Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
130: Hotel!


__ADS_3

Lesya adalah sebongkah berlian yang berada di ruangan yang sangatlah gelap bagi Cakra, Candra, dan Alam. Malaikat tak bersayap seolah penolong namun sangatlah keras kepala.


Mereka berharap di saat mendengar kabar jika Lesya sudahlah menikah dengan King Tiger Wong yang terkenal tak kenal ampun itu, sikap Lesya akan berubah. Mereka berharap juga agar ada celah lampu yang menemani hari-hari berlian mereka.


Mereka pilih kasih dengan Luna? Tidak sama sekali! Jika Lesya adalah berlian, Luna adalah permata bagi mereka. Mereka akan menjaga dengan baik berlian dan permata mereka agar tak lecet dengan air mata.


Mereka juga menyumbang seikhlas mereka untuk pengobatan operasi jantung mama Luna. Alam, Cakra, Candra, Sarah, Leon, Luna dan Lesya bagaikan keluarga tanpa orang tua.


Oleh karena itu, mereka saling support, perhatian, mendukung satu sama lain. Bahkan mereka semua berharap agar takdir akan membuat mereka tetap bersama hingga maut memisahkan.


Banyak tantangan memang yang sudah merek hadapi. Jika salah satu dari mereka koma, mereka akan mencari dalang dan meminta pengganti rugian. Entah itu dibunuh atau salah satu organ mereka ambil.


Lesya mendengus malas dan kembali menjawab ancaman Cakra. "ADUIN AJA KALO MAMPUU-!! " Cakra mendengus malas mendengarnya. Tak akan menang jika berdebat dengan Lesya. "Tauk lah! Yon balik! "


"Gak bakal menang kalo lawannya bocel! Dahlah mending gw pulang" dengus Alam. Leon mengangguk setuju. "Yok lah bang! Tuh anak keras kek batu! "


Cakra dan Alam kembali ke markas guna menjaga seraya beristirahat di sana. Sedangkan Alam akan kembali ke kediaman Bryson saja karena Elena berada di sana.


Lesya yang pulang menuju hotelnya terkikik kecil di tengah jalan. Dia tersenyum tipis betapa banyaknya dukungan yang terlihat selama dia menjadi seorang Queen Ellion. "Gw sayang kalian semua! "


Kembali kepada Elvan dkk yang masih berada di sana dengan kondisi saling menyalahkan. "Noh bayar tuh! Utang lo kan? " kata Ken. Lisa menghentakkan sekali kakinya keras. "Itu namanya pemerasan! "


"Itu namanya bukan pemerasan Lis! Kalo lo tau harusnya jangan berjanji! Karena janji adalah utang! Kalo lo gak nepatin janji sama aja artinya lo ngutang! " bijak Frans.


Lisa mengerucutkan bibirnya kesal. "Kalian bela siapa sih?! Gw apa tuh anak(Lesya) hah?! " Elvan hanya mendengar musik dari ponselnya tanpa ikut menimbrung percakapan temannya itu.


Valen memutar bola matanya malas. "Kita tuh belain lo! Tapi cara kita membela bukan sesuai dengan yang lo pikir! Kita gak mau kalo lo sempet ngutang trus ditagih! Kayak buronan tau gak?! " Lisa memutar bola matanya malas. "Bod*! Gw gak peduli! "

__ADS_1


Ddrrttt...


Elvan dengan cepat mengangkat telepon yang dapat dia ketahui jika bunda nya yang menelepon. Teman-teman Elvan termasuk Lisa hanya terdiam saja karena tak ingin membuat keributan.


📞 Halo bun,


📞 Halo Van, Vano kamu sama Lesya gak? Kok Lesya sama Lisa belum balik? Udah malem loh!


📞 Enggak bun,


📞 Gak mau tau cari sampe dapet terus bawa ke rumah SEKARANG! *penuh penekanan


📞 Iya bun,


Tutttt!


Elvan menghela nafas panjang sebelumnya. Mecari Lesya? Lisa di dekatnya jika Lesya? Mau atau tidak, Elvan tetap mencari Lesya sesuai dengan perintah bunda kesayangannya itu.


