
Lesya menoleh ke arah sumber suara. Elvan yang selalu berada di sampingnya ikut menoleh dan menatap tajam Gilang. "Paan? Mau hina gw? Jangan sekarang, gw masih mau urus mami! " jawab Lesya yang sudah tahu arah pembicaraan Gilang.
"Saya gak bahas soal itu! Saya mau bahas masalah karyawan yang banyak undur diri! Karena kamu sebagai 80% pemegang saham jadi kamu urus semua masalah! Setelah itu, saya bisa aman kerja di sana lagi! " ucapnya lalu pergi dari hadapan pasangan remaja itu.
Lesya tertawa sinis. Rupanya dia hanya guna pemanfaatan oleh Gilang. Miris! Hatinya menertawakan dirinya yang terlihat lemah di hadapan Gilang dan Mily seolah dirinya adalah boneka yang dapat dimainkan. Sial*n! Dia ingin ikut kedua orang tuanya! Namun, bagaimana Letha?
Elvan menghela nafasnya dan membawa Lesya menuju kamarnya. Mendorong kursi roda yang digunakan Lesya, Elvan tak merasa keberatan melakukannya. Setiba di kamar, Elvan mengunci pintu kamar dan mengaktifkan kedap suara yang ada.
Ctek!
Elvan perlahan menghampiri Lesya dan berjongkok menghadap Lesya. Lesya mengalihkan pandangannya di saat dia ketahuan hendak menangis oleh Elvan. "Gw tau lo kasian kan sama gw? Sorry ya gw gak butuh kasian lo itu! " ketus Lesya.
Elvan tak menjawab ataupun menanggapi. Dia melirik arah sekitarnya yang terpajang foto bingkai gambar lukisan. "Gak ada foto keluarga di sini? " tanya Elvan dibalas gelengan kepala Lesya. "Udah dibuang sama papa! " jawabnya jujur.
"Dibuang? " ulang Elvan. Lesya hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya. Beruntung kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menutupi matanya yang memerah. "Hem, papa buang semua bingkai foto keluarga! Untung gw sempet pungut semuanya! Karena gak diterima di rumah ini, gw putusin buat dipajang di apartemen gw! "
Elvan mengangguk paham mendengarnya. Dia perlahan melepaskan kacamata hitam milik Lesya hingga terlihatlah mata merah Lesya yang hendak menahan isak tangis. "Orang kuat itu suatu saat bakal menjadi orang yang lemah! Dan orang yang lemah suatu saat akan kembali menjadi orang yang kuat! Jangan di tahan, semakin lo tahan semakin sakit yang lo rasain! "
Tes!
Terpaku dengan ucapan Elvan, bahkan dia tak menyadari satu tahanannya sedari tadi sudah lolos dari pelupuk matanya. "Gw pernah bilang kan? Kalau ada masalah, cerita sama gw! Gw siap jadi pendengar baik lo kapanpun! Gak baik segala sesuatu dipendam sendirinya! " lanjut Elvan lagi.
Tes!
Lesya memainkan jari yang ada dikedua tangannya dan menatap langit kamarnya. "Hei? Denger gak? " tanya Elvan. Lesya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hidungnya sudah memerah dan matanya sedikit basah. Rambutnya juga terlihat acak-acakkan. "Iya-iya gw denger! " jawab Lesya sedikit ketus.
__ADS_1
"Lo keliatan cupu sekarang! Mana Lele yang gw kenal? Yang sok jagoan di sekolah? " ejek Elvan mencairkan suasana.
"Jangan ngeledek! Hiss, kan jadi melow gini suasananya! " ketus Lesya yang perlahan mulai tak tahan menumpahkan semua unek-uneknya. Elvan tersenyum tipis yang dipastikan tak dapat dilihat siapapun. "Sini! "
Melihat Elvan yang merentangkan tangannya, perlahan Lesya mencondongkan tubuhnya dan memeluk erat lelaki itu. Sudah 5 menit lamanya Lesya masih setia memeluk Elvan sesekali dia menyeka setiap lelehan bening di baju Elvan. "Waittt! Jangan lap dibaju gw kotor nanti! "
Lesya tak mempedulikan hal itu. Matanya menoleh di saat pintu kamar di ketuk oleh Mayang di luar sana. Mayang menyuruh mereka agar kebawah karena Mila akan dibawa ke pemakaman khusus.
Tok! Tok! Tok!
"Sya, Van, ke bawah yuk! " ulang Mayang. Lesya melepaskan pelukannya dan membalas ajakan Mayang. "Iya bun! " jawabnya.
