
Beberapa minggu sudah berlalu, Lesya berhasil membangkitkan maju bahkan lebih maju perusahaan groub Fyo. Letha saja tercengang karena melihat berita jika group Fyo sudah berjalan normal kembali.
Tak hanya itu saja, Lesya juga sudah dapat berjalan normal walau dia tak boleh melakukan aktivitas yang membebani kakinya. Lesya juga tidak masuk sekolah hingga perusahaan Fyo kembali normal.
Lesya juga memutuskan agar dirinya tak bertemu Mayang terlebih dahulu. Dia dan Elvan selama ini tinggal di apart milik Elvan. Sesekali mereka berkunjung ke kediaman Grey. Dan sesekali juga hanya Lesya berkunjung ke kediaman Fyo.
Hari senin, dimana seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya karena tepukan-tepukan dari Elvan. Gadis itu adalah Lesya! Mereka berada di apartemen milik Elvan saat ini.
"Bangun-bangun! Sekarang lo sekolah! Gak ada bantahan! " ucap Elvan tegas tak ingin dibantah. Karena, selama ini dia sudah cukup memberikan waktu untuk Lesya untuk mengurusi perusahaan.
Elvan juga tahu jika Lesya adalah murid SMA yang membutuhkan pendidikan bukan kekerasan bekerja. Itu sebabnya dia sudah tak ingin memberikan waktu Lesya bekerja lagi. Semua murid harus memiliki pendidikan yang cukup menurutnya. Contohnya, Lesya!
Lesya yang terganggu terduduk dengan mata yang sayu menahan kantuk. Elvan menepuk-nepuk pipi Lesya agar terbangun. "Emm, apa sih ganggu-ganggu?! " ketus Lesya dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.
"Bangun sekarang sekolah! " tegas Elvan yang membuat mata Lesya terbelak lebar. "Enggak-enggak! Gak mau! Mending gw ke kantor dari pada ke sekolah! " tolak Lesya.
"Sekolah atau gw ambil hak gw? " Sangat santai sebenarnya ucapan Elvan baru saja. Namun penuh penekanan yang membuat Lesya akhirnya tak dapat membantah. Apalagi ini menyangkut masa depannya!
"O-oke gw sekolah! " kikuk Lesya yang memilih kembali bersekolah.
Elvan hanya tersenyum tipis dengan geleng-gelengan di kepalanya. Rupanya ancaman barunya akan berhasil membuat Lesya merasa terancam. Sementara Lesya terus menggerutu dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Cepetan! " kata Elvan
"Iya-iya sabar lo mah! " malas Lesya.
__________________
Ngueenggg!!
__ADS_1
Menguap berkali-kali selama perjalanan, Lesya hampir tak menyadari jika dirinya berada di mobil bersama Elvan menuju sekolah. "Eh?! Baru nyadar gw! Turunin-turunin gw sekarang Pan! "
Elvan tak menjawab. Dia tetap mengemudikan mobilnya menuju arah letak sekolah mereka. Lesya berdecak malas. Dirinya merutuki kebodohannya yang menyetujui jika mereka berangkat bersama.
"Tanggung! Bentar lagi nyampe! " jawab Elvan.
"Ketbok, mikir dong! Nanti kalau ada yang nyadarin hubungan kita gimana dong?! Fans-fans fanatik lo rada gil* bok! Nanti kalau gw diapa-apain sama mereka gimana?! Dikurung di gudang? Kamar mandi? Gak elite kan cewek secantik gw dikurung?! " cerocos Lesya.
Elvan justru menjawab dengan santainya. "Gak akan! " jawabnya. Lesya memukul lengan Elvan dengan keras. "Aduh! Sakit Le! " ringis Elvan.
"Biarin! Habisnya lo ngeselin! Pengen nonjok rasanya! " ketus Lesya. Elvan mengemudikan mobilnya dengan satu tangannya.
Ckitt!
Lesya terdiam saat melihat kaca jendela jika mereka sudah tiba di parkiran sekolah. Memejamkan matanya erat seraya menggigit bibir bawahnya cemas, Lesya tak ingin turun dari mobil karena banyaknya siswa-siswi yang berlalu lelang di sana.
"Kenapa? Malu ya? " goda Elvan yang kembali mendapatkan cubitan di perut sixpacknya dari Lesya. "Aduh! "
Sontak saja dirinya menjadi pusat perhatian di parkiran. Mereka sangat hafal dengan mobil Elvan yang berwarna navy. Dan sekarang? Rival sekolah Elvan—Lesya baru saja keluar dari sana? Impossible!
