisi kehilangan jejaknya kesekian kalinya. Bahkan tak hanya itu, mobil yang ditumpangi Angga, Elvan, dan Mayang juga kehilangan jejak.
Sebenarnya Elvan yang tiba-tiba saja dipanggil pulang oleh Angga karena urusan bisnis. Setelah selesai permasalahan bisnis, mereka menjemput Mayang di butik nya.
Dan tanpa sengaja mereka melihat sosok Lesya yang asik bermain kejar-kejaran dengan pak polisi. Mereka geleng-geleng kepala saja melihatnya.
Lesya berhenti di salah satu minimarket dan membuka full face helmnya. "Huh! Panas! Gerah juga ya hari ini! "
"Beli minum lah! " Lesya turun dan memasuki minimarket tersebut. Setelah membeli satu minuman dingin cola kesukaannya, Lesya keluar dan duduk di motornya itu.
Karena benar-benar haus, Lesya membuka cola dingin tersebut dan meneguk nya. "Seger! Gw ke RS gak ya? "
"Tapi ntar diusir lagi kayak kemaren! Udahlah nelfon bang Candra aja kali ya? Beh pinter otak lo Sya! " bangganya.
Dengan cepat dia mengambil ponsel di saku celananya dan menekan tombol 'call' setelah mendapati kontak Candra.
📞 Halo? Kenapa Sya?
📞 Bang adek gw gimana?
📞 Oh, dia udah mendingan kok! Malahan lusa dia boleh balik.
📞 Oh yaudah, minta jagain ya! Janlup kabarin gw terus.
📞 Siap queen udah ya mau PDKT-an dulu byee~
tuttt...
"Meh! Dasar bucin! Kak Sarah mulu otaknya! Gw gorok mamp*s lo! " gerutu Lesya kecil.
__ADS_1
Setelah bertelefon dengan Candra, dengan cepat Lesya menaruh ponselnya kembali di sakunya. Dia langsung meremas cola kaleng tersebut hingga tak terbentuk.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