
Semilar angin berhembus menerpa wajah mulus seorang gadis yang sedang berjalan di taman rumah sakit. Niatnya adalah menjenguk adik dan mommy tirinya. Namun sepertinya, kali ini dia memilih jalan panjang untuk sekedar menenangkan diri dan melakukan self time dengan angin.
Gadis itu sudah izin pada sang suaminya jika akan pergi ke rumah sakit. Tak melarang, karena suaminya juga memiliki urusan OSIS untuk melantik anggota OSIS yang sudah terpilih menggantikannya. Lagi pula ini akan menjadi kenang-kenangan bagaimana OSIS kelas 12 akan melepas jabatan.
Gadis itu Aleesya!
Tiba-tiba saja gadis itu merasa mual. Kepalanya juga sedikit pusing. Pandangan matanya masih tak memburam. Dia tak bodoh. Ada alasan lainnya yang dia sembunyikan mengapa dia ke rumah sakit. Memang menjenguk sang adik. Namun dibalik itu Lesya curiga akan sesuatu yang mengganjal dibenaknya.
Dokter kandungan?!
Lesya duduk menantikan perkataan dokter yang memeriksa dirinya. Ada rasa tak rela, takut, cemas di dalam hatinya.
~Tak rela, jika dia benar-benar hamil menurutnya masa mudanya atau masa bebasnya terbuang.
~Takut, tentu saja. Dia dan Elvan belum pernah ataupun sama sekali belum melakukan hubungan seharusnya dilakukan sepasang suami-istri. Dia takut pertanyaan Elvan yang menanyakan anak siapa yang dia kandung.
~Cemas, akan dirinya mengulang kisah sama dengan alur berbeda seperti mendiang sang mami—Emily.
Lesya tak bisa membayangkan itu semua. Dia sadar waktu bulanannya tak kunjung datang padahal sudah lewat. Apalagi, dia yang tak pernah mengalami atau melakukan hubungan sexs, membuatnya bingung sebenarnya dia kenapa dan bagaimana. Alhasil dia memeeiksa saja agar rasa penasarannya terjawab. Dan kini justru rasa takut menghampirinya. Jarinya saling meremas di bawah meja.
"Selamat, anda positif hamil! Bayi di kandungan anda kini berusia hampir 4 minggu. " jelas dokter tersebut.
Dalam sekejap wajah Lesya pias. Dia tak menjawab dan justru mematung di tempatnya. Bukan dia menolak kehadiran anaknya. Ini waktu yang masih terbilang sangat muda untuknya. Ayolah, mental sudah Lesya siapkan sejak dini. Sekarang? Giliran anak yang dia kandung di usia dini. Mengapa harus dia yang mengalami hal yang dia masih tak sangka pada usia dini?!
Bukan menolak.
Menolak percuma.
Menangis tak berguna.
Marah pada siapa?
__ADS_1
Dia akan menjadi seorang ibu?
Di satu sisi rasa bahagia menyelimuti nya. Bahagia, senang, gembira karena dia akan dipanggil sebutan yang tak dia sangka di usia muda ini. Namun di satu sisi rasa takut menyelimutinya. Dia trauma. Masa lalunya kelam. Dia belum pernah melakukan hubungan sexs. Lalu apa ini artinya dia mengandung anak Elvan, suaminya sendiri? Memaksakan diri tersenyum canggung, Lesya menyembunyikan kesedihannya dari dokter cantik yang ramah padanya.
"Jadi, apa yang harus saya perhatikan dok? Makanan? Aktivitas? " tanya Lesya ragu. Dokter tersebut perlahan mulai menjelaskan hal-hal yang mengenai kondisi Lesya. Apalagi sepertinya feeling dokter itu mengatakan jika Lesya baru saja tahu jika dirinya sedang berisi.
"Em, sepertinya anda masih muda yah? Menurut saya untuk ibu hamil yang berusia muda seperti anda akan sering beraktivitas mengingat pekerjaan sekolah ataupun kuliah kan? Jadi saya sarankan setelah perut sudah membesar, kurangi aktivitas yang berat dan sering mengkonsumsi sayur-sayuran atau buah segar. " jelas dokter itu.
Lesya mengangguk paham saja.
