Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
284: Tawuran 2


__ADS_3

Sekitar 2 menitan berlalu, terlihatlah satu mobil hitam sangat besar yang tiba dari arah depan mereka hingga mereka semua terhenti. Anggota musuh berlari berhamburan dan sigap berdiri di arah samping kanan, kiri, depan, bahkan belakang mobil itu. Ada yang aneh?!


Sementara Luna menghela nafasnya panjang dengan wajah yang sudah babak belur. Begitu juga dengan Lisa yang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Ini tawuran namanya! " gumamnya kecil.


Berbeda dengan keadaan Leon yang sudah tepar terlebih dahulu di aspal jalan. Jujur saja dia dapat bela diri namun sangat sulit jika dirinya dikepung belasan orang. Ini bukan keahliannya karena biasanya Lesya hanya akan menyuruh dia duduk diam di sebuah ruangan dan mencari informasi data musuh. Bukan ikut penyerangan!


Kondisi Leon jauh dari kata baik karena mulai dari atas kepala hingga tubuhnya penuh dengan bekas luka. Jika tawuran antar geng begini, dilarang menggunakan senjata api kecuali pisau dan pistol saja.


Namun beda halnya dengan peperangan yang menggunakan ketana, pedang ataupun senjata api lainnya. Jadi, masih beruntung Leon tak digunakan senjata sama sekali. Lisa dengan cepat menghampiri Leon yang terbaring dengan terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit darah. Dan hal itu bertepatan dengan kedatangan Cakra, Alam, serta Revan.


Luna yang tak terima melihat sahabatnya begitu mengepalkan tangannya kuat. "WOY ANJ*NG SIAPA SIH LO ***?! BERANI BENER BIKIN LEON LUKA GINI?! GW HAJAR JUGA LO YA *****?!! " umpat Luna kasar. Saat dirinya hendak maju dengan cepat Valen dan Ken menahan Luna yang sudah emosi begitu.


"**** SIAPA YANG BERANI BUAT ADEK GW GINI SIH *****?! SINI MAJU GOBL*K, MAIN KEROYOKAN GINI LO PIKIR GW TAKUT APA?! " emosi Cakra lalu berjalan mendekat ke arah Luna.


Cakra memang sudah menganggap Leon adalah adiknya hingga perasaannya sangatlah sakit melihat Leon sudah tepar di aspal jalan dengan memuntahkan darah yang sudah cukup banyak. Bahkan Lisa sudah sedikit menangis melihat keberadaan sang kekasih sudah hendak menutup matanya bagaikan orang lemah.


"Enggak, jangan tutup mata kamu dulu Yon! " lirih Lisa. Leon hanya tersenyum tipis saja dan memegang dadanya yang terasa sakit. "Iya, aku juga mau lindungin calon istri aku juga kali! " lirih Leon menjawab walau disertai dengan bumbu candaan agar Lisa terhenti menangis.


"Gak lucu! " balas Lisa dengan sedikit kesal mendengar jawaban aneh Leon yang justru terkesan bercanda. Lisa dengan cepat beranjak berdiri dan memapah Leon menuju barisan deret teman-temannya.


"Vano lo di sini? " tanya Lisa memberi alih Leon kepada Revan. Lisa masih belum tahu jika keberadaan Elvan dkk di sana. Elvan hanya mengangguk sekilas dan terdengarlah rahang yang mengetat melihat siapa yang keluar dari mobil hitam besar itu. Siapa lagi kalau bukan Elvan yang sedang menahan emosinya?!

__ADS_1


Bagaimana tidak geram kalau yang dia lihat adalah sang bunda, sang kakak, bahkan ada sang ayah yang keluar dengan tangannya yang diikat. Selain itu setelah keluarganya keluar, terdapat Letha dkk yang rupanya salah satu sandera di tawuran dadakan itu. Mereka di bariskan di barisan depan dan tak lupa disodorkan pisau di atas kepala mereka.


Tak hanya itu, Lisa juga tak terkejutnya melihat kedua orang tuanya yang terakhir keluar dan di todongkan pistol di atasnya. Jika pelatuk ditarik, maka mereka semua mungkin hanya tinggal nama. Tiba-tiba keluarlah seorang perempuan dengan jubah merah mudanya yang dikombinasikan warna hitam. Berdiri dengan santai dan membuka maskernya, Luna seolah tak percaya dengan orang itu. Felicia?!


"MAMA?! " panggil Lisa lalu hendak melangkah namun ditahan oleh suara perempuan yang tak lain adalah suara Felicia. "Satu langkah maju nyokap lo mati! Dua langkah maju, bokap lo korban! " tekan Felicia.


