
Lesya harus sabar saat ini menghadapi pertanyaan rintangan Letha sekarang. Harus benar-benar pasti dan tak menimbulkan kecurigaan nantinya. "Kan dia ke butik sementara gw ke rumah! Beda arah dan tujuan dong? Udah gak usah nanya-nanya gw mau balik terus makan! "
Letha menahan tangan Lesya yang hendak pergi. "Bentar dulu kak! Gw mau nanya 2 pertanyaan lagi! Lain deh sama pertanyaan gw yang tadi! " ucap Letha yang menarik Lesya agar duduk kembali.
"Jadi? Apa lagi yang mau lo tanya? "
"Eum, soal tadi pagi. . . Apa lo ada hubungan sama Elvan? "
Deg!
Letha dapat merasakan jika atmosfer kelas tiba-tiba menjadi sunyi. Lesya dapat merasakan jantungnya yang berdetak cepat akibat pertanyaan Letha. Dia juga merasakan jika jantungnya itu hampir loncat dari posisinya. Sangat gugup!
"Gw. . . G-gw ma-na mungkin punya hubungan sama dia! Idih amit-amin! Eh, amit-amit! " elak Lesya. Letha memicingkan matanya tak percaya. "Masa sih? Gw sih kurang percaya tapi gw juga lega sama jawaban lo kak! Moga aja ucapan lo bener! " lega Letha.
Lesya hanya terdiam saja. Alasan itu terlalu munafik menurutnya! Dia dapat lihat dari tatapan mata Letha jika tak ada perasaan yang tersirat di dalamnya. Menautkan alis berpura biasa saja, Lesya hanya tersenyum saja menanggapinya.
Ting!
Lesya merogoh sakunya dan membuka kontak Elvan yang baru saja menghubungi dirinya. Raut Letha yang penasaran siapa yang mengirimkan pesan hingga raut wajah Lesya berubah pun penasaran. "Siapa kak? Pacar ya? "
Lesya terdiam dan menatap Letha. Apa pacar? Idih, ogah dia mah! Pikir Lesya bergidik ngeri. Padahal Elvan hanya menanyakan keberadaannya saja bukan yang lain.
Setelah membalas jika dirinya berada di kelas, Lesya menggeleng menjawab pertanyaan Letha. "Yakali pacar! Ogah gw mah! " ketus Lesya. Letha hanya tersenyum simpul saja entah kenapa. "Kalau pacar juga gak papa! " godanya.
Lesya menatap aneh adiknya itu. Katanya dia tak boleh mendekati Elvan, lah ini? Oh iya, Letha kan tak tahu yang mengirim pesan itu sebenarnya Elvan!
"Jadi satu pertanyaan lo terakhir apaan? " tanya Lesya mengalihkan pembicaraan. Bisa berabe dan panjang urusannya saat menyangkut perkara keluarga Grey.
Letha mencebik. "Aelah kak, lo mah ngalihin pembicaraan! Gak seru! " cebiknya. Lesya memutar bola matanya malas. Matanya mendelik di saat Elvan kembali mengirimkan pesan jika dia akan menyusul Lesya di kelas.
__ADS_1
"Kak! " pekik Letha yang melihat Lesya melamuni sesuatu. Lesya tersadar dan mengusap telinganya. "Kenapa lagi? "
"I-itu. . . Pertanyaan terakhir gw. . . " Lesya menautkan alisnya melihat Letha yang begitu serius. "Apa? " tanyanya.
"Apa reaksi lo saat ma-mi gak ada? Gw gak liat lo sedih, gw gak liat lo terpukul, dan juga gw gak liat lo merasa kehilangan mami! Padahal, gw merasa kehilangan kenapa lo enggak? A-pa lo gak sayang sama ma-mi? "
Lesya terdiam membeku. Salah satunya, membicarakan keluarganya adalah hal yang sensitif menurutnya. Jauh dilubuk hati, dia amat menyayangi sosok Mila itu.
Lesya mengalihkan pandangannya dan menahan tangisnya yang hampir pecah. Sudah beberapa minggu, dia akhirnya diungkitkan perihal kepergian Mila oleh adiknya sendiri, Letha!
