
Lesya masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel. Setelah selesai, dia hendak keluar namun bertepatan dengan Chatrin, musuh pengganti Amanda bagi Lesya. Nama yang cocok buat Chatrin kira-kira apa ya?
"Heh? Lo lagi? " sinis Chatrin.
Lesya hendak menghindari Chatrin dengan berjalan ke arah kanan Chatrin namun Chatrin menahannya. Dia tak ingin berinteraksi sosial dengan siapapun saat ini. Baik Luna, Chatrin, Letha, siapapun di sekitarnya! Dia butuh waktu sendiri walau dia tahu bersendirian itu tak baik untuknya. Chatrin mancing emosi!
Dengan cepat Lesya menepis kasar tangan Chatrin yang menahan dirinya. Lesya masih sama dengan yang dahulu. Lesya yang anti orang asing bahkan tak ingin berkontak fisik dengan orang asing. "Aww! Sakit! " ringis Chatrin merasa sakit di tangannya karena ditepis kasar oleh Lesya. Dasar Chatrin! Lebay!
Lesya menatap tajam Chatrin begitu juga dengan Chatrin yang membalasnya dengan tatapan sinis sengitnya. "Apa?! Sampah kok bangga! " sinis Chatrin berdecih seolah tak takut dengan tatapan tajam Lesya. Nyatanya dia takut malah!
Lesya hanya mengepalkan tangannya erat. Di saat dirinya hendak membalas ucapan Chatrin tak kalah pedas, tiba-tiba saja Valen datang mengagetkan mereka berdua yang berada di depan pintu kamar mandi wanita. "Kalian ngapain? " tanyanya polos.
Dapat Lesya lihat jika Valen baru saja keluar dari kamar mandi khusus lelaki. Terlihat dari Valen yang memang berdiri di depan pintu kamar mandi lelaki itu.
Chatrin menjawab dengan tiba-tiba seraya menunjukkan tangannya yang ditepis kasar oleh Lesya. "Gw mau ajak dia maafan soal yang kemaren tapi dianya gak mau! Parah sih, padahal udah baik-baik gw minta maaf sama dia! " lugunya polos.
Valen melihat Lesya yang tak berekspresi mendengar pernyataan Chatrin hanya memutar bola matanya malas. "Lo balik kelas sono! Acting lo kurang bagus! " ketusnya.
Chatrin hanya melotot dan menghentakkan kakinya berjalan pergi dari sana. Dia tak menyangka jika Valen yang ceria sekaligus periang akan berkata ketus seolah tak ingin berbicara dengannya. Ada apa sebenarnya ini?
__ADS_1
Lesya hanya menatap kepergian Chatrin sekilas. Beralih menatap Valen, dia langsung pergi begitu saja tanpa satu kata patah pun. "Woy! Jangan bolos lo Sya! " peringat Valen. Lesya tak menjawab peringatan dari Valen. Melirik saja tidak!
Valen hanya menghela nafasnya panjang. Dia tahu jika Lesya begitu pasti akan membolos entah kemana. Sudahlah, yang penting dirinya tak memberitahukan ke siapapun jika Lesya membolos. Bisa panjang urusannya lagi!
...※ ·❆· ※...
Lesya menyalakan mesin motornya dan pergi dari area sekolah dengan menggunakan jalur khusus keluarga Grey. Gadis itu ingin mencari ketenangan di luar sekolah saat ini. Dia saat ini masih belum tahu jika jalur ini dikhususkan untuk keluarga Grey. Remamber?
Lesya tahu jika dia akan ditemukan dengan mudah karena Elvan selaku ketua OSIS sudah mengetahui dimana tempat bolosnya saat berada di sekolah. Jadi dia memutuskan untuk pergi dari sekolah saja mencari ketenangan agar tak terganggu.
Setelah berpikir beberapa saat mengenai tempat yang tertutup, Lesya akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen miliknya. Selama perjalanan dia tak sengaja melihat Galang di sebuah toko dengan wanita seumuran dengan Galang sendiri. Mereka terlihat mesra bahkan mereka saling menggandeng satu sama lain.
