Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
389: Pendonor pt. 2


__ADS_3

Sella tersenyum tipis mendengarnya. Dia juga tak menyangka jika anak tirinya(eh benar kan anak tiri?) memiliki kisah hidup yang rumit. Seumur hidupnya, Sella hanya kritis dalam keuangan. Dan setelah mengetahui keadaan dan bertemu Lesya, dia tahu jika Lesya yang memiliki segalanya justru memiliki lika-liku hidup yang lebih rumit.


Benar kata pepatah: “Uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang!”


Penerapan itu terjadi. Sejujurnya Sella iba dengan nasib Lesya. Dia juga sengaja tak menyentuh Lesya karena tahu jika sang pemilik tak mau disentuh. Alhasil dia hanya mengajak Lesya berbicara santai saja dibanding berdiam diri. Hitung-hitung sebagai penghiburan.


"Kalau boleh pulang ke rumah, Lesya milih gimana? " tanya Sella lagi. Sang pemilik nama terdiam. Dia memikirkan itu sebenarnya. Apa mau keluarga Elvan menerima kondisinya? Tak mungkin jika dia diterima. Terlebih pada sikapnya terkadang membuat mereka kecewa.


"Kalau boleh, gw bisa tinggal di rumah Tante kan? Sama daddy? " ragu Lesya. Sella mengangguk antusias. Namun sedetik dia sadar jika Lesya tak dapat melihat kalau dia sedang mengangguk.


"Boleh! Boleh banget! " antusias Sella. Namun sedetik senyum Sella luntur dikala Lesya justru mengubah ucapannya. Cukup sadar diri memang Sella dari perubahan cakap Lesya.


"Eh, tapi gw punya rumah sih di Prancis and so, I can live in there! (dan jadi, saya dapat tinggal di sana!). Gw gak terbiasa repotin orang! " lanjut Lesya lagi.


"Sama sekali gak repot kok Sya! Tante bahkan senang kalau kamu bisa sekali-kali tinggal di rumah, apalagi bareng Letha pasti seru! " antusias Sella.


Tiba-tiba benak Lesya teringat akan sang adik kembaran. Sejujurnya dia cukup kaget karena dirinya yang baru sadar setelah ucapan Sella tadi. Setelah memukulnya dengan kayu balok, Lesya sama sekali tak menyimpan dendam terhadap adik kembarnya. Sungguh, dia hanya kaget dengan kelakuan adiknya yang diluar nalar secara dadakan.


Lesya sungguh kecewa namun se kecewa apapun dia tak dapat begitu besar karena Letha tetaplah adik kembarnya. Sejahat apapun Letha, Lesya tak dapat mengubah rasa sayangnya. Perilakunya beda memang, tapi di dalam lubuk hatinya, dia sangat-sangat menyayangi adiknya itu walau mereka tak dekat.


"Letha? Dia dimana? " tanya Lesya ragu dengan nada lirih. Sella berkedip bingung. Dia juga tak tahu dimana kembaran Lesya itu berada. Namun mengingat pembicaraan kemarin, Sella tak yakin dengan jawaban di otaknya.


"Mommy gak tau Sya, tapi katanya bakal dibawa ke markas" jawab Sella jujur. Alis Lesya berkerut. "Kata siapa? Orangnya kayak gimana? " lanjut Lesya melempar pertanyaan lagi dengan nada cemas.


"Kayak preman tapi yang nyuruh kayaknya temennya. Rada kalem muka temennya yang satu" jujur Sella mengingat sosok wajah Alam dan Cakra kemarin di dalam benaknya.


Lesya diam-diam mengepalkan tangannya kuat. Wajah preman? Siapa lagi kalau bukan Cakra. Dan temen yang kalem, ya pasti Alam. Dia dapat tebak itu. Siapa lagi yang mantan preman selain Cakra. Dan siapa lagi teman Cakra selain Alam. Candra? Dia tak mahir dalam dunia gangster selain dalam kedokteran. Dua manusia itu?!!


Melihat keterdiaman Lesya, Sella dengan sigap memutar otaknya agar mencari topik baru. Dia tak mau obrolan mereka terputus saja. Terlebih melihat raut wajah Lesya, Sella dapat menebak jawabannya tadi membuat anak tirinya itu sedikit geram walau sengaja tak diperlihatkan. Dia juga masih mau kembali mengobrol dengan anak tirinya.

__ADS_1


"Em, kalau misalnya gak ada yang mau jadi pendonor, tanggapan kamu gimana Sya? " tanya Sella ragu sedikit penasaran.


Lesya tak menjawab. Cukup lelah menjawab semua pertanyaan Sella. Padahal Sella masih belum dia anggap siapa-siapanya. Namun, tak dipungkiri jika berbicara dengan Sella, dia merasa adanya teman curhat. Disayangkan usia berkepala dua Sella menjadi anak dari ayah kandungnya. Bagaikan teori simpanan pe*dofil dan pe*dofilnya.


"No matter, most importantly I have only one friend by my side! (Gak peduli, terpenting gw punya satu teman di sisi saya!) " kata Lesya penuh harap.


Lesya sangat berharap jika kedepannya, seseorang yang dahulu dekat dengannya tak berubah sama sekali meskipun dia kondisi tak normal. Elvan, Luna, Cakra, Alam, Mayang, Angga, Galang, Mily, semuanya!! Dia sangat berharap tetap mau dengannya tanpa sedikit niat buruk.


"Udah kan? Sana pergi! " usir Lesya cepat secara terang-terangan. Sella menghela nafasnya. Dibanding Galang, lebih sulit mendapat hati Lesya ternyata. Akhirnya meletakkan Justine di stroller, Sella berdiri dan sekilas menatap lekat Lesya.


