Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
445: Rencana Keluar


__ADS_3

Episode 445: Rencana Keluar


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Satu bulan telah berlalu, Lesya berjalan gontai ke arah rumahnya. Kemarin dia memiliki acara bersama teman-teman sekelas di kampusnya, Lesya lepas kendali. Niatnya hendak minum sekali teguk saja, tahu-tahunya justru minum lebih dari satu karena dia yang sangat pusing memikirkan kehidupannya.


Elvan yang melihat dari arah dapur tampak menghela nafasnya panjang. Semalam beruntung dia menjemput sang istri hingga tak perlu digoda oleh teman-teman kampusnya. Ingin marah, tapi Elvan tak bisa marah kepada seseorang yang masih dalam keadaan tak sadar. Sama saja dia bicara sendiri.


"Minum dulu nih!"


Elvan menyodorkan gelasnya yang diisi dengan teh hangat buatannya. Lesya menggeleng menolak seraya memegang kepalanya yang terasa pusing. Mulutnya terbuka sedikit saja karena paham Elvan tak ingin menerima penolakannya.


"Lain kali jangan nyampe teler lagi!"


"Kalau gak lupa ok?"


Pletak!


Lesya meringis dan memanyunkan bibirnya merasakan sentilan di keningnya. Sudah paham akan situasi, sesegera Lesya hanya menundukkan kepala dan menghabiskan teh hangat buatan Elvan seraya mendengar dengan baik omelan-omelan dari lawan bicaranya. Walau dia hanya mengangguk pasrah saja menanggapi ucapan Elvan.


"Untung gw datang, kalau enggak bisa habis lo sama mereka. Dibilangin bandel amat sih, jangan datang ya jangan! Ck," decak Elvan yang akhirnya kesal.


"Iya Pak, iya. Maaf Pak, jangan marah-marah mulu nanti cepat tua,"


"Bocah,"


Lesya tersenyum lucu hingga menampilkan deretan gigi putihnya. Sedetik Lesya menegang dan berlari ke arah wastafel yang berada di dapur. Elvan yang terkejut akhirnya ikut menyusul ke arah wastafel dapurnya.


"Baru juga diomongin, 'kan jadi muntah. Nakal sih kalau dibilang," geleng Elvan dan mengusap tenguk leher sang istri yang baru saja memuntahkan isi perutnya. Mungkin efek dari mabuk kemarin yang membuat Lesya masih merasakan pusing hingga muntah.


"Hoeekkk ... nyesel gw ngeiyain kemarin," lirih Lesya terduduk lemas di lantai setelah puas memuntahkan isi perutnya.


Elvan hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Rasa kepekaannya membuat dia menyiapkan dan memberikan segelas air hangat kepada sang istri.


"Minum dulu nih!" ucap Elvan.


Lesya mengangguk dan tak lupa mengucapkan 'terimakasih' sebelum meneguk perlahan air hangat yang diberikan padanya. Setelah beberapa menit mereka dalam keheningan yang tercipta, Lesya merentangkan tangannya setelah merasa sedikit lebih baik.

__ADS_1


Elvan dengan tanggap segera menggendong Lesya dan membawanya ke arah ruang tamu. Setibanya, mereka segera duduk walau Lesya berpangkuan di paha Elvan, posisi ternyamannya.


Suara bel dan pintu rumah yang terbuka membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Tak heran lagi melihat siapa pelakunya, yang pasti adalah Revan dan Lisa yang berani merusuh.


"Hello gays ... Wah-wah, asik bener nih ceritanya ya gak? Mesra amat sih kalian nyampe buat gw di sini iri,"


Suara bariton dari Revan membuat Lesya mau tak mau duduk seperti biasa agar tak dijadikan bahan ledekan keduanya. Iya, Revan datang ke rumah mereka lagi, tentunya dengan membawa Lisa. Sudah ketebak apa tujuan mereka ke mari.


"Punten ngerusuh ya Bunda,"


Lisa yang tanpa berdosanya segera duduk dan meletakkan kantung kresek yang dia bawa sebagai buah tangan. Syarat datang berkunjung ke rumah mewah ini adalah buah tangan, jika tidak ada buah tangan, Lesya dapat mendepak tamu-tamunya keluar. Anggap saja bayaran singgah di rumah orang, toh juga tak ada yang gratis di dunia ini.


"Gw titip Lisa di sini aja biar ada temennya, lagian gw sama Elvan juga bakal pergi karena kita ada kelas, gak papa 'kan, Sya?" ujar Revan menjelaskan.


Jarak antara rumah Lesya dengan Lisa cukup dekat. Lisa dan Revan juga tinggal di rumah yang mereka beli sendiri tanpa bantuan orang tua dan orang lain. Itu sebabnya Lisa sering dititipkan di rumah Lesya jika Revan pergi. Katanya sebagai jaga-jaga karena Lesya memiliki kepekaan tinggi dan mata tajam.


