
Lesya berlari menuju dapur hingga tak sengaja menabrak bi Lilis yang sudah kembali sejak kemarin. Alhasil, Lesya jatuh sementara bi Lilis yang membawa baju dalam keranjang ikut jatuh bersama baju-baju kotor yang ada.
"Aw! Maaf bi Lesya gak sengaja! " Lesya membantu bi Lilis mengumpulkan baju kotor yang berserakan. "Iya non eh sya, gak papa" Lesya tersadar dan menatap bi Lilis. "Loh, bi Lilis? "
"Udah pulang ya? Kapan? Kok aku gak tau yah? " Baju kotor yang berserakan tadi sudah terkumpul rapi. "Kemarin sya, mungkin karena kamu gak ada mungkin gak tau"
"Ouh iya kemarin aku gak di sini, maaf ya bi" Bi Lilis menggeleng. "Gak papa sya, " Lesya berdiri lalu pamit menuju dapur sementara bi Lilis pergi ke tempat pembersihan baju.
Lesya berjalan dengan santai menghampiri Mayang dan Elena yang berada di meja makan. Makanan dan minuman sudah tertata rapi di sana. "Bunda! Kak Elen! "
"Lesya, tolong panggilkan mereka! Makanannya udah siap nih! " ucap Mayang. Lesya mengangguk dan berjalan namun ditahan oleh Elena. "Jangan Sya! Kata mama Hera, cara yang paling ampuh itu teriak! "
Mayang menjewer telinga Elena tiga detik. "Kamu mau rumah kita ribut kayak kapal pecah hah?! " Lesya terkikik mendengarnya. "Gak papa bun! Sekali-kali doang! Mumpung masih bareng-bareng iya kan kak? "
"Noh Lesya aja setuju masa bunda enggak? "Elena mengerucutkan bibirnya moyong hingga dirinya terlihat imut. "Iya-iya! Sya tutup kupingmu Elen kalo teriak kayak toak! " canda Mayang.
"Ish, bunda! " Lesya dan Mayang terkekeh kecil. "Iya-iya jangan ngambek lah! " Mayang dan Lesya menutup kupingnya bersiap sebelum Elena mengeluarkan suara emasnya.
"Ekhem.. Tes satu, dua, tiga, oke! AYAH, KULKAS, ALAM AYOK MAKAN MALAM YOK-!! " Lesya meringis kecil di sebelah Mayang diikuti Mayang.
Rupanya suara emas Elena masih terdengar walau mereka sudah menutup kedua telinga mereka. Elena yang mendengar samar-samar cengengesan tak jelas. "Hehe.. Maap"
Tiba-tiba saja Elvan dengan cepat duduk dan melihat menu yang ada di depannya itu. "Kulkas? Ayah mana? " Elvan menggedik-kan bahunya acuh mendengar pertanyaan Elena.
Elena mencibir kecil dengan jawaban Elvan. "Hilih! " Tiba-tiba saja Angga dan Alam datang dan tersenyum kepada pasangan mereka masing-masing. "Heleh! Biasanya miring nya senyum lo bang" ejek Lesya mencibir.
"Iri bener lo dek! " sindir Alam balik. Lesya memasang tampang enegnya. Dia segera duduk melihat semua sudah duduk di tempat mereka masing-masing.
Acara makan malam kembali berlangsung dengan tenang. Setelah acara makan malam, mereka semua duduk santai di kolam renang yang ada di sana.
Adem! Satu kata untuk suasana tentram kolam renang di kediaman Grey itu. Mereka asik berbincang ria seraya bercanda satu sama lain. Hanya Elvan sajalah yang menyimak pembicaraan.
__ADS_1
"Van, kamu gak nimbrung apa? " Elvan menggeleng sebagai jawaban. Elena angkat suara. "Udah bun, biarin aja biasalah! "
Lesya menimpali pembicaraan Elena tanpa dosa. "Biarin bun! Mulutnya sariawan kali makanya dia malas ngomong! " Sontak mereka tertawa namun tidak dengan Elvan yang tampak biasa saja.
Elena memegangi perutnya yang terasa geli karena candaan yang dikeluarkan Lesya. "Jangankan sariawan! Gusinya bengkak kali! " Elvan memutar bola matanya malas. "Gak tau mau tidur! "
Empat kata dari Elvan sontak membuat mereka di sana tertawa kecil. Perlahan semua sudah kembali menuju kamar mereka masing-masing tersisa Lesya di sana. "Huh! Adem banget sih! "
"Kangen sama kenangan dulu! Hihi... " gumam Lesya terkikik kecil mengenangnya. Sedetik raut wajahnya kembali datar. "Tunggu pembalasan gw Revion Fillybert! " gumam Lesya.
