Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
194: Drama bus!


__ADS_3

Tepuk tangan terdengar di area kemah saat lagu sudah selesai dinyanyikan. Banyak dari mereka terbuai dan mengikuti irama lagu. "Huuuooo!!! " teriak satu siswa.


"Apasi lebayy! " kompak Luna dan Lesya bersamaan dan tertawa receh. Entah mengapa outing kali ini walau tampak sedikit membosankan namun lumayan menghibur mereka.


Curhatan demi curhatan terdengar di area kemah dan bincang canda tawa ikut terdengar. Satu lasnag mata menatap lekat ke arah Lesya dan bergumam. "Maaf Sya! Gw terpaksa demi diri gw sendiri! Thanks and sorry! " ucap orang itu dengan nada lirihnya.


"Lo harusnya benci sama gw! Bukan sama Vion! Karena gw lebih jahat dibandingkan ribuan orang jahat di muka bumi ini! Hati lo bersih Sya! Walaupun lo pembunuh, hati lo tulus, suci, bersih! Gw gak tau apa yang ada di isi hati lo! Dan kalaupun gw jadi lo, gw bakalan bunuh diri! Gw yakin, lo gak tahu lagi kan gimana dan harus apa kalau tahu semua kebenaran dari mulut Vion? " ucapnya perlahan mulai terisak.


"Vion begini karena gw! Vion bahkan lebih jahat dari gw ta-tapi.. Gw yang racunin otak anak kecil hingga begini akhirnya! Gw lebih dewasa dari kalian walau cuman beda 4 tahun! Tapi otak kalian beda sama gw! Kalian berpikir bagaimana kedepannya sementara gw tanpa pikir panjang lakuin hal yang tak terduga!! " lanjutnya dengan nada yang semakin terisak.


"Gw harap setelah gw dengar kalau lo udah menikah dengan lelaki yang pantas buat lo, gw harap lo bahagia Sya! Gw minta maaf kalau selama ini buat diri lo sendiri down apalagi menyangkut mental fisik dan batin diri lo sendiri! Tapi justru lo gak peduli! Lo lebih peduli dengan orang sekitar dibandingkan diagnosis kesehatan lo! " tersenyum samar-samar.


"Gw malu sebagai orang yang lebih tua dibandingkan lo! Gw malu sampai-sampai gw sekarang punya anak! Gw minta maaf dan berterimakasih atas pelajaran yang gw terima dari ketulusan hati bersih lo! Gw bakal belajar menjadi orang yang tahu diri, sabar, tulus dengan segala sesuatu! Mungkin ini takdir, tapi ini adalah karma buat orang yang kayak gw! Hukuman ini bahkan kurang pantas gw terima Sya! Maaf atas segalanya! " lanjutnya.


"Heh!! Mungkin gw emang gak pantes dapatin kata maaf dari lo! Gw gak guna jadi sahabat eh.. Lebih tepatnya mantan sahabat lo! Gw bener-bener nyesal sama semua tingkah gw yang kelewatan hingga tanpa gw sadari gw hancurin kondisi mental lo! Apalagi waktu lo umur 4 tahun! Gw emang gak guna! Gw gak ada otak! Gw gak pantes dianggap di muka bumi! "

__ADS_1


"Gw juga bangga sama lo Sya! Lo kuat banget gak kayak gw! Lemah, cupu, kurus, gak berisi, pembunuh, licik, gak pernah kepikiran sebelum berbuat! Bahkan jauh lebih parah gw kotor! Gw udah gak suci lagi! Gw gak sanggup nerima semua! Gw harap saat nanti, lo maafin gw Sya! " lirihnya kemudian pergi dari sana dengan pipi yang basah dan mata yang bengkak.


Tanpa orang itu sadari, Elvan yang sangat peka dengan keadaan sekitarnya dapat samar-samar mendengar isi hatinya walau dengan suara yang lirih. Itulah kelebihan Elvan! Dan tak ada yang mengetahui bahkan keluarganya sendiri.


Dirinya menatap ke arah pohon rindang di tengah malam dan melihat punggung orang tersebut yang menggunakan jubah merah di tubuhnya. "Kebenaran apa lagi yang masih tertutup? " gumam Elvan sama sekali tak didengarkan orang lain kecuali dirinya.


