
Kini semua sudah tiba di tempat yang benar-benar mereka tuju. Dengan segera Sarah yang memiliki kartu kunci, membuka pagar yang menjulang sedikit tinggi. Ya, Sarah secara khusus tak memasuki ambulance agar dapat membuka kunci pagar tersebut.
Awalnya mereka semua yang berada di masing-masing mobil terkejut dengan tinggi rumah mewah yang hendak mereka masuki. Namun mereka semua bertambah terkejut dengan penampakan rumah mewah yang cukup luas dan besar di depan mereka. Ternyata lebih luas dari kediaman Grey rumahnya!
Merasakan mobil yang sudah berhenti, Lesya baru saja terdiam setelah perdebatan tak haqiqi dengan auntynya. Dia mengira sudah tiba walau itu memang benar. Setelah semua orang keluar, kini Lesya dengan ragu-ragu hendak ikut keluar juga.
Ceklek! Stakk!
"Seatbelt nya Queen, " kata Elvan.
Lesya melebarkan matanya. Dia merasakan pintu dimana dia duduk terbuka. Dengan tanggap dia menebak jika pintu itu dibuka oleh Elvan. Dan seatbelt yang masih menancap padanya juga sudah terlepas karena lelaki itu.
"Sini,"
Dengan perlahan Elvan hendak menggendong Lesya namun dengan segera gadis itu tepis. Dia tak mau digendong layaknya orang kesusahan. Rasa sakit dibagian bawahnya juga sama sekali tak terasa. Lantas, untuk apa jika dia memiliki kaki ituh jika tak digunakan.
"Mau jalan sendiri! "
"Tapi--- "
"Gw gak lumpuh KetBok! " kesal Lesya. Elvan menghembuskan nafasnya pelan lalu mengangguk saja. Walau tak dilihat anggukan nya, dengan tanggap dia memegang kedua tangan Lesya agar tak jatuh. "Pegangan ya," kata Elvan yang langsung diangguki patuh oleh Lesya.
Mereka semua sudah keluar. Dengan segera Luna menghampiri Lesya dan beralih mengambil tangan Lesya yang sebelahnya. Keamanan rumah sangat ketat dan semua tergantung pada pemiliknya sendiri. Jadi, Luna sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
"Pak Ketos, bini lo sama gw aja ya! " kata Luna. Elvan dengan berat akhirnya melepaskan Lesya pada sahabat gadis itu. Tak urung, dia tetap di samping seolah menjadi bodyguard siap siaga.
Semua berjalan perlahan. Beberapa sibuk melihat interior bagian halaman rumah. Di saat mereka hendak memasuki rumah, sama sekali tak dapat terbuka. Rupanya karena butuh wajah pemilik aslinya agar rumah dapat terbuka. Lesya memang tertinggal di belakang dengan Luna, Elvan, Valen dan Vay saat hendak masuk.
Ceklek!
Para pelayan yang bekerja berhenti dan menoleh. Mereka dengan segera sigap berbaris lalu menundukan tubuh mereka 90° saat melihat majikan mereka datang. Dengan kompak mereka menyapa majikan mereka yang datang dengan rombongan orang yang tak mereka kenal. Kecuali Luna, Sarah dan Candra yang pernah datang ke tempat mereka bekerja itu. Tentu saja mereka menyapa dengan menggunakan bahasa Prancis!
"Bon retour, madame ! (Selamat datang kembali, Madam!) " sapa mereka. Lesya hanya mengangguk pelan saja. Dia dapat mendengar jelas suara sapaan para pekerjanya. Semacam ART (Asisten Rumah Tangga), namun di negara asalnya disebut pembantu atau pelayan.
"Merci, continuez sur cette voie! (Makasih, lanjutkan pekerjaan kalian!) " kata Lesya datar diangguki oleh semua pelayannya. Namun disaat hendak melanjutkan pekerjaan mereka, semua dibuat kecar-kecir karena suara auman yang familiar untuk para isi rumah.
Grrrhhhhh..
