
"Lo apain sahabat gw nyampe gini?! " tanya Luna beralih menatap tajam Elvan. Lelaki yang ditatap tajam oleh Luna menggedikkan bahunya acuh saja. Untuk apa dia takut sementara bukan dia yang membuat Lesya begini?
"Kenapa bisa gini sih Vano? Kenapa gak jagain Lesya baik-baik sih?! " omel Mayang beralih meninju lengan kekar sang putra dengan kesalnya. Tentu saja Elvan hanya meringis kecil saja dan menatap aneh bundanya. Padahal dia tak mencari masalah apapun dengan Lesya mengapa dirinya yang tersakiti di sini?
Elena baru saja tiba dengan satu baskom air dengan cepat memberikan baskom tersebut kepada Mayang. "Bundaa.. Nih pesanannya! Oh iya, kalau sempet gw tau lo apa-apain Lesya nyampe dia gini gw gorok lo dek! " ujar Elena mengepalkan tangannya membentuk tinju dan mengarahkannya ke depan wajah Elvan.
"Tubuhnya juga kok gemeteran gini sih? Mukanya panas tapi tangannya dingin, kamu apain sih menantu bunda nyampe begini sih Vanoo.. " tanya Mayang seraya mengkompres kain basah dan meletakkannya di kening Lesya.
OKE FIKS, MULAI HARI INI ELVAN ADALAH ANAK PUNGUT DI SINI!
Luna yang berdiri di sebelah Elena mendelik tajam sedetik dan menatap seolah meminta jawaban dari Elvan. Dia pernah melihat Lesya bersikap begini. Terutama ciri-ciri yang disebutkan Mayang jika tangan Lesya dingin sementara wajahnya panas. Oh no?!
"Jangan bilang kalau Lesya trauma lagi?! "
"Hah?! Trauma?! " pekik Mayang dan Elena bersamaan. Luna mengangguk kecil. Sementara Elvan mengangkat bahunya karena memang tak tahu. Dengan cepat lelaki itu mengambil laptop dan membuka vidio yang mereka tonton sebelumnya.
Luna, Mayang, dan Elena mendekatkan diri kepada Elvan yang memutar vidio yang berisi Mily dan Gilang melakukan hal keji. Sontak saja Luna menghentakkan kakinya sekali merasa kesal dengan isi vidio itu. Memang dia sudah tak suci matanya namun itu karena dia tak sengaja mengikuti Lesya ke bar saat remaja.
"Kan benar! Lagian ngapain nih vidio ada di laptop Lesya?! Gw yakin nih pasti si Lesya bayanginnya mukanya tante Mily itu tante Mila yang dulu, wess gak bener nih! " oceh Luna geleng kepala.
"Hah? Maksudnya ini Lesya trauma gara-gara apaan sih? " bingung Elena yang masih belum paham maksud Luna. Mayang? Tentu saja wanita itu paham namun tak sepenuhnya. Berbeda dengan Elvan yang mulai mengerti maksud Luna.
"Hadehhh kak-kak, gini Lesya tuh dulu waktu kecil penasaran banget sama bokap kandungnya! Waktu diselidiki bareng gw, Leon, bang Alam sama bang Cakra, gak sengaja nemu CCTV yang isinya bokapnya Lesya ngawe maminya! Lesya syok waktu itu nyampe mau dibawa ke rumah sakit cumen, Lesyanya aja yang kabur nyampe pindah negara! Dari Indonesia ke Belanda, biasa dia holkay! Terpaksa bang Candra yang periksa eh ternyata, rada punya trauma Lesya! Sarannya sih jangan nemuin orang yang bersangkutan atau gak ingetin dia masalah vidio ini! Mending disimpen aja dah di laptop orang siapa tau Lesya butuh buat jadi bukti! " ceplos Luna namun memang benar faktanya.
__ADS_1
Mereka mengangguk paham dengan penjelasan Luna. Namun mereka rada geli dengan kata-kata menyeplos Luna yang asal bicara saja. Setelah berbincang sedikit, Luna pamit pulang dikarenakan langit sudah gelap alias sudah malam.
Tak berbeda jauh dari Luna, Elena dan Mayang juga pamit ke kamar mereka masing-masing dan menitipkan Lesya kepada Elvan. Sementara Letha? Gadis itu sudah pamit dan seharian ini akan menghabiskan waktu di mansionnya dan kedua temannya. Tentu saja dia tak tahu mengenai masalah ini bahkan sedari kecil!
Elvan beralih mendekati Lesya dan berbaring di samping gadis itu. Elvan juga tak menyangka jika Lesya akan segininya jika diperingatkan mengenai asal mula dia sendiri. Elvan paham sekarang mengapa sifat Lesya berandalan begini. Selain dari keturunan dengan sikap sang ayah kandungnya, Lesya juga kekurangan kasih sayang dari orang sekitarnya. Dan akhirnya, Lesya menjadi berandalan sekolah sekaligus pemilik gangster besar hanya karena ingin melindungi dirinya sendiri agar tak terlihat lemah di hadapan orang lain termasuk orang di dekatnya.