"Biasa juga asal nitip," sinis Lesya.


Revan hanya menyengir dan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Iya gitu! Yaudah ayok Pak, kelasnya bentar lagi mulai, keburu telat kita!" panik Revan.


Lesya dan Lisa juga segera ikut beranjak dan mengantarkan kedua lelaki tampan tersebut hingga depan pintu. Sesekali mereka menggoda satu sama lain dengan bisikan-bisikan lucu.


"Jangan hilang-hilangan lagi!" peringat Elvan sebelum pergi. Lesya mengangguk pelan dan menyodorkan tangannya untuk menyalimi punggung tangan suaminya. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka setelah lulus SMA, tetapi rasa aneh dan bahagia masih terasa.


Setelah melihat kepergian Revan dan Elvan, barulah dua wanita berjalan ke dalam rumah. Tak lupa untuk menutup pintu, Lesya sedikit bingung di kala melihat Lisa yang sudah mengeluarkan buah yang dibawa. Berbeda dengan Lisa yang sudah melahap mangga tanpa mengupas kulit buahnya.


"Mangga? Tumben lo bawa nya mangga, Lis? Biasa juga cemilan," heran Lesya.


"Pengen aja sih, kalau mau tinggal ambil aja. Rasanya manis kok, soalnya gw udah icip satu buah bahkan udah gw dicuci malah dari rumah," enteng Lisa.


Lesya sedikit penasaran hingga mengambil mangga dan memakannya. Sedetik Lesya memicing curiga karena merasakan manis di mulutnya setelah mencicipi mangga yang dibawa Lisa. Dia mengira, Lisa akan mengerjai nya dengan mangga tersebut karena memang biasanya akan begitu.


"Kok manis? Biasa lo 'kan selalu ngasih mangga muda ke gw, tumbenan?" heran Lesya sumigrah. Lisa hanya mengerjapkan matanya polos saat mendengar ucapan Lesya yang layaknya sindiran secara langsung untuknya.


"Dih? Mangga ini gw ambil dari kebunnya langsung. Waktu itu 'kan gw pernah cerita kalau di sekitaran rumah ada kebun buah. Nah tadi pagi gw ngidam makan mangga kebun itu, tapi makannya di rumah lo makanya sekalian," ungkap Lisa jujur seraya menyengir polos.


"Oh,"

__ADS_1


Keduanya sibuk makan hingga habis. Tak terasa waktu berjalan, mereka juga sudah beralih menonton televisi setelah membersihkan sisa makan mereka.


"Lis," panggil Lesya tiba-tiba.


Sang empu yang dipanggil hanya menoleh dan mengangkat dagunya sekali. Senyum aneh muncul di bibir Lesya mendengar tanggapan dari Lisa.


"Keluar yuk!" ajak Lesya antusias.


"Kalau laki lo tau, gw bisa disalahin habis-habisan. Enggak deh, gw cari aman sekarang!" tolak Lisa.


Lesya berdecak dan mengambil tas selempang miliknya yang tertinggal kemarin setelah kembali ke rumah.


Lisa hanya diam seraya menonton siaran di televisi milik Lesya. Namun, pandangannya kembali beralih ke arah Lesya yang justru sudah menunjukkan layar ponsel sahabatnya itu padanya.


"Apa lagi?" bingung Lisa.


"Gw udah izin sama Ketbok, pergi aja yuk! Gabut gw setiap lo ke sini cuman di rumah mulu kerjaannya, mumpung gw sehari libur nih, ya?" pinta Lesya memelas setelah memberikan isi chat di ponselnya mengenai permintaan izin keluar rumah kepada Elvan.


"Tapi gak dibalas loh," ujar Lisa.


"Ya kan udah kekirim! Nanti kalau kelasnya selesai juga dia bakal baca," kekeuh Lesya yang tetap ingin keluar.


Lisa terdiam dan berpikir sejenak. Setelah menimang-nimang konsekuensi, akhirnya Lisa mengangguk setuju saja. Cukup suntuk juga jika mereka berada di rumah saja. Kecuali ada Luna, semua mungkin akan terasa ramai. Namun, sayangnya wanita itu ada kelas di rumah.


"Yes, gw siap-siap dulu bentar,"


Lisa hanya berdehem pelan dan geleng-geleng kepala di saat Lesya berlari ke arah kamarnya. Hari ini guru yang membimbing dirinya sedang sakit, itu sebabnya juga dia berada di rumah Lesya. Toh mereka sama-sama sedang libur saat ini, tak masalah 'kan?


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


25191511,


Kalau bisa diusahakan akan terus update ya, kalau gak update berarti author gak bisa nulis, padahal udah ada ide. Ada aja yang buat ga bisa nulis, entah baterai, wifi, dilarang pula. Huh, kesal!


[author lagi curhat btwᐖ ]

__ADS_1


__ADS_2