
Bukannya meredakan kekesalan Lesya, Elvan justru mengulurkan tangannya seolah meminta sesuatu kepada Lesya. "Mana? " tanyanya. Lesya yang tak paham, mengerutkan keningnya dan dengan polosnya meletakkan tangannya di atas telapak tangan Elvan. "Ini? " polosnya.
Elvan mengacak tangan Lesya dan kembali bertanya maksudnya. "Gimana nilai ujian lo? " tanyanya. Lesya terdiam membeku bingung menjawabnya. Apa nanti Elvan akan mengadu kepada Mayang dan dirinya akan kena omel? Pikir Lesya.
Sementara Elvan yang melihat keterkejutan Lesya paham jika nilai gadis di depannya ini jauh dari rata-rata. "Gak usah takut! Gw gak marah! " tambah Elvan melanjutkan ucapannya.
Lesya menggeleng kecil dan mengangkat ketiga jarinya di tangan kirinya dan empat jarinya di tangan kirinya. Elvan menyentil kening Lesya hingga sang empu meringis kecil. "Makanya kalau belajar itu yang benar! " geleng Elvan. Bukannya marah pada Lesya namun rasa sedikit kecewa saja. Catatt, hanya sedikit saja loh!
Lesya mengeruncutkan bibirnya manyun seraya mengusap sentilan Elvan di keningnya. "Ouch! Ya maap, gw yang gak fokus! " cicitnya. Elvan berdehem kecil lalu melirik jam tangannya. "Masih ada waktu, ayo! " ajak Elvan beranjak berdiri.
"Ke mana? " bingung Lesya mengerutkan keningnya. Elvan tersenyum tipis namun sama sekali tak terlihat di wajahnya. "Ada deh! Ayo, " ajaknya diangguki oleh Lesya. "Bentar gw ganti baju dulu! "
Setelah berganti baju, Lesya keluar dan memakai hoodienya. "Ayo! " Elvan mengangguk dan menyatukan tangannya dengan tangan Lesya berjalan keluar. Pakaian mereka sama dengan lapisan hoodie turtleneck bewarna cokelat muda.
Di saat mereka melewati ruang tamu, mereka bertemu dengan Luna dan Lisa yang masih asik bermain PS berdua. "Tembak gobl*k Lis! Eh? My pren mau kemana woe? " ucap Luna beralih bertanya kepada Lesya namun tak sama sekali tak mendapatkan tanggapan.
"Woee buruan cok ini mau kalah beg*! Biarin mereka berdua elah siapa tau makin deket! " kesal Lisa karena Luna hampir terhenti dengan permainan mereka. Alhasil mereka kembali fokus pada permainan PS mereka.
Sementara Elvan yang mengendari motor sport besar nya dengan Lesya yang menatapnya tak percaya. "Serius naik ini? Tumben, biasanya selalu naik mobil! " tanya Lesya melongo. Elvan mengangguk singkat. "Gw malas bawa mobil! " jawabnya.
Lesya hanya mengangguk kecil. Dengan celana jeans bewarna hitam dan full face helm hitam yang sudah terpasang di kepalanya, dia naik dengan berpegangan pada pundak Elvan. "Jangan pegang pundak gw! Nanti gw kecekek yang ada! " ujar Elvan.
__ADS_1
Lesya hanya menurut dan melepaskan pegangannya dan beralih memeluk pinggang Elvan. "Bilang aja kalau lo mau dipeluk! " ledek Lesya meletakkan dagunya di atas sebelah pundak Elvan.
"Salah satunya itu! " receh Elvan. Lesya tertawa kecil dan mencubit pinggang Elvan gemes. "Haha, receh! Udah buruan jalan! " Elvan meringis kecil dengan cubitan Lesya.
Perlahan Elvan mulai melajukan motornya dan meninggalkan perkarangan rumah mewah itu. Tanpa mereka sadari, Mayang yang melihat keberadaan kedua pasutri itu dari balkon kamarnya tersenyum bahagia. "Akhirnya kalian bisa akur, lega bunda liatnya! Hah, semoga kalian bisa pertahanin rumah tangga kalian nak! "
Selama di perjalanan mereka hanya terdiam satu sama lain. Menikmati hembusan angin sore menjelang malam yang menerpa mereka, akhirnya Lesya angkat suara dan bertanya. "KETBOK, SEBENARNYA KITA MAU KEMANA SIH? " tanyanya sedikit berteriak agar Elvan dapat mendengarnya.
