
"WOY JANGAN KABUR LOO! "
Sekolah GG sedang melakukan aktivitas belajar mengajar. Tapi tidak dengan Lesya dan Luna serta Elvan dkk.
Luna da Lesya terciduk memanjat pagar sekolah. Jangan ditanya lagi, pasti karena balapan kemaren dan telat tidur menyebabkan mereka telat bangun.
"SASA MENCAR WEH!! " Lesya mengangkat jempolnya ke arah Luna dan berlari ke arah kiri sementara Luna ke arah kanan.
"SAMPAI KETEMU DI RUASIS!! " Luna mendengus mendengar ejekan Lesya.
Elvan dkk berhenti sejenak dan mengatur strategi.
"Kalian ke arah kanan gw ke kiri" tegas Elvan langsung berbelok ke kiri. Sementara yang lain berbelok ke kanan.
Setelah sekian lama berlari, Lesya bersembunyi di balik semak-semak. Dia merasakan ada yang menepuk pundaknya. Dia berbalik dan membulatkan matanya.
Dengan segera orang yang menepuk pundaknya menarik Lesya berdiri, tak lain Elvan. Namun Elvan sedikit kesusahan karena Lesya yang memberontak dengan sekuat tenaganya.
"Bangun" Satu kata pun keluar dari mulut Elvan. Elvan sendiri gregetan melihat Lesya yang masih berusaha meloloskan diri.
Dengan terpaksa Lesya bangun dan menatap Elvan sinis. Dia tak lupa orang yang di depannya ini akan menjadi suaminya nanti.
"Apa? " tanya Lesya malas menghadapi Elvan.
Sudah cukup masalah di rumah sakit membuatnya pusing. Kini ditambah Elvan, lelaki yang dibencinya akan menjadi suaminya kelak. Memikirkannya saja sudah membuat Lesya muak.
"Jangan mentang-mentang lo dijodohin sama gw lo jadi bebas gitu aja" Lesya mendelik ogah.
"Heh! Gw mah ogah klo sama elu yang mukanya kayak sendal jepit aja bangga" Elvan mengabaikan omongan Lesya.
Kali ini dia wajib memberikan Lesya hukuman. Itu tugasnya disaat guru kewalahan akan sikap Lesya yang susah diatur.
"Ikut gw! "
"Gak "
"Ikut gw! "
"Gak "
Habis sudah kesabaran Elvan menghadapi sikap Lesya yang keras kepala. Elvan langsung menarik dengan kencang pergelangan tangan Lesya. Lesya yang tak menyangka akan diperlakukan dengan kasar hanya menahan bekas sayatan Gilang 5 hari yang lalu.
"Shssttt, sakit! " lirih Lesya.
__ADS_1
Elvan mengabaikan lirihan Lesya yang menahan sakit. Dia bukan tipikal orang yang perhatian dan berhati lembut. Dia tipikal orang yang kejam kepada musuhnya.
...~o0o~...
Kini Elvan dkk sedang melihat pemandangan dimana kedua bestie sedang dihukum di atas rooftop. Elvan memberi hukuman memungut sampah botol yang berserakan di rooftop.
Botol sampah tersebut bukan botol bekas seseorang. Tapi ulah mereka berdua. Lesya dan Luna sering bolos di rooftop sambil membawa botol mereka. Dan dibuang disitu juga.
"Yang bersih woy! " Luna menatap tajam Valen, wakil ketua OSIS sekolah GG.
Valen kicep melihat betapa tajamnya tatapan maut milik Luna. Walau tak semenyeramkan seperti tatapan Lesya yang dapat membuat orang ketakutan setengah mat*, tetap saja tatapan Luna membuat bulu kuduk Valen naik.
"BAC*D LO BERDUA DARI TADI BERANTEM MULU BETE GW LIATNYA " Luna bibirnya maju 3 cm mendengar ocehan Lesya.
"Yang bener! "
"Yang bersih! "
"Sampah kalian gini juga"
"Yang ono noh masih ada sampahnya! "
Ocehan dari ke empat teman-teman Elvan terdengar di telinga Lesya dan Luna. Mereka tak terima saat mereka diperlakukan layaknya babu. Kini kesabaran mereka sudah habis mendengar ocehan unfaedah mereka.
Keempat teman Elvan langsung kicep mendengar sang pemilik suara merupakan orang yang tak biasa. Mereka memang takut dengan Lesya, tak dengan Luna.