"Semoga hal baik menantikanmu! "


Lesya tertegun. Perkataan Sella sebelum pergi membuatnya sedikit menghangat. Namun hanya sejenak saja karena benaknya teringat dengan Letha, adik kembarnya. Entahlah, jika urusan Letha dia tak dapat mengundur waktu. Bagaimana cara dia mengetahui dan mencari Letha tanpa meminta bantuan seorang pun? Dia yakin tak ada yang mau memberitahunya jika dia bertanya.


* Ini nasib gw yang malang atau ini takdir gw? Ya Tuhan, gw gak sekuat yang dibayangkan tapi please lah jangan buat gw gak bisa bedain warna! Semua gelap dan gw cuman bisa lihat kegelapan doang di sini. * batin Lesya menahan bendungan bening di matanya.


Lesya tak berbohong. Dia mengepalkan tangannya bukan karena kesal namun lebih besar rasa takutnya dibanding marah. Semalaman dia tak dapat melihat dunia lagi dan tak sebebas dahulu.


Rasa hidup di kegelapan membuatnya takut. Bukan takut gelap namun takut sendirian. Pikirannya melayang dengan kehidupannya. Jika dia begini, akan tetap bergantung pada orang lain bukan? Sungguh, ketakutannya bertambah.


Gelap tanpa warna. Lebih hitam dari pada warna hitam biasanya. Rasa ingin sendiri, rasa tak berharga, rasa tak berguna selalu menyelimuti dirinya. Perutnya berbunyi karena merasa lapar namun dia abaikan. Biarkan saja dia ma*ti kelaparan. Tak peduli!


"I so very hate myself! (Gw sangat benci diri gw sendiri!) " gumam Lesya perlahan mencakar pahanya sendiri yang dilapisi celana piyamanya. Sama sekali tak sakit, hanya tergores saja. Namun itu tak membuat Lesya puas ataupun lega.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Di sisi lain seorang remaja lelaki baru saja keluar dengan Galang. Mereka sedang berkonsultasi tadi dengan Sarah dan menemukan sebuah solusi. Namun, Elvan sendiri tak yakin dengan kehidupan Galang selanjutnya.


"Mikir nasib saya sendiri? Jangan dipikirin! Saya sendiri sama sekali tak masalah dan lagipula saya sudah berumur dan anak saya masih memiliki cita-cita. Setidaknya dia dapat melihat dunia, saya senang mendengarnya."

__ADS_1


Elvan mengangguk paham. Dia tersenyum tipis mendengar ucapan Galang yang menjawab isi pikirannya. Di satu sisi dia sangat senang karena Lesya memiliki pendonor dan di sisi lainnya dia ragu dengan reaksi Lesya saat mengetahui siapa pendonornya.


"Makasih dad," lirih Elvan merasa bersyukur.


Galang mengerjap pelan. Dia tersenyum simpul saat melihat keharuan di mata Elvan. Seraya saling berjalan beriringan menuju ruangan Lesya, sesekali mereka berbincang serius untuk planning kedepannya. Jujur, dalam diri mereka sendiri merasa geli saat mengucapkan kata manis. Ke mana sifat dingin mereka?


"Jangan kasih tau Lesya sebelum mulai oprasi nanti! Takutnya anak itu nolak kwn jadi gagal." ucap Galang berpesan.


Elvan hanya mengangguk pelan saja. Akhirnya tiba di depan ruangan Lesya, mereka sudah dapat lihat jika Sella sedang menggendong Justine yang terus menangis. Perlahan mendekat akhirnya Galang beralih mengambil Justine dari gendongan Sella.


"Umm, Justine kenapa sayang? "


Ucapan manis Galang yang terdengar tulus membuat Sella menoleh. Setelah memberi alih Justine pada ayahnya, Sella merapikan bajunya.


"Mungkin kangen sama kamu! Oh iya, tadi jadi kah? " tanya Sella. Elvan mengangguk pelan saja membalasnya. Dia sedikit tersentil melihat bagaimana harmonisnya keluarga kecil di depannya.


"Justine kangen ya sama daddy nya? Yaudah nanti kita main bareng-bareng oke? " ujar Galang menepuk-nepuk pelan bok*ng sang anak. Sang pemilik nama hanya terdiam dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya. Lucuuu...


"Kalau gitu ada yang masih mau diomongin lagi gak? " tanya Sella. Galang mendongkak dan menggeleng pelan. "Sudah semua kok, Van kita balik pulang ya biar sekalian siap-siap! " kata Galang diangguki oleh Elvan.


"Hati-hati dad, mom, "


Sella tercengang mendengarnya. Menatap Elvan, rasanya panggilan asing jika diucapkan langsung. "Ahaha.. Iya Van, " canggung Sella. Sungguh, begini rasanya mendapatkan panggilan khusus? Senang bercampur canggung rasanya!


Setelah berpamitan dan menyalimi kedua mertuanya, akhirnya mereka pergi karena akan menghabiskan waktu berdua. Sejujurnya di lubuk hati terdalam, Galang sangat tak merelakan jika dirinya menjadi pendonor. Dia takut Sella akan tak menerimanya. Namun mengingat dia sudah tidak lagi muda, membuatnya juga yakin untuk menjadi pendonor. Setidaknya, ada Gilang dan anaknya nanti yang menemaninya.


Galang yakin, Lesya pasti tak akan berpaling. Anaknya itu tipikal setia. Dan kalaupun berpaling, dia juga tak masalah. Mungkin, ini jalan terbaik untuk menciptakan sejarah di dalam hidup. Galang ingin menjadi orangtua yang berhasil bukan gagal. Tak peduli jika nyawanya jadi taruhannya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2