
Seolah mendapat sebuah lelucon receh, Lesya merogoh sebelah sakunya dan mengambil sebuah benda kecil yang bentuknya bulat bagaikan bola. Dia memang sengaja merancang desain benda tersebut bagai bola agar mudah dia selipkan nantinya. Melempar ke arah belakang dari tempat dia berdiri, ternyata benda yang diambil Lesya itu adalah bom dengan level menegah.
DUUARRR-!!
Lesya sama sekali tak merasa panas, sakit ataupun perih di saat bom tersebut meledak dan beberapa kali batu-batu kecil yang hancur menghantam dirinya. Lesya bagaikan seseorang yang sudah mati rasa. Baik dalam fisik maupun hati.
"Are you ready to die Relifon Scheinen? (Apa lo siap mati Relifon Scheinen?) " datar Lesya dengan nada dinginnya.
Untuk yang lainnya memundurkan langkahnya sedikit menjauh. Mereka tak dianggap untuk perang kali ini. Karena pada nyatanya, Vion dan Lesya sama-sama berargument tanpa menyadari keberadaan mereka.
Jujur mereka kaget dan resah karena pasalnya, Lesya tak melirik ataupun menyadari keberadaan mereka. Satu per satu juga mulai khawatir karena bola mata Lesya memerah padam walau beberapa ucapannya tak terdengar membentak. Dan yang mereka khawatirkan, dimana Lesya tiba-tiba tertawa, bersikap polos, dan bertingkah tak berdosa layaknya anak kecil.
Luna saja sepertinya tak dapat menghentikan aksi liar Lesya. Dan kembali jujur saja, ini seperti bukan rencana mereka. Luna dapat menyadari perubahan-perubahan Lesya yang mengganggu pribadi sahabatnya itu.
Lihat saja buktinya! Di depan mata mereka sendiri, Lesya melemparkan bom berlevel menegah. Dan itu sudah menyebabkan dinding-dinding tembok markas Ice Blue bergetar kuat dan akhirnya roboh. Untung saja hanya di bagian belakang Lesya, jika pada atap, mungkin mereka sudah dibuat panik.
One word, crazy!
But, she is cool-!!
Untuk yang lainnya terkejut dengan keberanian Lesya. Bahkan Vay dan Felicia yang melihat dari atas tangga tak kalah terkejut. Jujur terlintas rasa kasian bagi Felicia. Sebelumnya dia sudah diberitahukan mengenai rencana pembunuhan Vion dengan tangan orang lain. Jujur Vay masih sayang pada sang papa kandungnya walaupun sangat jahat padanya. Tapi, keduanya tak mampu menahan setiap perilaku Vion yang semakin merajalela pada mereka.
"MAU APA LO?! " bentak Vion mengangkat satu tombak yang ada di sana ke arah Lesya. Bukannya gencar, justru sang lawan bicaranya tertawa terbahak-bahak. Sejenak Vion tersadar, ternyata penyakitnya kembali kambuh!
"Kill you! (Bunuh lo!) " enteng Lesya mengangkat katananya lalu diletakkan ke bahu. Berjalan perlahan mengelilingi Vion, tanpa sadar Vion sendiri justru berjalan ikut berputar dengan tombak yang tetap sama tercondong kepada Lesya. Namun sepertinya pria itu tak sadar jika dia melangkah ke belakang.
Diam-diam Lesya tersenyum tulus dan itu dapat dilihat oleh Vion. Sama-sama merasakan tubuh mereka bergetar, kenangan masa lalu mereka terlintas di benak mereka masing-masing. Sangat indah namun Vion terperangkap sendiri dalam permainan yang dia buat.
Tak mau tertinggal moment, Felicia dan Vay kembali turun ke bawah. Jika bertanya mengenai Letha, dia sudah masuk ke dalam ruangan khusus yang disiapkan untuk Lesya tadi. Mereka juga berdiri tepat di sebelah kanan belakang Lesya setelah turun tangga. Beberapa petinggi Ice Blue juga sudah terkapar tak berdaya karena skill kemampuan petinggi Tiger Wong dan Lion Claws.
"Ada yang mau diucapin sebelum ajal lo sekarang? " tanya Lesya menawar dan menurunkan katananya dari bahunya. Vion menatap tajam Lesya. Tangannya begitu terkepal kuat melihat wajah Lesya yang begitu tenang namun terkesan meledek.
"Lepasin Vita! "
"A-aaa, okee ada lagi? "
"Semudah itu? "
"Kan gw orang baik, "
"Jangan apa-apain Vita! "
"Tapi mungkin dia udah gak suci! "
"LESYA?! "
"Apasih?! "
"Kan adek lo itu sering godain om-om, otomatis lah dia gak suci! " ucap Lesya begitu menohok. "Tapi mungkin aja dia udah meninggal! " lanjut Lesya enteng.
