
Perlahan pasti, Luna menyemburkan air dan membuka matanya menatap sekelilingnya. Leon melotot dan menggeser sedikit posisi Valen. "Lun, lo gak amnesia kan? Lo ingat gw kan? " tanya Leon yang mendapatkan satu tinjuan dari Luna.
"G-gw gak amnesia kali! Lesya? Lesya mana? " ucap Luna sedikit terbata. Berusaha duduk dengan bantuan Leon, Luna teringat dengan kondisi Lesya di sungai tadi. "Oh iya tadi Lesya ke iket di kakinya! "
Sontak semua terkejut dan sedetik bernafas lega dengan hadirnya orang yang mereka bicarakan. "Apaan si? " ucap Lesya tiba-tiba.
Lesya turun dari gendongan Elvan walau sedikit tertatih berjalan. Dengan sigapnya, Elvan memegang tangan Lesya membantu berjalan. "Eh lo gak papa kan Sya? " tanya Leon dibalas gelengan dari Lesya.
"Eh? Kaki lo merah Sya! " ucap Lisa yang memperhatikan cara jalan Lesya yang sedikit pincang. Lesya mengelurkan kakinya seolah dirinya tak merasa kesakitan. "B aja tuh! "
"Sudah semua balik ke tenda! Hari sudah mau malam! Buat yang mau mandi, silahkan! Dan buat kalian yang mencebur ke sungai tadi, langsung mandi biar gak sakit! " tegas pak Rio tiba-tiba.
Mereka mengangguk dan hendak beranjak. Lesya memperhatikan bagaimana Letha menerobos dan memegang tangan Elvan walau ditepis oleh sang pemilik tangan. "Van, kamu gak papa kan? "
Menepis tak suka, Elvan mengabaikan pertanyaan yang terlontar dari mulut Letha. Pandangannya mengarah ke arah sungai dan pemandangan sekitar seraya mengacak rambut basahnya.
Banyak pasang mata kaum hawa yang meneguk sulit saliva mereka melihat pemandangan indah di depan mata. "Van, mau aku bersihin? " tanya Letha setengah gugup.
Tak menggubris, Elvan sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan dari Letha. "Sya, lo bisa jalan kan? " tanya Luna diangguki oleh Lesya.
"Aw! Sakit-sakit! "ringis Lesya saat kakinya berbelok dan tangannya tertahan oleh tangan Luna dan Leon. "Gendong aja mendingan! Udah kesleo gitu! " saran Lisa.
Lesya melotot dan menggeleng cepat. "Ogah! Gw masih bisa jalan ya! " tekan Lesya. Luna menggeleng dan menyetujui ucapan Lisa. "Mending lo nurut dah Sya! Mau nanti kaki lo di amputasi?! "
Lesya mendelik dan akhirnya menyetujui saja karena sudah bosan mendengar ceramahan Luna. "Yaudah iya elah! Eh bangs*t turunin gw! " kaget Lesya di saat Elvan kembali menggendongnya.
Leon melongo dan terkagum sendirinya. "Kok gw ngerasa kalah sweet ya sama ketos? " Lisa mencebik. "Iyalah! Gak sembarangan orang bisa dapat gituan dari Elvan! Beda sama lo yang gak ada sweetnya sama sekali! "
__ADS_1
Leon mencolek dagu sang pujaan hati menggoda. "Mau sweet? Sini biar gak kedinginan! " Lisa tersenyum sendiri dan berhambur ke dalam pelukan Leon.
Luna memasang tampang eneg-nya diikuti keempat teman-teman Elvan. "Udah jadian malah sint*ng! " cibir Luna.
"Hah? Jadian?! " kompak Valen dan Kenneth bersamaan. Luna menutup telinganya sementara Lisa tersipu malu.
Berbeda Letha yang mendengar hanya mengepalkan tangannya dan pergi dari sana diikuti oleh kedua temannya. "Ck! "
Sementara Amanda yang sedikit mendengar jika Lesya selamat, berlari menuju tempat sepi yang ada dan melampiaskan amarahnya di sana. "ARGHH! KENAPA HARUS SELAMAT SIH?! " amarahnya.
Matanya berubah menjadi bewarna merah geram. Padahal dirinya sudah bahagia jika Lesya tertimpa musibah dan kini hilang sekejap. Rupanya Lesya masih dapat bertahan dalam musibahnya.