"LIAT AJA NANTI! " jawab Elvan membalas dengan suaranya sedikit dikeraskan. Lesya yang tak tahu hendak kemana mereka pergi, mulutnya hanya berkomat-kamit semoga Elvan tak membawanya ke tempat aneh-aneh. Lucu! Pikir Elvan yang melihat dari kaca spion.
Ckiiittt!
Elvan menunduk dan pasrah saja di saat Lesya yang berniat merapikan justru kembali mengacak rambutnya. "Nah gini, cakep! " puji Lesya. Elvan turun dari motornya dan menggandeng Lesya untuk membeli tiket.
Lesya terpana saat melihat ternyata Elvan membawanya ke pasar malam yang sudah buka. Sebenarnya pasar malam itu adanya di saat malam hari. Namun karena waktu akan menunjukan malam hari, pasar malam itu dibuka. "Main apa dulu? "
"Mancing Bebek dulu! " girang Lesya menarik Elvan ke arah tempat yang dia sebutkan tadi.
Elvan hanya pasrah saat ditarik oleh Lesya. Beberapa mainan yang ada di pasar malam sudah mereka cobai hingga mereka yang menang mendapatkan 1 boneka beruang cukup besar dan sepasang gantungan kunci yang berbulu.
Mereka berdua duduk di satu bangku untuk beristirahat sejenak. "Mau ice cream? " tanya Elvan dibalas gelengan kepala Lesya. Gadis yang menyandang status nyonya Gregorius Grey itu menunjuk ke arah penjual permen kapas. "Maunya itu! " rengeknya bagai anak kecil.
__ADS_1
Elvan menoleh ke arah tunjukan Lesya dan mengangguk kecil. "Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana sebelum gw datang! " ucap Elvan dibalas ancungan jempol Lesya. "Cepetan ya! " pesan Lesya diangguki Elvan yang perlahan mulai berjalan melangkah ke arah penjual permen kapas yang ditunjukkan Lesya.
Lesya yang menunggu keberadaan Elvan membawa pesanannya melirik ke arah ponselnya yang digantungi gantungan kunci yang dia dapat tadi. Bukan hanya dia saja Elvan juga memilikinya karena saat mereka menang, hadiahnya sepasang.
Matanya melotot tak percaya sekaligus bingung dengan dirinya sendiri. "Lah? Gw jadi manja ya sekarang? Kalau gw pikir-pikir, geli juga bayanginnya! K-keknya gw kelainan. . . " gumam Lesya aneh sendiri dengan tingkahnya tadi yang begitu menempel dengan Elvan.
Tiba-tiba saja Lesya beranjak kaget hingga berdiri melihat satu anak kecil bergender lelaki jatuh di depannya. "Eh? Hati-hati dong dek kalau jalan! " ucap Lesya membantu anak itu berdiri.
"Makasi kak! " ucap anak kecil itu dengan nada dinginnya. Lesya yang melihat wajah anak kecil itu sedikit kotor memberikannya tisu yang dia bawa. "Tunggu, bersihin dulu muka kamu! " ucap Lesya perlahan membersihkan wajah anak itu.
"Nama kamu siapa? " tanya Lesya membuka pembicaraan. Anak kecil tersebut dipapah Lesya duduk di bangku yang Lesya tempati. "Vayleen, biasanya dipanggil Vay! " jujur anak itu sedikit hangat kepada Lesya karena merasa Lesya adalah orang baik.
Lesya tersenyum tipis. "Vayleen, mama kamu mana? Kok sendiri? Papa kamu juga mana? " tanya Lesya. Anak kecil yang kerap di panggil Vay menggeleng kecil. "Papa aku sakit! Dia di rawat di Amerika kalau mama, dia izin ke toilet dulu tadi! "
Lesya tersenyum simpul merasa sedikit akrab dengan Vayleen. "Semoga papa kamu cepet sehat ya Vay! Oh iya, kayaknya kakak pernah liat kamu tapi di mana ya? Wajah kamu mirip sama seseorang, tapi kakak lupa sama namanya, ehehe.. " receh Lesya menyengir polos.
"Kakak cantik! " jujur Vayleen.
"Kamu ganteng kok Vay! Oh iya, umur kamu sekarang berapa? " balas Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1