
Episode 429: Good News or Bad?
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Lawan bicara Elvan itu kini hanya mengepalkan tangannya. "Tapi gw gak akan biarin Letha kalian kurung!"sentak Lesya. "Kalau gitu gw yang ambil kekuasaan karena dia udah nyerang gw" lanjut Lesya mencari ide agar sang adik tak kembali terkurung.
"Dan hukumannya lo bebasin kan? Oh, kalau gak kita rebutan mangsa gimana? Setuju gak?" tanya Elvan menawarkan.
Lesya memundurkan langkahnya sekali dan mengacak rambutnya frustasi. Dari sorot mata Elvan, Lesya dapat tebak jika lelaki itu kali ini tak akan mengalah.
"Le?!"
Elvan sontak ikut berjongkok di saat melihat lawan bicaranya justru menunduk dan berjongkok seolah sedang berlutut. Tak hanya itu, mereka yang di sana juga tak menyangka dengan tindakan Lesya. Bukannya gadis itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya? Lantas, sekarang apa?
Elvan berusaha menangkup pipi Lesya walau berhasil dengan cara kasar. Elvan cukup terkejut dengan pelukan dadakan dari lawan bicaranya. Tak hanya itu, Elvan juga dapat merasakan isakan kecil yang terdengar di taman itu.
"Hiks, terus gw harus apa sih? Atau- lo mau nyawa gw? Ambil aja, gak masalah asal lo bebasin Letha! Jangan pernah ganggu dia lagi, Pan! Hikss," isak Lesya yang putus asa dengan kekeras kepalaan lelaki yang dia peluk saat ini.
Semua yang di sana hanya diam saja menyaksikan seseorang yang sama sekali belum pernah menangis di depan orang lain. Bahkan Luna, gadis itu juga merasa tersentil cukup menohok.
Tak sampai di sana, sama halnya dengan Luna, Letha juga sama merasakan hal yang sama. Dia cukup tersentil melihat dan mendengar isakan yang sama sekali belum pernah dia dengar setelah kepergian mendiang papinya.
"Atau lo mau nyiksa gw karena alasan gw sering ganggu lo? Kejadiannya udah lama dan lo malah ungkitnya sekarang? Niat- lo mau bunuh gw secara hiks, perlahan?" tuduh Lesya bertanya.
Tangis Lesya pecah begitu saja. Kali ini dia dibuat frustasi karena harus memilih siapa. Di satu sisi dia tak ingin menyakiti Elvan, tetapi di satu sisi jika melihat sorot mata Letha saat ini seperti membuatnya mengingat wajah mendiang papinya. Ditambah warna manik mata Letha yang turun pada warna mendiang papi.
"Enggak- maksud gw gak gitu--
Lesya melepaskan pelukan dan menatap tajam Elvan. Tangisnya mereda langsung begitu saja. Sangat mudah bagi Lesya bersikap demikian karena dia sudah sangat terbiasa melakukannya.
Namun, permasalahannya saat ini adalah tentang bagaimana cara membebaskan adik kembarnya tanpa kembali diganggu oleh Elvan juga yang lainnya. Juga, tanpa menyakiti kembali salah satu dari mereka.
"Ya kalau gitu coba bayangin, Bunda sama Ayah gak ada lagi di bumi dan Kak Elen ditahan sama gw dengan alasan karena dia ganggu gw! Terus lo mau apa sama gw? Pasti lah lo mau bebasin Kak Elen." kata Lesya memberi bentuk perumpamaan agar perasaannya di sini dapat dipahami oleh semuanya.
Elvan terdiam sejenak. Namun, mereka semua termasuk kedua pasutri ikut menoleh pada sumber suara. Tiba-tiba saja Letha pingsan dan beruntung sebelumnya sudah ditahan dengan sigap oleh Revan yang berada di dekatnya.
"Eehh? Woy Tha, bangun gak usah pura-pura!" kaget Revan reflek.
Revan dibuat bingung sendiri karena harus berbuat apa di saat tawanan markasnya pingsan. Lisa segera mengecek mata Letha yang tertutup. Benar saja jika perempuan itu benar-benar pingsan, bukan sekedar pura-pura agar dapat bebas hukuman.
