
"Enak aja, gw gak kayak lo ya yang asal nikah sana sini! " jawab Valen mendengus sebal. Lesya menatap datar Valen dan memanjangkan tangannya agar memberikan hadiah bogem pada tenguk leher lelaki itu walau tak keras.
"Enak aja lo, gw nikah gak sana sini ya! Jangan sok tau braderr, gw gak murahan kayak temen lo yang hobbynya gonta-ganti pacar! " ketus Lesya. Valen hanya mengaduh kesakitan saja. Berbeda dengan Ken yang dibawa seret oleh Lesya bahkan di cap murahan oleh gadis itu. "Woy gw udah diem juga masih keseret mulu dah! " malas Ken mendengus.
"Gak ada yang nyeret lo! Lo sendiri kali yang kesindir dan ngerasa gw bawa-bawa lo." ketus Lesya. Ken hanya menghela nafasnya pasrah saja. Sudah dipastikan jika Lesya tak akam membiarkan dirinya kalah. Apalagi masalah perdebatan. Ehh, bukan Lesya saja namun semua perempuan. Jadi, sebagai lelaki sejati dan sehati, Ken pasrah saja. Eakkk~
Amel berdecak malas dan beranjak berdiri di susul Frans dan Nayla. "Yaudah kita bertiga balik dulu, yok yang! " kata Amel lalu beralih bergelayut manja dengan sang kekasih. Frans tersenyum simpul dan mengangguk saja. Berbeda dengan Nayla yang mengikuti langkah kaki mereka berdua dengan wajah ditekuknya. Jangan tanya lagi mengapa karena jawabannya adalah pemandangan di depannya. Ayolah, dia juga iri sama seperti Luna!
"Bye-bye Tha," pamit Nayla melambaikan tangannya lalu menyusul keberadaan pasangan bucin selain Leon dan Lisa. Tega sekali mereka meninggalkan dirinya di sana sendirian. Letha hanya tersenyum manis dan melambaikan tangannya.
Tak berselang lama mereka semua perlahan mulai bubar satu per satu karena malam sudah tiba. Ah, Revan! Lelaki itu juga sudah kembali ke markas mendengar ada sesuatu yang harus dia urus. Hanya tersisa Luna dan Valen saja di sana. Sedari tadi wajah Luna merah tomat karena terus digoda oleh Lesya mengenai pertunangannya dengan Valen.
"Udah akh gw mau balik, takut dicariin mama! " pungkas Luna sebelum obrolannya dengan sahabatnya semakin menjadi-jadi. Lesya hanya mengangguk enteng saja.
Drrtttt...
"Panjang umur, baru gek dibilang! " kata
Luna merogoh sakunya dan menetralkan wajahnya kembali di saat kontak bertulisan ‘'Pahlawan Negara' alias nama kontak sang mama—Henny terlihat di layar ponselnya. Mengangkat telepon itu, Luna dibuat kaget dengan pekikan Henny di seberang telepon. Haiss, Luna jadi takut jantung mamanya itu kambuh lagi jika teriak-teriak begini.
📞 ALUUNAAA MARGARETHAAA...
📞 Aaa.. Mama jangan teriak-teriak ish! Kambuh jantungnya repot nanti mamaku sayangg..
📞 Jam berapa sekarang hah?! Dimana? Kok belom balik sih?! *marah-marah
📞 Ini juga Luna mau balik ma, tapi keburu di telepon jadinya baliknya ditunda. Lagian Luna lagi di depan rumah juga!
📞 Rumah Lesya?
📞 Rumah mertuanya lah ma, masa rumah Lesya sih? Kan belinya pake uang mertuanya bukan dia!
📞 Sama aja, balik sekarang atau gerbang mama kunci hah?!
__ADS_1
📞 Yah, mama jahat ishh! ALIEN PALEEN DIH, TAS GW GEBLEEKK!
📞 Valen? Kamu sama dia Lun? *melunak
📞 Dih giliran Palen lembut bener ngomongnya! Iya, ini ada Palen kaleng rombeng kenapa? Mau nyuruh mampir ke rumah?
📞 Nah, suruh dia ke rumah sekarang juga soalnya mumpung mama habis masak buat kalian, suruh ya dateng!
📞 Ma---
Tutttt!
Mulut Luna ingin sekali berkomat-kamit sekarang juga. Kebiasaan mamanya yaitu menutup telepon secara sepihak. Apalagi ditambah kebiasaan barunya adalah melunak di saat bersama Valen. Bukan apa-apa namun jawaban dia adalah begini 'calon anak mama harus dilayani dengan baik' selalu itu saja jawabannya. Wahhh?! Cuman calon kan? Lah? Luna saja yang bukan calon saja selalu diomeli. Beh, rasanya dia adalah anak pungut.
"Mana tas gw ege?! " kesal Luna lalu merebut tas ranselnya. Dirinya beranjak dan menarik tangan Valen agar ikut dengannya. "Buruan diri lo! Mama nyariin ANAK KESAYANGANNYA biar dikasih makan di rumah! " tekan Luna pada kata 'anak kesayangannya' agar Valen segera menurut. Jika tak menurut, kuping Luna lah yang menjadi korban omelan dari sang mama tercinta. Sksk, kasian Luna!
