Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
30: Berpisah (Elena)


__ADS_3

Di altar ada Mayang, Angga dan Elvan. Jangan lupakan Alam, Luna, dan Letha dkk. Lesya dan Elena berjalan seraya bergandengan tangan.


Lesya sendiri bingung mengapa Elena tiba-tiba memeluknya? Pikir Lesya. Elena sama sekali tak melunturkan senyum manisnya.


Luna tersenyum jail kepada Lesya. Lesya melihat Luna merasa tak beres. Elena melepaskan tarikan nya. Tangannya beralih memeluk Mayang. Ada rasa tidak rela nya berjauhan dengan bundanya.


"Cie.. cie.. Kiw! " goda Luna menyenggol tangan Lesya.


Lesya ngeri sendiri melihat tatapan aneh Luna, "Sehat lo? " Senyum Luna luntur begitu saja.


Ucapan Lesya sangat mengganggu momen. Wajah Luna yang fresh mendadak masam bagaikan lemon. Dia hanya berdehem saja menanggapi ucapan Luna.


Tiba-tiba Letha angkat suara, "Eeh, selamat kak!" ucapnya tersenyum.


"Makasih, kamu kok agak mirip Lesya? " Letha tersenyum manis, "Aku kembarannya kak Lesya kak" balasnya.


Mereka mangut-mangut paham saja. Berbeda dengan Elena, "Tapi kok waktu perni—" Lesya menutup mulut Elena panik.


Luna yang paham akan situasi mengkode Alam lewat matanya. Alam yang paham akan kode Luna hanya mengangguk.


Lesya melepaskan bekapannya dan membiarkan Elena bernafas. Dirinya kikuk saat semua mata melihat kepadanya.


Alam berbisik kepada Elena, " Hon, kembarannya Lesya suka sama adek kamu dan dia tak tahu pernikahan Lesya karena tak mau adiknya itu kecewa. Jadi, jangan umbar pernikahan mereka"


Elena menatap Lesya dengan selidik setelah dibisik oleh Alam. Lesya mengangguk saja walau dia tak tahu apa yang dibisiki oleh Alam hingga Elena seperti itu.


Luna hanya berdehem keras saja tuk mencairkan suasana, "Ekhem! Selamat buat kak Elena dan bang Alam, semoga langgeng terus nyampe beranak cucu"


Semua orang yang disana mengaminkan ucapan Luna. Kini Nayla, Amel dan Letha angkat suara.


"Semoga bahagia bersama terus ya kak" ucap Letha.


"Ya bahagia lah! Kan nikah sama orang yang dicintai" canda Amel.


"Jadi kalo gak cinta terus nikah gimana dong? " Pertanyaan Nayla sukses membuat Lesya terkejut. Ini kebetulan dibilang apa mereka udah tau? Pikir Lesya.


"Cinta itu bisa dateng kapanpun dan dimanapun tanpa mandang fisik dan kelemahan" sahut Mayang tiba-tiba.


Letha dkk, Lesya dan Luna tak menyadari keberadaan Mayang karena memang tertutupi oleh Elvan dan Angga di sampingnya.


"Anda adalah? " Mayang mengangguk. Dia cukup tahu isi pikiran Letha saat ini.


"Woah, mimpi apa aku bertemu istri dari tuan Angga? " kagum Amel heboh.


Luna dan Lesya menyalimi punggung tangan Angga dan Mayang bergantian. Mereka ingin menikmati makanan yang ada. Ralat! Lesya hanya diajak oleh Luna.


"Kita mau makan, kalian mau ikut gak? " ajak Luna.


"Yaudah kita ke bawah aja yuk tha" Letha berpikir dan akhirnya menyetujui ajakan Luna.

__ADS_1


"Lesya ke bawah ya" ucap Lesya saat Letha dkk sudah turun. Mayang, Angga, Alam, dan Elena mengangguk saja.


