
Lesya yang sudah di tiba di salah satu mall terbesar di sekitar-sekitar jakarta perlahan hendak turun namun dihentikan oleh Elvan. "Ehh, tunggu! " Alis Lesya berkerut bingung karena justru Elvan berlari kecil memutari ≤180° membuka pintu mobil yang dia tempati.
Ceklek!
"Silahkan tuan putri! " ucap Elvan tersenyum simpul mengulurkan tangannya ke arah Lesya. Lesya hanya menerima saja walau dirinya bingung dengan maksud Elvan. "Apaan sih lo? Lebay tau gak sih! " malu Lesya karena ini pertama kalinya dia diperlakukan begini oleh Elvan. Bahkan lelaki manapun tak pernah melakukan hal yang selebay ini.
Alis Elvan terangkat satu. Tangannya dia gunakan menutup pintu mobil dan menguncinya sementara tangannya yang lain menggenggam tangan Lesya. Mereka masih menggunakan baju kaos hitam dengan celana olahraga sekolah mereka.
"Bukannya ini ya yang lo mau kemaren? Lo minta saran kan sama adek lo itu kemaren? Lupa? " tanya Elvan. Lesya melotot tak percaya. Dia saja lupa akan hal itu dan mengapa Elvan tahu bahkan ingat? Pikir Lesya.
"Ha? Lo tau? Perasaan gw lupa deh! " ucap Lesya. Elvan hanya menunjukkan gelang tangan yang digunakan oleh Lesya. "Nyambung ke handphone gw kali! " enteng Elvan. Lesya melongo tak percaya dan reflek mencubit pinggang Elvan.
"Jail lo?! Lagian ngapain juga maen sambung nyambungan?! Gak percaya lo sama gw hah? Eh, tapi ada untungnya juga! Lo kan jadi babu gw ya sekarang? Bagus deh kalau lo nyadar! " ucap Lesya menepuk-nepuk pundak Elvan yang meringis kesakitan dengan cubitan Lesya.
Memang benar saja jika Elvan menyambungkan entah itu suara, kamera, dan lokasi di gelang tangan yang Lesya gunakan. Bisa saja Lesya tersambung seperti Elvan di ponselnya namun Elvan masih belum mengaktifkan hal itu di ponsel Lesya. Alhasil karena Elvan mendengar jika Lesya mengerjai nya hanya geleng kepala mendengar saran aneh dari adik Lesya yang akan Lesya gunakan kemarin di ponsel.
"Yowes yok lah gas masuk! " ucap Lesya lalu menyelenong terlebih dahulu masuk mendahului Elvan yang masih geleng-geleng kepala. "Tunggu! "
Kedua insan itu berjalan masuk ke dalam dan berkeliling ke beberapa tempat toko itu. Seperti kata-kata, Elvan lah yang membawa semua belanjaan mulai dari baju, cokelat, bahkan cemilan. Sebenarnya Lesya bingung akan membeli apa lagi karena niatnya datang ke tempat ini hanya untuk mengerjai Elvan saja.
"Ke mana ya? " gumam Lesya. Elvan yang berada di samping Lesya menggenggam tangan Lesya lalu menariknya perlahan ke arah satu toko gaun cabang milik Elena.
Sebenarnya Elena membuka usaha di salah satu mall tanpa campur tangan keluarganya. Dan dia ingin menjadi salah satu perancang busana modern tanpa bantuan sentuhan tangan dari kedua orang tuanya ataupun keluarganya.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam toko, Elvan dengan cepat memanggil satu pelayan yang bertugas. "Mba, tolong pilihin gaun buat dia! " ucap Elvan. Mata Lesya membulat mendengarnya. "Hah gw? Eh, apaan sih lo gw gak mau ya make gaun! " kesal Lesya ketus.
"Pilihin mba! " Mendengar nada bicara Elvan yang tak bisa dibantah, pelayan tersebut mengangguk dan mempersilahkan Lesya ikut dengannya. "Mari kak ikut saya, " ucap pelayan itu dengan sopan.
Lesya mendengus pasrah dan mengikuti arah pelayan itu. Sebelum benar-benar pergi, Lesya menyempatkan dirinya menginjak salah satu kaki Elvan dan menatap tajam lelaki itu.
Elvan hanya meringis kecil dan duduk di salah satu kursi yang disediakan. Lelaki itu merogoh sakunya seraya menunggu Lesya keluar dan mengirimi pesan untuk Farel—temannya.