__ADS_1
Kaget dengan kedatangan Lion dengan wajah sangarnya, Luna hingga melepaskan tangannya dari Lesya. Dengan segera dia bersembunyi dibalik punggung Valen.
"Huwaaa... Si Lion ngamuk!! "
Lesya bukannya oleng. Dia justru merentangkan tangannya ke bawah agar menggapai hewan peliharaan yang sangat dia sayang. Sudah lama dia tak mengunjungi rumah mewahnya ini.
"Lion?!! " pekik Lesya kaget karena dia dapat merasakan sebuah kemarahan dari hewan kesayangannya. Menangkap dan berjongkok agar menggapai hewan kesayangannya, Lesya mengelus bulu- bulu panjang milik harimau betinanya.
Grrrhhhhh...
Seorang pelayan yang berasal dari Indonesia segera berlari menghampiri majikannya. Sebenarnya dia diangkat menjadi kepala pelayan agar dapat mengatur rumah saat majikannya tak ada. Dan urusan utamanya adalah mengurus harimau betina yang sikapnya layaknya singa. Dan kini dia takut majikannya yang baru saja datang marah karena urusan utamanya tak beres.
"Nic? " geram Lesya.
Layaknya dapat melihat segalanya, Lesya kembali beranjak berdiri dan mengepalkan tangannya erat. Karena namanya yang terpanggil, Nic, pelayan yang berasal dari Indonesia pun angkat suara dengan nada takutnya.
"Bon retour, madame ! (Selamat datang kembali Madam!) S-saya Nic, désolé pour ma négligence. (maaf karena kelalaian saya.)" kata Nic membungkukan badannya 90° lalu kembali bersikap biasa dengan kepala yang menunduk.
Lesya mengangkat tangannya seolah menyuruh pelayan lain kembali bekerja dan membawa yang lainnya pergi. Walau di situasi yang begini, dia tak mau dicap sebagai majikan tergalak. Walaupun kenyataan memang benar begitu :v
Luna langsung saja berlari ngacir ke kamarnya yang sebelumnya pernah dia tempati. Sementara Gilang dan Mily hanya mengangguk lalu melihat desain interior rumah Lesya yang lebih banyak dilengkapi teknologi canggihnya.
Berbeda dengan Galang dan Sella. Mereka melihat ke arah harimau betina yang sebelumnya dipegang oleh pemiliknya. Jujur, Sella takut dengan hewan buas itu. Sementara Galang tak takut namun bingung. Namun saat mendengar nama mereka dipanggil Sarah, dengan sigap mereka kembali menoleh dan berjalan ke kamar mereka. Sesekali melihat interior rumah mewah yang sedang mereka di pijaki.
Valen dan Vay juga begitu. Bedanya, Vay akan tidur bersama sang mama nanti dan Valen tidur bersebelahan dengan kamar Luna. Lisa yang belum ada juga nanti akan tidur bersama di kamar Luna.
Candra? Oh iya, lupa! Lelaki itu sedang bersama Felicia dan Lisa. Sejujurnya mereka sempat memindahkan Leon langsung di ruang khusus tanpa memasuki pintu utama. Dan mereka berjalan ke arah pintu samping dengan mendorong brankar Leon agar mempercepat langkah mereka. Tak heran jika mereka tak ada di sana.
"Tau apa salahmu? " tanya Lesya berbicara formal. Nic menganggukkan kepalanya takut. Dia tak tahu jika Lesya tak dapat melihat anggukan kepalanya. Elvan yang masih di sana dengan tanggap memberi pengertian. Berjalan mendekat, dia menggenggam tangan Lesya seolah menenangkannya.
"Dia bilang iya," kata Elvan.
GRRRHHHHH?!!
Lesya yang merasakan kemarahan Lion setelah Elvan menggenggam erat tangannya semakin bingung. Bahkan Elvan sendiri sedikit terkejut bercampur bingung saat harimau milik istrinya itu meloncat karena hendak menangkap kedua tangan yang sedang bertaut. Takut terjadi sesuatu, dengan tanggap Elvan mengangkat tangannya saja yang sedang menggenggam tangan Lesya.