"Jangan terlalu banyak beraktivitas dulu karena biasanya untuk minggu seperti anda masih sangat muda sekali! Dan jika sampai titik fase sangat berat, mungkin bayi dapat gugur. " kata dokter itu lagi menjelaskan. Lesya tertegun. Gugur? Itu yang dia takutkan.
Setelah lima menit saling berkonsultasi, Lesya mulai paham tentang anjuran yang disarankan oleh dokter itu. Namun tetap saja karena dia akan banyak beraktivitas sekarang? Mengingat Cakra, sudah memberitahu agar lebih berhati-hati karena Ice Blue yang sedang menyusun rencana.
Selama berjalan di koridor rumah sakit, Lesya terbengong sepanjang jalan. Dia bahkan tak sadar kakinya berjalan ke arah kantin rumah sakit. Banyak penjelasan dari dokter namun hanya satu yang membuatnya fokus. Perkataan dokter itu yang menyatakan dia benar-benar positif hamil seketika membuat dunianya lenyap.
Ayolah, dia masih trauma. Tragedi kisah kedua orangtuanya membuat dia masih sulit membuka hati. Walau memang benar Elvan mulai sedikit mengambil hatinya, tak dipungkiri dia masih kaku menerima semuanya. Dia tak pernah melakukan hubungan intim dan mengapa justru dia saat ini sedang mengandung?
Dia bukan mengatakan jika anak yang dia kandung adalah pembawa si-alnya. Namun dia hanya tak menyangka dan syok dengan kenyataan saat ini. Dia masih muda. Gangsternya masih membutuhkan dia. Tak mungkin jika dia dalam keadaan badan dua dia menghadapi Ice Blue. Jika anaknya justru gugur bagaimana? Dia tak bisa membayangkan itu.
Pantas saja dia sering mual dan merasa pusing akhir-akhir ini. Jadwal bulanannya juga sudah terlambat. Rupanya karena dia sedang berisi rupanya.
Puk!
Lamunan Lesya buyar seketika dan menoleh ke sampingnya. Sudah ada Galang di sana. Ternyata ayah kandungnya lah yang menepuk bahunya. Raut wajahnya terlihat datar. Sepasang ayah anak itu perlahan duduk setelah memesan ice coffe di kantin rumah sakit.
"Ada masalah? " tanya Galang mula-mula.
"Bukan urusan lo! " jawab Lesya.
"Haaah, terserah kamu deh sekarang. Tapi saran saya kamu cerita sama saya karena saya daddy kamu. " pasrah Galang yang memang mengubah logat lo-gw menjadi kamu-saya. Lesya menatap aneh ke arah Galang. Sejak kapan ayah berandalannya berubah drastis begini.
__ADS_1
"Gw masih bingung sama lo, kenapa sikap lo berubah? " tanya Lesya yang enggan memanggil Galang dengan sebutan daddy. Galang hanya terkekeh pelan saja. Rupanya rasa ekspresi Lesya tak jauh dari dia. Peka namun cuek!
"Kamu anak kandung saya! Yaa, dulu memang saya gak akuin kamu karena dulu saya orang liar yang hoby bermain sana-sini. Asal kamu tau, saat itu hanya mami kamu perempuan pertama yang saya tidurin. Kaget? Saya tau, tapi itu faktanya. " jelas Galang. Lesya masih diam. Dia tak terkejut karena dia sudah tahu
"Saya akui jika saya anak yang liar dan bermain club namun saya tak pernah meniduri seorang wanita pun kecuali mami kamu. Dan sekarang saya sudah bertambah tua setiap tahunnya nanti, kamu penerus perusahaan saya. Penerus keluarga Erthan! Keluarga campuran Prancis dan Indonesia. Banyak yang rebut posisi saya. Itu sebabnya saya tak pernah mengekspos foto mommy tiri kamu, kamu, kembaran kamu dan adik kamu nanti. Mereka licik. Saya tidak mau kalian celaka. Banyak pembunuh bayaran yang digaji untuk melenyapkan keluarga Erthan. Dan saat ini hanya adik saya, Gatara(adik Galang yang menghilang) yang jadi korban. " lanjut Galang.
"Jadi, saya tak ingin gagal lagi membina anggota keluarga saya. Kamu penerus Erthan. Keluarga Fyo sudah diurusi adik saya. Erthan jauh lebih membutuhkan kamu karena kamu adalah gambaran saya. Wajah kita mirip dan sikap kita juga mirip. Saya yakin, kamu akan meneruskan keluarga Erthan nanti hingga ujung dunia. Kamu permata keluarga dan jangan pernah sesekali merendahkan diri kamu, paham? " tambah Galang lagi dengan wajah serius.
