Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
423: Apporter l'évasion


__ADS_3

Episode 423: Apporter l'évasion


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Di lain tempat, kini sebuah mobil taksi terparkir manis di depan bangunan cukup modern. Tempat yang lumayan berisikan angin sepoi-sepoi yang mampu menyejukkan hati dan pikiran.


Sang pemilik nama Aleesya itu kini berjalan ke arah ruang tahanan. Sebelumnya dia juga melewati dengan santai para anak buah Tiger Wong karena identitasnya memang sudah diketahui anggota gangster tersebut.


Sebenarnya, sebelum ke tempat itu, Lesya menyewa mobil taksi agar tak terlalu diketahui motifnya. Sang supir hanya mengiyakan saja karena bayaran yang diberi Lesya cukup mahal untuknya. Dan Lesya akan mengembalikan tepat pada tempat semula mereka bertemu.


Saat membuka pintu ruangan yang sempat digunakan untuk menyekap sang adik kemarin, netra mata abu-abu itu segera masuk tanpa basa-basi. Hatinya ikut teriris di kala melihat sang adik kembarnya yang duduk dengan memeluk lututnya. Tak lupa penampilan acak-acakan dan tangan yang diborgol.


"Ara," panggil Lesya.


Sang empu menoleh dan membulatkan matanya terkejut dengan kehadiran kakak kembarnya di sana. Dia menangis dengan sedikit terisak saat sang kakak memeluknya tanpa merasa tak nyaman dengan penampilannya yang kotor.


"K-kakak kok di sini?" tanya Letha lirih.


"Gak penting. Sekarang ayo kita pergi dari sini! Ini kunci borgolnya di mana?"


Lesya celingukan ke sana sini mencari benda yang dapat melepaskan borgol yang melekat di pergelangan tangan sang adik. Dia kini tak peduli tindakannya akan berdampak apa padanya nanti.


"Dibawa Revan, Kak. Biasa jam segini aku dilepasin terus keliling taman belakang, tapi mereka kelamaan datangnya." jujur Letha sedikit takut dengan aura yang dipancarkan oleh kakak kembarnya. Memang hingga saat ini, aura Lesya itu masih dapat terlihat walau hanya dari tatapan mata.


"Jangan peduliin mereka! Nah, pake kawat aja, kebetulan gw sengaja bawa." kata Lesya seraya mengeluarkan kawat dari tas ranselnya. Memasukkan kawat yang dia bawa pada lubang kunci borgol, dengan terus berusaha Lesya membengkokkan borgol hingga terlepas.


"Nice, ayo kabur!" ajak Lesya.


"T-tapi kalau Elvan tau g-gimana?"


"Itu urusan gw, ayokk!"


Letha beranjak berdiri setelah sang kakak membuka tali yang mengikat dua pergelangan kakinya. Mereka berjalan dan berniat kabur melalui satu pintu yang ada di ruangan itu. Menurut pengalaman Letha selama di sana, arah pintu menuju pada taman yang biasa dia lalui saat diberikan kebebasan di siang hari.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Letha. Mereka benar-benar keluar dan bertemu taman yang memiliki lapangan kosong dengan beberapa pohon yang tumbuh saja. Itu memang sengaja dibuat begitu karena niat hadirnya taman tersebut hanya untuk sekedar menenangkan pikiran saja.


"Woy lo kan tahanan di sini?!"


Satu lelaki yang merupakan anak buah dari Elvan tak sengaja berjalan dan melihat pakaian yang dikenakan oleh Letha. Memang jika para tahanan yang ditahan oleh Tiger Wong diberikan pakaian khusus namun dengan logo tiger dibelakang. Gambarannya seperti sedang keluar diam-diam dari penjara.


"Kak!" cemas Letha karena takut tertangkap dan terkurung lagi.


"Jangan panik! Ada gw di sini, tetap bersikap biasa aja." intruksi Lesya yang paham dengan kecemasan sang adik.

__ADS_1


Sang lawan bicara hanya mengangguk pelan saja walau sedikit ragu. Namun, sudah semakin banyak anggota Tiger Wong yang mulai datang ke arah mereka.


"K-kak,"


Bughh! Bughh! Plakk! Bugghh!


Lesya tak segan-segan menghajar satu per satu anak buah gangster yang kini sedang ia masuki. Genggamannya pada sang adik kian mengerat karena takut adiknya dilukai ataupun disentuh. Dia tak percaya lagi siapapun di sini. Sifat lamanya, kini kembali muncul.


Dikarenakan lawannya perlahan cukup banyak, Lesya melepaskan genggamannya pada Letha namun sebelumnya dia memberikan intruksi agar Letha dapat keluar dari sana. Cukup terganggu tindakannya jika terus-terusan begini karena dia sedang dikepung.


"Tha, pergi dari sini! Gw bakal susul lo nanti. Di samping gerbang belakang kebetulan kebuka, lo kabur diam-diam ke sana oke? Tenang aja, pintunya sengaja gw buka, nanti jangan lupa dikunci." intruksi Lesya berbisik.


"Tap---


"Tha, please kali ini, nurut sama gw. Nanti gw bakal susul lo kok." pinta Lesya lagi dengan berbisik karena lawannya kini sedang tersungkur.


Pada akhirnya Letha mengangguk dan mengikuti intruksi sang kakak untuk kabur dari taman tersebut secara diam-diam. Walau sesekali saat perjalanan dia bertemu dengan orang-orang yang hendak menahannya pergi, Letha dengan segera tanggap memberi tindakan berupa tendangan telak pada bagian penting lawannya.


Berbeda dengan Lesya yang kini terkepung tetap berusaha agar lolos. Sudut bibirnya berdarah dan pipinya tergores. Tak lupa dengan beberapa memar di sekitar pelipis juga jidatnya, pada akhirnya Lesya masih dapat lolos.