Karena Lesya pasti akan melakukan hal yang tak terduga diluar dugaan mereka. Mereka diam dan menyaksikan Lesya dan Luna yang memungut sampah. Dan mereka cukup terkejut melihat Lesya yang tiba-tiba saja jatuh tersungkur tak berdaya.
brruuukk...
Mereka menoleh ke arah sumber suara yang memang terdengar cukup kencang di telinga mereka masing-masing. Mereka semua berlari berhamburan ke arah sumber. Tak terkecuali termasuk Elvan dan Luna
"SASA! EH LO NGAPA SA, BANGUN WEH JANGAN BIKIN GW PANIK ELAH! " panik Luna menguncang badan Lesya.
Nihil! Lesya benar-benar pingsan kali ini. Biasanya dia akan dibawa ke UKS. Sekali dua kali Lesya terciduk berpura-pura pingsan oleh Elvan. Tapi kali ini Lesya seperti orang yang menahan sakit. Bibirnya memucat dan badannya mendingin.
"Van, tolongin bawa Lesya ke UKS ya pliss" Luna memohon kepada Elvan hingga tak sadar dia menitikkan air matanya.
Keempat teman Elvan tercengang kaget. Mengapa Luna menangis hanya karena Lesya? Padahal mereka bukan adik kakak. Tanpa menjawab, Elvan mengangguk malas dan seketika senyum terbit di wajah Luna.
"Bawa ke UKS aja, di sekitar sini ada UKS terdekat. Biasanya Lesya suka bolos klo kagak mau ketauan bolos di UKS lantai bawah" oceh Luna tanpa sadar membuka rahasia Lesya.
Elvan menyeringai. Akhirnya dia tau dimana tempat lain yang di tempati Lesya saat bolos. Setelah menggendong Lesya ala bridal style, Elvan membawa Lesya ke UKS yang diucapkan Luna.
__ADS_1
Sementara Luna masih menjalani hukumannya ditemani keempat teman Elvan yang heran akan sikap Elvan. Elvan sangat membenci hal-hal yang berbau wanita. Kecuali kakak dan bundanya. Menurutnya para wanita dekat dengannya hanya untuk hartanya saja.
...~o0o~...
Setelah dicek oleh petugas UKS, Elvan membawa Lesya ke rumah sakit. Itu semua atas permintaan petugas UKS tersebut. Tentu saja Elvan harus mengendong Lesya lagi.
Setibanya di rumah sakit keluarga GY, Lesya sekarang telah ditangani dokter pribadi Elvan. Elvan menunggu di luar ruangan sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah sekian menit berlalu, keluarlah dokter pribadi Elvan dari ruangan.
"Bro, itu siapa lo? " tanyanya kepo.
Mereka memang berteman di sebuah organisasi. Dan jika Elvan terluka, dokter tersebut yang merawat luka-luka Elvan.
Elvan menatap dokter tersebut tajam, "Tunangan "
"What?! Jadi dia orang yang lo ceritain? G*la sih, tapi lo harus perhatiin makanan yang dia makan" jelasnya.
Kening Elvan mengerut tak paham, "Mksd lo apaan ndre? "
"Banyak luka bekas sayatan, kayaknya tunangan lo mengalami sesuatu yang serius nyampe tubuhnya banyak luka-luka. Dan luka itu bukan luka biasa. Kayak semacam bekas sayatan pisau" jelas Andre.
Elvan memasang muka tak percaya nya "Yang bener lo? "
Andre mengangguk mantap. Dia yakin akan tebakkannya kali ini.
"Klo gak percaya, lo sono liat! " Elvan langsung menyelenong masuk dan menghampiri Lesya yang masih tertidur.
Luka ini? Sepertinya ada sesuatu yang ditutupi, tapi apa? —batin Elvan menerka-nerka.
Elvan terus memperhatikan luka-luka di tubuh Lesya dengan seksama. Dia sedikit berperang dengan pikirannya.
Sayatan pisau dan seragam lelaki? Hum, masuk akal! Dia menutupi luka dengan bajunya! Menarik, sekarang gw tinggal cari tahu siapa Lele sebenarnya —batin Elvan penuh tekad.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
...π...
Hai semua☺ Saya author Mel, mengucapkan
“Selamat hari raya Idul Fitri bagi yang melaksanakannya, mohon maaf lahir dan batin”
dan saya author Vio mengungkapkan
“Selamat memperingati kenaikan Isa Al-Masih bagi yang memperingatinya”
__ADS_1
Sekian trimakasih 🙏🏻