Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
443: Cerita Mily


__ADS_3

Episode 443: Cerita Mily


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Matahari bersinar menyinari dunia. Hari-hari duka sudah berlalu dan digantikan dengan adanya sinar kehidupan yang mampu membuat kehidupan perlu dijaga dengan baik.


Tepat pada di rumah Luna, dua sepasang sahabat kini sudah berkumpul dengan melahap cake buatan asisten rumah tangga yang dipekerjakan Valen. Semenjak kepergian Henny, dua hari setelah hujan deras mereka melakukan pemeriksaan di rumah sakit.


Seperti dengan dugaan Amel, teman mereka, ternyata Luna dinyatakan hamil. Dari sanalah, Valen tak memperbolehkan ini-itu pada Luna demi kesehatan janin yang dikandung oleh sang istri.


Dengan kehadiran janin yang dikandung Luna, mereka juga sama sekali tak mengacuhkan ataupun mengabaikan kehadiran Vay yang sudah resmi menjadi anak mereka di mata hukum. Setelah mengurus surat-surat, Valen benar-benar mengiyakan persyaratan yang dilakukan oleh Vay sebelumnya. Termasuk syarat dengan komputer keluaran terbaru!


"Vay mana?" tanya Lesya.


"Lagi sekolah." jawab Luna.


Lesya mengangguk paham. Pandangan matanya terarah ke segala isi rumah. Saat ini, dia sedang bolos kampus untuk menjenguk sahabatnya—Luna yang masih belum diperbolehkan menimba ilmu di perguruan tinggi karena larangan dari Valen. Akhirnya Lesya memilih bolos saja karena bosan di kampus sendirian.


"Lisa mana sih? Katanya jadi ngumpul."


Lesya hanya menggerakkan bahunya ke atas. Ponselnya berdering beberapa detik menandakan adanya notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Segera dia mengambil dan membaca nama siapa yang menjadi pengirim pesan.


"Alamak, Pak kepala udah tau!"


Luna menatap sahabatnya. "Udah tau? Maksudnya lo bolos lagi, gitu? Ya Tuhan, ini bukan SMA yang gurunya gampang lo kibulin Echaa ... mending jelasin dulu dah sama Pak kepala." ucap Luna dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


...***...


📩Big boss😼


Bolos? Temen kampus bilang, kamu pulang.


^^^📩Lesya^^^


^^^Bukan bolos, tapi pelajarannya buat suntuk makanya terpaksa bolos.^^^


^^^Jangan marah, gw ada di rumah Luna soalnya bumil ngajak ketemuan.^^^


^^^Cuman lupa kasih tau doang, Pak suhu🙏🏻^^^


📩Big boss😼


Jangan diulangin lain kali!

__ADS_1


^^^📩Lesya^^^


^^^Iya, ampun suhu, saya khilaff^^^


^^^(read)^^^


...***...


"Kalau dulu gw yang read pesan orang, sekarang gw cuman di read doang sama mas doi, nasib-nasib!" sungut Lesya menggerutu. Luna hanya tertawa meledek saja. Luna sendiri cukup kesal jika pesannya hanya bercentang biru alias hanya dibaca oleh Lesya.


"Kena karma lo gara-gara cuman baca pesan gw dulu!" ledek Luna. Lesya hanya mendengus malas saja dan menopang wajahnya dengan satu tangannya. Tiba-tiba Lisa datang dengan Revan dari belakang membuat mereka terkejut.


"Kebiasaan asal masuk doang, ucap salam sekali-kali biar gak bikin kita jantungan." dengus Luna yang hanya dibalas cengiran lucu dari Lisa.


"Aku ke dapur dulu ya?" pamit Revan diangguki oleh Lisa. Tak lupa berpamitan pada Luna juga Lesya, akhirnya di ruang tamu hanya tersisa ketiga sahabat yang baru bercengkrama.


"Lo udah berapa bulan, Lis?" tanya Luna bingung. Sang empunya nama hanya mengangkat satu jarinya sebagai tanggapan dari pertanyaan Luna.