Dengan cepat Lesya mengusap pipinya yang basah dan hendak beranjak. "Auuu! " ringisnya. Ternyata dia lupa jika kakinya yang sebelah sedikit patah. Elvan mendudukkan Lesya kembali ke kursi roda dan memakaikan Lesya kacamata hitam. "Jangan ngesok kalau gak bisa jalan! "
Lesya mendelik. "Ngeremehin gw lo?! " katanya mengencangkan tinjunya. Elvan beranjak dan mulai mendorong kursi roda yang Lesya tempati tanpa menjawab ucapan Lesya.
Semua orang sudah pergi dari pemakaman khusus kecuali beberapa orang yang masih setia di tempat itu. Letha yang tiba-tiba pingsan di pemakaman membuat mereka yang ada panik seketika. Hanya beberapa saja!
"Tha! Eh, bawa-bawa ke rumah! " panik Lesya.
Dengan cepat dan sigap, Alam yang ada di sana membopong Lesya masuk ke dalam mobil dan Leon mengemudikan mobil. Bahkan, Nayla dan Amel juga ikut menemani Letha.
Lesya mengusap wajahnya kasar. Mayang mengusap pundak Lesya dengan lembut. "Yang sabar ya Sya! Bunda yakin kamu anak kuat! " ucapnya.
Lesya mengangguk pelan menanggapinya. Gilang dan Galang sudah pulang ke rumah pribadi mereka sedari tadi sementara Mily berada di rumahnya dan tak ingin melihat wajah Mila saat dimakamkan.
__ADS_1
Luna menepuk-nepuk pundak Lesya agar sahabatnya lebih tenang. "Lebih tabah Sya! Gw sama mama pulang dulu ya! " pamitnya. Lesya lagi-lagi menjawabnya dengan anggukan kepalanya.
Luna yang mengerti situasi Lesya saat ini membutuhkan waktu sendiri, akhirnya pulang bersama Henny ke rumah mereka. Begitu juga dengan Angga, Mayang, Lisa dan Elena.
"Lesya, kita pulang dulu ya! " Elvan hanya mengangguk mendengar pamitan dari Mayang. Angga menepuk-nepuk pundak Lesya yang melamun. Karena tidak ada jawaban ataupun reaksi dari Lesya, akhirnya mereka pergi dan membiarkan Elvan dan Lesya di sana.
Hanya terdapat keheningan saja di sana. Tak ada satupun suara yang terdengar kecuali suara angin. Lesya tak menyangka jika kehidupannya akan begini. Dia sudah tahu perkara paket yang dimaksud dengan cerita Letha, adiknya tadi.
Tes!
Satu rintik hujan turun dan mengenai permukaan bumi. Lesya tak mempedulikan itu dan tetap setia memandangi gundukan tanah yang penuh dengan taburan bunga di atas tanah itu. Batu nisan putih itu bertulisan nama Emila Fyo di sana.
Tes! Tes! Tes! Tes! Tes!
Hujan turun dengan cepat membuat Elvan membuka payung hitam yang ada di tangannya dan diarahkan nya ke arah Lesya dan dirinya. Di saat Lesya mendongkak ke atas karena merasakan kepalanya tak basah, dia menatap wajah datar Elvan yang menemaninya.
"Ketbok, mami. . . " lirih Lesya. Elvan berjongkok dan memeluk Lesya yang hendak menumpahkan isi hatinya. "Iya-iya, gw tau. " jawabnya.
"Mami udah tenang, lo sekarang tugasnya mendo'akan mami supaya mami lebih tenang di sana, " ucap Elvan. Lesya mengangguk kecil sebagai jawaban seolah menyetujui ucapan Elvan.
Setelah pelukan terlepas dan payung yang menutupi mereka masih utuh meneduh mereka, Elvan berdiri di samping dan membiarkan Lesya mengeluarkan isi hatinya. "Mami, "
Lesya yang sudah tak dapat menahan matanya untuk tidak mengeluarkan cairan bening. "Ra gak tau gimana kehidupan ra selanjutnya! Ra terimakasih karena mami masih nerima ra di kehidupan mami! Udah bersedia mengandung, melahirkan dan membesarkan ra hingga begini! " ucapnya.
Bohong kalau Lesya tak sayang dengan sosok Mila. Namun dia kecewa disaat dirinya sering hanya dianggap angin lewat saja oleh Mila. "Kalau gak karena mami sikapnya begini, Ra pasti gak akan jadi orang yang berdiri di atas kaki aku sendiri! Semua pelajaran dari mami, akan Lesya ingat! Semoga mami sama papi bahagia di sana! Lyra bakal jaga Ara di sini! "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