Sepanjang jalan Elvan berpikir ke mana Lesya pergi. Pikirannya tertuju dengan ucapan Lesya yang mengaku jika dirinya memiliki apart, villa, hotel, dan lain-lain. "Hotel! "


Elvan tak mengendarai motornya saat ini. Motornya sudah dibawa oleh satu anak buahnya dan di ganti dengan mobil sport nya. "Tapi di mana? "


Elvan berpikir dimana hotel Lesya dan akhirnya memutuskan menggunakan laptopnya yang ada untuk mencari tahu. "Jalan ******** ! "


Berbeda dengan keadaan Vion yang dibantu anak buahnya berdiri. "Arghhh! Sial*n! Awas saja kau Elvano! " geram Vion.


Revion Fillybert, seorang pembunuh berdarah dingin, tak kenal ampun dan kejam. Usianya kira-kira 3 tahun lebih tua dibandingkan Lesya. Cinta? Dia tak kenal itu sama sekali!

__ADS_1


Pengidap asma dan obsesi akut. Ini bukanlah dirinya yang sebenarnya! Dia hanya dipaksa oleh keadaan dan situasi agar menjadi seorang yang seperti ini. Dendamnya akan berlanjut terutama terhadap Lesya!


Dahulu, dia adalah seorang anak kecil yang tahu apa itu cinta yang tulus tanpa obsesi sama sekali. Namun, di saat dirinya dipengaruhi oleh pergaulan bebas, semua berubah termasuk sikapnya.


Anak kecil polos itu mengetahui jika pembunuh ibu dan ayahnya adalah ayah dari Lesya, sahabat kecilnya. Benci? Tentu! Mulai dari sanalah Vion membenci, obsesi, dingin, tak kenal ampun.


Bahkan dia sudah banyak meniduri ratusan wanita dari negara yang berbeda. Setelah merasa puas menyentuh tubuh wanita, dia akan membunuhnya. Itulah cara Vion melampiskan amarahnya. Kejam bukan?


"Argghh! Gw gak akan biarin lo lepas dari genggaman gw Aleesya! Sahabatnya juga akan ku pastikan masuk genggamanku juga, Aluna! " Vion tersenyum jahat dan memikirkan rencana selanjutnya.


Kembali kepada Elvan yang berjalan menuju meja resepsionis. Rambutnya yang acak-acakkan ditambah masker hitam yang melekat membuat kaum hawa yang lewat melongo tak percaya.


Mereka yakin dibalik masker hitam itu, pangeran berkuda putih ingin menemuinya. Itulah pikiran kaum hawa yang ada. Elvan cuek bebek saja jika dirinya menjadi pusat perhatian. "Permisi.. "


"I-iya? Butuh apa eum.. mas? " Salah satu resepsionis yang dipanggil Elvan bingung harus memanggil pria tampan di depannya dengan sebutan apa. "Kamar atas nama Aleesya! " datar Elvan.


Dengan cepat resepsionis yang melayani Elvan mencari nama tersebut. Nihil! Tak ada nama Lesya di sana. "Maaf, tidak ada nama tersebut di sini, " sopannya.


Elvan mengerutkan keningnya heran. Apa dia salah? Tapi tak mungkin rasanya! Tiba-tiba saja ada manager yang bekerja di sana berjalan menghampiri mereka. "Maaf, ada apa ini? "


"Manager, beliau mencari kamar atas nama Aleesya namun tak ada di data! " jujurnya. Manager tersebut mengerutkan keningnya. "Anda mencari Presdir Ales? " Resepsionis tersebut tercengang kaget.


Elvan menatap datar dan mengangkat bahunya acuh. "Eum.. Maaf, mendiang Presdir Arga sudah tiada dan hotel ini dikelola oleh Presdir Aleesya kerap dipanggil Presdir Ales, apa anda mencari Presdir Ales? ' jelasnya sekaligus bertanya.


Kali ini Elvan yang mulai paham mengangguk saja. Dengan sopan manager tersebut mempersilahkan Elvan mengikutinya. Walau memang manager tersebut bingung ada keperluan apa Elvan mencari Presdirnya.


Masih dalam posisi yang sama. Aura yang dipancarkan Elvan membuat manager yang ada bergidik ngeri. Tibalah mereka di ruang paling atas bernama 'PRESIDENT'S ROOM' di sana.

__ADS_1


Elvan langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Belum tuntas perkataan manager tersebut Elvan dapat lihat jika Lesya mengobati lukanya di bagian perut. " Ini ru--- "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2