__ADS_1
"LESYA?!! "
"Kan dia serangan jantung, genetik sama bokapnya(ayah angkat Vion). Dan sebelum mau di tangkap, eh udah masuk rumah sakit duluan! Iya atau tidak Queen Al? " tanya Lesya beralih pada Luna tanpa mengalihkan pandangannya.
"Yeahh, it's right! (Ya, itu benar!) Mungkin juga dia sadar tapi harusnya lo banyak bersyukur karena dengan lapang dada kita menanggung biaya pengobatan operasi jantung adik angkat lo itu! " oceh Luna menanggapi pertanyaan Lesya.
"Can hear it? (Bisa dengar itu?) Banyakin syukuran, nanti bagi nasi kotaknya sama gw oke! " ucap Lesya lalu beralih mengangkat katananya ke udara.
"Le--- "
"Shutttt! Waktunya udah habis, say goodbye now! (ucapkan selamat tinggal hari ini!) " ucap Lesya menyela perkataan Vion. Menatap tajam Lesya dan beralih melirik Felicia dan Vay bergantian, lelaki itu seolah mengirimkan sinyal untuk mereka melalui tatapan teduhnya.
Felicia yang terus menatap Vion tersentak saat melihat tatapan Vion kepadanya. Dalam waktu yang cukup lama mereka melakukan eyes contact hingga pada akhirnya Felicia sendiri yang memutuskan eyes contact mereka dan beralih menatap anaknya—Vayleen.
Tiba-tiba saja seseorang yang sedang masih ribut dengan Lisa, melarikan diri hingga mengenai Vion. Dan kebetulan saat itu Vion mengangkat tombaknya sebagai perlawanan, akhirnya terlempar hingga mengenai perut Leon.
"****?! " umpat Vion menatap tajam anak buahnya yang terlempar karena serangan Lisa. Leon yang tertusuk tombak memundurkan langkahnya dan meringis sakit. Lisa saja terkejut saat melihat darah mengucur dari perut Leon.
"Shhtss, " ringis Leon.
"LEON?! "
"BADEBA*H?!! " amuk Lesya tak terima lalu mencondongkan katananya ke arah Vion. Begitu juga dengan Felicia yang melotot kaget melihatnya. "VION?!! LEON TUH ADEK GW YA BANGS*T-!! " emosi Felicia tak terima.
"Uncle, " lirih Vay.
Pada saat Lesya hendak melangkah ke arah Vion, mereka semua terkejut karena tiba-tiba bangunan mulai bergetar dan itu tandanya gedung tua itu perlahan akan mulai roboh. Leon sudah ditopang oleh Cakra di sampingnya.
"Whyyy not? Amazing dong!! Malahan, anak lo sendiri yang minta sama gw! Lo terlalu jahat sih nyampe gak diterima sama anak istri lo, sabar yah! " ledek Lesya lalu menurunkan senjatanya.
"Yang lain, selametin diri! " titah Lesya.
Alam dan Cakra membantu Leon agar dapat keluar dari bangunan itu. Sementara Farel dan Frans kembali naik ke atas agar menyelamatkan Letha yang diatas. Luna menyadarkan Lisa agar tak terbengong di tempat. Felicia tak tinggal diam, wanita itu mengangkat Vay agar mereka tetap bersama.
Semua mulai berhamburan lari ke bawah. Anggota Tiger Wong dan Lion Claws juga saling membopong satu sama lain agar dapat keluar setelah mendapatkan perintah dari Revan. Angga dan Arya yang sudah terpukul telak dibantu bopong oleh Galang dan Gilang. Mungkin hanya untuk kali ini saja.
Brunggg!
"Aaaw?!! "
Tanpa sengaja Lesya yang hendak berbalik kembali melotot karena Vion yang mengambil alih tongkat baseball yang di sana dan memukul kepalanya dari belakang hingga mengenai samping kepalanya di dekat organ matanya.
Lesya, Queen Ellion itu membeku di tempat. Mengepalkan tangannya kuat, pandangan matanya mulai buram. Dan dia tak dapat melawan. Kesakitan dari perutnya juga mulai terasa diikuti benturan keras di kepalanya.
"Le?! "
Elvan yang masih berada di sana pun akhirnya menggendong Lesya ala bridal style saat hendak pingsan. Menatap tajam Vion, Elvan berdecih sinis sebelum meninggalkan pria itu. "Gw harap sebelum ajal lo, lo sadar sama kelakuan lo! " ucap Elvan sebelum benar-benar pergi dari pandangan Vion.
Relifon a.k.a Revion, pria itu terdiam dan melampiaskan rasa geramnya karena rencananya yang gagal dengan anak buahnya. Mendorong anak buahnya hingga jatuh ke belakang tembok berlubang karena ulah Lesya, pria itu mengacak-acak rambutnya karena belum puas. Rasa dendam terus menyelimuti hati dan pikirannya. Hingga suara perkataan Elvan sebelum pergi membuatnya terdiam kembali.
