Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
150: Praktek kimia!


__ADS_3

Menunjuk ke arah kursi samping Lesya, Pak Rio menyuruh Elvan duduk di sana. "Kamu duduk di situ! " Tanpa basa-basi, Elvan berjalan tanpa menghiraukan sorakkan hiteris kaum hawa yang mengajaknya duduk disamping nya.


Lesya menoleh dan menatap Elvan yang duduk tanpa permisi. "Lah? Ngapa lo di sini? " Luna menoyor kepala Lesya kecil. "Yee.. Musuhan mulu sih lo makanya gak inget tempat, waktu, sekeliling! "


Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal saja. "Mana gw tau! " jawabnya. Pak Raka memulai pembelajarannya dan dengan tenang pelajaran berlangsung.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka mengambil barang praktek masing-masing kelompok dan mulai mengerjakan sesuai dengan ucapan pak Raka.


Berbeda dengan kondisi meja yang paling pojok yang terus menatap sengit satu sama lain. Lesya dengan Amanda sementara Luna dengan Lisa.


Leon dan Valen bergidik ngeri melihatnya. "Kalo cewek marahan ya gini! " gumam Valen kecil yang dipastikan masih terdengar. Leon mengangguk setuju. "Jangan tatap-tatapan nanti jatuh cinta loh! " canda Leon.


"Garing! " kompak Lisa dan Luna bersamaan. Luna dan Lisa memang tak dapat disatukan satu sama lain. Entahlah! Sama sekali tak ada masalah namun saling bermusuhan.


Lesya yang melihat adanya senyum miring di wajah Amanda membalasnya tak kalah sinis. "Bakar-bakar! " ucap Luna menyenggol sikut Lesya.


"Korek! " Leon melemparkan mancis miliknya ke arah Lesya. "Masih ngerokok lo? " tanya Lesya menangkap dengan baik mancis pemberian Leon.


Leon menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal mendengar Lisa yang melotot. "Lo ngerokok? Katanya lo bukan perokok? Bohong lo ya! "

__ADS_1


Luna hampir tertawa mendengarnya. "Kan! Gw udah bilang jangan malah dilakuin! Rasain tuh karmaa! " Lesya yang membakar lilin mengangguk setuju dengan penuturan Luna. "Lah nabung dosa si Leon! "


Leon yang menjadi topik pembicaraan memutar bola matanya malas. "Lo pada juga udah berdosa juga sok sok mau ngajarin gw! " Lesya melotot. "Semua orang kali! Kita udah bilang jangan malah ngeyel! "


"Bolong leher lo gw tambah cekek! " ancam Lisa dengan nada horor. Nyali Leon menciut dan akhirnya mengeluarkan satu pak rokok dari sakunya. Santai, Leon membuang ke dalam tong sampah yang ada di sebelahnya. "Udah gak ada tuh! "


Luna tertawa melihat tingkah Leon. "Bucinn lo anj*r! " Lesya memutar bola matanya malas. "Timpuk berjamaah sini Yon sama anak basecamp! " Leon memutar bola matanya malas. "Maapkeun, kalian orang iri tolong jangan protes! "


Lisa mengangguk setuju. "Iri? Bilang dong bos! " Lesya memutar bola matanya malas. "Bos gak pernah iri sama ubabnya! " Lisa berdecak mendengarnya. "Haiya iya! Iri kagak geli iya! " tambah Luna.


"Udah ngaku aja kalian iri gak ada yang bucinin! " goda Leon. Lesya mengambil salah satu cutter yang kebetulan ada di sampingnya. "Lun, lo bawa boneka gak? " tanya Lesya santai.


Leon melotot. "Heh anj*r! Jangan lah! Nanti yang mau ngere--- " Tiba-tiba saja pak Raka menongolkan tatapan dan senyum mautnya yang menurut mereka yang berada di meja Lesya biasa saja. "Ekhem! Ngomongin apa kalian? Trus itu kamu Sya ngapain pengang gunting? "


"Eh, a-anu pak! " Seketika terlintas ide jahil di benak Lesya untuk mengerjai guru kimia yang tak memiliki rambut itu. "Buat motong rambut bapak! Siapa tau rambut bapak bisa botak berbojol! "


Luna menahan tawanya dan menimpali ucapan nyeleneh sahabatnya itu. "Biar kutu bapak kelindes pak! " Pak Raka mendengus geram. "Tapi masalahnya saya sama sekali tak punya rambut! "


Dengan kompaknya Leon, Lisa, dan Valen mengarahkan maksud dari Lesya dan Luna itu. "Alias botak! " kompak mereka. Gelak tawa terdengar di ruangan itu.

__ADS_1


"Ngaku juga ya bapak kalo bapak tuh botak gak punya rambut! " santai Lesya tertawa kecil. Luna tertawa lebar. "Gak modal beli kaca dia Sya! Makanya gak sadar kalo gak punya rambut! "


Ricuhan tawa terdengar kembali. Bahkan lebih ricuh karena kalimat asal penyeplosan Luna yang sama sekali tak disaring. Berbeda dengan Letha yang menatap aneh kedua temannya yang tertawa. "Padahal gak lucu! " gumamnya.


Frans hanya geleng-geleng kepala saja. Dirinya melirik ke arah Farel yang justru menatap Letha seraya tersenyum kecil. "Farel ngapa ya? " gumamnya.


Berbeda dengan Amanda yang sama sekali tak berekspresi. Dia hanya menatap tajam Lesya yang tertawa lalu bergantian menatap sejuk Elvan yang fokus dengan prakteknya. "Ganteng banget sih gil*! " gumamnya masih terdengar di telinga Lisa.


* Whattt?! Si uler suka sama kutub?! Gak bisa dibiarin nih!! Gw gak mau kalo sampe sepupu ipar gw si uler genit kek tante-tante club!! Kalo dibandingin sama si kacang(Lesya)... Lumayan lah! Walaupun sering berantem, tapi bod*lah! Yang penting model sepupu ipar gw gak langganan om-om pedo!! Gw harus kasih tau kutub kah? Atau si kacang(Lesya)? Bingung gw! *


Kembali kepada pak Raka yang menggerang emosi. "Mau nilainya bapak ganti jadi merah semua? " ancam nya. Sunyi, merasa tak ada gelak tawa kembali, Lesya menyalakan kondisi kembali walau tertahan. "Nilai saya udah merah kali pak! Kalo tambah merah nanti kasian pulpen bapak harus neken biar merah! "


Berusaha sabar, pak Raka mengelus dadanya sabar dan menghela nafas panjang. "Sya, sehari aja bisa jangan buat keributan? " Dengan polosnya Lesya menjawab. "Saya gak buat keributan pak! Saya aja gak tau cara bikin keributan bahan-bahannya apa! "


"Telor, tepung, vas kaca, piring! Coba tumpahin itu keributan di rumah pasti bakalan jadi! " tambah Luna. Pak Raka memijit pelipisnya pening. "Udah semua! Lanjutkan praktek nya! Kamu Sya, kalo gak paham tanya sama sebangku kamu! "


Lesya menyatukan jari telunjuk dan jempol nya membentuk huruf 'O' sebagai jawaban menanggapi penuturan pak Raka. Praktek kembali dimulai, Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal di saat tak mengerti cara kerja praktek. "Kimia bangs*t njem! " gumamnya kecil hampir tak terdengar.


Lilin sudah nyala, mangkuk besi tak dapat berdiri di atas lilin tersebut hingga Lesya frustasi memikirkan caranya. Tiba-tiba saja, satu tangan terulur memegang tangan Lesya dan tangan yang satunya memegang ujung mangkok.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2