Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
172: Starts game!


__ADS_3

Leon yang sedikit memperhatikan interaksi antara Lisa dan Luna, memijit kepalanya pusing. Dia satu kemah dengan Elvan juga Valen. "Val, gw ke sono ya! " tunjuk Leon ke arah kemah Lesya.


Valen mengangguk mengiyakan. "Iyo! Jangan lama-lama lo! Nyari kayu nih! " Leon mengangguk dan pergi menghampiri ketiga gadis tersebut dan menarik Lisa menjauh. "WOY GW BELOM KELAR!! Oyy! Ck! " teriak Luna hingga menjadi pusat perhatian.


Lesya yang tak ingin menambah masalah, menarik Luna menjauh dari arah kemah. Luna mendengus dan menatap kesal Lesya, sahabat sejak dirinya kelas 4 itu. "Kenapa? Mau bela dia lagi? Gw sahabat lo dan dia sepupu ipar lo! Lo milih dia dibandingkan gw? Iya? "


Lesya menggeleng tak percaya dengan ucapan yang Luna lontarkan. "Lun, kita tuh sahabatan kira-kira udah dari kelas 4 SD! Dan lo bukanlah Luna yang gw kenal! Luna sahabat gw itu selalu menyelesaikan masalahnya tanpa lirikan sinis kayak gini! Kayak anak kecil tau gak! "


Luna berdecak malas. "I know! Tapi dia udah hina bokap gw Sya! Lo harusnya tau dong gimana perasaan gw?! Harusnya lo bela gw bukan dia! "


Dengan tegas Lesya kembali angkat suara menasehati Luna yang mendadak kekanak-kanakan. "Aluna Margaretha! Gw gak bela siapapun! Lo sahabat gw! Gw gak bela elo ataupun Lisa! Yang gw mau, hubungan antar persahabatan kita gak kayak gini! Ayolah! Mana Luna yang gw kenal? Queen dari MLC? "


Luna terdiam seolah menulikan telinganya mendengar nasehat dari Lesya baru saja. Hingga Lesya mengeluarkan kata-kata yang membuatnya luluh dan sadar, dirinya menunduk.


"Lun... I know how you feel! Gw sangat tahu gimana perasaan lo sekarang! Tapi, sekarang kita dalam rencana Sakh yang ingin melerai-beraikan kita! Harusnya lo lebih bersikap dewasa! Gw gak mau kalian akan terjerumus dan berdampak baik bagi anggota Sakh! Dan.. " jeda Lesya. "Persahabatan kita hancur! " lirih Lesya.


Luna tanpa sadar menitikkan air matanya dan hendak bicara. Namun Lesya kembali melanjutkan ucapannya. "Gw gak mau nambah masalah baru lagi Lun, cukup selama ini gw menderita dalam segala masalah gw! Dan gw gak mau kalo kita masuk perangkap dia! "


Lesya memegang erat kedua tangan Luna seolah berharap. "Atas nama Elisa Vellyna Grizi, gw minta maaf atas perkataan Lisa! Kita butuh kekuatan sniper dia Lun! Selain itu, gw butuh sniper devisi satu tambahan di LC! Gw gak berharap banyak tapi yang penting... Lo bisa maafin dia! " lirih Lesya melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Luna masih menunduk bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia tak ingin menambah masalah baru sesuai dengan yang Lesya ucapkan. Dan di satu sisi dia sakit hati dengan ucapan Lisa padanya. "Sya.. "


Lesya tersenyum simpul dan menepuk pundak Luna. "Kalau lo masih sakit sama ucapan dia, gw sekali lagi minta maaf! Dan, semua pilihan itu, tergantung dengan diri lo! " ucap Lesya dan meninggalkan Luna di sana agar memikirkan ucapannya.


Seusai kepergian Lesya, Luna berjongkok lemas tak tahu harus bagaimana. "Papa.. " lirih Luna mendongkak ke arah langit biru yang tertutupi oleh pohon yang lebat.


"Luna salah sama Lesya! Luna mau maafin Lisa tapi.. Luna sakit hati sama dia pah! Dia hina papa dan Luna gak suka itu! Luna bingung pah! " isak Luna tak tahu pilihan yang harus dia pilih. Lesya atau dirinya?