Mengelus pipi Lesya, Elvan sedikit terkejut dengan tindakan Lesya yang memeluknya dalam keadaan masih menutup mata. Membalas pelukan, Elvan menepuk-nepuk pundak Lesya agar deru nafas gadis itu kembali tenang.
"Ssttt, udah jangan pikirin! " bisik Elvan.
Lesya tak menjawab karena memang tak mendengar. Namun tubuhnya yang merasakan kehangatan, membuat lebih tenang dari yang sebelumnya. Tubuh Lesya masih gemetar dan hal itu dapat dirasakan Elvan. Lelaki itu beralih menc*um kening sang istri dengan lembut dalam jangka waktu yang sedikit lama.
...~o0o~...
Pagi hari sudah tiba dan matahari telah terbit. Namun saat ini seorang lelaki sedang membujuk seorang gadis agar tetap tinggal saja di rumah. Yah, orang itu Elvan dan Lesya! Sedari tadi mereka bertengkar hanya karena mempermasalahkan pendapat mereka yang bertabrakan. Lesya tak ingin tinggal di rumah. Gadis itu ingin beraktivitas seperti biasanya. Jika Elvan, lelaki itu ingin Lesya menenangkan diri saja di rumah. Sementara dia juga memiliki urusan mengenai pergantian OSIS nanti.
Sepertinya Elvan yang tembok atau karena memang sengaja bertahan agar tak tergoda dengan wajah Lesya, Elvan tetap menggeleng kekeh ingin Lesya di rumah saja. "Lo masih belom sembuh total! Nih jidat lo aja masih anget, udah elah nurut di rumah aja! " tolak Elvan.
Lesya melotot tak terima. Gadis itu merasa terejek seolah dirinya sangatlah lemah. Menghempaskan tangan Elvan kasar, Lesya menatap galak Elvan. "Heh, lo pikir gw anak kecil hah?! Nih sini coba tangan lo rasain, udah mendingan kok tenang aja oke? Janji deh gak buat ulah! " ucap Lesya seraya menempelkan punggung tangan Elvan di keningnya.
"Yaudah-yaudah, sana mandi! Gw tunggu di ruang makan, lebih dari 10 menit gw tinggal! " ucap Elvan pasrah dengan nada mengancamnya. Lesya bersorak kegirangan dan mengencup pipi Elvan sekilas saking senangnya dia.
Cuuppps!
__ADS_1
"Aaaa.. Makaciww Papan singa echa, jadi sayang deh! " girang Lesya lalu berlari kecil ke kamar mandi agar tak terlambat.
Elvan terkejut? Tentu saja! Ini pertama kalinya Lesya mengencupnya murni tanpa paksaan. Senyumnya lolos terbentuk dengan manis dan geleng-geleng kepala dengan kelakuan kekanakan Lesya.
"Ada maunya baik, kalau gak ada maunya galak! " cibir Elvan terkekeh kecil. Untung saja Lesya tak mendengar gumaman yang bersifat sindiran Elvan itu. Jika sempat dengar, mungkin gadis itu mengambek atau juga marah pada Elvan.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Lesya keluar dengan pakaian seperti biasanya bersekolah. Elvan sebenarnya tak masalah, toh selama ini pihak sekolah pasrah saja asal Lesya bersekolah bukan bolos!
"Pagiii semuaaa.. " sapa Lesya setelah tiba di ruang makan keluarga Grey. Di belakang Lesya sudah ada Elvan yang terlihat seperti bodyguard untuk Lesya.
"Pagi juga.. " balas mereka serempak.
"Loh Sya lo sekolah? Emang udah mendingan lo? " tanya Alam yang kebetulan menginap bersama sang istri, Elena. Lesya menatap tajam Alam dan meninju lelaki itu keras di bagian lengan.
"Ngeremehin gw bye one bang! " ketus Lesya berjalan duduk di kursinya diikuti oleh Elvan. Alam meringis kecil saja dan mengusap lengannya yang ditinju keras oleh Lesya. Jangan main-main dengan tinjuan Lesya gays, soalnya sangat keras!
"Aduhh Sya, emang kamu udah mendingan hem? Nanti kalau kenapa-kenapa di sekolah gimana? " khawatir Mayang. Lesya tersenyum samar dan mengerti dengan kecemasan Mayang padanya. Dia bahagia akan itu!
"Kan nanti ada Elvan juga bunda, jadi jangan cemas oke? Lagian bosen tau nanti kalau di rumah doang. " ucap Lesya beralih melempar ucapannya kepada Elvan. Mayang menghela nafasnya pasrah saja dan menatap Elvan tajam.
"Vano, pastiin Lesya gak papa atau gak boleh--- "
"Iya bundaaa.. Vano tau, gak boleh pake fasilitas kan? Iya Vano ngerti. " malas Elvan mendengus kasar. Sudah lama sebenarnya ancaman itu bahkan sedari SD. Namun saat SMA alias menjabat sebagai ketua OSIS, Elvan diharuskan untuk berubaniih alias ancaman itu sudah jarang terucap. Dan sepertinya Lesya kali ini membuat ancaman itu kembali.
__ADS_1
Kedua kalinya, OKE ELVAN HANYA ANAK PUNGUT! eh salah, becanda ya kawan-kawan, wkwk..
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