
Episode 426: Une Semaine Passa
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Di depan ruangan rumah sakit ternama, banyak orang yang duduk menunggu dokter keluar. Hari ini operasi untuk sosok Galang dan Lesya menghadiri itu sebagai rasa hormatnya karena Galang yang mendonorkan penglihatan padanya.
Sella duduk di salah satu kursi dengan perasaan cemasnya. Karena kecemasannya membuat Justine dititipkan pada Mily yang berada di sampingnya. Berbeda dari Sella, justru Gilang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu sebagai ganti dari rasa cemas dan khawatirnya.
Ceklek!
"Gimana dok?" tanya Sella secara reflek.
"Semua berjalan lancar, tapi kita tunggu pasien bangun agar perbannya dilepas." ujar dokter tersebut memberi penjelasan.
Mereka menghela nafasnya lega. Kini semua berjalan mengikuti arah brankar Galang yang sedang dibawa oleh beberapa perawat yang bekerja.
...***...
"Kok bau ya?"
Mily bergumam kecil seolah mengomentari apa yang dia hirup. Tak berbeda jauh dari aunty nya, Lesya mengangguk setuju karena menghirup sesuatu yang dimaksud oleh Mily.
Sella dan Gilang tampak sedang berbicara serius dengan Galang yang kini sudah mendapatkan penglihatannya lagi. Sementara Lesya, Letha dan Mily sedang duduk tenang di sofa ruangan.
"Jas-jus bocor kayaknya Aun," lirih Lesya.
Oekkkkkk!!
"Anj*r, gw kaget!" umpat Lesya lirih.
Plaak!
"Jangan ngumpet di depan anak kecil!"
Mily segera menepuk pelan pucuk kepala keponakannya. Lesya menggaruk tenguk lehernya dan menyengir kuda. Mereka menoleh saat Sella yang angkat suara seolah paham dengan kebingungan keduanya yang harus berbuat apa agar sang putra berhenti menangis.
"Justine ngompol atau bocor?"
"Bocor Mom!" jujur Lesya menutup hidungnya karena memang sangat menganggu indra hidung, baginya.
Kedua kali lagi, di ruangan itu Mily memukul pucuk kepalanya karena terlalu jujur dengan apa yang akan dia katakan. Berbeda dengan Sella yang hanya terkekeh dan mengambil alih Justine dari gendongan Mily untuk segera dia urus.
"Sini, uhh Justine bocor ya? Lain kali permisi dulu ya kalau mau bocor?" ucap Sella menasehati pada sang putra yang bergerak gelisah di gendongannya.
Mily juga memilih ikut memperhatikan dengan apa yang dilakukan Sella pada Justine. Anggap saja sedang nyicil belajar sebelum dia yang mengalami.
"Heleh, dasar malah ikut-ikutan pula si Aunty ini!" gumam Lesya mencibir.
"Lesya?" panggil Galang.
Sang empu menoleh dan berjalan mendekat ke arah brankar Galang. Lesya juga membalas tatapan sinis Gilang yang mengarah padanya.
__ADS_1
"Gilang--
"Iya, gw paham. Udah ngobrol aja."
Gilang yang paham maksud abang kembarnya hanya berdehem dan pindah ke sofa dengan memainkan ponselnya. Sesekali dia mengajak Letha berbicara hal-hal ringan jika sedikit bosan.
Hal yang disukai Gilang adalah seseorang yang penurut. Dan baginya, Letha sangat penurut, sementara Lesya pembangkang. Itu sebabnya dari awal Gilang lebih suka berinteraksi dengan Letha dibandingkan Lesya.
"Gimana kerja matanya?" tanya Galang.
"Baik! Bahkan gw bisa liat walau gak gerakin kepala." jawab Lesya jujur. Galang tersenyum tipis mendengarnya. Itu salah satu kemampuannya selain dapat melihat di ruangan gelap.
"Daddy sendiri gimana? Kata dokter daddy gak bisa liat digelap lagi setelah tes penglihatan tadi." kata Lesya mengalihkan topik. Galang sejenak berpikir dan mengangguk pelan saja.