Sedari tadi, tiga pasang mata melihat bagaimana Lesya menasehati Luna. Leon yang merasa harus menyudahi pengintaian nya dengan Lisa, kini angkat suara. "Kamu liat kan? Gw gak mau kalo persahabatan kita hancur! Dan gw mohon lo minta maaf sama Luna karena ucapan lo itu buat Luna sakit hati Lis! "


Lisa mengalihkan pandangannya di saat seorang Leon yang biasa periang, kini memohon padanya. Lisa masih kesal dengan Luna tapi dia sedikit merasa kasihan.


Leon menggeleng. "Lo salah! TW dan LC mengalami kecolongan! Dan salah satu diantara kita bakal bertugas membantu satu sama lain! Dan kami butuh sniper devisi satu, itu Lo! " Lisa terdiam mendengarkan penjelasan Leon.


"LC dan TW kecolongan! Bagian devisi ada yang berkhianat dan kita mulai kerjasama dengan perjanjian saling melengkapi bagian! LC butuh sniper dan TW butuh mata-mata yang handal dari LC! Memang Lesya dan Luna pintar sniper tapi dia butuh orang lain menggantikan posisi devisi satu! Bukan artinya kita manfaatin lo Lis! " jelas Leon memegang tangan Lisa.


Lisa masih bingung harus menjawab apa. Terima atau tidak? Lisa akhirnya mengangguk pelan saja karena merasa aura negatif berada di sekelilingnya. "Oke! Gw bakal minta maaf! "


Leon tersenyum senang mendengar itu. "Nah gitu dong bidadarinya Leon! " Lisa melotot dan memukul sekali dada bidang Leon. "Apaan sih?! " ucapnya malu-malu meong eh, kucing.

__ADS_1


Mereka tertawa bersamaan dan berniat menghampiri Luna yang terdiam diri di sana. "Oy! Lun! " Luna menoleh dan menatap Lisa dengan pandangan yang tak dapat diartikan. "Ngapain? " tanya Luna datar.


Lisa menatap bingung Leon bagaimana dirinya mulai berucap. "Em, a-anu.. Gw minta maaf! " Mata Luna membulat lebar mendengar permintaan maaf Lisa. Secepat ini? Apa ada penyihir yang merasuki Lisa? Pikirnya heran.


Luna mengangguk dan menyeka pipinya yang sedikit basah. Dengan mata yang sembab, Luna mengalihkan pandangannya. "Ululu, bocil cengeng! " ledek Leon.


Luna mencebik kesal dan membalas pelukkan Leon walau dirinya sedikit sesak. Lisa melotot melihat pemandangan di hadapannya. Entah mengapa dia tak suka Leon memeluk siapapun itu kecuali dirinya.


Dengan cepat dia memisahkan Luna dan Leon dan kembali bersikap seperti biasa. "Apaan sih peluk-pelukkan di depan gw?! Mana gak ngajak lagi! " kata Lisa pergi meninggalkan mereka.


Sementara Luna dan Leon saling menatap bersamaan lalu tertawa kecil dengan tingkah kekanak-kanakan Lisa. "Lis, tunggu gw! " ucap Leon dan menarik Luna menyusul Lisa.


Di satu sisi seorang gadis yang mengintai mereka mulai dari Lesya menasehati Luna hingga Lisa pergi disusul Luna dan Leon membuka maskernya. "Mereka ngomongin apaan ya? " molog nya penasaran.


Baju olahraga dengan logo GG alias sekolah Gregus yang digunakannya. Masker yang menutupi sebagian wajahnya membuat sedikit orang yang tahu siapa dirinya. Membuka masker, senyum miring jahatnya terukir jelas dan kembali dengan sikapnya yang semula.


Masker di wajahnya tadi dia buang agar tak menambah curiga orang lain. Dia membuang maskernya itu tepat di bawah pohon rindang yang dia tempati dan meletakkan satu batu di atasnya agar maskernya tak tertiup angin.


Membenarkan penampilannya seperti semula, gadis tersebut menatap arah depannya dengan penuh maksud. "Let's its starts game Aleesya Michella! " gumamnya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2