"Gw sayang! Gw sedih! Gw terpukul! Gw merasa kehilangan! Tapi gw sadar, apa dengan gw merasa begitu. . . Mami akan bahagia? Enggak! Dia makin gak tenang di sana! Jadi gw dengan ikhlas dan tulus membiarkan mami pergi dan gw ikut bahagia di dunia ini! Itu maksud dari rasa sayang gw sama mami! " jawab Lesya.
Letha tertegun mendengarnya. Dia juga mencoba agar dapat ikhlas menerima semua ini. Namun terkadang, dia merasa kesepian dan hampa. "Lo benar kak! "
Hening!
"Ekhem! "
"Elvan! " lirih Letha yang tak percaya hadirnya lelaki itu. Lesya hanya terdiam membeku tak percaya jika Elvan benar-benar akan menyusulnya. Dia kira Elvan hanya bo'ongan!
Elvan menhampiri kakak beradik kembar itu dan menarik Lesya ke arahnya. "Pulang! " ucapnya. Lesya hanya diam dan menatap Letha yang tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ka-lian? "
Elvan tak menjawab. Suara Letha tercekat begitu saja. Sementara Lesya memejamkan matanya erat dengan wajah yang sedikit menunduk di dada bidang Elvan. "Ayo! " ajak Elvan diangguki oleh Lesya.
"Tha, du-duluan ya! " pamit Lesya cepat. Dengan cepat Lesya menarik pergelangan tangan Elvan agar dapat kabur dari hadapan Letha. Panjang urusannya!
Sementara Letha terduduk lemas dengan apa yang dia dengarnya tadi. Satu lelehan bening sudah lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Dia segera beranjak dan akan pergi menemui kedua temannya yang tak lain Nayla dan Amel.
__ADS_1
___________
Lesya mengatur nafasnya setelah tiba di parkiran dan menghentikan langkahnya. Dia melepaskan tangannya yang menarik Elvan dan memegangi arah dadanya yang hampir loncat. "Hahhh! "
Berbeda dengan Elvan yang mengambil botol minumnya lalu menyodorkan nya kepada Lesya agar lebih tenang. "Minum dulu! " ucapnya.
Lesya hanya menurut dan matanya menatap tajam Elvan. "Apaan sih lo main nyusul-nyusul! Kan gw jadi gak tau harus gimana sama Letha nanti! Untung dia masih belum tau gw itu siapa lo! Coba kalau udah? Bisa panjang lagi urusannya! Kan gw gak mau nambah-nambahin masalah! Banyak masalah gw yang belum kelar dan ini lagi! Kan jadi numpuk masalah gw! " galak Lesya.
Elvan hanya mengangguk paham dan membuka pintu mobilnya. "Masuk! " Lesya berdecak malas dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Dari pada dirinya dilihat oleh orang lain? Tambah masalah kan?!
Selama perjalanan tak ada pembicaraan yang terdengar. Hanya terdengar suara mesin saja! Hingga Elvan yang melihat raut wajah Lesya yang ngambek, menghela nafas. "Masih marah? "
Menoleh ke arah Elvan, Lesya melipat kedua tangannya di dada. "Menurut lo?! Kan gw udah bilang jangan! Ya jangan dong! " ketusnya.
Elvan menghela nafasnya lagi. "Mana gw tau ada adek lo di sana! " ucap Elvan membela dirinya sendiri. Lesya berdecak malas. "Tapi kan gw udah bilang jangan ya jangan?! " kesalnya.
"Dengerin gw! Gw tuh buru-buru di suruh bunda ke rumah! Makanya gw ngajak lo sekarang! " jelas Elvan. Lesya mengeryitkan alisnya bingung. "Bunda nyuruh apaan sama lo? "
"Gak tau makanya gw mau pulang! " jawab Elvan. Lesya mendelik. "Nah kenapa lo harus jemput gw di kelas?! Kan lo bisa aja langsung pulang tanpa gw kan? " ujar Lesya tak ingin kalah.
"Nanti lo naik apa? " tanya Elvan.
"Ojek, taksi, bus, atau gak gw bisa jalan kaki gampang kan? " enteng Lesya.
Elvan berdecak malas. "Gw bukan tipikal orang yang ninggalin perempuan sendirian! " Lesya mengerutkan alisnya bingung. "Maksud lo? "
"Kalau lo berangkat sama gw, pulangnya ya sama gw juga lah! " kata Elvan. Lesya berdecak malas dan dirinya tak ingin termakan dengan ucapan manis Elvan. "Terserah lo! " finalnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1