"Baik juga! Asal setidaknya saya bisa liat kamu, Mommy, Justine juga Letha sudah cukup. Lagipula saya juga gak mau karena hilangnya penglihatan saya, istri saya malah kecantol laki-laki lain."
Lesya terkikik geli mendengar bisikan Galang pada akhir kalimatnya. Benar juga. Hati dan takdir tak ada yang tahu bukan. Setelah sekian lama terdiam akhirnya Galang kembali angkat suara. Namun bedanya, kali ini dengan nada datarnya. Tidak dengan nada biasa.
"Mana suamimu?" tanya Galang.
"Dia? Sibuk." jawab Lesya tentu saja berbohong. "Tapi dia titip salam kok. Salam sehat buat Daddy, semoga cepat sembuh katanya." lanjut Lesya lagi dengan cepat tanpa raut wajah mencurigakan. Masalah acting, wajahnya mudah berekspresi hingga dapat membuat lawannya percaya.
"Kamu pikir saya percaya, Aleesya?" datar Galang tajam membuat sang empu tersentak. "Gilang sendiri tiba-tiba yang kasih tau tentang kejadian kemarin, gak usah bohong lagi kamu." sambung Galang menghela nafas.
"Iya. Kita berantem dan gw gak lagi mood bahas dia! Turun tau mood gw sekarang kalau kalian bahas dia-dia dan dia terus."
Lesya menggerutu sebal seraya menopang wajahnya di tangannya. Galang yang melihat hanya dapat menghela nafasnya saja. Semoga tak sebesar yang dia pikirkan masalahnya.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Hari mulai berlalu hingga tak terasa sudah seminggu setelah kejadian yang membuat hubungan Lesya juga Elvan cukup berantakan. Tak hanya Elvan yang diabaikan, Luna yang notabenya sahabat dari Lesya juga diabaikan oleh Lesya.
Lesya saat ini lebih memilih tinggal di kediaman Fyo dengan sang adik dibandingkan tinggal dengan keluarga Grey. Dia tak munafik jika menyembunyikan rasa kesalnya saat kejadian hari itu. Dia merasa sedang perasaannya ditusuk mengenai kata-kata keras mereka yang merendahkannya.
Lesya juga sengaja tak mengiyakan penawaran Daddynya yang meminta tuk tinggal bersama. Bisa-bisa dia yang menganggu keharmonisan hubungan mereka. Lagipula, Lesya dapat menerobos CCTV kediaman Fyo dengan mudah, berbeda dengan di kediaman Erthan yang menghabiskan banyak waktu untuk menerobos CCTV rumah.
Lesya juga membongkar isi gelang tangan yang diberikan Elvan padanya. Dia cukup geram di saat melihat benda perekam suara, camera tersembunyi juga GPS yang terpasang sekaligus di dalam gelang. Pantas saja tiap kali dia pergi, lelaki itu paham dia berada di mana dan sedang apa dia.
Dan kini kediaman Fyo sudah selesai melakukan reunitas sarapan mereka. Dan di saat Gilang hendak pergi, dengan anehnya Lesya meminta untuk ikut dengan lelaki itu. Karena tak ingin memakan waktu yang cukup lama, Gilang hanya mengiyakan permintaan aneh keponakan sekaligus anak tirinya.
Dengan pakaian formal berwarna merah maroon dengan kaki jenjangnya yang menggunakan hak tinggi dan tataan rambut yang rapi, Lesya mengikuti uncle nya yang bersiap untuk pergi ke perusahaan. Sebenarnya, Lesya hanya ingin berkunjung pada perusahaan mendiang papinya yang sudah digantikan dengan sosok Gilang.
"Udah sampai, lo mau ikut gw ke ruang meeting gak?" tawar Gilang diangguki antusias oleh Lesya. Lagipula, Lesya juga ingin segera terjun pada dunia bisnis dan menyibukkan diri pada berkas-berkas dibandingkan bosan di rumah.
Keduanya disambut dengan baik oleh pegawai kantor. Mereka cukup kenal dengan sosok pewaris generasi selanjutnya di perusahaan mereka.