Beberapa menit berada di sana, Lesya terkejut mendengar ara bariton yang mengagetkan dirinya yang asik melamun memikirkan siksaan apa yang pantas untuk musuh abadinya. "Gak baik sendirian melamun tengah malam! "
Enam kata dari Elvan sontak membuat Lesya kesal kembali. Siksaan yang tepat sudah terpikirkan dan hilang begitu saja dengan kedatangan Elvan yang tak tepat waktunya. "Elo! Ngagetin gw aja! "
Elvan duduk di samping Lesya dan menatap kolam renang di depannya itu. "Btw, lo belum kasih tau kenapa sekretaris waktu itu dipecat! Bahkan di penjara bukan 4 tahun? "
Elvan mengangguk. "Dia hampir membunuh gw " Lesya mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? " tanya Lesya bingung.
"Semua aset Ayah kebanyakan jatuh sama gw! Sementara Bunda jatuh sama kak Elen! " Lesya mangut-mangut paham akan penjelasan Elvan. "Jadi karena dia hampir dipecat karena kontrak, dia hampir bunuh lo? Gitu? "
"Khawatir? " Lesya menghentikan tinjuannya dan menatap Elvan. "Ngarep lo! " Elvan meletakkan tangannya di pundak Lesya. "Bohong! "
"Enggak! Gw gak bohong! Lo aja yang ngarep! " bantah Lesya. Elvan mencolek dagu Lesya membuat Lesya kesal sendirinya. "Bohong! "
Lesya mendorong Elvan yang merangkul pundaknya. "Enggak ya! Gak tau mau tidur bye! " kesal Lesya kembali masuk dan berjalan menuju kamar diikuti Elvan di belakangnya yang kembali seperti biasanya.
Setibanya di kamar, Lesya dengan cepat merebahkan dirinya di kasur. Elvan yang melihat itu dengan cepat menarik Lesya agar tak tertidur. "Heh apaan sih! Gw ngantuk mau tidur! "
"Kerjain tugas lo! " Lesya yang mendengar itu membulatkan matanya. Dengan cepat dia memberontak dan kembali tidur di ranjang. Bahkan dia menyelimuti seluruh tubuhnya termasuk kepala.
Tak tinggal diam, Elvan membuka selimut sedikit kasar hingga terlepas ke samping. "Kerjain baru boleh tidur! " Lesya duduk di ranjang dan menghentakkan kakinya menuju meja belajar yang ada di sana.
__ADS_1
Elvan yang duduk di ranjang mengulurkan tangannya mengambil laptopnya yang ada di nakas. Jam terus berputar hingga menunjukkan pukul 12 malam.
Menutup laptopnya, Elvan melirik Lesya yang sudah tertidur di atas meja dengan posisi duduk. Dia berjalan dan mengambil buku Lesya yang sudah dikerjakan sebagian saja oleh gadis itu. "Haiiss.. "
Dengan cepat Elvan menutup buku tersebut dan menyusunnya di area buku Lesya. Lesya yang tertidur sama sekali tak terganggu dengan gendongan Elvan yang membawanya menuju ranjang.
Pukul 1 pagi, Elvan sudah terlelap di alam mimpinya. Entah apa yang dia lakukan yang pasti lihat di bab selanjutnya, hehe!
...~o0o~...
Lesya berjalan santai menuju lapangan sekolah. Baju yang dikeluarkan, rambut acak-acakkan, tas hanya dirangkul di satu pundaknya, tampang songongnya menambah kesan bad girl Lesya.
Lapangan tampang ramai di kerumuni siswa-siswi lainnya. Entah apa itu, entah kenapa Lesya sangat penasaran alasan mengapa lapangan tampak ramai.
Luna yang baru datang dengan cepat berdiri di samping Lesya dan menepuk pundak sahabatnya itu. "Wey! Baru nyampe? Ada apaan sih? " Lesya menggedik-kan bahunya tak tahu.
*"Letha kok begini ya gays? "
"Jelek gak sih? Kayak kesan cabe weh! Gimana ya reaksi Lesya nanti? "
"Mukanya juga putih bener! Gw kasian sama dua temennya weh" *
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Hay semua! Gimana kabar kalian? Semoga baik yah! Aku mau kasih tau doang nih, soal pemilihan cover.
Ada yang pilih no 2, ada juga no 1 doang. Yang lain pada gak mau komen nih! Jadi menurut pemikiran author, covernya gak usah diganti aja oke?
Biar adil aja gitu! Buat yang komen, like, favorit saya sebagai author berterima kasih banyak yah. Walaupun cuman dikit, tapi setidaknya setia menunggu ide author saya berterima kasih banyak kepada kalian.
__ADS_1
Jika boleh jujur, semua part yang saya bikin 1000+ kata dan buat kata ataupun alur itu sangatlah tak mudah. Jadi jika yang membaca tanpa jejak, dimohon tinggalkan jejak yah.
Sekedar like saja author udah seneng kok! Sekian celotehan tak jelas dari author, see u next chapter 🙌🏻🚶🏻♀️