
"Ini harusnya foto waktu baru-baru bangun gangster kan ya? " gumam Luna pelan. Vay yang di satu sisi melihat papan besar kini hendak ingin membuka papan tersebut. Karena tinggi, akhirnya Valen yang membuka sebagai ganti Vay.
Pandangan mereka beralih semua pada papan hitam itu. Ternyata itu berisi mengenai bukti-bukti bahwa Gatara adalah Arga. Banyak garis merah mengarah dari foto ke foto lainnya. Sontak Galang berjalan mendekat dan mencerna maksud dari papan itu.
"Loh? Kok ada beginian sih? Emang Lesya pernah nyimpan ya? " bingung Luna bertanya. Pasalnya dia tak pernah melihat papan begitu di ruang tamu. Dan dia lihat posisi ruang tamu sedikit berbeda. Kurang lebih ada 3 papan di sana. Seharusnya di ruang rahasia dong? Mengapa jadi di ruang tamu? Pikirnya.
Galang kembali membuka papan yang lainnya. Rupanya Lesya sendiri yang mencari data dirinya. Mulai dari latar belakang hingga masa lalunya. Ah, pantas saja dia menyembunyikan siapa Gatara. Pantas saja karena adiknya adalah musuh saat zaman SMAnya.
Gilang yang penasaran berjalan mendekat dan membaca tulisan-tulisan kecil di papan yang berisi kesimpulan Lesya. Dia cukup tak menyangka karena adanya bukti mengenai siapa adiknya yang hilang saat kecil. Rasa bersalahnya kembali melambung karena tak pernah menyadari siapa Arga alias Gatara.
Grrrhhhhh!!
Kembali menoleh ke arah sumber suara, Luna dibuat kaget dengan kehadiran si kesayangan pemilik rumah alias Lion. Auman nya yang keras membuat mereka kembali menutup papan hitam tersebut.
Harimau itu dengan segera berlari dan meloncat. Mereka semua dengan sigap memghindar serangan Lion. Namun bola mata mereka membulat karena Lion justru mencakar lengan Gilang.
Grrrwwhhhhh!
"Nic! " panggil Luna yang dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Lion.
Sang pemilik nama berlari cepat ke arah sumber suara. Melihat kemarahan di wajah Lion, dia paham dan segera menarik Lion kembali ke kandang.
Memang Lion adalah seekor harimau betina yang mudah terpancing emosi. Tak heran jika dia mudah mengerang marah. Berhasil, karena Lion tak begitu marah akhirnya dengan mudah dibawa ke arah kandang nya oleh Nic.
"Désolé tout le monde(Maaf semuanya), hari ini Lion lebih sensitif." sopan Nic sebelum pergi dari sana.
"Pas un gros problème, (Bukan masalah besar) " tanggap Galang membalas dan beralih pada Gilang. Mily yang lebih dahulu menahan Gilang agar tak jatuh kini meringis histeris karena melihat hasil cakaran Lion yang membengkak.
"Bawa Lang, ke kamar! "
Galang tak menjawab. Dia beralih membopong Gilang ke kamar dengan segera. Gilang sendiri sama sekali tak meringis sakit. Pandangan matanya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu hingga melupakan cakaran harimau kesayangan pemilik rumah.
"Gile, ngeri ya" lirih Valen tak sadar.
"Emang! Lion tuh kayak bodyguard Lesya kalau barengan mereka. Sama-sama galak, kejam lagi." kata Luna membalas dengan lirih. Mereka sama-sama mengerjap pelan dan menoleh ke arah sumber suara yang baru saja datang.
"Lion mana? " tanya Elvan.
"Balik kandang maybe," jawab Valen.
"Dari mana PakTos? Kok baru nongol? " tanya Luna mengalihkan pembicaraan. Bahkan di saat beberapa pelayan datang hendak memindahkan kembali tiga papan itu ke tempat semula, Luna sama sekali tak menanggapinya.
"Taman," jawab Elvan singkat.
__ADS_1
Luna hanya menanggapi dengan mulutnya yang membentuk bulat saja. Valen yang menyadari posisi mereka akhirnya memilih duduk saja diikuti Vay yang sama sekali tak angkat suara.
"Duduk woe jangan diri mulu! Nih rumah gede banget ya? Beli pake apaan sih nyampe desainnya teknologinya lengkap." heran Valen mempersilahkan Elvan dan Luna duduk seolah dirinyalah pemilik rumah.
Luna mendengus malas. Tangannya yang sebelah memegang pelan bahunya. Cukup baik kondisinya alias sama sekali tak separah kedua sahabatnya. Menggerakkan pelan seraya mendudukan dirinya di sofa yang ada, Luna memilih bersenderan di punggung Valen saja.
"Sakit lo? " heran Valen.
"Kagak, cuman nyeri." jawab Luna.
Valen akhirnya membiarkan saja Luna bersenderan padanya. Beralih menatap Elvan yang baru saja duduk, pandangan matanya kini mengarah pada satu bingkai foto yang ada di sana. Dia merasa familiar, dan otaknya yang mencoba mengingat kini tahu siapa orang yang ada di dalam bingkai foto.
"Van, itu bukannya lo waktu kecil ya? " tanya Valen menunjuk ke arah bingkai yang dia lihat. Elvan menoleh dan menatap bingkai yang ditunjuk Valen. Mengambil, dia membuka dan mengambil foto dari dalam bingkai.
...“Ero, si pemilik janji palsu! ”...
...-Ziel si penunggu janji palsu-...
Elvan tertawa kecil membacanya. Dia tak tahu jika Lesya rupanya dahulu mencarinya. Pantas saja di waktu dia saat beranjak SMP banyak sekali akun hacker yang hendak membobol akun identitasnya. Untung saja dia berhasil menangani hingga lawan tak dapat mengetahui siapa dia. Ternyata oh ternyata, hacker itu Lesya, istrinya sendiri saat ini. Dunia sungguh sempit!
