
Episode 402: Mengenang
Matahari sudah kembali bersinar dan menampakkan cahayanya. Di sebuah rumah mewah yang terletak di salah satu kota negara bagian Eropa kini sudah beraktivitas kembali. Dan sedari kemarin malam, sama sekali tak banyak pembicaraan terdengar di sana karena sebagian besar dari mereka mengalami luka besar sepagi ini. Di antara mereka, semua lebih banyak murung.
Mereka baru saja menyelesaikan acara sarapan yang cukup mencekam. Beberapa dari mereka juga asik pergi ke ruangan yang mereka tuju. Contohnya saja lapangan berkuda. Di tempat ini tiga kuda yang berkepemilikkan sang tuan rumah kini sudah penuh dinaiki.
Luna yang sudah naik di atas kuda berwarna cokelat. Sementara Cakra menaiki kuda berwarna cokelat namun sedikit gelap. Dan sang tuan rumah, Lesya menaiki kuda berwarna putih.
Niatan awal mereka hanyalah ingin mencoba mengenang kebersamaan mereka dengan mendiang Leon sebelum benar-benar pergi ke negara kelahiran mereka. Anggap saja mereka liburan singkat sebelum pindah dari tempat itu.
Suasana tampak sedikit ricuh kali ini. Mereka hanya mau mengenang bukan kembali bersedih. Oleh karena itu sebelum naik ke atas punggung kuda, mereka berjanji tak akan kembali mengungkit hal-hal yang membuat mereka kembali bersedih.
Di sini kericuhan dan ringikan kuda membuat Felicia, Vay, Elvan, Valen, juga Elena dan Alam kini beralih asik berjalan dan berdiri di penyangga yang ada. Memang rumah mewah ini sangat luas hingga mereka binggung dengan apa sang pemilik membeli dan membangunnya. Luas bree...
Pelayan-pelayan yang bekerja saja tampak tak ada karena masa cuti yang diberikan belum berakhir. Memang sengaja Lesya menyuruh Nic untuk memulangkan para pekerja yang bekerja di rumah mewahnya sebelumnya agar mereka yang di sana lebih leluasa.
"BANG CAKRA TUNGGUIN LUNA YANG IMOETT INI LAH ANJ*R! " umpat Luna di saat kuda yang dinaiki Cakra justru melesat jauh meninggalkannya setelah menyenggol kuda yang dia tumpangi tadi. Cakra yang mendengar teriakan sekaligus umpatan Luna hanya memeletkan lidahnya dari jauh.
"Wah?! " kesal Luna lalu menghentakkan sekali dengan keras tali kuda seolah mengisyaratkan agar mengejar Cakra.
Paham dengan isyarat Luna, segera kuda itu berlari kencang hingga Luna sedikit kaget dan memekik. Cakra yang melihat hanya tertawa lucu. Memang Luna noob jika mengendalikan kuda. Sok-sokan pula mengejarnya dengan kuda.
Sreeek! TAK!
"HUWAAAAAA…. SAKITTT!! ABANG FREAK, TEGA AMAT SAMA LUNA CANTIK INI!! " pekik Luna meringis kesakitan di saat dirinya justru jatuh dari punggung kuda. Bahkan kuda yang sempat dia naiki tadi justru dengan antengnya masih tetap berlari ke sana dan ke sini.
Tentu saja mereka yang menyaksikan tampak tertawa bersamaan. Namun mereka juga meringis seolah merasakan bagaimana rasanya mereka jatuh. Padahal, bagi Luna sama sekali tak sakit walau sedikit nyeri karena mereka bermain di atas pasir bukan bebatuan.
"WHAHaHa… GAK KUAT, SOALNYA LUNA NOOB! " balas Cakra menertawakan nasib Luna lalu mengarahkan kudanya ke arah di mana Luna terjatuh. "Adeehhh, sini-sini biar gw bantu! " lanjut Cakra setelah tiba di samping Luna.
__ADS_1
Seraya Luna mengeruncutkan bibirnya manyun, dengan segera dia menerima uluran tangan Cakra yang masih tetap setia duduk di atas punggung kudanya.
Setelah membantu Luna berdiri, Cakra menoleh dan membelakkan matanya lebar di saat kuda yang sempat dinaiki Luna walau terjatuh justru kini justru beralih berlari ke arah mereka.
"LUNA LIAT KUDA NYA MALAH LARI KE SINI!! " peringat Cakra yang membuat Luna menoleh dan membelakkan matanya lebar. "Omaigad, KABUR BANG, BUKAN DIEM BAE! " kesal Luna membalas dengan pekikan andalannya.
Cakra menepuk jidatnya sendiri dengan pelan. Di saat mereka berdua hendak kabur, ternyata mereka tak sempat karena kuda tersebut sudah sangat dekat ke arah mereka. Hanya tersisa tiga langkah saja, mungkin mereka berdua akan tertabrak kuda tersebut.
