
Karena penasaran, Lesya berjalan dengan tongkatnya yang berada tak jauh dari sana dan melihat arah tong sampah yang masih terdapat foto Elena dan Elvan saat kecil. "Ini? Foto kecil kak Elen sama dia? " molognya.
Seketika dia teringat dengan Mila. Dahulu, dia yang tak sengaja memecahkan foto Mila dan Arga membuat dirinya menerima bentakan pertama kalinya dari Mila. Dan itu wajar juga terjadi padanya bukan? Keluarga adalah hal yang paling berharga di dunia ini.
Lesya menyimpan foto itu di sakunya dan akan berniat meminta maaf dengan tulus kepada Elvan nantinya. Dia juga dapat merasakan hal itu. Sakit tak tergores!
Jdarrr!!
Hujan sudah reda sejak tadi. Bahkan matahari sudah bersinar kembali. Namun, di saat matahari bersinar saat ini, masih saja ada petir yang terdengar di sana. Lesya dengan reflek menutup telinganya. "Huh!! Petir sial*n! Ngegetin orang bae! Untung jantung gw gak copot! "
Lesya berjinjit dan mengambil tongkatnya yang berada di sebelahnya lalu berjalan ke arah dapur. Jangan kira jika berjalan dengan pincang itu mudah! Sangat sulit karena kaki kita terasa kaku!
Setibanya di dapur, betapa tercengang nya dirinya melihat cumi dan nasi goreng yang tersaji di meja. Dirinya duduk dan merasakan satu sendok dari kedua makanan itu. "Enak! " gumamnya.
Terlintas di benaknya ucapan Lisa saat mereka camping itu. ‘Bukan! Tapi Elvan! Sekali lo rasain masakannya, mungkin meloyot!’ Rupanya benar ucapan Lisa itu. Sangat enak rasanya!
Dirinya mengambil sedikit porsi makanan untuk dia makan saat ini. Walau dirinya dalam kondisi yang down, tak urung dia tetaplah manusia yang membutuhkan makanan. "Lucu ya hidup gw? " molog Lesya tertawa hambar seraya melahap nasi goreng cumi yang ada.
"Dikit-dikit tenang, dikit-dikit hancur, dikit-dikit marah, dikit-dikit senang, dikit-dikit down! Aelah, kalau gini caranya mending gw nyusul mami sama papi aja deh! " molognya lalu menutup makanannya karena sudah tak ***** melahap satu suap sendok makan lagi.
Tiba-tiba Lesya terhenyak kaget karena suara dari seseorang yang entah dari mana yang membuat dirinya reflek menoleh. Bahkan, di saat dirinya menoleh ke segala arah, tak ada orang yang ada di apart milik Elvan itu. "Hai Sya, "
Suara yang familiar di benak Lesya namun dia justru berbalik dan tak melihat siapapun di sana. Dan dirinya penasaran dengan alunan musik yang dirinya benci membuat bulu kuduk nya merinding.
🎵 Bintang kecil, di langit yang biru
__ADS_1
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin, terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada 🎵
Lagu anak-anak namun mampu membuat rasa gencar Lesya mulai keluar. Itu suaranya saat kecil! Perlahan Lesya yang maju karena penasaran walau dirinya menahan kakinya yang terasa sakit.
"Hai Sya, " ucap orang itu lagi.
Lesya berbalik ke belakang dan siap siaga di saat satu kayu balok hampir mengenai dirinya. Untung saja dia mundur dengan cepat dan tanggap siapa orang yang berjubah hitam itu. "Kak Fel? " gumamnya tak terdengar kecuali dirinya sendiri.
"Lo masih takut? Ini lagu dimana bokap lo ketusuk! Bagaimana? " ucap orang yang dipanggil oleh Lesya sebagai kak Fel.