Berbicara tentang Lisa, ternyata wanita yang merupakan istri dari Revan sedang mengandung anak pertamanya dan Revan tepat satu bulan setelah Luna dinyatakan hamil oleh pihak rumah sakit.


"Gw bosan di kampus! Lo berdua gak ada, Letha, Amel, sama Nayla juga gak ada." ujar Lesya menghela nafasnya kasar. Ini ketiga kalinya dia bolos hanya karena bosan tak memiliki teman. Sekedar mengobrol saja, teman kampusnya juga mengacuhkannya karena dia terlihat cukup sangar.


Baik Lisa, Luna, Nayla, Letha dan Amel hanya melakukan pembelajaran dari rumah alias home schooling. Beberapa minggu terakhir adiknya—Letha dinyatakan positif hamil dan cukup membuat terkejut para keluarga.


"Udah ngumpul bertiga 'kan ya? Mending nonton film deh, gw baru nemu drakor terbaru, genre nya juga romantis." ucap Luna dengan keantusiasannya.


Beberapa jam yang lalu Luna mengidam ingin nonton film drakor dengan kedua sahabatnya. Akhirnya mau tak mau mereka mengiyakan saja dan berkumpul di rumah yang mengajak mereka.


"Ok-ok, diam ya udah mulai nih!"


Selama menonton, Lesya sama sekali tak fokus dengan alur cerita drama Korea yang sedang ditonton. Dia datang hanya mencari kedua sahabatnya saja, bukan mengiyakan keinginan Luna. Pikirannya juga melayang ke arah kedua mertuanya.


Saat Lesya mampir sejenak ke rumah Mayang dan Angga, Lesya agak tersentil dengan senyum bahagia Mayang di halaman rumah merekah. Rupanya Mayang sedang bermain dengan Elena juga Axel dan itu membuat Lesya cukup tertampar secara tak langsung.


Dua jam berlalu, Lesya merasa sangat bosan menonton film yang sama sekali tak ada habisnya. Sudah empat episode berlangsung, bukannya gemes, Lesya semakin bete karena kedua sahabatnya telah tertidur dengan posisi duduk.


Segera Lesya mengeluarkan banyak tenaga untuk memindahkan tangan-tangan kedua sahabatnya yang hendak menyentuh perut satu sama lain. Justru yang ada suatu bahaya bagi kandungan keduanya saat tak sengaja mendorong. Beruntung Lesya dapat menyingkirkan satu sama lain.


"Enaknya kemana ya?" gumam Lesya. Ide briliant kini muncul di benaknya. Setelah membenarkan posisi selimut yang menutupi masing-masing sahabatnya, Lesya segera mengambil tas selempang nya dan pergi keluar rumah untuk mencari udara dan ketenangan pikiran.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


"Aunty!"

__ADS_1


Lesya berlari kecil dan menggendong adik sepupunya yang tengah bermain di ruang keluarga. Tak hanya itu, Mily yang sedang meneguk minuman diurungkan karena cara gendong Lesya yang terbilang cukup dadakan. Kalau anaknya jatuh bagaimana nanti? Bahaya ini!


"Hati-hati, Sya!" peringat Mily.


"Iya deh, maapin ya Nic, miss you umach!" Lesya mengencup berkali-kali kedua pipi adik sepupunya yang lebih gembul dibandingkan adik lainnya.


"Jangan diunyel gitu, Sya! Melar nanti lo mau tanggung jawab hah?" galak Mily mengelus pipi sang anak yang selalu menjadi korban unyelan Lesya. Anak Mily dan Gilang diberi nama Nicholas, biasanya Lesya memanggilnya Nic sebagai panggilan khusus darinya.


"Iya deh, hubungan lo sama Uncle gimana, Aunty? Dia sering mukul atau buat kasar gak?" tanya Lesya.


"Enggak sih. Semenjak gw suka ngidam terus lahirin Nicho, dia gak pernah kasar sama gw. Mungkin kali Nic di sini menjadi peran terbesar yang gw punya, dan gw beruntung punya dia."