"Bawa ke rumah sakit woy! Beneran pingsan nih anak orang." panik Lisa.
Lesya mendelikkan matanya dan mengusap pipinya yang basah. Segera dia menyuruh agar adiknya dibopong ke dalam mobilnya yang terletak tak jauh dari sana. Tentu saja hanya beberapa yang ikut sebagai jaga-jaga takut meminta pertanggungjawaban.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Lesya baru saja kembali setelah berbicara dengan dokter di ruangan dokter tersebut. Dia mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya kasar setelah mendengar kabar dari dokter mengenai kondisi adik kembarnya. Sangat-- ah mengejutkan sekali rasanya!
Lesya terduduk lemas di sebuah kursi depan ruang inap sang adiknya yang masih belum sadarkan diri. Kisah masa lalu kembali terjadi lagi. Dia tak sendiri melainkan ditemani Elvan, Luna, Lisa, Valen, juga Revan. Selainnya berada di markas sebagai jaga-jaga.
Namun, Lesya mengabaikan keberadaan mereka semua. Pikirannya kosong juga hampa. Tugasnya sebagai seorang kakak gagal kali ini. Sebisa mungkin Lesya hanya diam termenung tanpa suara seolah mengisyaratkan agar pikiran dengan hatinya berdamai.
"Sya," panggil Luna. "Apa kata dokter?" tanya Luna penasaran.
__ADS_1
Setelah beberapa menit saling berdebat dengan Lisa melalui pandangan mata, akhirnya Luna angkat suara dengan nada berhati-hati. Para lelaki juga menyuruh agar Luna lah yang angkat suara dibandingkan Elvan. Pasalnya, Luna lah yang bertahun-tahun menghadapi dan dekat dengan sosok Lesya.
"Lesyaaaa… Kalau orang nanya dijawab ganteng!" kesal Luna.
"Cantik bod*h!" koreksi Lisa.
"Iya maksudnya itu!" cengir Luna. Niatnya hanya membuat suasana tak suram saja, makanya dia berani bergurau tanpa alasan walau hanya recehan saja. "Jadi, dokter bilang apa nih? Gak kenapa-napa kan?" lanjut Luna kembali bertanya.
"Diem Lun!" datar Lesya.
Luna mengatupkan mulutnya mendengar dua kata dengan nada suara seolah tak ingin diganggu dari sang pemilik nama. Luna menunjuk ke arah Elvan saja agar lelaki itu yang bertanya bukan dirinya. Bisa-bisa dia yang kelar jika begini.
"Setidaknya lo kasih tau ke kita, Sya. Gimana pun juga dia begini karena kita yang maksa supaya dia kita kurung."
Akhirnya kini Elvan lah yang angkat suara mewakili teman-temannya. Lesya hanya diam tak menanggapi. Lesya mendengar kok, tetapi hanya masuk lalu keluar tanpa minat mencerna ucapan mereka.
"Lesya? Denger gak sih kita ngomong?"
Lisa kini angkat suara karena cukup geram dengan keterdiaman sepupu iparnya. Niat mereka baik tetapi diangguri begitu saja oleh lawan bicara. Dia tak terbiasa menunggu jawaban orang lain karena dia terlalu biasa bekerja tanpa pendapat orang lain.
"Sya? Hello? Jawab anjr jangan bikin khawatir kita nya! Atau jangan bilang lo masih marah karena tadi? Ya salah lo sendiri lah karena sama sekali gak mau denger penjelasan kita. Balas chat gw aja enggak." ngegas Luna mengoceh.
"Diam, Luna!" sentak Lesya. "Coba lo bayangin! Kalau gw kurung nyokap lo yang lagi sakit dengan alasan karena dia udah tampar bahkan hina gw, apa reaksi lo?" lanjut Lesya menatap datar gadis yang berada di sebelahnya.
Luna terdiam dengan tangan yang mengepal. Tentu saja jawaban hatinya adalah tidak rela! Namun, dia mencoba tenang karena dia berpikir jika perumpamaan yang Lesya sebutkan hanyalah omong kosong karena emosional dari sang lawan bicara.