Luna menarik Lesya ke bawah karena perutnya sudah lapar. Lesya geleng-geleng melihat tingkah Luna yang kekanak-kanakan menurutnya.


Mereka mencicipi makanan yang ada. Bahkan Letha dkk banyak menambah makanan. Berbeda dengan Lesya yang hanya makan secukupnya. Dia merasa tak sanggup makan lagi karena kebanyakkan.


Lesya tipikal orang yang malas makan. Sekali makan hanya sedikit karena kenyang minum air mineral saja. Dari dulu, dia hanya makan 1× dua hari.


Selain itu, Lesya agak pemilih makanan. Lebih suka daging dibandingkan sayur. Dia lebih suka memakan cake dibandingkan nasi. Ada yang sama? Author juga sama!


Saat Lesya makan cake rasa kesukaannya, dia dipanggil oleh seseorang. Luna juga ikut menoleh ke arah suara karena dia juga ikut dipanggil.


"Lesya! Luna! " panggilnya.


Lesya menoleh ternyata mama tiri Alam yang memanggil. Lesya dan Luna pamit kepada Letha dkk menghadiri mama tiri Alam. Letha dkk mengiyakan saja.


Saat Lesya dan Luna menaiki altar. Luna langsung berlari memeluk Hansen, papa dari Alam. Mereka cukup dekat karena Luna yang tak memiliki ayah menganggap Hansen ayah penggantinya.


"Papa! " girang Luna. Lesya jengah dengan sikap Luna. Dia beralih kepada Hera, mama tiri Alam.


"Ma, " Lesya menyalimi punggung tangan Hera dan menatap Luna yang belum melepaskan pelukannya.


Lesya menarik Luna agar menjauh dari Hansen namun tak berhasil karena Luna memeluk Hansen erat. Hansen terkekeh dengan sikap Luna yang dia anggap anaknya sendiri.


Lesya menarik Luna lebih karas dan berhasil. Luna mencebikkan bibirnya ke depan.


"Emang papa kangen sama lo? " Luna menatap Hansen tanda tanya saat ditanya oleh Lesya.


"Siapa bilang papa gak kangen? " Lesya mendengus sebal mendengar itu. Luna memeletkan lidahnya ke arah Lesya tanda mengejek, "Wlee! "


"Bod*amat gw sama mama aja" Luna tertawa disambungi Hansen.


Hanya ada mereka berempat di sana karena Mayang dan Angga pergi menyapa tamu. Elena dan Alam? Mereka asik berbicara berdua saja.


Jika Elvan? Dia pergi kepada teman-temannya. Rupanya teman-temannya datang di acara dan sudah memberi ucapan selamat terlebih dahulu.


"Umumu, Sasha ngamuk pa! " adu Luna. Hansen beralih memeluk Lesya. Dia dan Hera tahu permasalahan yang dijalani Lesya saat ini.


"Geli Lun! " Luna mencebik, "Lo mah aneh Sya" Lesya acuh tak acuh mendengar itu bertepatan Elena dan Alam datang.


"Heyo ngomongin apaan nih? " samber Alam tiba-tiba. Elena sempat kikuk dengan kehadiran kedua orangtua suaminya.


"Ngomongin gimana caranya bikin anak! " ngawur Luna. Hal itu sukses membuat mata mereka membulat.


"Heh! Belajar dari mana lo? " tanya Alam. Luna menyengir kuda, "Bang andre! Pas gw masuk ke ruangannya, dia nonton b*kep! "


Lesya menghela nafas. Sudah di bilang jangan masih dilakukan juga. Alam menoleh ke Lesya. Rupanya Lesya agak tertekan. Alam berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.


"Pffftt! " Lesya menatap tajam Alam. Luna angkat tangan saja tahu ada perang ketiga. Elena menatap Alam dan Lesya bergantian.