Tung! TAAKK!
Mereka menoleh bersamaan dan membulatkan matanya. Cengo, tentu saja. Mereka saling bertatapan dengan tatapan syok. Rupanya Lesya kini yang mengambil alih kendali kuda tersebut dan menariknya agar tak mengenai Luna juga Cakra. Namun karena mendadak berhenti secara tiba-tiba, justru Lesya sendiri yang berimbas dan jatuh dari kuda putih yang ditumpanginya sendiri.
"ANJ*NG?! " umpat Lesya meringis seraya memegang kepalanya.
Lesya kembali mengumpat kesal di saat kedua orang yang dia tolong justru hanya berdiam diri dengan mulut yang membulat tanpa membantu dirinya. Tahu gini dia tak perlu membantu mereka berdua bukan?! Huh, sabar anak orang!
"WOYYY!! Bantuin bege, cengo mulu! Lalat masuk gw sujud sukur, sekalian mamp*ss." ketus Lesya lalu beranjak berdiri dan menepuk-nepuk bok*ongnya yang terkena pasir.
"Sejak kapan sih lo jadi lebay gini Lun?! Geli gw." kata Cakra bergidik ngeri. Luna hanya menyengir lucu saja tanpa membalas ucapan Cakra. Lesya yang sudah berdiri kini menahan dua tali dari kedua kuda yang berbeda.
"Dah lah, mending balik trus kita adu perang! " ucap Lesya lalu beralih menarik dua kuda yang dia tahan. Dengan segera Luna mengikuti langkah Lesya dan meninggalkan Cakra yang baru saja turun dari kuda tumpangannya.
"Dih, dasar cewe! Hobby bener ninggalin gw." cibir Cakra mendengus sebal. Dengan segera Cakra menarik tali kuda yang dia pegang dan menyusul kepergian dua Queen di markasnya.
Luna yang masih kesal dengan kuda yang sempat ditumpanginya berniat membalas dendam. Sungguh, kakinya sedikit sakit mengingat di mana dia terjatuh tadi. Membalas dengan menendang kaki kuda tersebut agar impas, justru kuda tersebut hampir lepas jika Lesya tak siaga menahan.
"Lunaaaa… " kesal Lesya.
"I’m sorry, hehe… " cengir sang pemilik nama lalu dengan segera berlari kecil ke arah tempat keluar dari lapangan kuda itu. Sementara Lesya dan Cakra terlebih dahulu memasukkan ketiga kuda yang mereka tumpangi ke dalam kandangnya.
__ADS_1
"Cieee yang jatuh… " ledek Alam saat melihat Luna sudah kembali. Gadis itu dengan segera meninju lengan lawan bicara yang meledeknya. Mendengus sebal, dia yang melihat keberadaan Valen di sana dengan segera menghampirinya.
"Huweee, Palen kuda sama bang Alam jahat… " adu Luna beralih memeluk Valen. Sang empu yang dipeluk hanya menampilkan senyum lucunya. Alam yang mendengar aduan Luna merasa aneh sendiri dengan tingkah Luna.
"Heleh, bucin-bucin! " cibir Alam.
Luna yang tak mau kalah memeletkan lidahnya ke arah Alam. "Gak peduli wleee… Sendirinya situ juga bucin kan? " balasnya meledek. Alam menye-menye pelan saja mendengarnya. Ya memang gak salah sih ledekan Luna itu.
*HELLO GAYSS… WE ARE COMEBACK YIHAAA… Adohh?! " heboh Cakra yang baru saja datang namun diakhiri dengan ringisannya. Rupanya dia meringis karena Lesya yang di belakang cukup sakit mendengar pekikan abang angkatnya yang layaknya perempuan.
"Brisik bang! " ketus Lesya.
"Dih, lo ngapa sih jutek amat? PMS ya? "
"Kagak, gw PMR."
"Haha… Gak lucu! Lagian mana ada sejarahnya kalau Queen Ellion ini jadi anak PMR? Hancur kali dunia dibuatnya."
"Brisik lo berdua! Dateng-dateng tiba-tiba langsung ngerusuh." ujar Alam. Lesya mengangkat bahunya acuh saja dan berjalan melewati Alam dan berdiri di samping Elvan dibandingkan melihat perdebatan di depannya itu.
"Tydack ramah, bintang satu! " balas Cakra.
"Dia bang Alam bukan bang ramah, jadi jangan salahin dia kalau tydack ramah." polos Luna menyahut setelah melepaskan pelukannya dengan Valen.
Cakra menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Jiwa Luna yang LoLa alias loading lama membuat terkadang harus cukup kuat dengan kelamaan Luna berpikir. Hanya tersenyum paksa saja Cakra lalu menyentil dahi Luna pelan.
"Gak tau Lun, bod*oamat! "
"Aw, jahat dih! "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