Gilang yang melihat hanya tersenyum sinis ke arah mereka yang berjejeran dengan tangan yang diikat. Saat hendak pulang diperjalanan, mereka semua dibius dan dibawa ke dalam mobil besar itu. Dan beginilah jadinya.


Revan dan Cakra sudah berhasil membawa Leon ke dalam mobil milik Frans yang hanya sedikit jauh dari sana. Catatt, hanya sedikit saja! Fyi, mereka sengaja mengamankan Leon agar Leon dapat sempat mengobati lukanya.


Sementara Alam menahan geram melihat sang istri di sekap begitu. Sementara Cakra yang dibelakang dengan cepat menghubungi lesya namun tak diangkat oleh gadis itu. Felicia tertawa sinis melihat Cakra yang bagaikan orang yang menghubungi seseorang.


"Gak bakal dijawab sama queen lo itu karena Rio mungkin bakal bobolin Lesya! Makanya jangan ganggu! " sinisnya. Mereka mendelik bersamaan dan menahan marah mendengar hal itu. Berbeda Galang yang turun dari motornya menghampiri Angga dan merangkul pundak lelaki setengah abad itu.


Berbeda dengan Elvan yang sudah tak tahan mendengar dan melihat keluarganya yang direndahkan begini. Dengan cepat dia berbisik kepada Valen dan berjalan ke arah mobilnya mengambil peralatan yang cocok. "Serang?!! " ucap Valen memulai perintah.


Pertarungan itu berakhir sengit. Baik Angga dan Arya tetaplah menggunakan kaki dan tangan mereka membantu yang lainnya. Walau tangan mereka yang diikat namun masih dapat dikepalkan hingga dapat melawan. Dan bahkan Leon juga ikut keluar dan membantu meringankan beban teman-temannya walau sakit.


"Kamu ngapain sih di sini Yon?! " ucap Lisa menghentikan serangan musuh melihat Leon yang berada di sebelahnya. Leon hanya tersenyum samar saja dan fokus menyerang musuhnya. "Karena aku gak mau jadi beban tapi jadi peringan beban walau kecil! " jawab Leon.


Lisa hanya tersenyum tipis saja. Sementara di sisi Luna, gadis itu berhasil menerobos keramaian dan bahkan berada di depan banyaknya sendera yang ada. Tiba-tiba kepalanya di todongkan sebuah papan kayu. "Hello girl, are you ready? "

__ADS_1


"Felicia, mungkin gw akan hapus embel ‘kak’ dari nama lo! Gak pantes gw anggap lo kakak karena biasanya seorang kakak lah yang melindungi adiknya?! " tajam Luna. Felicia berdecih kecil. "I don't care"


Hati Letha teriris mendengarnya. Dia berusaha membuka tali yang mengikatnya. Tiba-tiba dia teringat dengan sosok Lesya yang selalu menjaga dirinya. Entah itu besar atau kecil masalahnya, Lesya lah yang sering dapat masalah dibanding dirinya. Walau begitu, dia tetap saja menyalahkan Lesya di setiap masalah hingga tanpa sadar dia tak mempedulikan keberadaan sang kakak.


Serangan mula-mula di mulai oleh Felicia dan dibalas saja oleh Luna. Bahkan Luna diam-diam melempar pisau lipatnya ke arah Mayang. Mayang yang tanggap berjongkok dan berusaha menggunakan pisau itu untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya. Dan, lolos!


Tentu saja Mayang melihat sekelilingnya yang sibuk bertarung. Dengan kesempatan emas, dia membuka satu per satu tali yang mengikat mereka. Untung saja tak ada yang menyadarinya kecuali satu orang anak kecil polos. Sudah 2,5 jam pertarungan ini berlangsung namun tak ada tanda-tanda akan berakhir.


Bughhh!


Dorrr!


Dorrr!


Duakkk!


BUUUMM?!


Satu bangunan di sekitar mereka hampir roboh. Ditambah orang yang terpental tak lain adalah Elvan karena menghadapi banyaknya musuh dengan banyak senjata. Dan tanpa sengaja, tombol di gelang itu ikut tertekan hingga membuat interaksi panggilan dengan Lesya yang berada di ujung sana. Ini kejadian 3 jam yang lalu!


"ELVANNNNOOO?! " pekik Mayang. Elena menoleh dan berjongkok lesu melihat keberadaan Elvan yang kembali terlempar ke arah mereka. "Dekk" lirihnya lalu hendak berjalan namun ditarik oleh seseorang. Orang itu adalah Galang yang baru saja menyadari jika para sandera sudah terlepas dari tali.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2