Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
188: Kelinci?


__ADS_3

Menautkan alisnya bingung, Lesya kembali bertanya. "Trus kalau dua-duanya dalam bahaya? " tanya Lesya. Elvan meletakkan tangan Lesya seperti semula karena sudah berhasil dia ubah. "Suara yang dikeluarkan lebih besar dibanding satu pihak yang dalam bahaya! "


"Trus yang kedua cara kerjanya? "


"Lo dalam bahaya, di gelang gw bunyi! Sementara gw dalam bahaya, di gelang lo bunyi! "


"Bagusan yang kedua sih cara kerjanya! Gak terlalu berisik-berisik kan? Btw, kalo kita kepisah jauhhhh banget gimana tuh? Masih kehubung gak gelangnya? "


Elvan sedikit tersenyum melihat cara mempraktekkan Lesya pada kata 'jauh' dipanjangi oleh gadis remaja itu. "Masih kehubung kok! "


"Selain itu, gw pasang location system di gelang kita! " tambah Elvan. Lesya memiringkan kepalanya sedikit menatap Elvan. "Di mana? Contohin dong! "


Elvan menunjukkan gelangnya dan menekan satu tombol yang ada di gelang tersebut. Tiba-tiba saja gelang Lesya berbunyi dan menunjukkan lokasi berada Elvan saat ini.


Ting! Ting! Utara Kemah Hutan *****! Ting!


Lesya berdecak kagum mendengarnya. Dirinya menatap tak percaya Elvan di sampingnya. "Kenapa gw gak dari dulu aja ya buat begini? " molog Lesya.


Elvan menyatukan gelangnya dengan gelang Lesya yang membuat suara gelang tersebut terhenti. "Oh, kalau gelangnya nyatu suaranya berhenti toh! " paham Lesya.


Elvan mengangguk kecil dan melirik arah jam di gelangnya itu juga. "Udah mau makan! Balik! " Lesya menggeleng. "Masih betah gw di sini loh! "


"Betah jangan lupa makan! " Lesya mencebik melihat Elvan yang terlebih dahulu turun dan berada di bawahnya. Batu besar yang Lesya duduki tersebut membuat Elvan lebih rendah dibandingkan Lesya. "Turun sekarang! Yang lain udah pada kumpul! "


Lesya mengulurkan satu tangannya karena malas turun. Jarak turun dan naik dari batu besar tersebut berbeda sedikit. Alhasil karena malas bergerak, Lesya meminta tolong pada Elvan tanpa embel-embel. "Gendong gw dong! " pinta Lesya.

__ADS_1


Elvan menghela nafasnya dan mengulurkan tangannya menggendong Lesya di depannya turun dari batu besar tersebut. Lesya tersenyum kecil dan menggalungkan tangannya di leher Elvan. "Dah! Turunin gw! "


Elvan mengangkat satu alisnya. "Kenapa ribet naik turun kalau udah terlanjur? " Lesya tergagap bingung menjawabnya. "Y-ya siapa suruh lo mau? " tanya Lesya membalas.


"Terserah sih.. Tapi mending di belakang enaknya! " lanjut Lesya. Elvan melepaskan satu tangannya dan diarahkan nya ke belakang.


Dengan senang hati Lesya mengarahkan satu kakinya kebelakang dan berpindah di belakang pundak Elvan. "Let's go!! " tepuk Lesya dua kali di pundak Elvan.


Elvan hanya mengangguk dan menghela nafasnya sebelum berjalan. Dirinya seperti melayani seorang tuan putri saat ini. Itulah tujuan Lesya sebenarnya! Membuat Elvan merasa melayani bukan dilayani. Kebalik bukan? Sksk, tak patut!


"Jangan nyekek! " ucap Elvan. Lesya tersadar dan melonggarkan pegangannya. "Pelan-pelan dong makanya! Kek lari lo bawa gw! Lo gak ikhlas ya?! " kata Lesya.


Dari arah depan, Elvan menghela nafasnya. Sedari tadi, dirinya selalu dikomentari oleh Lesya entah ini lah atau itu lah. "Ikhlas-ikhlas! Udah pelan nih! "


* Hehe.. Rasain! Anggap aja karena lo sering hukum gw di sekolah. Tapi kayaknya gak cukup deh kayak gini doang! Apa lagi ya enaknya ngejahilin nih anak? * batin Lesya bingung.