Mily kembali menegur Lesya yang kembali mengunyel pipi anaknya hingga Nic membalas dengan pukulan. Lesya juga sebenarnya hanya gemes pada adiknya yang satu ini karena jarang menangis. Jika Nic jatuh bukan nangis, justru dia tertawa. Aneh 'kan?


"Iya-iya deh enggak lagi! Btw, Felix mana Aunty?" tanya Lesya beralih celingukan mencari keberadaan keponakannya.


Mily menghela nafasnya kasar. "Sya, dengerin cerita Aunty ya. Jangan dipotong dulu sebelum selesai, ya?" ucap Mily serius. Lesya hanya mengangguk seraya memainkan anak rambut adiknya yang tumbuh lebat disertai kulit putihnya.


"Jadi gini, Aunty takut Ara bakal salah pilih jalan. Kamu tau 'kan? Dari awal itu Ara gak suka sama Felix, takutnya Ara telantarin Felix." ucap Mily dengan nada berbisik karena takut didengar yang lain.


Lesya terdiam dan memasang kedua telinganya dengan baik. Seraya mengawasi adiknya, Lesya kini beralih duduk lebih mendekat pada Mily agar dapat menyimak lebih jelas. Lesya paham jika Mily berbicara pelan karena ada beberapa ART yang sedang beberes rumah di bagian dapur belakang mereka.


"Kemarin, Felix dititip di sini. Katanya Ara, dia mau pergi jalan-jalan, tapi anehnya Ara kasih botol yang isinya susu formula. Gw mikir gini, jadi selama ini Felix gak dikasih ASI gitu?" lirih Mily yang ikut iba dengan kondisi Felix—anak Letha.


"Terus ada lagi, kemarin Felix rewel nya beuh ... nangis mulu, dikasih bubur gak mau, dikasih susu formula yang dititip Ara juga gak mau, tapi giliran gw kasih susu baru dia mau." lanjut Mily.


"Maksudnya ASI lo, Aun?"


"Iya, soalnya mau gimana lagi coba. Felix aja udah muntahin semua yang dikasih kecuali ASI, kayaknya emang bener deh. Gilang aja yang liat Felix, dia bingung kenapa ada merah bahkan bekas biru di pahanya, tangannya gitu. Kalau ada bekas merah digigit nyamuk oke lah ya, tapi kalau bekas birunya gimana?"


"Kemarin juga Letha baru ambil dia agak malem. Gw nanya kenapa dia lama banget datangnya, tapi dia cuman bilang 'gak lama kok, cuman sebentar.' enak banget pula cara ngomongnya." dengus Mily kesal di saat mengingat hal kemarin.


"Tapi waktu minggu lalu ya, si Letha sama si Farel tuh kayak fine-fine aja main di sini. Suasananya agak tenang, tapi gw mikir gini kemarin, lo percaya gak kalau sikap Letha kayak kakak(mendiang Mila), Sya?" lirih Mily yang sebenarya berat membawa nama mendiang kakaknya.


"Iya. Kemarin waktu gw ke sini sebelum Ara nikah, gw sempet pergokin dia pernah cubit Felix di lengan karena gak mau minum susu. Terus waktu gw datang dan bersikap seolah gak tau apa-apa, dia balik suapin Felix."


"Awalnya gw kira itu halusinasi, mana mungkin gitu loh. Ara juga udah janji bakal jaga anaknya baik-baik, asal gw restuin dia sama Farel. Akhirnya gw setuju aja, waktu gw denger cerita Aunty, gw takut pilihan gw justru bawa dampak yang buruk." ucap Lesya akhirnya.


"Udah-udah, sekarang mending kita lupain deh. Nanti kalau Ara datang, biar kita lihat lagi perkembangannya ok? Mending kita main dulu ya, Nic?" ujar Mily yang mengalihkan pembicaraan.


"Aunty, gw mau pulang kayaknya deh, takut dicariin." kata Lesya yang tiba-tiba berpamitan. Mily mendongkak dan mengangguk pelan menanggapinya. Setelah mengantarkan Lesya ke depan rumah, Mily kembali masuk dengan menggendong anaknya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2