Dengan wajah yang sama-sama menampilkan flat face khas mereka masing-masing, segera keduanya memasuki lift dan berjalan ke arah ruang meeting yang dimaksud.
"Tugas gw di sana apa?" bingung Lesya.
"Duduk diem kalau ada masalah yang lo tau boleh ngomong." ucap Gilang tanpa melirik ke arah keponakannya.
__ADS_1
Anyways, kini Gilang cukup disadarkan setelah nasihat-nasihat yang menohok yang diberikan abang kembarnya untuk mengubah sikapnya pada anak kesayangan mendiang adiknya. Dan mau tak mau, Gilang melakukannya.
"Mengongkhey."
"Maaf kami telat,"
Semua orang yang duduk ikut berdiri saat orang yang mereka tunggu sudah tiba. Lesya sedikit tersentak melihat ayah mertuanya—Angga yang rupanya ada di sana. Namun Lesya sedikit lega karena dia dapat duduk di samping kursi ayah kandungnya—Galang. Ya, suatu kebetulan sekali mereka dipertemukan.
Acara berjalan dengan baik. Tak ada kendala sama sekali. Lesya juga sesekali tampak angkat suara di saat merasakan suatu kekurangan pada topik yang dibahas mereka. Dan itu membuat beberapa dari mereka cukup kagum.
"Sampai di sini, apa ada yang kurang?"
"Sepertinya tidak ada. Baiklah, kalau begitu kami permisi Tuan."
Salah satu pemimpin di sana angkat suara dan menjabat bergantian tangan Gilang dan Lesya bergantian. Begitu juga dengan yang lainnya yang tampak mulai keluar dari ruang meeting. Hingga tersisa Galang dengan asistennya, Angga dengan asistennya, dan Gilang dengan Lesya juga asistennya.
"Ayah udah denger soal masalah kamu. Kali ini Ayah gak ikut campur, tapi kalau butuh apa-apa jangan sungkan sama Ayah ya, Sya?" ujar Angga.
Lesya menanggapi dengan senyum simpul dan anggukan. Beruntung dia tak terlalu dipaksa kali ini jadi mudah saja baginya melakukan hal yang dia pilih. Hubungan Galang dan Angga juga sejauh ini mulai membaik satu sama lain. Jika dengan Gilang sepertinya masih proses karena Lesya tahu jika uncle nya orang pemarah.
"Kalau gitu kami permisi," sopan Angga diangguki oleh Lesya saja yang tampak tak harus membereskan berkas yang ada.
"Hati-hati ya Ayah!"
Angga membalasnya dengan senyuman simpul. Sangat disayangkan sekali seminggu terakhir menantunya tak tinggal di rumahnya karena masalah sang anak. Huh, sepertinya putra bungsunya perlu diberikan nasihat bijak darinya untuk situasi begini. Tak aman!
"Besok mau ikut ke acara Daddy gak?"
Lesya menoleh pada Galang yang mengajaknya bicara. "Acara apa tuh? Kalau acara bapak-bapak, gw ogah sih." balas Lesya menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Acara nikahan. Sekalian nambah wawasan buat ketemu pengusaha yang ada di Jakarta ini. Cuma sebentar aja nyapa-nyapanya, habis itu pulang juga boleh." ujar Galang menawarkan lagi.
Lesya tampak berpikir sejenak dan mengangguk setuju saja. Cukup bosan jika besok dia di rumah lagi di hari libur begini. Hanya restoran juga hotel saja yang dia kerjakan. Dan kedua pekerjaannya itu kini sedang tak ada masalah besar sama sekali.
"Kalau lo Gil?"
"Gw juga di ajak? Gak dulu deh, males!"
"Bilang aja mau berduaan sama Aunty!"
"Iri amat lo sama masalah gw."
"Logatnya, aku-kamu Gil!"
"Berasa orang pacaran tapi, Gal."
"Ogah! Gak kece tau kalau kita gak ngomong logat lo-gw ya gak Uncle?"
"Noh, denger tuh!"
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1