* Mau ngerjain gw? Jangan harap! Tunggu di sekolah aja nanti! Sekali buat onar, dua kali lipat hukumannya! Anggap aja karena tadi lo malas senam! Mana gak meneliti alam pula! Hadeeehh, gini amat! * batin Elvan kecil.


Satu menit setelah berjalan menuju kemah, Elvan berjongkok sedikit dan membiarkan Lesya turun dari pundaknya. "Tumpangan gratisnya lain kali ditawar sama gw ya! Byee! "


Tanpa mengucapkan ‘maaf’ ataupun ‘terimakasih’ kepada Elvan, Lesya berlalu melewati Elvan tanpa rasa bersalahnya menuju arah kedua sahabatnya dan Lisa.


Elvan hanya memutar bola matanya dan berjalan melangkah menuju keberadaan ke-empat temannya. "Tuh anak kayaknya sariawan bilang ‘makasih’ doang! " gumam Elvan berdecak kecil.


Lesya dengan cepat bergabung bersama Luna, Leon, dan Lisa. Raut wajah Luna memancarkan aura kebahagiaan. Dengan cepat dirinya angkat suara sekaligus mencibir. "Akhirnya lo dateng Sya! Cobak kalau lo gak datang? Mungkin gw udah jadi patung nyamuk di sini melihat gombalan receh dari dua orang di depan gw yang gak kenal tempat! " oceh Luna.

__ADS_1


Lesya dengan cepat mengambil satu kotak nasi yang ada di sana dan melirik arah Luna yang baru saja menyelesaikan ocehannya. "Biasalah! Masih baru jadian anget-anget dulu! Gak tau nanti kalau udah di pertengahan hubungan! " ujar Lesya.


Lisa memutar bola matanya malas. "Elah lo pada iri? Noh cari pasangan sono biar gak jadi nyamuk di antara hubungan orang! " ketusnya. Leon menutup mulut Lisa. Sejak beberapa jam setelah dirinya jadian dengan sosok gadis pujaan hatinya ini, tangannya mulai kembali normal.


"Syuuut! Udah beb mereka iri sama kita yang selalu tampil mempesona dan menggoda iman jomblo mereka! " jawab Leon diangguki Lisa cepat. "Orang iri jangan didengerin juga ya beb! " balas Lisa mengikuti alur pembicaraan Leon.


Leon yang mendengar kata-kata ‘beb’ di kalimat ucapan Lisa tadi, hatinya memanas tak karuan. Tangannya dia turunkan dari mulut Lisa dan mengalihkan pandangannya. Ini pertama kalinya Lisa berucap lembut padanya.


Inikah tujuan Lisa di balik kata lembutnya. Agar tangan Leon yang menutupi mulutnya tadi walau dirinya sempat mundur segera turun. Benar saja jika Leon langsung luluh dengan cepat!


Lesya yang melahap makanannya tak peduli adanya ucapan yang terlontar dari kedua mulut orang yang baru saja jadian itu. Makanan lebih penting untuk perutnya yang terasa lapar dibandingkan melihat adegan unfaedah di depannya.


Berbeda dengan Luna yang sudah selesai mengisi perutnya ingin sekali mengusir kedua manusia di depannya. Ucapan yang tak berguna saja di bahas. Sangat tak bermutu! Pikir Luna. "Terusin ae lah! Males gw! " cibir Luna meneguk air aqua yang ada di tangannya.


Lesya meletakkan kotak nasinya yang sudah habis di tong sampah yang besar. Dirinya melihat banyaknya siswa-siswi yang asik dengan berbagai aktifitas nya. Entah itu selfie, membaca buku, mengobrol, dll.


"Sya, sini! " panggil Luna.


Lesya menghampiri Luna yang sedang berjongkok di bawah pohon yang rindang. Memang pohon-pohon di hutan tersebut sangatlah lebat dan dipenuhi dedaunan. "Apaan nih? " tanya Lesya saat ikut berjongkok menyetarai Luna.


Luna menunjukkan kelinci putih yang berubah menjadi kelinci bewarna merah terkena darah kelinci itu sendiri. "Ini kelinci kan? " tanya Lesya memastikan.


Luna mengangguk. "Gw curiga ini perbuatan. . . Vion atau Amanda? Atau jangan-jangan anggota Sakh! " molog Luna. Lesya mengambil alih kelinci yang sudah tiada itu dan membolak-balikan tubuh hewan itu.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2