📩Elvan
Gw izin pulang.
📩Farel
📩Elvan
Ada urusan
📩Farel
Oke deh.
Lesya yang sudah keluar dengan gaun pilihan salah satu pelayan berdecak malas melihat Elvan duduk santai dengan tangan yang memainkan ponsel. Dengan cepat dia berdehem kecil agar menyadarkan Elvan. "Ekhemm! "
__ADS_1
Elvan tersadar dan reflek menoleh ke arah Lesya. Sontak saja matanya mengarah ke arah Lesya dengan pandangan yang melihat mulai dari bawah hingga atas. Baju gaun selutut dengan sedikit motif hitam dominasi merah berbunga di bagian atas sebelah kanan dan bawahnya terdapat yang tak terlalu panjang ataupun norak saat digunakan. Cantik! Eih, mengapa dia tak sadar jika Lesya sangatlah cantik saat feminim? Pikirnya.
"Eoooyyy! Ngapa tuh mata lo jelewetan sana sini? Terpana lo ya sama kecantikan gw? " bangga Lesya mengibaskan rambutnya. Elvan memutar bola matanya malas dan merangkul pundak Lesya. "Iya-iya, lo cantik! " balas Elvan.
Lesya melotot tak percaya. Bibirnya perlahan mulai memancarkan senyuman lebar dengan pipi yang mulai bewarna kepink-an. Rupanya gadis itu sedikit salah tingkah dengan pujian yang dilontarkan Elvan. Catatt, hanya sedikit saja! Karena sisanya adalah rasa gengsinya.
"Cie ngeblus! " goda Elvan menoel-noel dagu Lesya. Lesya menepis kecil tangan Elvan yang menoel-noel dagunya. "Apa sih?! Gw tau kali g2 terlalu cantik buat para kaum adam, whehe.. Udah elah gw ganti baju dulu ya? " ucap Lesya.
Elvan dengan cepat menahan tangan Lesya yang hendak pergi. "Udah pake ini aja! " ucap Elvan lalu berjalan menuju kasir dan membayar harga gaun yang dikenakan oleh Lesya.
Setelah itu mereka keluar namun tanpa sengaja menemukan Cakra yang celingukan mencari keberadaan seseorang. "Loh, bang Ceker? " polos Lesya. Cakra sontak saja menoleh dan mendengus malas saat kata-kata ‘ceker’ kembali terdengar. "Apa?! " ketusnya.
"Ih galak ih, kek perawan bae lo! Btw ngapain di sini? " Cakra kembali teringat dengan tujuannya dan kembali celingukan mencari keberadaan seseorang. "Tadii, gw liat Felicia ke sini bertiga sama anak kecil dan Vion! Nah, gw ikutin dong daripada mereka kabur? Kan bahaya! Tapi kayaknya gw kehilangan jejak deh! " jawab Cakra dengan nada berbisik.
Mata Lesya mendelik tajam. "Hah? Seriusan? Terus itu apaan anting emas model cewek di tangan lo bang? " Cakra menoleh ke arah tunjukkan Lesya dan menyengir. "Kado buat ultah pacar gw ehehe.. Sekalian kan gw jadi mata-mata di sini. " cengir Cakra.
"Terserah dah lo mah bang, pacaran mulu lo! " malas Lesya yang sudah hafal logat Cakra yang selalu membahas pacarnya. Padahal Lesya, Luna, dan Leon tak tahu siapa dan bagaimana wajah pacar Cakra selain Alam karena memang satu kampus.
Cakra mendengus malas dan menepuk-nepuk pundak Lesya bergantian dengan Elvan. "Mirror cha, kalian juga pacaran mulu pake acara pegangan tangan segala! Bro, jangan lupa beliin nih anak (Lesya) mirror biar ngaca! Dah, gw balek bye! " pamit Cakra malas lalu pergi meninggalkan kedua insan itu.
Lesya sontak saja hendak melepas pegangan tangannya yang menggenggam erat tangan Elvan begitu juga sebaliknya Elvan yang menggenggam tangan Lesya tak kalah erat. Mungkin karena mereka saling nyaman satu sama lain, lesya tak menyadari jika tangan mereka saling erat menggenggam. Elvan? Tentu saja dia tahu, toh dia yang genggam duluan kan?
"Udah gak usah lepas! Biar lo gak hilang! " ucap Elvan beralasan. Lesya menghentakkan kakinya sekali karena merasa diejek oleh Elvan. "Lo kira gw anak kecil! " ketusnya memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