"Ma-maaf Madame ! Saya tadi -sudah kasih Lion manger(makan) dan s-saya tak tahu apa lagi yang buat dia tenang."
__ADS_1
Nic menjelaskan dengan jujur walau dengan nada yang sedikit takut. Lesya mengernyit bingung. Dia tak dapat melihat wajah hewan kesayangannya yang sedang mengamuk saat ini. Bahkan Lesya juga tak paham mengapa Lion nya ini kembali mengaum kuat seolah sedang tak menyukai sesuatu. Ayolah, matanya ini bolehkah terbuka walau sejenak?!
"Dia cemburu! "
Lesya terdiam. Dia kembali menyuruh Nic pergi dari sana dengan lambaian tangannya. Dan sang empu yang diusir hanya mengacir cepat pergi sebelum Ratu Singa ikut mengamuk. Elvan beralih memeluk pinggang Lesya dan itu sukses membuat harimau kesayangan pemilik rumah kembali mengaum kuat. Hah? Harimaunya sekarang sedang cemburu kah? Pikir Lesya bingung linglung.
GRRRRHHHH?!!
"Pfftt?! "
Elvan berusaha menahan tawanya saat mendengar auman Lion yang lebih kuat lagi dari pada yang sebelumnya. Tangan kekarnya yang sengaja dia lingkarkan di pinggang sang istri masih setia berada di tempatnya. Aneh!
Lelaki itu sedang tak menyangka jika Lion yang dia dengar-dengar berjenis ke*lamin perempuan justru cemburu di saat majikannya dia peluk. Padahal, Lesya sendiri tak masalah. Ralat, bukan tak masalah namun sedang tak paham situasi. Biasa walau dia begini, tetap saja dia masih lemot memahami situasi!
"Beneran cemburu dong?! " kata Elvan.
Lesya perlahan menepuk tangan Elvan seolah meminta melepaskannya. Dengan segera lelaki itu melepas agar tak terjadi sesuatu yang buruk. Memilih kembali berjongkok, Lesya merentangkan tangannya dan segera Lion masuki pelukan hangat majikannya itu.
"Lion, kenalan dulu ya! Désolé(maaf), kali ini Madame gak bisa liat muka kamu. Jangan marah, tapi kenalan dulu sama em, Pan--- "
Dengan tanggap Elvan ikut berjongkok dan mengangkat lima jarinya seolah mengajak Lion melakukan perkenalan dengan tos ria. Pelukan singa dengan manusia juga baru saja sudah terlepas.
"Hello, I'm your employer's husband, Elvano ! (Halo, saya adalah suami majikanmu, Elvano!) " kata Elvan memperkenalkan dirinya secara ramah. Jauh beda dengan Elvan yang kita kenal. Harimau tersebut terlihat menunduk dan mengaum pelan seolah meminta maaf karena berburuk sangka. Elvan yang paham hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Pardonné (Dimaafkan)." kata Elvan.
Lesya tersenyum getir secara diam-diam. Cara berbicara Elvan layaknya dia memberi maaf pada hewan kesayangannya dahulu. Dan sekarang, dia masih belum bisa melihat bagaimana interaksi keduanya. Padahal, ini salah satu momen yang ingin dia lihat.
"Lion, tolong tunjukin jalan ke kamar Madame! " kata Lesya memberi perintah.
Harimau betina itu mengaum dua kali yang artinya akan segera dilaksanakan. Ya, itu bahasa isyarat yang pernah Lesya ajarkan pada Lion. Kembali beranjak berdiri, dengan bantuan Elvan akhirnya mereka berjalan ke arah kamar yang berada di lantai dua. Karena merasa ngeri harus berjalan dengan kondisi yang tak memungkinkan, akhirnya Elvan memilih menggendong Lesya saja ala bridal style. Lesya hanya diam saja menerima perlakuan Elvan tanpa perlawanan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Jangan lupa tunggu kelanjutannya! Anyway, boleh nanya di sini sisi Lesya gimana menurut kalian? Nanya doang ya, kalau gak mau jawab gak papa kok...
__ADS_1