Karena suasana kemah tampak heppy karena gelak tawa yang terdengar. Bahkan Ken membagikan cerita masa kecilnya saat dirinya salah jalan ketika ingin ke rumah temannya. "Awokawok!! Bawa panci gak tuh bu komplek nya? " tanya Amel terkikik.


"Bawalah! Ujung-ujungnya waktu dia bawa panci buat mukul gw, gw kabur dong!! Jadi bu komplek galak bener! " dengus Ken saat mengingat hal itu.


Suasana tampak berwarna. Tak ada keributan di malam hari saat ini. Setelah waktu berlalu hingga pukul 1 malam, mereka semua terlelap di alam mimpi mereka masing-masing.


Pagi yang cerah terbit dan mereka mulai mengemasi peralatan yang mereka bawa. Seperti ucapan pak Rio bahwa mereka akan kembali pulang saat siang nanti. Pagi ini mereka sudah melakukan senam bersama dan diperbolehkan melakukan apapun asal tak diluar batas.


Dan sekarang Lesya berjalan-jalan disertai dengan Luna di sampingnya. Mereka sedari tadi berbincang-bincang dengan candaan dan berhenti karena ucapan Luna yang keluar. "Gw masih penasaran sama maksud Vion! Dia tuh pinter tapi sayang liciknya selangit! " ucap Luna.

__ADS_1


Lesya menggeleng tak tahu. "Tapi entah kenapa gw ngerasa dia bukan pelaku akar dari pembunuhannya mendiang papi! Entahlah gw gak paham sama dunia sekarang ini! " Luna menepuk-nepuk pundak Lesya.


"Lo benar! Dunia sekarang susah ditebak! Jalanin aja yang sekarang, mungkin berbuah hasil di masa depan! " bijak Luna yang diangguki oleh Lesya. "Jam berapa sih kita pulangnya? " tanya Lesya mengalihkan pembicaraan.


Luna melihat ke arah layar ponselnya yang tersisa sedikit baterai. "Sekarang jam.. OMAIGAD!! Udah mau berangkat weh!! " Lesya dan Luna dengan cepat berlari menuju arah pusat kemah mereka.


Masalah jalan? Mereka salah satu orang yang mudah menghafal jalan dengan cepat hingga mereka saat ini tak kesasar. "Huhh! Aman! " gumam Luna melihat banyaknya siswa-siswi yang berkumpul dengan tas ransel besar mereka.


Perlahan mereka kembali masuk ke dalam bus yang mereka tumpangi saat berangkat. Sesuai dengan tempat duduk yang hampir penuh, di saat Lesya hendak duduk di tempatnya yang semula ternyata sudah terisi oleh adiknya, Letha!


"Kok lo di sini?! " Letha tanpa dosanya menoleh dan tersenyum mengejek. "Bilang aja mau mesraan sama Elvano kan?! " ketusnya. Lesya memasang tampak gelinya. "Idih! Enggak ya! Gw tuh awalnya di sini! Berarti gw akhirnya di sini juga lah! Lo aja noh yang rebut tempat duduk orang lain! " ketus Lesya.


Lesya sendiri tak tahu mengapa di saat dirinya hendak bicara dengan Letha selalu ketus. Dimana nada bicaranya yang tak se-ketus ini terhadap adiknya? Apa karena mereka sudah tak serumah lagi? Apa karena suasana hatinya? Pikir Lesya aneh.


"Dih? Pokoknya gw di sini! " kekeh Letha tak ingin dibantah. Lesya yang malas berdebat karena moodnya yang tiba-tiba down memanggil bu bunga saja. "BU EMANG BOLEH PINDAH TEMPAT? " tanya Lesya dengan suara sengaja dikeraskan.

__ADS_1


Bu bunga yang mendengar masuk ke dalam bus dan melihat ke arah Lesya yang berdiri. "Yang pindah tempat kenapa gak sekalian pindah rumah jadi di hutan? " galak bu bunga. Sontak Lesya menatap Letha dengan tatapan remehnya. Lesya dilawan! Pikir Luna yang mendengar perdebatan itu disertai senyum kecilnya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2