Lesya berlari menghampiri sang adik yang kebetulan duduk di samping kursi kemudi. Segera dia mengetuk pintu dan berlari memutari sebagian mobil. Kakinya tergesa untuk duduk dan menutup pintu. Beberapa anak buah Elvan itu masih dapat mengejar walau sedikit pincang dibuatnya.


"Pasang seatbelt!" ucap Lesya menyalakan mesin dengan kecepatan sedikit tinggi. Letha menurut saja. Dia segera memasang seatbeltnya dan menggenggam pegangan mobil di saat merasakan kecepatan mobil yang dia tumpangi perlahan mulai menaik.


"Ya."


Bola mata Letha seperti ingin keluar dari sarangnya melihat sang kakak yang mengemudikan mobil bahkan menerobos kendaraan yang mengangkut barang. Bahkan Lesya juga melewati lampu merah dengan gamblangnya. Sirene polisi juga sama sekali tak dipedulikannya kali ini. Toh, beberapa menit kemudian dia juga akan lolos.


"Kak, itu mobil Elvan kan?"


Letha yang kebetulan tak sengaja melihat mobil ‘suami’ dari sang kakak, segera menunjuk pada satu objek yang terlintas tepat di samping mereka. Lesya mengangguk cepat karena juga melihat kehadiran mobil berwarna navy tersebut. Sepertinya sedang perjalanan menuju markas, pikir Lesya yang tepat sasaran.


"Ambil handphone gw, telpon temen lo!"


"Pin nya?"


"1204**"


Letha mengangguk dan melakukan sesuai perintah sang kakak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena sama sekali tak menemukan keberadaan kontak salah satu dari kedua sahabatnya di ponsel sang kakak.


"Cari di grup kelas!"


Letha sedikit gemetar saat mencari kontak temannya. Kecepatan mobil yang ditumpanginya sedari tadi membuatnya senam jantung. Setelah mendapatkan kontak sahabatnya--Nayla, segera Letha menekannya. Merasa sudah ketemu kontak Nayla, segera Lesya merebut ponselnya dan menyalakan loudspeaker.

__ADS_1


You calling +62813428**** …


📞 Halo, dengan siapa di mana?


📞 Nay, gw Lesya, lo telfon Amel suruh nunggu gw sama Letha di rumah gw ya! Letha nya udah gw bawa nih.


📞 Seriously? Secepat ini?


📞 Ya.


📞 Tapi ke rumah yang mana nih? Lo gak punya satu rumah sekarang.


📞 Rumah Papi gw.


📞 Ok-ok, I’m on the way!


Tuuuttttt!


Sambungan telepon berakhir begitu saja. Memang Lesya merebut ponselnya karena merasa tak memiliki waktu lama. Setibanya di tempatnya semula saat meminjam mobil, Lesya berhenti dan melihat sang supir yang duduk di meja penjual bakso. Sepertinya supir tersebut baru selesai melahap bakso.


"Tha, lo pindah ke belakang biar gw cari jaket di butik Luna itu! Ingat, jangan keluar atau nampakin diri, oke?" pesan Lesya diangguki dengan paham oleh Letha. Segera dia keluar dan berpindah tempat di kursi belakang sesuai perintah.


Lesya berjalan memasuki butik milik Henny yang kebetulan ada di samping penjual bakso tersebut. Dia hanya mengangguk tanpa tersenyum di saat pegawai butik tersebut menyapanya. Memang dia lumayan kenal dengan wajah-wajah pegawai butik yang kini diambil alih oleh Luna--sahabatnya.


"Lesya?" panggil Henny dari depan sana.


Sang empu mendongkak dan mengangguk. Dia berjalan cepat menghampiri wanita paruh baya yang kini terbatuk-batuk, mungkin sesak nafas. Bukan karena kedatangannya, tetapi karena gejala dari penyakitnya.


"Sya, Mama minta maaf waktu kejadian itu." sesal Henny menundukkan kepalanya. Ancaman sang anak tunggalnya tak main-main. Luna benar-benar menyuekinya ataupun bersikap ketus padanya. Dan hal itu membuat penyakitnya terkadang kembali kambuh akibat memikirkan cara yang tepat agar tak dicueki begitu.


"Gak papa kok, Ma. Sasa gak terlalu mikir ke sana, sama sekali gak masalah, Sasa tau gimana perasaan Mama waktu itu." ucap Lesya sopan membuat Henny lega mendengarnya. "Tapi Sasa boleh minta jaket gak, Ma? Sasa lagi butuh banget soalnya." lanjut Lesya lagi.


Henny sontak mengangguk cepat dan mengambilkan satu jaket yang memang hendak ia kasih kepada Lesya sebagai permintaan maafnya. Dia tahu jika sahabat anaknya itu suka mengoleksi jaket yang terbuat dari benang wol.


"Kebetulan banget, Sya! Ini Mama bikin khusus buat kamu sebagai permintaan maaf Mama, diterima ya." kata Henny menyodorkan jaket yang dia maksud.


Lesya segera menerima dengan senyumannya yang tulus. Setelah berpamitan dan mengucapkan kata maaf karena tak dapat berlama, Lesya keluar. Dia tak dapat berlama-lama saat ini. Situasi sedang tak kondusif saat ini.


"Pak, ayo!" panggil Lesya dibalas anggukan cepat dari supir tersebut.


Dua kembaran yang memiliki gender yang sama kini duduk bersebelahan walau tanpa melihat satu sama lain. Keduanya sangat canggung jika dalam situasi berduaan seperti ini. Letha juga kini menggunakan jaket yang diberikan pada Henny untuk Lesya agar menutupi lambing logo dibelakang pakaiannya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2