
Lisa tiba-tiba saja berbicara dengan ragu. "Ada 2 kemungkinan besar! Pertama sampel itu palsu dan yang kedua... " Lisa berpikir apa kemungkinan yang kedua yang menyebabkan hal itu terjadi.
"Mata-mata! " Lesya dan Lisa menatap Elvan yang baru saja angkat suara. Sebenarnya Elvan sudah tahu permasalahan kali ini namun dia menyembunyikannya sendiri. "Mata-mata? " ulang Lisa.
Lesya mengangguk kecil menyetujui maksud dari ucapan Elvan. "Maksudnya ada mata-mata di TW dan LC untuk mengambil sampel lalu mengecok kedua belah pihak agar adu domba" jelas Lesya.
"Dan dalang tersebut melakukan agar kedua belah pihak tersulut ego akhirnya masuk perangkapnya untuk menyerang satu sama lain yang dimana King TW dan Queen LC memiliki nilai yang seri! " lanjut Lesya berpikir kembali.
Lisa hanya menyimak maksud dari Lesya saja. Sementara Elvan yang sudah mengetahui itu hanya mendengar saja ucapan Lesya yang terus keluar.
"Dan karena nilai kedua belah pihak seri, anggota dari TW dan LC banyak yang tumbang bukan? Hal itu memudahkan untuk dalang di balik semua ini menempati posisi atas! Dan kemungkinan besar LC dan TW musnah! Begitu kah? "
Lisa menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Gw paham sih maksud dari omongan lo, tapi gak mungkin kalo TW musnah! "
Lesya menggedik-kan bahunya acuh. "Semua ditangan Yang Kuasa! Jika Yang Kuasa berkehendak, bisa saja TW musnah! Jangan terlalu membanggakan sesuatu yang besar di dunia ini! Ingat semua bersifat sementara di dunia! "
Elvan tersenyum tipis mendengarnya. Dia melirik ke arah lain tak ingin senyumnya di lihat. Dia bangga dengan Lesya yang berani menegur Lisa secara terang-terangan tanpa basa-basi.
Lisa yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas. Dia tak bermaksud untuk membanggakan pangkat Tiger Wong di dunia gengster. Hanya saja dia sedikit tersinggung dengan ucapan Lesya yang mengakui jika TW musnah jika melakukan perlawanan dengan LC.
Elvan kembali beranjak dengan baju karate nya dan melangkah kembali mengasah kemampuannya. Begitu juga dengan Lisa namun dia mengajak Lesya untuk berduel dengannya. "Duel yok! "
Lesya mengangguk karena dirinya tak memiliki pekerjaan dan merasa bosan sendirinya. "Bentar! " Dengan cepat Lesya menyimpan dokumen yang tadi, dan meletakkan laptop di meja yang ada.
Lesya dan Lisa sudah menggunakan pakaian karate yang di siapkan. Mereka menatap satu sama lain dan memulai aksi mereka. Namun, sebelum dimulai, Lisa menawarkan jika mereka menggunakan pedang.
__ADS_1
Mayang dan Angga yang baru saja tiba, mendengar tawaran Lisa yang disetujui oleh Lesya. "Lisa! Dia berbeda sama kamu yang bisa pake senjata begitu! " ucap Angga tegas saat tiba di antara mereka berdua.
Lisa yang mengambil pedang mencebikkan bibirnya. Lesya menggeleng dan justru ikut memilih pedang yang ada. "Enggak kok Yah! Lesya bisa pake nya! "
Mayang menatap cemas ke arah Lesya. Dia tahu jika Lisa adalah tipikal gadis yang kasar sama seperti ayahnya. "Terserah tapi jangan sampai luka fatal! " pasrah Mayang.
Lisa dan Lesya mengangguk antusias. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan sinis nya. "Inget peraturan pertama? Langgar peraturan yang ada! " ucap mereka bersamaan.
Mayang dan Angga hanya menyaksikan di bangku sofa yang ada. Angga menggenggam tangan Mayang yang menatap cemas ke arah mereka berdua. "Tenang aja oke? "
"Niatnya ngajak makan siang! Eh jadi begini! " cebik Mayang. Angga terkekeh kecil mendengarnya. Mereka berdua memang ingin mengajak Lesya, Lisa, dan Elvan untuk makan siang namun berakhir seperti ini. "Liat aja dulu ya. "
Mayang mengangguk kecil mendengar penuturan suaminya. Mereka mendengus kesal mendengar peraturan yang mereka buat sendiri. Bahkan melanggar peraturan yang ada.