"Gak mungkin Sya! G--
"Mungkin! Gw juga bisa bawa sekarang nyokap lo ke ruang bawah tanah tanpa segan-segan lagi." sela Lesya.
Gadis bernama Aluna itu sangat tahu sifat ketua sekaligus sahabatnya yang sering berbicara omong kosong saat kemarahannya berada di puncak.
"Atas dasar harga diri gw yang merasa direndahin sama nyokap lo! Oh iya, lagi pula gw gak bercanda, gw serius sekarang." kata Lesya balik menatap pintu ruang inap adik kembarnya.
Luna terdiam dengan beberapa ketakutan di lubuk hatinya. Dia tahu jika ucapan Lesya demikian, mungkin saja akan terjadi. Kesehatan sang mama akhir ini menurun karena usia sekaligus faktor banyaknya aktivitas yang terlaksana. Awalnya, Luna juga sudah melarang, tetapi mamanya sendiri yang ingin tetap beraktivitas seperti biasa sebelum ajalnya, katanya.
"Gimana? Gak enak ‘kan rasanya waktu baru denger omongan doang? Sama gw juga begitu, Luna. Kalau gw bener-bener lakuin dan nyokap lo ikut nyusul bokap lo, gimana lo di sini hm?" sinis Lesya dengan kepalan sebelah tangannya.
"Lalu, bokap lo datang dari mimpi nanyain kenapa lo gak bisa jaga Mama baik-baik? Gimana rasanya hum? Gak enak kan, Luna? Sama, gw juga begitu!" lanjut Lesya sedikit menyentak. "Gw gak bisa ingkar janji terlebih sama Papi, Lun. Walaupun di sini gw yang harus berkorban, gw gak bisa. Mata Letha ngingetin gw sama Papi." lirih Lesya.
Elvan yang tanggap dengan segera berjalan ke arah Lesya dan membawanya ke dalam pelukannya. Sayangnya niat itu terurungkan karena Lesya lebih dahulu menutup wajah di perut miliknya dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Jawab gw, sekarang adek lo kenapa? Kita yang buat dia begini dan kita gak terima resiko waktu kalian marah-marah karena kita yang gak tanggungjawab."
Lesya mendengus dalam hatinya mendengar Elvan yang kembali angkat suara. "Emang lo mau nikahin Letha hah?" tanya nya ketus. Mereka mengeryit bingung dengan pertanyaan yang justru dilontarkan oleh Lesya. Tak menyambung, pikir mereka.
"Maksudnya gimana sih?" bingung Lisa.
"Positif!" lirih Lesya.
"Hah?!" kompak mereka tak paham.
"Echa, kalau ngomong jangan ngegantung ya! Dijelasin satu-satu biar kita paham maksud lo gimana, tapi jangan satu-satu kata gini juga soalnya kita gak pinter kayak lo." ujar Luna berusaha meminta penjelasan secara rinci dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
Bagaimana tidak kesal jika sahabatnya itu berbicara satu dua kata dengan apa yang mereka tanyakan. IQ mereka tak setinggi lawan bicaranya untuk tahu apa yang terjadi saat ini pada tawanan mereka, bestie-bestie…
Elvan melonggarkan pelukannya sedikit. "Positif? Maksudnya dia positif--" jeda Elvan menatap Lesya penuh tanya.
Sang lawan bicara hanya mengangguk saja. Kisah masa lalu kedua orang tuanya akan atau sudah kembali terulang dengan cara yang berbeda? Lesya tak rela sekaligus takut untuk menghadapinya di kemudian hari.
"Letha dinyatain positif h-hamil kata dokter," lirih Lesya. Semua melotot kaget mendengarnya. "Usianya dua minggu sekarang. Takutnya, dia gak terima dan milih aborsi… " sambung Lesya mengeratkan tangannya pada pinggang Elvan karena tak ingin menunjukkan kesedihannya lagi pada orang lain.
"Buset," lirih Valen juga Revan latah.
