
Di rumah sakit, semua orang berkumpul dan melirik ke arah brankar. Karena sekarang ini adalah hari libur, mereka memutuskan agar ke rumah sakit saja. Mereka tak tahu saja jika Lesya sudah sadarkan diri. Begitu juga dengan Candra karena semalam, dia tak memeriksa Lesya.
Lesya terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu dengan sekitarnya. Nyawanya masih belum terkumpul hingga dia hanya melirik sekitarnya. Berbeda dengan Elvan yang sudah terbangun dari alam mimpinya sedari tadi.
"Em! Ada apaan si? Berisik tauk! " dengusnnya.
Semua yang ada sontak berdiri dan menghampiri Lesya. "Hah? L-lo udah sadar Sya? " tanya Luna tak percaya. Lesya hanya mengangguk kecil. "Dari kemaren, yee lo mah ketinggalan! "
"Gw kira lo udah gak ada! Udah males nemenin gw di bumi! Lo malah ninggal gw dan semua perkara lo di sini! Lo--- "
"Panggil Candra gak usah ngoceh! " ucap Alam yang menyela ucapan Luna. Leon yang sudah pergi terlebih dahulu, kembali masuk dengan Candra dibelakangnya.
"Misi bentar Lun, " ucap Leon yang tahu jika Candra kesulitan memeriksa Lesya jika ada luka. Luna menurut saja dan memberikan ruang kepada Candra.
Lesya yang merasa tak nyaman karena banyaknya orang di sekitarnya bergumam kecil. "Berasa ngelayat mayat! " gumamnya. Candra yang mendengar menahan tawanya. "Tapi lo beruntung banget dek! " bisik Candra kecil.
Lesya mendongkak dan menganggukkan kepalanya pelan. "Hum, gw beruntung! Sangat beruntung! " gumam Lesya hampir tak terdengar.
Setelah memeriksa kondisi Lesya, Candra menjelaskan sesuai dengan apa yang dia prediksi baru saja. "Kondisi Lesya saat ini mulai kembali normal seperti biasanya! Tulangnya juga mulai kuat hingga mulai dapat digerakkan namun jangan melakukan hal yang berat dahulu! Untuk pekerjaan berat lainnya, sebaiknya ditunda terlebih dahulu! Jangan terlalu banyak berpikir dan menambahkan beban pikiran! Masalah konsumsi makanan, sebaiknya jangan terlalu sembarangan mengkonsumsi! Jika bisa, hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, soda, dan cokelat. " jelas Candra.
Penjelasan dari Candra justru membuat Lesya mendengus karena masa makanannya akan dikurangi. "Gak bisa pake cara lain gitu? " tanya Lesya malas. Candra menggeleng menanggapinya. "Gak ada syaaa! Udah lah tinggal jalanin susah amat! Oh iya Cak, awas aja lo ngasih makanan yang gak jelas! "
Candra tahu jika Lesya adalah pecinta cokelat dan soda. Apalagi makanannya seringlah makanan dari jalanan. Di saat Lesya dirawat di rumah sakit, di sering sekali melihat Lesya yang memakan makanan yang dilarang untuk nya. Siapa yang kasih? Tentu saja Cakra!
"Iya-iya! Salahin aja noh Lesya nya yang maksa gw! " malas Cakra. Lesya mendengus malas. "Huuu.. Gak asik sama bang Can, mainnya dokter-dokteran! "
"Berhubung gw baik hati dan tidak sombong untuk memperpanjang masalah ini, gw pamit ya! " pamit Candra.
__ADS_1
Tepat kepergian Candra, satu ponsel berdering nyaring. Itu, milik Angga! Dengan cepat Angga mengangkat mengira hal itu adalah hak sepele. Nyatanya tidak!
📞Halo,
📞 .....
📞 [terdiam].
📞 .....
Tuutttt!
Angga menatap Lesya dan Elvan bergantian. Setelah itu, dia berbisik kepada Mayang, istrinya. Mayang cukup terkejut dengan bisikan sang suami dan akhirnya menurut saja. "Alam dan Elen pulang aja sekarang, soalnya kan hari ini kalian ada kelas kan? "
"Tapi bun, " Mayang dengan cepat menyela ucapan Elena yang menolak keinginannya. "Len, sekarang Lesya udah sadar, nah kalian berdua balik aja gak papa! Biar bunda yang jaga di sini! "
Alam dan Elena menurut pasrah saja. Walau mereka masih ingin menjenguk Lesya, dan Elena masih mau bertanya suatu kepastian tentang Lesya, akhirnya mengesampingkan karena dia memang ada kelas. Berbarengan dengan Alam dan Cakra, mereka kembali ke kampus mereka lagi. Toh, masih ada hari esok untuk bertanya!