Memang jujur saja bulu kuduk Lesya merinding naik mendengar suara musik itu terus-terusan menggema telinganya. Dirinya saat itu menghabiskan waktu dengan Vion untuk menyanyikan lagu anak-anak pada zamannya yang tak lain adalah lagu berjudul ‘Bintang Kecil’
Sementara Vion yang masih polos lugu saat itu, dengan cepat kabur sejauh-jauhnya sebelum adanya warga yang berkumpul. Dan dari sanalah bagaimana Lesya tak menyukai lagu bintang kecil, petir, dan hujan lagi.
Lesya tersadar dari lamunan singkatnya di saat orang berjubah itu kembali hendak memukul dirinya. Dengan cepat dirinya mundur dan mengambil pisau yang ada di belakangnya sebagai alat penahan dirinya.
Saat ini Lesya benar-benar tak dapat berpikir dengan jernih. Lagu yang menggema membuat mentalnya kembali down. Ditambah saat ini dimana hari pemakaman maminya, Mila. Hancur! Dirinya tak tahu apa yang harus dia lakukan, pikirkan, perbuat selain pasrah akan keadaan.
Ting!
Tanpa sengaja Lesya menekan tombol di gelangnya yang mengirimkan sinyal pertanda bahaya kepada Elvan. Sementara orang berpakaian hitam itu menghampiri Lesya dan mengulurkan kayu baloknya ke arah leher Lesya yang ketakutan itu.
__ADS_1
Duk! Jderrr!
Lesya tak tahu akan kemana lagi. Dirinya sudah mementok ke tembok yang ada. Kalian tahu? Lesya lemah mental saat lagu ini terus diputar. Apalagi dalam keadaan petir di siang menjelang sore itu.
"Tiba waktunya aku menghancurkanmu Sya! Kamu tau alasannya? Karena lo PEMBAWA KESIAL*N buat gw! Gw selalu SI*L di saat lo masih hidup! Sebelumnya, gw minta maaf dan terimakasih! Semoga lo tenang bersama kedua orang tua sial*n lo yang misahin gw dari keluarga gw! Say goodbye! " ucapnya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Di saat orang berjubah itu mengangkat tongkatnya ke arah Lesya, suara dari speaker membuat dirinya harus bergegas pergi. "Pergi sekarang! Dia datang! "
"Ck! Kali ini lo selamat Sya! Liat aja nanti! " decak nya mulai kabur dan dapat Lesya pastikan sosok berjubah itu kabur melewati jendela dapur yang terbuka.
Lesya memejamkan matanya mendengar suara mesin helikopter terdengar sangat jelas di telinganya. Wajar saja dia paham bagaimana suara helikopter karena dirinya salah satu ahli pembuat teknis senjata.
Brakkk!
Mata Lesya kali ini tertutup rapat dan suara lagu ‘Bintang Kecil’ masih terdengar jelas. Bodohnya, musik anak-anak itu tak dihentikan oleh orang tadi. Lesya yang tak tau siapa yang datang, hanya melempar pisau yang dia pegang sebagai senjata pelindung dirinya ke sembarang arah.
Greebbb! Tes!
Lesya dapat merasakan aroma maskulin yang tak asing di indra penciumannya. Dirinya perlahan melepaskan pelukan itu dan memberanikan dirinya untuk membuka lebar matanya. Rupanya Elvan yang datang lalu memeluknya!
Lesya tak mempedulikan di sekitarnya. Dirinya masih dalam siratan lagu yang membuat dirinya gencar. Elvan sedikit menunduk karena Lesya lebih pendek dibandingkan dirinya. "Pan? " lirih Lesya.
Elvan menaikkan alisnya bingung. Kata-kata Lesya mengandung rasa takut di dalamnya. Dia dapat mendengar itu. Matanya menatap sekeliling dapur.
Rupanya jendela terbuka dan kayu balok tergeletak di bawah lantai meja makan. Bukan hanya hal itu saja! Dia juga melihat pisau yang terlempar di sudut dapur.
__ADS_1
Karena Lesya tak kuat lagi menahan kakinya yang sakit, dirinya terduduk lemas menyandar ke dinding tembok dapur. Tanpa rasa peduli, Lesya mengacak-acak rambutnya dan menutup kedua telinganya seolah tak ingin mendengar satupun suara.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