__ADS_1
'gw harap sebelum ajal lo, lo sadar sama kelakuan lo!'
'SALAH LO YA BASTARD-!! UDAH TAU PAPA LO ITU PENYAKITAN DAN SEBELUM KETABRAK JUGA DIA UDAH KENA SERANGAN JANTUNG GOBL*K!! MAKANYA SEBELUM BERTINDAK PAKE OTAK BUSUK LOGIKA LO DULU!'
'SALAH BOKAP LO JUGA YANG JADI KORUPTOR BESAR PADA MASANYA!'
Kata-kata itu membuatnya terngiang-ngiang di benaknya. Bahkan otaknya sudah pecah memikirkan ucapan-ucapan Lesya saat mereka bertengkar dan saling membentak.
Bruungg!
Gedung itu perlahan sudah hampir mulai roboh. Vion melihat sekelilingnya. Sudah ada Amanda, Ericko, Faris, dan sepupunya Gratara yang sudah tiada karena perang yang dia buat. Bahkan dia dapat melihat jika banyak dari anggotanya dan anggota gangster lain yang dia kumpulkan ikut tiada.
Mengepalkan tangannya kuat, Vion mulai berjalan keluar dari sana melewati semua mayat-mayat di sana. Rasa dendam begitu sangat menyelimuti dirinya. Dia tak terima jika dirinya dianggap kalah begini. Sebelumnya dia mengambil sebuah pistol dan mengisi dengan pelatuk baru.
Dan di saat dia melihat dari jendela tanpa kaca yang berada di atas gedung, Vion kembali merasa geram di saat anggota Tiger Wong dan Lion Claws saling bersalaman dan menguatkan satu sama lain. Dia juga dapat lihat jika semua menatap markas gangsternya seolah menunggu gedung tua itu meledak.
Melihat langit-langit yang dikumpuli awan, Vion menggebrak besi yang ada di sampingnya. Sungguh, DIA SANGAT BENCI PEMANDANGAN ITU-!! Tak adil jika anggotanya berkurang secara drastis sekali namun anggota Lesya dan Elvan justru hanya berkurang sedikit.
USAHANYA SIA-SIA-!!
RENCANANYA HANCUR!!
Dan semua karena LESYA DAN ELVAN-!!
Sial*n!
Brungggg!!
Gedung yang menjadi markas Ice Blue itu kembali bergetar. Vion yang hendak berbalik dan mencari tempat bersembunyi tak dapat lagi. Kakinya sudah ditimpa batu besar pecahan tembok. Dan saat dia mendengar sebuah bunyi peringatan detik, Vion sadar itu suara bom yang bersiap meledak.
Tiga,
Dua,
Satu,
DUAAARRR-!!
Vion terpental. Markas Ice Blue itu benar-benar hancur. Beberapa mayat di sana terguling-guling. Bahkan Vion sendiri wajahnya sudah gosong dengan beberapa luka lebam bekas dari perangnya dengan Elvan tadi. Sungguh, setelah merasakan tubuhnya lemah, barulah dia sadar jika dia sangat jahat!
* Dibanding gw hidup untuk kejahatan, lebih baik gw ma*ti dan berkumpul sama orangtua gw di sana! * batin Vion memejamkan matanya.
* Lesya, Luna, Felicia, Vay, Alam, Cakra, goodbye! Mungkin telat ya? Gw salah besar sama kalian karena ego gw sendiri yang mau di nomor satu! Felicia, maaf ketulusan lo gak bisa gw balas! Vay, gw gak pantes disebut papa sama lo dan gw sadar, betapa kuatnya lo ngadepin keegoisan gw! Jadi anak yang jauh lebih baik dibanding papamu ini, thanks and sorry! * batin Vion lagi.
Setelah membatin cukup lama, Vion benar-benar kehilangan kesadarannya. Tangannya banyak luka bahkan satu kakinya sudah terpisah dari tubuhnya. Mungkin, ini adalah karma dari Tuhan karena rencana dan perilakunya yang terus-terusan menyakiti orang lain.
Dia berharap suatu saat nanti, dia dapat bertemu dengan orang-orang baik di alam berbeda. Dan Vion berharap jika dia ditempatkan di tempat baik walau perbuatannya jauh dari kata baik. Dan dia berharap tak ada dendam antara Felicia dan Vay pada dirinya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1
>>><<<
Satu perang, banyak korban! Amanda udah, Ericko udah, Faris juga udah, Vion udah, dan Gratara orang yang sebelumnya di bicarain sebagai pemeran antagonis tanpa disadari Lesya. And anyways, yang di bicarain di mimpi Lesya tuh Gratara loh! Oke jangan lupa jejaknya yaaa, tunggu besok lagi mungkin konflik masih belum selesai nyampe di sini aja, masih ada jadi jangan lupa stok kesabarannya ya.. 👯