Lesya menetralkan kembali wajahnya dan fokus mengendarai motornya menuju apartemennya. Setibanya di apartemennya, Lesya melemparkan dirinya di ranjang dan mengingat betapa mirisnya harinya saat ini. Pagi yang sangat menyedihkan sekali untuknya!
Mengingat jika dirinya tak baik-baik saja, Lesya beranjak menutup semua gorden apartemennya hingga hanya ada sedikit cahaya yang terpancar. Lampu apartemen semua tertutup dan Lesya juga mengambil beberapa minuman keras untuk meredakan amarahnya.
Persediaan wiski, vodka, wine, bir, sake, dan sojunya masih banyak. Memang sengaja dia meletakkan banyak persediaan minuman keras yang tak pantas dia konsumsi sebagai pereda amarahnya. Dia hanya mengambil satu pack wine dan meletakkannya di bawah tepi ranjangnya.
Meminum satu per satu botol wine, tak terasa Lesya sudah menghabiskan setengah dari satu pack wine tersebut. Bahkan tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 02.45 saat ini.
__ADS_1
Sementara Elvan, lelaki itu mencari keberadaan Lesya saat ini. Sekolah sudah tampak sepi saat ini. Tadi pagi saat berangkat sekolah Lesya dan dirinya berangkat berpisah karena permintaan Lesya sendiri yang tak ingin membuat kehebohan. "Lo di mana sih?! " gumam Elvan.
Akhirnya Elvan yang tak kunjung menemukan keberadaan Lesya, memutuskan melihat keberadaan Lesya dengan gelang tangan di pergelangan tangannya. Sepertinya Lesya lupa mengenai gelang tangan yang dapat menghubungi satu sama lain!
Dengan cepat Elvan berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Elvan menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mengikuti rute dari ponselnya yang mengarah pada apartemen milik Lesya.
Setibanya di apartemen, Elvan tak dapat membuka pintu karena harus memasukkan sandi sebelumnya. Dia berjongkok dan melihat jejak sidik jari Lesya yang masih tertinggal di sana. "Satu, tujuh, nol, dua? " gumam Elvan.
Elvan dapat melihat dengan baik jika jejak sidik jari Lesya berada di angka satu, tujuh, nol, dan dua. Namun sayangnya Elvan tak tahu urutan yang benar dari 4 digit sandi itu. Dia berusaha memasukkan sandi yang benar dengan urutan sesuai.
Sudah 4 menit berlalu namun masih belum menemukan sandi yang benar. Lesya juga yang berada di dalam apartemen mengacuhkan bunyi bell yang terus terdengar dari luar. "Sandinya berapa sih?! " kesal Elvan bergumam karena tak tahu sandi yang benar.
Elvan teringat dengan data-data Lesya yang pernah dia curi itu. Elvan merogoh ponselnya dan mencari nomor yang sama dengan jejak sidik jari Lesya. "Terakhir mengikuti Olimpiade? Dua tujuh satu nol? " gumam Elvan tak paham.
Walaupun tak paham dengan pola pikir Lesya, Elvan tetap memasukkan sandi yang merupakan tanggal dimana Lesya terakhir kalinya mengikuti olimpiade pelajaran apapun dan beralih pada olimpiade yang berbau karate. 2710 angka familiar di benak Elvan. Sepertinya ada kejadian tak terduga dari angka ini. Mengapa dia merasa familiar?
Elvan berhasil membuka dengan bantuan data hasil colongannya itu dan perlahan membuka knop pintu. Keadaan yang pertama dia lihat adalah dimana ruangan itu hanya ada kegelapan dengan cahaya sedikit. Ditambah aroma alkohol yang begitu menyengat di seisi ruangan itu.
Lesya yang tidur di ranjang dengan tangan yang memegang botol tak menyadari keberadaan Elvan sama sekali. Tanpa sengaja dia melepaskan pegangannya dari botol hingga botol tersebut pecah. Alhasil air yang masih tersisa sedikit di dalam botol ikut tumpah ke lantai. Saat ini Lesya benar-benar frustasi dengan keadaan dunianya. Rasanya dirinya hancur!
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