Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
142: Enggak mau!


__ADS_3

* Gw pengen curhat! Tapi, jangan sama dia! Mungkin lo dijebak Sya! Jangan mau cerita sama kutub! Tapi.. Bukannya dia udah tau lewat data gw ya? Hanya sebagian! * batin Lesya.


"Gw tau lo bohong! " Lesya terdiam dan menatap aneh Elvan. "Cerita aja kali! " santai Elvan. Lesya akhirnya angkat suara. "Harus banget ya gw cerita sama lo? "


Elvan mengangguk. "Lo istri gw dan gw suami lo! Harus lah! " Lesya mengalihkan pandangannya di saat Elvan menekan kata 'istri' dan 'suami' dikatanya.


"Oke! Gw... Gw cuman jenguk mami doang! Katanya mami sakit! " Elvan mengangkat alisnya naik ke atas. "Gw tau lo bohong! " Lesya melirik sinis Elvan. "Cenayang lo? Kok tau? Jangan-jangan... Lo ngintilin gw ya?! " sinis nya.


Elvan memutar bola matanya malas. "Tadi gw udah liat! " Lesya mengerutkan keningnya bingung tak paham. "Liat? Liat apa? " tanya Lesya.


"CCTV! " Lesya terdiam. Dia kini paham jika maksud dari Elvan adalah dia sudah tahu semua yang terjadi di rumah sakit tadi. "G-gw.. Lo salah liat kali! " Lesya justru tertawa garing mendengarnya.


Elvan menetralkan wajahnya dan menghela nafas panjang. "Gak usah nutupin! Keluarin! " Lesya terdiam tak tahu harus berbicara apa. Wajah cantik Lesya hanya menampilkan ekspresi datar sang pemilik.


Tes!


"Lemah banget sih gw! " gumam Lesya menghapus kasar cairan bening yang berhasil keluar walau hanya satu saja. Kepalanya menunduk tak membiarkan Elvan melihat kelemahan nya kali ini.


Tes!


Elvan menahan tangan Lesya yang hendak mengusap kembali cairan bening nya. "Gak usah ditahan! " Lesya menepis kasar tangan Elvan dan memalingkan wajahnya.


Elvan menghela nafas panjang melihatnya. "Kata ayah, cewek nangis itu bukan lemah! Tapi meluapkan emosionalnya agar merasa lebih tenang dan lega! " datar Elvan.


Membutuhkan pelukan hangat, Lesya langsung memeluk Elvan dan mengeluarkan emosialnya yang sudah lama dia tahan. "Hiks.. Gw pembawa si*l ya? "


Mayang yang mendengar suara isak tangis dari kamar Elvan perlahan membuka kecil pintu kamar. Dirinya tadi tidur di kamar Elena karena merindukan anak sulungnya. Sementara Angga sedang lembur di kantornya.


Mayang yang hanya mendengar jika Lesya mengaku dirinya pembawa sial, terdiam sejenak. "Mila... Anak kamu ngalamin apa yang kamu rasain! " gumam Mayang kecil.


Akhirnya Mayang memutuskan kembali ke kamar Elena dan mengingat masa abunya yang menurutnya kurang beruntung karena dirinya juga ikut merasakan apa yang Mila rasakan di masa abunya.


'May, aku hamil! Aku... Aku udah gak perawan lagi! Aku... hikss... ' -gumam Mila.

__ADS_1


'Ha? Ka-kamu... Jangan bercanda La! ' -Mayang.


'Kakak hamil anak siapa? ' -Mily.


'KAKAK SADAR GAK ANAK YANG KAKAK KANDUNG ANAK HARAM?! ANAK PEMBAWA SI*L KITA?! ' -Mily.


'Mily, gimana pun juga bayi Mila gak bersalah! ' -Mayang.


'Enggak bersalah? Enggak bersalah lo bilang?! Gara-gara dia, gw dan kak Mila diusir dari rumah kami! ' -Mily.


'Anak yang aku kandung.. Kembar perempuan! ' -Mila.


'Jaga mereka dengan baik La! ' -Mayang.


'Anak sulung alias pertama yang lo kandung, pembawa si*l! Gimana dia gak mirip sama lo hah?! ' -Mily.


'Dia anak siapa? Kok gak mirip sama lo bro? ' -Angga.


'Aneh kan ya? Padahal, anak yang ini(Letha) mirip sama gw kan ye! ' -Arga.


'Dasar anak gak tau untung! Udah gw lahirin malah mukanya gak mirip sama gw!! ' -Mila.