"****** LO LESYA!! Liat aja nanti! Gw bakal balas dendam gw atas nama Vannya adik gw!! Tunggu aja waktunya!! Bahagia lo akan hancur dengan tangan gw sendiri!! ARGGGHHH SIAL*N!! " ambisinya.
~o0o~
Tiba-tiba dirinya teringat dengan makanan bekal dari Mayang untuknya sekaligus hasil curiannya saat Lisa dan Luna berdebat saat itu.
Mengambil satu kotak makanan sekaligus, Lesya tertangkap basah dengan celetukkan Lisa yang dapat tahu jika Lesya mengambil kotak makanan yang dia cari sedari tadi. "Enak! " gumamnya.
"Beh,enak ya? Hasil colongan bekal gw sama Luna mau dibantu habisin gak? Dari tadi gw cari rupanya kecolongan sama kacang di depan gw! Enak bener makan sendiri! Bagi sini! " kesal Lisa.
Luna menoleh dan melotot. "Itukan dari tante Mayang? Wah nyolong makan sendiri lagi lo Sya! " Dengan entengnya Lesya membalas ucapan dari Luna dan Lisa. "Mau? Ya ambil aja kali! Punya lo pada malah izin sama malingnya! "
Kesal, mereka berdua mengambil dan melahap walau disertai gerutuan-gerutuan yang terdengar. Lesya tak mempedulikan dan asik melahap hingga habis tandas. "Beh enak coy! " ucap Lesya diangguki oleh Luna dan Lisa.
"Masuk list favorit food! " tambah Luna.
__ADS_1
"Masakan tante May paling the-best pokoknya! Apalagi anaknya! Tapi sayang, pelitnya setinggi langit angkasa! " lanjut Lisa.
Bingung, Lesya bertanya kepada Lisa. "Anaknya? Kak Elen? " Lisa menggeleng. "Bukan! Tapi Elvan! Sekali lo rasain masakannya, mungkin meloyot! " Lesya melotot tak percaya. "Serius? Kok gw gak tau ya? "
Lisa mengangkat bahunya acuh. "Mungkin karena dia mager ngomongnya Sya! Makanya dia gak kasih tau elo! Atau gak, bisa jadi lo sendiri yang gak nanya! " jawab Luna.
Lesya mengangguk saja. Memang dirinya tak bertanya apa saja yang dimiliki oleh Elvan dengan alasan 'untuk apa? ' bukan?.
"Udah kelar makan? Gabung main ToD yok! " ajak Leon disetujui ketiga gadis itu kompak.
Keluar dari tenda mereka, Lesya menautkan alisnya melihat banyaknya siswa-siswi yang tertawa lebar mendengar pernyataan dari teman mereka. "Beh, ikutan lah coy! Parah sih gak ngajak-ngajak! " ucap Luna.
Lisa mengangguk dan duduk di dahan pohon samping Leon. Api unggun menyinari semua siswa-siswi yang duduk mengelilingi api unggun di semak-semak itu. "Cakep gini kagak diajak-ajak main ToD, ngajak tawuran noh! " celetuk Lisa nyeleneh.
"Tuh kaki aman kan Sya? " tanya Luna berbisik. Lesya mengangguk. "Aman! Walau agak nyeri dikit! " Luna mengangguk saja. "Ntar juga sembuh! Oh iya? Ini ikan-ikan bakarnya buat siapa aja nih? " tanya Luna.
Jangan lupakan ikan yang mereka tangkap tadi. Ikan tersebut sudah dibakar panggang setelah dibersihkan oleh beberapa guru wanita tentunya. "Buat saya aja kalo gak mau! " jawab bu bunga santai.
Lesya mendelik tajam hendak berbicara namun tertahan. "Jadi gak nih main ToD nya? " tanya Ken malas. "Wasit-wasit mana? Jadi gak nih? " lanjut Valen.
"Jadi lah! Botolnya dioper ya! Kalo lagu berhenti, kalian jangan bergerak! Dan kalo botolnya berhenti di satu titik, dia jadi target oke? " ucap satu siswa yang menjabat sebagai anggota OSIS.
Lesya memutar bola matanya malas. "Bentar, ini guru-guru ikutan nih? Atau enggak? " tanya nya menghentikan permainan sebelum dimulai.
"Kalo saya sih ikut! Kalau yang lain saya gak tau! " ucap bu Lina sedikit cuek. Pak Kevin mengangguk. "Saya juga ikut! "
"Saya enggak! Kalian aja! " jawab bu bunga.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