Di dalam ruangan itu hanya ada Lesya, Luna, Elvan, Mayang dan Angga saja. Tiba-tiba Lesya merasakan ada yang sesak di dadanya. Hingga tanpa sadar dia memejamkan matanya dan meremas selimut yang ada.
Karena tak tahan menahan sakit itu, akhirnya Lesya meringis dan memegang dadanya yang terasa sakit. "Sst! Sa-sakit! " ringisnya.
Elvan yang berada di samping Lesya perlahan beralih memegang dan menggenggam tangan yang meremas selimut itu. Seolah menyalurkan ketenangan kepada gadis yang merasa sesak, Lesya mengatur nafasnya kembali normal dengan mata yang terpejam.
Lesya teringat dengan ucapan Arga di alam mimpinya saat kritis. ‘Mami akan segera menyusul papi di sini!’ Bukankah kalimat itu mengandung kalimat perpisahan? Sekarang Lesya paham apa maksud Arga dan hubungan sesaknya dia.
Luna melotot tak percaya jika sahabatnya kembali merasakan sakit dan hendak memanggil Candra kembali namun tertahan oleh Lesya. "Stop! Jangan! " tahan Lesya.
__ADS_1
Mayang menghampiri Lesya diikuti Angga mendengar ringisan menantu kecil mereka. "Sya? Kenapa? Apa yang sakit? Kasih tau bunda! " ucap Mayang mengelus anak rambut Lesya dengan lembut.
Lesya menggeleng. Nafasnya kembali terengah-engah seperti baru saja melakukan maraton. "Bun-da? " panggil Lesya dengan suara kecilnya.
"Bunda di sini, kenapa hm? " tanya Mayang lembut. Lesya terus menggeleng dengan mata yang mengarah ke bawah. "Ma-mami! Ma-mi, sa-sakit, " cicit Lesya yang memanggil maminya itu.
Mayang menatap Angga dengan mata yang berkaca-kaca. "Hah? Mau bunda panggil dokter? " tanya Mayang lagi.
Lesya tetap menggeleng menjawabnya. "Ma-mau ke-temu mamii! Ma-mami! " jawab Lesya disertai nafasnya yang tak teratur. Berbeda dengan Luna yang sudah terisak tak tahu harus apa. Saat ini, Luna sedang ditenangi oleh Angga.
"S-sya! " panggil Luna.
Lesya menoleh dan tetap terus menggeleng. "Ma-u mamii Lun! " racaunya. Luna mengangguk dan menghampiri sahabatnya. "Sekarang, kalau bisa! Tapi lo harus tenang ya oke? " ujar Luna yang memeluk sahabatnya itu.
Elvan tak tinggal diam, dia beralih mengelus pucuk rambut Lesya dan angkat suara. "Sesuai janji gw, kita ketemu mami sekarang! " ucapnya. Lesya mengangguk kecil dan perlahan nafasnya kembali teratur.
Mayang dan Angga yang sudah tahu keadaan Mila, membawa mereka bertiga ke tempat itu. Rumah sakit! Lesya terus memegang kepalanya selama di perjalanan. Tak tinggal diam, Elvan menarik kepala Lesya perlahan ke dalam pelukannya dan mengelus kepala gadis yang berstatus istrinya itu.
____________
Ternyata tak hanya Lesya saja yang datang, namun di depan ruang tunggu sudah ada Letha, Amel, dan Nayla di sana. Bahkan, di ruang itu juga sudah ada Gilang dan Galang yang ikut hadir.
Dengan bantuan kursi roda yang di dorong oleh Elvan, Lesya terdiam saat pandangan matanya bertemu dengan Galang. Tangannya mengepal kuat melihat sosok itu ada di ruangan tunggu.
Tap, tap, tap!
Plakk!!
__ADS_1
Panas rasanya! Lesya ingin membalas serangan itu namun dia tetap tahan semuanya. Letha yang melihat kepalan tangan Lesya, membuat dirinya teringat dengan mimpinya semalam.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