'Mila! Gak baik ngomong kayak gitu! ' -Mayang.


'Bod*amat! Dia ANAK PEMBAWA SI*L!! ' -Mila.


Kepingan kata-kata tersebut terlintas dibenak Mayang. Dirinya sedih di saat Mila mengaku jika Lesya adalah anak pembawa si*l saat itu. "Arga.. Semua berubah! " gumam Mayang.


Kembali kepada Lesya yang terus mengeluarkan unek-uneknya walau hanya sedikit saja. Catattt! Sedikit saja!


"Gw.. Gw emang si*l ya? " Elvan mengusap anak rambut Lesya lembut. "Huusstt! Gak boleh ngomong gitu! " Lesya mengeratkan pelukkan nya. "Emang kenyataannya kan?! "


Elvan menunduk dan mengangkat dagu Lesya hingga mereka menatap satu sama lain. "Mereka ngomong gitu karena gak tau siapa lo sebenarnya! "

__ADS_1


Lesya melepaskan pelukkannya dan justru menggulung kan tangannya di leher Elvan. "Kok lo makin lama makin cerewet! " Elvan menghela nafas panjang mendengarnya. "Masuk di sini dingin! " datar Elvan.


Lesya mengangguk saja. "Gendong Pan! Mager nih! " Elvan menatap aneh Lesya. "Mager mulu! " Lesya melepaskan gulungan nya dan mengusap kembali lelehan beningnya yang tersisa. "Yee.. Gak seru lo! "


Memutar bola matanya malas, Elvan menggendong Lesya ala bridal style hingga membuat Lesya terjingkat kaget. "Eehh! Gw bercanda Pan seriuss! " jujur Lesya.


Memang Lesya malas bergerak saat ini karena sudah nyaman dengan posisinya. Namun siapa sangka justru Elvan menurutinya. Dia pikir lelaki di depannya ini akan menolak. Nyata nya tidak!


"Paannnn.. Lepasssin ihhh! " Elvan tak bergeming mendengar pekikan Lesya. Beruntung Mayang yang berada di kamar Elena tak mendengar hal itu. "Bukannya lo yang minta? "


Lesya terdiam mendengarnya. Akhirnya tepat jam setengah dua mereka tidur walau dengan pembatas di antara mereka.


...~o0o~...


Berjalan menuju meja makan setelah mandi pagi, Lesya tampak kusut dengan kelopak mata yang sedikit hitam. Elena yang berada di kediaman Grey berjingkat kaget melihatnya. "Haaa!! Lesya! Gw kira siapa! "


Lesya mengangguk kecil saja. "Kak Elen pulang? Sejak kapan? " Elena mengangguk dan menarik Lesya duduk di sampingnya. "Mungkin beberapa menit yang lalu! Soalnya bunda kangen katanya! "


Mayang tersenyum dari dapur melihat keakraban anak sulung dan menantunya. Beruntung tak seperti Mila dan Mily dahulu yang jarang sekali akur. Sama seperti Lesya dan Letha bukan?


"Aaaa... Set*n!! " kaget Alam yang baru tiba di meja makan melihat mata Lesya. Lesya mencebik. "Pengen cekek! " gerutunya.


Elena menahan tawa mendengar gerutuan Lesya. Sementara Alam mengelus dadanya yang hampir meloncat. "Elu dek? Gw kira! Itu ngapa mata lo mirip panda! "


Lesya mengancang-ancang sendok untuk terlempar ke arah Alam dan meletakkannya di tempatnya semula. "Ngejek?! Huh! Kemaren tidurnya jam dua-an! " Alam mengangguk paham mendengarnya.


Elena mengeluarkan alat make up nya yang dia bawa di dalam tasnya. Kebetulan Elena membawa tasnya kemanapun dirinya pergi. Kecuali mandi dan tidur :v


"Sini! Biar dibenerin! Biar makin fresh! " Lesya menggeleng dan menutup mukanya agar tak mengenai alat make up Elena. "Enggakkk! Gak mauuu... " tolak Lesya.


Elena mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? Biar makin cantikk! " Lesya menggeleng cepat. Dia mengintip di celah telapak tangannya yang dia buka sedikit. "Enggak mau! Tanpa make up juga Lesya cantik! "


"Iya tau tapi biar makin cantik sini ish! " Lesya berusaha menutup wajahnya sementara Elena meletakkan alat make up nya dan berusaha membuka wajah Lesya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2