Berbeda dengan Elvan yang menatap ke arah mereka berdua dari arah yang tak jauh dari sana. Dia berniat mengasah dirinya namun dia tertarik dengan perdebatan pedang dua gadis tersebut.
Berbeda dengan Lesya yang tetap tenang tanpa membuka dan mengangkat pedangnya. "Jangan cupu lo! Pake pedang lo! " Penutup pedang Lisa terlempar begitu saja di lantai datar yang ada.
Lesya terkekeh kecil dan mendatarkan kembali wajahnya. Dia masih menepis serangan Lisa tanpa mengangkat pedangnya. "Lo cupu main pedang! "
Lisa menatap sinis Lesya dan masih saja menyerang tanpa mengingat pesan Angga dan Mayang. Tak ada satupun luka yang tertinggal di tubuh Lesya karena serangannya kecuali tangannya yang terbungkus perban.
Di saat Lesya mulai sedikit kewalahan menepis serangan yang bertuntun dari Lisa, dia dengan cepat mengangkat pedangnya dan melempar penutup pedangnya.
Dengan cepat dia mulai menyerang Lisa hingga Lisa memundurkan langkahnya perlahan seraya menahan serangan Lesya agar tak mengenai dirinya.
__ADS_1
Sreng! Sreng! Sreng! Sreng! Sreng!
Lisa mengangkat senyumnya miring. "Pertarungan yang bagus! Tapi ingat kita seri! " Lesya memutar balikkan pedangnya dengan tangannya dan mengangkat senyum miring nya. "Indah! "
Sreng! Sreng! Sreng! Sreng! Sreng!
Kembali dengan pertarungan, Lisa sedikit kewalahan dengan serangan Lesya yang jauh lebih gesit. Dengan lincah nya Lesya menggerakkan serangan demi serangan.
Kini giliran Lisa yang tak sengaja hendak menancapkan ujung pedang ke leher Lesya. Namun, dengan mata tajamnya yang mengetahui itu, justru perlahan menggeser posisinya hingga serangan Lisa tak berhasil mengenainya. "Hampir aja! " cicit Lesya.
"Seri! " Lisa berjalan menuju penutup pedangnya dan memasukkan kembali pedangnya. Begitu juga dengan Lesya yang berjalan ke arah penutup pedangnya yang terlempar tadi. "Gerah! " gumam Lisa.
Lesya dan Lisa tertidur di lantai ruangan seolah mencari angin yang dapat mengademkan mereka. "ANGIN WOY LO KEMANA ELAH! " teriak Lesya.
Lisa memukul lengan Lesya. "Heh berisik! Nyari angin tuh gak kayak gitu! " Lesya menyenye dan mengibaskan tangannya di wajahnya. "Bod*amat! Gerah gw njer! "
Mayang yang tadinya cemas dengan cepat mendatangi mereka berdua ditemani oleh Angga. Sementara Elvan kembali melatih kemampuannya dan tersenyum tipis menyaksikan itu.
"Hey! Kalian gak papa kan? " Mereka dengan kompak menggeleng. "Kita gak papa tan! Cuman gerah doang! " Lesya mengangguk menyetujui ucapan Lisa.
Angga yang membawa dua botol aqua menyodorkan kepada mereka berdua. "Nih minum dulu! " Dengan cepat Lesya dan Lisa menyambar dan meneguk botol aqua pemberian Angga.
"Kamu bisa main pedang ya sya? Kok bunda gak tau ya? " Lesya mengangguk kecil dan menyegir setelah meneguk tandas minumannya. "Hehe.. Gak cuman itu sih bun,! Pistol, pedang, bom, senjata api yang lain juga bisa! "
Angga dan Mayang tercengang. "Sejak kapan? " Lesya mengangkat satu tangannya dan memamerkan ke empat jarinya. "Waktu umur 4 tahun! Walaupun agak cupu! "
__ADS_1
Mereka tercengang dengan jawaban jujur Lesya. Memang benar jika Lesya berumur 4 tahun dapat memainkan senjata api walaupun agak cupu dan tak gesit.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