Lesya hanya mengangguk paham saja. Dia tahu ini akan terjadi sejak lama. Dalam usia mudanya, dia tak terpikir menuntun masa depannya karena masa depannya sudah ada sejak dia bayi. Namun teringat dengan perkataan sang ayah yang menyebutkan nama paman terakhirnya membuat perhatiannya teralih.
"Lo tau gak siapa adik kandung lo? " tanya Lesya lagi dengan nada datarnya. Mengangkat satu alisnya, Galang terdiam dengan pertanyaan Lesya. Menurut dirinya sendiri, adiknya sudah dibawa oleh kawanan pembunuh bayaran. Namun menahan hatinya yang kembali dilingkupi rasa bersalah, Galang menggeleng menjawab pertanyaan Lesya.
"Adik lo sebenarnya udah dewasa cumen, satu anak kecil menusuk dia dalam keadaan hujan deras. Saat itu, usia adik bungsu lo itu belasan tahun. Dia nikah muda karena satu tragedi bahkan sudah punya anak. Sayangnya dia harus pergi selamanya. Anaknya juga melihat kejadian itu cumen, dia hanya bisa diam karena waktu berjalan terasa lebih cepat. D-dia. . . " ucapan Lesya kaku. Dia tahu siapa paman terakhirnya selain Gilang. Namun satu kenyataan pahit dihidupnya membuat dia tak mampu berkata-kata.
"Dia? " tanya Galang dengan wajah penasarannya. Dia juga tak menyangka dengan pernyataan Lesya. Galang tahu jika Lesya mengetahui perihal sang adik bungsunya. Namun baru kali ini dia mendapat informasi dari mulut Lesya langsung. Adiknya ditusuk? Lalu bagaimana? Dia belum puas!
"Di-dia. . . Pergi se-lamanya! " kaku Lesya menjawab. Lesya menahan tangisnya yang pecah. Dia tahu kisah paman terakhirnya sama persis dengannya. Dia kenal dengan pamannya. Dia kenal siapa anak kecil yang menusuk pamannya. Dia juga kenal siapa anak dari pamannya itu.
Dunia Galang terhempas semuanya. Rasa bersalahnya semakin bertambah. Takut, kecewa, merasa bodoh semua diaduk bagaikan adonan. Takut, Galang tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang pergi abadi meninggalkannya. Permintaan terakhir kedua orang tuanya adalah agar Galang dan Gilang kembali bersatu dengan adik mereka yang hilang. Siapa sangka bibir anak kandungnya—Lesya menjawab semuanya.
Kecewa. Galang merasa kecewa karena dimainkan takdir. Pencarian sang adik masih terus berlanjut hingga sekarang. Namun semua hancur dimainkan takdir. Dia mau saja memohon lutut kepada Lesya untuk angkat suara mengenai sang adik. Namun dia yakin Lesya tak semudah luluh dengan permohonannya. Anaknya sama sepertinya. Tembok! Dan hanya satu palu yang dapat menghancurkan tembok itu. Orang yang membuat nyaman.
Merasa bodoh. Galang merasa dirinya bodoh karena meninggalkan adiknya sendiri di tengah taman. Seharusnya dia tak melakukan itu saat kecil kan? Giliran sekarang dia menyesal sesesalnya. Pantas jika kedua orang tuanya mengabaikannya. Tugasnya sebagai anak sulung untuk menjaga kedua adiknya gagal.
"N-nama adik gw? " tanya Galang.
Lesya terdiam. Dia menggeleng seolah tak ingin memberi jawaban. Dalam keterdiaman mereka di kantin rumah sakit, Lesya merasa sedikit lega karena satu bebannya memendam satu rahasia sudah berani dia bongkar.
Jujur saja Lesya memendam semua itu bukan tanpa alasan. Lesya tak mau nanti Galang akan menyalahkannya dan akhirnya kembali pada Galang yang dahulu. Dia juga merasa sakit kehilangan satu pamannya. Sangat sakittt.. Tapi takdir berkata apa? Perbuatannya sudah benar untuk jujur mengenai masalah ini. Jika Galang atau Gilang tak terima, itu bukan urusannya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1