
Lesya yang melihat Elvan menyimpan tugasnya merasa bersalah. Dia tahu jika tugas sebagai OSIS, bisnis cafe tak mudah. Ditambah tugas sekolah yang dipastikan pelajaran aljabar.
"Maksud gw kemaren? " tanya Elvan datar dan menatap manik Lesya dalam. Dirinya masih belum percaya Lesya belum tahu itu semua.
Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara angin berhembus saja. Lesya dan Elvan sama-sama tak mengucapkan satu suara pun.
Hingga Lesya mengangkat suaranya, "Kalo sibuk nanti aja bilangnya" ucap Lesya hendak merangkak ke turun dari kasur.
"Gw cuman nanya aja" Lesya menatap aneh Elvan, "Jadi, maksud dari ucapan lo? " Elvan melipat tangannya di dadanya, "Emang gak boleh kalo gw tau rahasia istri gw sendiri? "
Lesya terdiam kaku. Istri? Rahasia? Apa Elvan menganggap-nya sebagai seorang istri? Dan rahasia, apa Elvan tahu rahasianya? Pikir Lesya.
Suasana kembali hening. Jika Elvan masih menunggu jawaban dari Lesya. Sementara Lesya masih terdiam kaku dengan ribuan pertanyaan di benaknya.
Lamunan Lesya terbuyar disaat Elvan memegang tangannya dan memberinya satu kartu hitam. Lesya menatap Elvan, "Ini? "
Elvan mengangguk, "Klo butuh apa-apa kasih tau gw" datar Elvan lalu mengambil buku dan laptopnya.
Dia segera turun dari ranjang dan menatap Lesya, "Jangan ganggu gw dulu! " Lesya tak menjawab. Dia masih terpaku dengan ucapan Elvan barusan.
Selama ini, dia tak pernah diberikan kartu. Gilang selalu menghamburkan uang dengan wanita lain di luaran sana.
Sementara maminya? Jangankan blackcard! Kartu ATM aja disita Gilang! Jika Letha? Dia memiliki empat blackcard dari Lesya.
Dulu, Lesya memiliki dua blackcard dari Arga. Begitu juga dengan Letha! Dan semua kebutuhan mereka selalu dipenuhi oleh Arga.
Namun, karena Arga tiada, Lesya memberikan dua blackcard miliknya kepada Letha. Alhasil Letha memiliki empat blackcard.
Dan disitulah, dia mulai bekerja memenuhi kebutuhan dia, Mila dan Letha. Dia juga harus mengirit kebutuhan yang benar-benar tak diperlukan. Dan kini, posisi Arga tergantikan oleh Elvan.
Lesya melirik Elvan yang fokus mengerjakan tugasnya dan menatap kembali blackcard yang diberikan oleh Elvan. Seriously?
"Masih kurang? " datar Elvan tak melirik Lesya. Lesya menoleh kembali, "E-enggak"
Lesya menyimpan blackcard tersebut di laci mejanya. Dia mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Mereka masih sibuk dengan tugas mereka hingga pukul 9 malam. Bahkan mereka melewati acara makan malam mereka saking sibuknya.
Lesya melirik jam di dinding yang ada di sana. Dia melotot kan matanya tak percaya. Dari jam 5 hingga 9? Lama juga ya rupanya?
Lesya yang sudah menyelesaikan sebagian tugasnya, membereskan buku-buku miliknya dan meletakkan di atas nakas.
Dia melirik ponselnya yang sudah lama dia isi. Penuh! Lesya mengambil dan membuka pesan-pesan whatsapp yang ada.
📩Lara
Kak, rumah sepi gak?
Lesya mengernyit bingung. Tumben sekali Letha bertanya seperti itu? Dengan cepat, Lesya membalas pesan Letha.
^^^📩Kak Lyra^^^
^^^Gak tau, gw di rumah Luna^^^
Letha yang melihat pesan Lesya dari sebrang, mengerutkan keningnya. Sekarang, dia berada di kediaman Fyo dan tak menemui siapapun.
"Bi... Mang... " Bi Ana yang kebetulan lewat di sekitar Letha, segera menghampiri anak majikannya itu.
"Tuan sama nyonya keluar Non, sudah dari tiga hari yang lalu" Letha berpikir sejenak. Apa mungkin perjalanan bisnis? Atau pekerjaan?
Bi Ana yang melihat anak majikannya melamun, segera menyadarkan Letha, "Nona, "
Letha tersadar, "Iya bi? Kalo kakak mana bi? " ceplos Letha. Bi Ana yang disuruh Lesya untuk menyembunyikan statusnya sekarang bingung menjawab pertanyaan Letha.
"Kata kakak, dia ada di rumah Luna ya? Emang bener bi? " tanya Letha memastikan. Dia memang agak ragu dengan jawaban Lesya yang berada di rumah Luna.
Bi Ana dengan ragu mengangguk, "Iya Non, Non Lyra bilangnya nginep di rumah temennya"
Letha mengangguk. Karena berpikir bahwa dia akan bosan jika dirumah sendirian saja, dia memutuskan pergi ke mansion bersama temannya saja kali ini.
"Yaudah kalo gitu bi, Lara pamit pergi lagi ya" pamit Letha. Bi Ana mengangguk saja.
__ADS_1
Setelah memastikan pergi, bi Ana menghela nafas lega. Dia melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga di kediaman Fyo.
...~o0o~...
Kembali kepada Lesya yang sudah membaca pesan yang tak penting menurutnya untuk dibaca. Hingga dia menemukan pesan dari nomor yang tak dikenal.
📩+62821********
Ternyata kau tau yah? Kalo mamamu
sama sekali tak diculik?
(read)
Lesya melotot. Tentu saja dia tau! Lesya sengaja meletakkan alat pelacak dan penyadap suara di tubuh Mila dan Letha.
Lesya menggerutu di dalam hati tentunya. Namun, mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah untuk mengirimkannya pesan ini.
Elvan yang sudah membereskan tugas-tugas dan pekerjaannya mengernyit bingung melihat Lesya yang berkomat-kamit.
Lesya ingin sekali rasanya membentak, mencaci maki bahkan menghajar orang yang berani mengusik kehidupannya.
Lesya bahkan tambah melotot melihat pemilik nomor memblokir nya. Padahal dia ingin membalas pesan tersebut.
"AABANGSAATTT! " Habis sudah kesabaran Lesya. Dia langsung melemparkan ponselnya ke bawah dengan kencang.
Tak hanya dilempar. Bahkan, Lesya menginjak-injak ponselnya hingga benar-benar hancur. Setelah puas, dia menghela nafas panjang.
"Sehat lo? " Dua kata itu membuat Lesya tersadar bahwa dirinya tak sendiri. Namun ada Elvan!
Lesya melirik Elvan, "Menurut lo? " Elvan mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia beranjak dan pergi ke bawah diikuti Lesya di belakangnya.
Seperti biasa, mereka tetap melakukan ritual makan malam walaupun telat. Lesya melahap makanannya lebih lahap karena benar-benar emosi dengan pelaku pengirim pesan tak dikenal itu.
Jujur saja dia tak tahu siapa dibalik itu semua. Tapi, dia bisa menebak. Entah siapa itu, yang pasti Lesya sangat ingin menghajarnya.
__ADS_1
Dijadikan kelinci percobaan juga tak masalah! Asalkan, dia bisa melihat penderitaan orang tersebut. Elvan menatap aneh Lesya selama makan malam.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