"Lo iri? " tanya Valen menaikan satu alisnya. Luna hanya memutar bola matanya malas mendengar dua kata yang terlontar dari mulut Valen. "Adeehh, yaudah ayok balik ke rumah calon mertua! Pak boss, bu boss, ipar pak boss duluan ya ketemu camer! " lanjut Valen pada ketiga remaja yang asik bermain gadget dan merangkul pundak tunangannya.
"Tiati, gw nitip sahabat gw tapi gak sepenuhnya! " ucap Lesya sedikit bercanda dengan menaik-turunkan alisnya. Luna hanya mendengus sebal saja mendengar perkataan Lesya. Dia tahu maksud dari kata sepenuhnya itu apa. Ayolah, dia bukan orang bod*h.
"JANGAN LUPA SALAM BUAT MAMA CANTEK YA LUN! " teriak Lesya saat jaraknya dengan Luna sudah menjauh.
Luna hanya mengiyakan saja dengan teriakannya. Setelah kepergian semua orang di sana, bibir Lesya mengeruncut kesal. Semua orang membawa pasangan dengan gaya masing-masing. Romantis memang tak ada di kamusnya namun dia juga ingin merasakan dibuat terbang melayang oleh lawan jenis.
"Ma femme (istriku), ke kamar yuk! " ajak Elvan menutup laptopnya. Pipi Lesya memerah mendengarnya. Ma femme? Akh, mengapa permintaannya dikabulkan tanpa diminta? Oh no, Elvan memang pengertian. Lihat saja Letha yang tak tahu berbahasa keturunannya itu hanya diam menyimak.
"Gendong! " pinta Lesya merentangkan kedua tangannya pada Elvan dengan manjanya. Ini bukan sengaja membuat Letha panas namun benar-benar murni dari keinginannya. Elvan hanya mengangguk saja. Laptopnya dia simpan di laci nakas sana barulah dia menggendong sang istri kecilnya sesuai permintaan sang empu.
Kepergian keduanya membuat Letha geram sendiri. Mengepakkan tangannya erat, Letha tersenyum penuh makna setelah itu. "Lo bisa senang sekarang tapi enggak buat nanti! " gumam Letha lirih namun tersirat makna yang dalam di kalimatnya yang terlontar barusan.
...*****...
"Apa? " tanya satu gadis dengan nada bingungnya. Pasalnya sekarang jam pagi dan sekolah masih belum mengizinkan jam pulang ataupun istirahat.
__ADS_1
"Gimana? Setuju? " tanya satu lelaki yang duduk di sebelah gadis tersebut dengan alisnya yang terangkat satu.
"Maksud kamu, kita bareng-bareng buat mereka celaka? " polos gadis itu bertanya. Pertanyaan polos itu justru membuat lelaki tegap nan tampan mendesis kecil dan mencoba bersabar.
"Jangan bilang lo takut? Cupu! " ledek lelaki itu. Tangan lelaki itu dengan lihainya masuk ke dalam rok pendek milik gadis di sampingnya. Terlihat sudah gadis tersebut terkejut menahan des*hannya.
"Enggak! K-kalau mereka yang maksa gw begini, ah~ jangan salahin gw yang maksa mereka pisah emh! " tegas gadis itu berusaha agar tetap tenang.
Lelaki tersebut yang senang memainkan area sen-sitif perempuan itu dengan sengaja memainkan jarinya di sana bahkan dengan sengaja menekankan jadinya lebih dalam. Tentu saja gadis itu mendes*h menerima kelakuan itu. Ini benar-benar di luar dugaannya!
"Good girl! So, what is your choice? (Perempuan baik! Jadi, apa pilihanmu?)" bisik lelaki itu mendekat dan menjilati daun telinga gadis di depannya.
"I-iya, deal! Karnaval nanti kan? "
"Yeahh, soal nama baik gw yang urus semua! Terpenting, lo handle yang gw suruh, gimana? " tawar lelaki menarik tangannya keluar dari area sen-sitif gadis di sebelahnya. Gadis itu hanya menghela nafasnya lega dan menganggukkan kepalanya mantap menyakinkan dirinya.
"Oke, deal! Asalkan Lesya dan Elvan gak akan pernah nyatu, gw bakal berusaha dapetin Elvan! " ambisi gadis itu dengan semangat yang sudah berkobar-kobar.
"Good choice! "
Setelah beberapa percakapan itu berlalu, sang gadis yang masih berseragam SMA itu pamit kembali ke sekolah karena takut dicurigai. Wajahnya yang tertutup topi membuat siapapun linglung saat mengenalinya. Bar, itu tempatnya barusan saat bertemu lelaki misterius dengan masker yang menutupi wajahnya.
Tak tahu saja bar itu tersedia banyak CCTV dari Sabang sampai Merauke eh maksudnya dari depan sampai belakang penjuru. Bahkan tak tahu saja jika bar itu milik teman sekolahnya. Lihat saja namanya Lezxrbar. Para reader's tahu tidak siapa pemilik bar tersebut?
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Hayo kira-kira siapa gadis itu? Siapa juga laki-laki misterius yang bermasker itu?
A. Letha.
B. Chatrin.
__ADS_1
C. Enggak tau.