
Segerombolan remaja berkumpul di ruang tamu kediaman Grey. Banyak canda dan tawa yang terdengar di sana. Bahkan sedari tadi suara ricuhan canda tawa begitu menggelar hingga terdengar ke depan rumah walau rumah itu besar. Kan suara mereka cempreng, apalagi Luna!
"Gambar apaan lo Sya? " tanya Leon yang bingung dengan gambaran Lesya yang sibuk menggambar entah apa itu. Berbeda dengan Luna yang sibuk mengotak-atik laptop yang dia bawa walau mulutnya sedari tadi mengoceh terus.
"Gak tau aja tuh calon arsitek gambar apaan! " malas Luna yang menganggap pertanyaan Leon adalah konyol. Oh ayolah, mereka sudah kenal berapa tahun? Masa Leon lupa apa saja yang Lesya suka dan apa saja yang tak disukainya. Teman macam apa itu?!
"Widih, cita-cita lo jadi arsitek Sya? " tanya Ken sedikit tak percaya. Lesya hanya menggedikkan bahunya acuh. "Enggak, cita-cita gw jadi pengangguran! Nanya mulu lo kayak wartawan! Siapa gw siapa lo?! " malas Lesya acuh.
Ken hanya geleng-geleng kepala saja dan memegangi dadanya seolah tersakiti. "Beh, nusuk bener! Siapa lo siapa gw, wah-wah bininya pak boss emang gak maen-maen! " geleng Ken.
Valen menyenggol bahu Ken agar diam. Mereka memang masih belum tahu jika Letha dkk sudah tahu mengenai pernikahan Lesya dan Elvan. Kecuali Lesya dkk, Elvan, dan Farel tentunya ya.
"Nyet onyet saring bege! " malas Valen.
"Telattt, udah pada tau mereka noh! " ucap Lisa menunjuk ke arah Letha dkk yang sibuk mengerjakan tugas mereka. Mereka yang masih belum tahu hanya mengangguk pelan saja dan tersadar. Tentu saja mereka terkejut.
"Oh? HAAH?! Terus gimana reaksinya? "
Lesya mendengus kesal dan menyumpal telinganya dengan earphones miliknya. Begitu juga dengan Luna. Alhasil hanya Lisa dan Leon yang menceritakan sedikit berbisik pada teman-teman Elvan yang masih belum tahu. Sementara Letha dkk masih sibuk mengerjakan tugas mereka sekaligus bercanda tawa bertiga.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka semua terdiam menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Para anggota inti OSIS membahas mengenai carnaval yang akan diadakan. Letha dkk juga sibuk berbincang ketawa-tiwi sekaligus mengerjakan tugas dan menghitung jumlah uang saku khas kelas mereka.
"Sya? " panggil Nayla.
Hening!
"Syaa?!! " panggil Nayla lagi.
"ALEESYA?! " panggil Letha yang mewakilkan Nayla. Gadis itu berdecak malas dan akhirnya melepas earphonesnya. Mengangkat dagunya sekali pada Letha seolah bertanya ‘ada apa? ' pada adiknya itu.
"Uang khas lo belom bayar! " kata Amel selaku bendahara kelas. Lesya memutar bola matanya malas. Tangannya bergerak mengambil saku dompetnya dan tanpa sengaja melempar satu black card hingga jatuh ke bawah. Tentu saja Lesya mengambil kartu hitam yang menjadi idaman banyak orang. Dia tak membayar dengan black card namun uang sakunya.
"Wess, bagi-bagi yang punya kartu hitam cok! " sahut Lisa yang langsung berbinar melihat kartu hitam jatuh dari dompet Lesya. Leon hanya geleng kepala saja melihat tingkah kekasih hatinya itu.
Sang empu hanya memutar bola matanya malas dan melemparkan beberapa lembar uang merah tepat di pangkuan Amel. Tentu saja gadis itu mendapat pelototan tajam dari Nayla dan Letha. Dia tak peduli sekarang dengan tatapan tajam itu yang terpenting gambarannya selesai.
"Gile banyak bener! " geleng Ken.
__ADS_1
"Definisi Sultan bukan maen! " tambah Valen geleng kepala. Revan hanya mengangguk saja. Jujur dia bukan anggota OSIS namun dia juga merasa bosan jika harus mengurusi gangster saja. Mending ikut kan walau tak ada kerjaan!
"Cukup? " tanya Lesya.
Amel hanya mengangguk pelan saja dan menyusun uang khas milik Lesya. "Lebih dari cukup, lo Yon? Lis? Lun? " tanya Amel beralih pada ketiga teman Lesya itu. Namun justru Lesya menambahkan uang dari sakunya lagi ke arah Amel.
"Mereka gw yang bayar! " katanya.
Lisa, Leon, dan Luna yang mendengar bersorak kegirangan bahkan saling tos ria satu sama lain. Mereka niatnya ingin membayar dan siapa sangka justru ada sukarelawan baik hati namun bersifat setengah iblis justru membayar utang khas mereka. Lumayan lah buat mereka.
"Selesai Sya? " tanya Leon.