"Ngomongnya! " datar Elvan. Lesya memeletkan lidahnya mengejek. "Pak ketos, ini tuh sekolah jadi menurut gw bebas! Wlee! " ejeknya berjalan melangkah menuju kelasnya.
Elvan yang keluar dari mobilnya menjadi pusat perhatian. Wajah datarnya begitu mempesona kaum hawa yang ada. Bahkan ada juga yang menyebarkan ke grup sekolah Lesya yang keluar dari mobil idola mereka—Elvan. Banyak yang mencaci maki, bertanya, dan mendukung hubungan kedua pasutri itu.
Luna yang tak sengaja bertepatan dengan Lesya menggandeng nya menuju kelasnya. Tangannya sudah sembuh sama seperti Lesya. Hanya mereka harus membatasi aktivitas yang membebani kaki/tangan mereka. "Oyy! '"
"Ngapa? " tanya Lesya yang tak tahu apa arti dari senyuman Luna. Luna mencolek dagu Lesya berniat menggoda sahabatnya itu. "Cieee.. Berangkatnya sama ketos ya tadi? Ekhem, kayaknya posisi gw sebagai sahabat lo kegeser nih sama ketos! " godanya.
Lesya memasang tampang eneg-nya. "Gw? Berangkat sama ketos? Idih! Ogah kali! Karena gw gak sadar aja berangkat bareng dia! Lagi pula, posisi lo sebagai sahabat gw gak akan pernah kegeser kali! "
__ADS_1
"Aaa.. Co cwittt! "
"Woy! Jadian lo ya sama sepupu kutub gw? Aciieee... " tanya Lisa yang ikut menimbrung dari belakang.
"Moyong kaget gw bangs*t! Ngagetin lo Lis! " latah Luna. Lisa tertawa receh. "Haha.. Gak lucu! Udah buruan jawab aja elah ribet amat! " ketus Lisa.
"Kagak sih, gw terpaksa aja nerimanya! Dianya aja yang maksa! " jawab Lesya sedikit terkikik dengan latahan Luna. Lesya mendatarkan kembali ekspresi wajahnya. "Lagian gw juga ogah pacaran sama sepupu lo! " ketus Lesya.
"Amasa?? " goda Luna dan Lisa bersamaan. "Gw dukung dah kalau udah uwu-uwuan! " semangat Lisa diikuti anggukan setuju dari Luna. "Stujuuu!! "
"Amit-amit! " malas Lesya
"Amin-amin! " serempak Luna dan Lisa.
"Bangs*t! " umpat Lesya yang sudah tak paham dengan pemikiran Luna dan Lisa di hadapannya ini. Luna dan Lisa tertawa receh mendengar umpatan Lesya.
Mereka berjalan menuju kelas mereka. Leon tak masuk karena dirinya ditugaskan oleh Alam yang entah itu apa. Leon juga sudah izin dengan Lisa, pacarnya namun tidak dengan Lesya dan Luna karena perintah Alam. Penasaran kah?
"Woyy, upacara weh sekarang! " pekik Luna yang melihat jam di tangannya. Sontak mereka melotot dan berlari menuju area lapangan. "Woy bentar! Tunggu gw! Aelah nyeri nih! " ucap Lesya yang merasakan nyeri di kakinya.
"Eiya! Oy Lis, berhenti wee! " Luna berbalik dan menarik Lesya membantunya berlari ke arah lapangan. "Selow Lun! Gak usah ngegas larinya! " ngegas Lesya.
Lesya, Luna, dan Lisa berdiri dibelakang barisan. Mereka terus mengobrol hingga suara tajam terdengar. "Ekhem! " dehemnya. Itu, bu bunga! Guru killer yang menjadi korban keusilan ketiga siswi SMA itu. Ralat! Hanya Lesya dan Luna saja!
Lesya menoleh dan melambaikan tangannya berniat menyapa. "Hai buu! " ucapnya. Bu bunga menatap tajam siswi legendarisnya itu. "Kenapa baru masuk? Kemaren-kemaren kamu kemana hah?! "
"Cie, ibuk kangen ya sama saya! Saya sakit bu makanya gak sekolah! Nih kaki saya patah! Untung udah bisa jalan lagi bu! " jawab Lesya polos. Bu bunga mendelik melotot. "Ogah saya kangen sama kamu! Dan satu lagi, semua tugas-tugas kamu harus segera dikumpul! " tegas bu bunga.
Lesya mengangguk kikuk saja. Sementara bu bunga justru kembali berpatroli sebagai guru BK. Lesya bergumam kecil seraya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Lah njim tugas tinggal di kumpul tanpa dikerjain sih mampu! Lah ini? Pake acara dikerjain, kan kasian! Gak punya salah disuruh kerjain! Mending langsung kumpul! " gumamnya malas.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