__ADS_1


"Kalian mau perang? Jangan lupa yang satu bawa piso, yang satu bawa golok! " Alam menatap Elena yang berucap enteng.


Bisa saja mereka perang dengan bawa golok dan piso bahkan lebih. Namun mereka tahu jika Elena belum tahu identitas asli mereka.


"Hon, kita pergi aja yuk! Di sini gerah" Alam menarik Elena ke pelukkannya dan membawa Elena pergi dari sana.


"Sial*n! " gumam Lesya pelan hampir tak didengar mereka. Hanya angin yang mendengar gumaman Lesya.


Setelah acara selesai, kini Lesya, Luna, keluarga Grey, dan keluarga Bryson berada di satu ruangan. Mereka ingin menyerahkan Elena kepada keluarga Bryson.


"Bunda emang gak bisa Elen sama bunda? " tanya Elena. Mayang menghela nafas dan tersenyum.


"Sekarang kamu udah jadi istri dan istri harus ikut suaminya" nasihat Mayang. Luna dan Lesya menyimak saja karena mereka tak dilibatkan.


"Emang sehari aja sama bunda gak boleh gitu? " rengek Elena yang masih tak rela berpisah dengan Bunda kesayangannya.


"Elen, sekarang kamu udah jadi tanggung jawab Alam bukan bunda lagi. Jadi kurangin sifat manja kamu ya. Kamu tetap anak bunda kok. Dan kalo kamu kangen, tinggal dateng ke rumah. Pintu rumah selalu terbuka buat putri bunda satu-satunya"


Mata Elena berkaca-kaca. Hera tahu perasaan Elena. Bagaimana tidak? Sudah dibesarkan dengan kasih sayang yang begitu melimpah dan kini harus berpisah? Elena menangis sejadi-jadinya mendengarnya.


Tak hanya Elena, Luna sendiri bahkan tak sadar menangis dan memeluk Lesya. Lesya yang melihat keakraban ibu dan anak merasa iri. Dia ingin sekali menangis namun dia tahu tempat. Tak seperti Luna!


"Huhuhu, gw kok mewek ya? " ucap Luna tiba-tiba. Merusak suasana saja!


Lesya melotot. Pundaknya serasa basah karena tumpahan air mata Luna.


"Ih, jorok lo Lun! Baju gw basah kan! " Lesya melepaskan pelukan Luna yang erat hingga dirinya sesak nafas.


"Ish, ganggu momen lo! " Lesya melotot, "Lo yang ganggu momen! Anak orang mau pergi ninggalin rumah, lo maen nyaut! " bantah Lesya.


"Husst! Kalian diem dulu, kalau mau berantem diluar aja sono" usir Alam.


"Paan sih?! Iw, lo kalo mau ingusan lap di tisu dong! Jangan di rok gw" Luna melotot, "Mana ada orcan kek gw ingusan! "


"Trus rok gw kenapa bisa basah? " tanya Lesya, "Hujan kali" elak Luna.


"Iya hujan aer mata lo" Luna mendengus. Lesya susah sekali untuk tak membongkar aibnya di depan orang lain.


"Husstt! Udah nanti tinggal dicuci aja" lerai Hera. Lesya dan Luna terdiam mendengar Hera angkat suara. Bukan takut, tapi takut momen terganggu.


"Hiks, ydh deh aku sama tante aja" pasrah Elena. Hera tersenyum akhirnya dia punya teman, "Jangan tante, tapi mama" Elena tersenyum kikuk mendengarnya.


"Ada pengganti" bisik Luna ke telinga Lesya, "Brisik lo! Itu bukan pengganti tapi menantu"


"Sama aja! Gw takutnya kita tergeser" Lesya acuh tak acuh dengan ucapan Luna yang ngawur.


Kini Elena pulang ke kediaman Bryson. Luna pulang ke rumahnya sendiri dan Lesya pulang dengan Mayang, Angga dan Elvan menuju kediaman Grey.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2