Lesya menggeleng kecil. Pikirannya masih sibuk berpikir desain apa yang bagus menurutnya. Selama ini hanya 10 tahun terakhir dia bercita-cita menjadi arsitek. Dan selanjutnya dia tak pernah lagi menggambar desain interior karena sedikit kaku untuk mulai menggambar. Jadi Lesya saat ini sangat membutuhkan kefokusan yang tinggi agar hasilnya tak meleset dari bayangannya. Itu sebabnya pikiran, hati, bahkan raut wajah Lesya sangat sensitif sekarang. Di tambah bawaan bayi yang masih dia rahasiakan, rasa sensitifnya meningkat.
Leon hanya geleng kepala saja. Sementara Luna sudah selesai mendata anak-anak kelasnya sedari tadi hanya saja dia menonton drama china kesukaannya sekarang. Lisa? Tentu saja dia ikut menonton sesekali berbincang canda tawa dengan Leon.
Drttt...
Lesya merogoh sakunya dan menautkan alisnya bingung. Nomor tak di kenal meneleponnya sekarang. Karena tak ingin dicurigai, Lesya akhirnya menekan tombol hijau di layar ponsel nya. Dia sedikit terkejut dengan suara anak kecil di seberang sana. Vayleen!
📞 ....
Pandangan Elvan yang sedang sibuk memilih dekor carnaval beralih menatap Lesya. Bahkan tak hanya dia saja, Farel yang notabenya sedang berbicara dengan Elvan juga ikut menoleh.
📞 .....
📞 Carnaval?
Mata Lesya membuat lebar. Kata-kata selanjutnya dari Vayleen membuat Lesya terdiam menatap Letha sejenak. Tangannya tak dapa mengepal namun dia dapat merasakan sesak mendengar informasi dari Vayleen.
📞 .....
📞 Kembaran?
Mata semua orang menoleh kepada Lesya. Bahkan Letha juga masih bingung akhirnya menoleh pada Lesya. Mereka semua bingung mengapa Lesya berbicara dengan nada serius begitu.
📞 .....
__ADS_1
📞 Kamu yakin Vay? Mama kamu juga ikut?
📞 .....
📞 Kita jalanin sesuai rencana kita aja ya Vay, nanti sisanya biar pihak kakak yang urus!
📞 ......
📞 Big no, gimana juga dia papa kamu Vay. Kalau kamu mau minta itu lagi sama kakak, kita ulur waktu aja ya. *pelan
📞 .....
📞 Bye!
Tuttt!
"Kenapa? " tanya Elvan. Lesya yang selesai menutup sambungan telepon menoleh dan menggeleng kecil saja. "Nanti gw kasih tau! " kata Lesya menjawab.
Pandangan matanya beralih kepada Letha yang menatapnya sekilas. Terdapat rasa sakit hati mendengar informasi Vayleen. Namun dia tetap berusaha menepis semua pikiran negatif nya. Elvan hanya mengangguk saja mendengar jawaban gadisnya. Eh gadis? Bener kan jika Lesya masihlah seorang gadis? Iya lah!
"Vay? Siapa Vay? " bingung Luna menyahut. Ahh iya, gadis itu memang lupa dengan wajah anak kecil yang menyelamatkan nyawa Elena saat tawuran. Em, lebih tepatnya jika hanya sekali dua tiga kali, Luna dapat melupakan wajah bahkan nama orang itu. Kecuali nama pemain aktor dari segala penjuru dunia. Gak kenalan aja Luna udah tau siapa dia. Wkwk, aneh gak tuh!
"Anaknya kak Fe--- ANJ*NG ADUHH SYAAA SAKIT WOYY!! " pekik Leon saat merasakan kakinya di injak oleh Lesya.
Sang empu yang menginjak kaki Leon hanya memasang wajah polos tanpa dosanya. "Yah lemah lo Yon! Sekali injek teriak! " ledek Lesya mengalihkan perhatian. Luna dan Leon kini paham maksud dari pengalihan bicara Lesya. Luna juga tiba-tiba teringat tentang anak lelaki yang dia temui di tempat tawuran saat itu. Anak Fe-- Felicia dan Vion!
"Sya, iya gw paham maksud lo Sya tapi, SAKIT BEGE KAKI GW ECHAA... Jahat lo sama gw! " ringis Leon. Lisa mendelik tak terima melihat Lesya yang tanpa dosanya menginjak kaki sang kekasih.
"Heh Sya kasar bener lo! Kan kasian kakinya ayang bebeb gw ternodai karena lo! " kata Lisa dengan nada dramatis alay lebaynya. Luna dan Lesya berpandangan dan tertawa ngakak mendengar nada bicara Lisa. Ayolah, dahulu Lisa tomboy dan sekarang berubah menjadi alay lebay gini? Enggak banget buat mereka!
"HAHAHA.. ANJ*R... " kompak mereka.
Lisa dan Leon hanya menatap aneh kedua temannya itu. Bahkan kini Lesya merefleksikan pikirannya agar tak terlalu terbebani mengenai desain interior rumah yang dia gambar sekarang.
Dia hanya tak ingin terlalu terbebani banyak pikiran hingga drop saja. Biarlah sejenak dia bersantai bukan? Toh dia masih memiliki banyak waktu. Lagipula, menjadi arsitek hanya mimpi yang tentunya masih dapat ataupun tak dapat dicapainya. Bagaimanapun juga dia sudah menjadi pewaris di 2 perusahaan besar. Jika ditambah cita-citanya, dia sendiri yang kecapekan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1