"Ngapa lo? Kesambet? " tanya Valen.
Elvan hanya menggeleng pelan dan memasukkan kembali foto dirinya ke dalam bingkai. Ah iya, anyway, isi foto itu adalah gambar Elvan saat kecil dengan tampang datarnya. Saat dahulu Lesya hanya dapat mengambil gambar itu saja karena dia tak dapat meretas identitas si pemilik janji, Ero alias Elvan.
"Oh, itu orang yang pernah dicari Lesya tapi sekarang sih kagak karena dia gak bisa ngeretas sistem keamanannya. Identitas nama aja kagak dapat cuman foto begituan doang." kata Luna.
"Ini foto gw," kata Elvan.
Luna terdiam tak sadar. Dia hanya beroh'ria saja dan kembali memekik kaget saat mendengar ucapan Elvan. "Oh-- WHAT?! " pekik Luna terkejut.
"Keep calm sayangkuu.. " ujar Valen mengelus kupingnya yang sempat berdengung karena pekikan Luna yang super keras. Sang empu yang disebut hanya mendengus kesal. dan beralih menoyor pelan kepala Valen pelan.
"Sayang-sayang dari jongol! " ketus Luna. Valen hanya menyengir pelan saja. Memang setiap di panggil dengan kata romantis Luna tak suka alias geli.
"Sayange rasa sayang-sayange" balas Valen tak menyambung. Luna hanya memutar bola matanya malas. Beralih menatap Elvan, dia teringat dengan ucapan awal tadi. "Eh iya barusan tuh maksud lo apaan? " tanya Luna heran.
"Jadi orang yang di dalem foto ini gw." kata Elvan jujur. Luna yang tak paham maksud Elvan hanya diam mengeryit tak paham. "Ya, tapi kan namanya yang di dalam foto Ero." heran Luna bermenolog.
"Waitt, maksudnya ini Ero itu lo? AIYA?! Baru ngeh gw! " kata Luna antusias. Elvan tak menanggapi pekikan Luna lagi. Dia mengembalikan foto bingkai itu ke tempat semula. Berbeda dengan Valen yang menoyor kepala Luna pelan karena kembali terganggu dengan pekikan gadis itu.
"Gak usah teriak juga ya Alun! " kesal Valen.
"Aduh, atitt(sakit) Alien! " keluh Luna mengeruncutkan bibirnya manyun. Valen tertawa pelan dan mengusap pucuk kepala Luna. Dia sudah kebal semua kelakuan Luna yang sama-sama mooodyan sama seperti Lesya.
__ADS_1
"Aigooo, anak papa atitt ya"
"Na*jis Palennn… "
"Ahaha… "
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Tak terasa hari sudah malam. Dan kini ruang makan sudah diisi oleh banyaknya orang. Berbagai jenis makanan sudah dihidangkan oleh pelayan-pelayan yang bekerja. Semua sudah duduk di bangku masing-masing kecuali sang pemilik rumah.
Seorang lelaki dengan cepat mengambil makanan dengan porsi banyak lalu hendak beranjak ke atas. Namun suara temannya yang membuat dia terhenti.
"Mau kemana lo Van bawa nasi segepok pula? " tanya Valen heran.
"Kamar, Lesya pasti belom makan sejak 2 hari yang lalu." jawab Elvan apa adanya.
Valen hanya menanggapi dengan anggukkan kepalanya paham saja. Sella yang mendengar angkat suara dan kembali menghentikan langkah Elvan.
"Bawa sayur juga Vano biar lengkap." kata Sella. Elvan mengangguk paham dan menambahkan jenis makanan berwarna hijau ke dalam piringnya. Setelah berpamitan, Elvan dengan segera pergi melangkah ke kamar yang dia maksud.
Mengetuk pintu kamar sebelum masuk, Elvan membuka knop pintu secara perlahan. Terlihat jika Lesya masih berada di balkon. Namun bajunya kini sudah terganti. Iya, tadi Elvan sendiri yang mengambil baju untuk Lesya dan diletakkan di dekat perempuan itu agar diganti sendiri. Awalnya dia yang hendak berganti tapi Lesya sendiri yang tak mau.
"Le, makan dulu yuk! " ajak Elvan.
"Gak laper," jawab Lesya.
Mendudukkan dirinya di lantai yang dibangun agar dapat menikmati sisi balkon, Elvan kembali menghela nafasnya panjang entah sudah yang keberapa kalinya. Lesya juga sama sekali tak menanggapi di saat menyadari jika Elvan berada di sampingnya.
"Gw suap mau? "
"Gak! "
"Yaudah,"
Setelah beberapa menit kemudian mereka terdiam, Lesya tiba-tiba saja mencakar kuat jarinya sendiri hingga tergores. Elvan yang sedari tadi memperhatikan Lesya, sontak mengangkat tangan gadis itu dan menyesal pelan darah yang keluar.
"Haiss, lo kenapa sih hobby banget lukain diri? " bingung Elvan setelah menyesap darah yang keluar. Lesya tak menggeleng. Dia baru sadar jika Elvan masih di sana. Dia kira, lelaki itu sudah pergi karena tak tahan dengan sikapnya.
"Jangan ulangin lagi! " kata Elvan.
"I'm sorry, " lirih Lesya tiba-tiba.
Elvan menautkan alisnya bingung. Dia bingung karena Lesya tiba-tiba meminta maaf. Seharusnya dia meminta maaf pada dirinya sendiri bukan pada dia. Hanya keheningan yang tercipta saat ini. Bahkan Elvan saja belum tak menyentuh makanan yang dibawanya sama sekali.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