Suasana tampak hening karena masih tak menyangka, iba juga kaget yang bercampur. Semua tampak mencerna dan saling berpandangan satu sama lain. Hingga suara Luna yang kembali angkat suara karena merasa tak baik terus-terusan berdiam tanpa mencari sebuah solusi untuk seseorang yang mengalaminya alias Letha.
"Ya terus sekarang gimana?"
"Sembunyiin masalahnya dari Letha! Kasih tau Kak Feli juga temennya Letha, sekedar persiapan aja biar mereka yang jaga Letha kalau ada apa-apa. Pastiin gak nimbulin kecurigaan sama Letha." ucap Lesya menyusun rencana.
"Gila, Sya! Kenapa gak langsung kasih tau aja sih? Gimana pun juga si Letha emaknya, harusnya dijaga." sentak Luna kaget. "Kalau pun kita sembunyiin, dia bakal tau juga. Jangan lupa kalau dia gak sepenuhnya bod*h karena gak ngerasain tanggal haid!" sambung Luna.
"Gak peduli! Urusan belakangan, ya belakangan. Cukup diam dan rahasiain sampai semuanya kebongkar, gw yang urus. Tugas lo kasih tau ke Kak Feli aja karena gimana pun juga, Vion yang lakuin itu sama Letha." ujar Lesya tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
Luna berpandangan dengan Lisa juga Valen. Revan yang melihat juga hanya mengangguk saja seolah setuju dengan solusi yang dijelaskan oleh Lesya.
Begitu juga dengan Valen juga Lisa. Asal mereka bertugas tanpa ikut campur saat kejadian tahu menahunya Letha nanti. Toh, mereka juga salah sudah mengurung Letha yang kini tak sendirian.
"Yaudah oke! Tapi kalau semua kebongkar karena dia yang gak sadar, jangan salahin kita ya, Sya." peringat Luna dibalas deheman dari sang empu.
"Gw bakal kasih tau sama Kak Feli juga Vay, gw juga sama yang lain pamitan biar kasih tau sama temennya adek lo itu." sambung Luna pada akhirnya.
"Hati-hati!" pesan Elvan.
"Iya, kalian juga hati-hati berduaan!"
Kini hanya tersisa Elvan juga Lesya di sana. Segera Lesya melepaskan pelukannya dan meminta maaf karena membiarkan Elvan berdiri karenanya. Elvan hanya menggeleng tak masalah saja seolah tak keberatan sama sekali dengan perlakuan Lesya.
Suasana tampak sangat hening karena saling menutup mulut. Elvan karena tak biasa banyak bicara dan Lesya pun begitu. Bedanya, Lesya terdiam karena memikirkan nasib adik kembarnya nanti.
"Gw minta maaf," ucap Elvan tiba-tiba. "Gw mungkin keterlaluan, tapi kalau yang tadi gw bener-bener gak tau kalau temen-temen bawa Letha ke belakang markas tanpa izin atau perintah gw." sambung Elvan menatap Lesya.
Lesya menoleh dan mengangguk sekilas. Pandangan matanya kembali terfokus menatap arah depannya. Jika aunty nya tahu, bagaimana reaksinya? Jika daddy nya tahu bagaimana lagi reaksinya? Bunda? Ayah? Mommy Sella? Lesya tak habis pikir dengan cara apa agar waktu diperbolehkan untuk berjalan mundur dan dia tak membiarkan kejadian 'saat itu' keulang kembali di masa kini.
"Gw juga." ucap Lesya. "Gw minta maaf mewakili Letha. Masuk SMA gw juga Letha sering ganggu lo dengan cara berbeda. Kalau dia karena mau lo lirik dia, sementara gw karena emang tingkah gw yang--"
"Kayak ikan Lele, nakal!" sambung Elvan.
"Bukan ish! Gw gak senakal itu kali!" elak Lesya meninju perut Elvan pelan.
Sang empu hanya tersenyum lucu saja. "Iya, gak nakal kok! Cuman meresahkan pake banget tingkahnya." ujar Elvan mengoreksi ucapannya dengan benar.
"Gak tau, ngambek!"
"Cih, ngambek bilang-bilang!"
"Bodoamat!"
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