
Sama seperti pelukkan Arga, papinya. Lesya melepaskan pelukkan Angga dan menatap Angga.
"Makasih Yah" gumamnya. Angga mengangguk mendengar gumam-an sang menantu.
Sudah bertahun-tahun tak dipeluk seorang ayah dan kembali dipeluk. Bagaimana rasanya? Itulah perasaan Lesya saat ini. Benar-benar pelukan yang hangat dan hangat.
Mayang dan Angga masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangan mereka hingga mobil mereka tak terlihat.
Lesya menatap kepergian kedua mertua yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya. Lesya menghela nafas panjang dan memasuki rumah mewah tersebut.
Jika kalian bertanya soal keberadaan Elvan, dia baru saja masuk. Lesya langsung pergi ke kamarnya dan mengganti bajunya.
Setelah selesai, dia berniat bejalan-jalan untuk mengenal rumah mewah tersebut. Lesya hanya menggunakan pakaian santai saja.
Dia berjalan ke arah kamar-kamar, ruang makan, dapur, gym, lapangan basket, ruang tamu, hingga taman belakang.
Lesya terdiam di depan batu air mancur yang berisi ikan-ikan hias. Lesya tersenyum mengingat kejadian tadi.
Dia bahagia dipeluk seorang Ayah. Tapi tidak dengan sorot matanya. Cairan bening jatuh begitu saja mengingat sosok Arga.
Lesya. berjalan hingga menuju kolam renang. Dia begitu menyayangi sosok Arga. Dia kagum akan betapa kuat dirinya. Dia kagum akan sosok itu. Bahkan menerima Mila apa adanya.
Dia berdiri di pinggir kolam renang. Dia terduduk lemas dan memeluk lututnya. Dadanya sesak mengingat betul siapa Arga dan Gilang. Semua kenyataan pahit itu dia tahu.
Dia bahkan tak menyangka. Lesya terisak dan memukul lututnya. Dia juga menjambak rambutnya hingga acak-acakkan.
Elvan yang berada di atas balkon kamar menatap datar gadis yang menangis dan menyakiti dirinya sendiri. Dia sendiri tahu siapa Lesya sebenarnya.
Dia tak mau menganggu waktu Lesya menyendiri. Sudah 5 menit Lesya berada di sana. Saat Lesya ingin berdiri, dirinya tak sengaja terpleset dan jatuh ke dalam kolam.
Lesya bisa saja berenang. Namun kalian tahu? Kolam renang tersebut sedalam 2,5 M. Lesya mulai kehabisan nafas dan tenggelam.
Elvan yang melihat dari balkon buru-buru ke bawah. Dia berjalan dengan langkah cepat. Setelah tiba di kolam, tanpa basa-basi Elvan menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Dia membuka matanya di dalam kolam dan menemukan Lesya yang sudah tak sadarkan diri. Dengan cepat Elvan menyelam ke arah Lesya dan menggapai tangannya.
Elvan menarik tangan Lesya ke atas dan menaiki tangga yang ada di sana. Dia menggendong Lesya ala bridal style menuju tepi.
Elvan mengalihkan pandangannya dari Lesya. Baju putih Lesya basah kuyup hingga tembus ke br* hitamnya. Bagaimana pun juga, Elvan adalah laki-laki normal!
__ADS_1
Pasti untuk perempuan paham bagaimana dirinya mengunakan br* hitam dan baju putih? Elvan menarik belahan dada Lesya ke dada bidangnya hingga kulit mereka bersentuhan.
Tak mungkin bukan dia memperlihatkan ceplakkan br* hitam Lesya? Apa lagi dilihat oleh aisisten rumah tangga! Elvan bisa berpikir soal itu.
Dia membawa Lesya ke kamarnya. Beruntung tak ada satu pun asisten rumah tangga yang lewat. Dengan cepat Elvan menidurkan Lesya ke kasurnya.
Dengan susah payah Elvan menggantikan baju Lesya dengan baju yang dia baru saja dia ambil di lemari.
"Huftt! " Satu hembusan nafas panjang terdengar di kamar tersebut. Elvan sudah menggantikan baju Lesya yang basah.
Lesya masih bernafas. Hanya saja dia hilang kesadaran alias pingsan. Dia memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah beberapa waktu, Elvan keluar menggunakan baju utuh santai bercelana sebawah lutut.
Lesya masih belum membuka matanya. Elvan bingung sendiri. Padahal dirinya sudah berada di kamar mandi sekitar dua jam-an karena harus bersolo.
Dia memegang pipi Lesya. Hangat! Dia memeriksa jidat Lesya dengan punggung tangannya. Benar-benar hangat!
Dia pergi ke kamar mandi dan mengambil baskom berisi air. Tak lupa dia membawa sapu tangan yang lumayan tebal. Dia mengompres kain dengan air yang berisi sedikit es.
Elvan dengan telanten meletakkan kain di jidat Lesya yang terasa hangat. Saat Elvan menatap lekat wajah Lesya, cairan bening jatuh begitu saja.
Elvan bingung sendiri. Mengapa Lesya menangis? Apa dia ada salah? Aneh bukan? Pikirnya.
"Kok ada kain ya? " gumam Lesya tak sadar.
Elvan yang berada di samping ranjang mencibir dalam hati mendengar gumam-an Lesya. Apa dirinya tak ingat kejadian tadi? Hampir saja nyawanya terancam. Pikir Elvan.
"Udah sadar lo? " datarnya. Lesya menoleh ke arah Elvan. Dirinya sedikit terkejut mendengar suara bariton itu.
Lesya mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Elvan juga berpindah ke tepi ranjang Lesya. Dia duduk di samping Lesya dan memainkan ponselnya.
"Bukannya gw tadi. . . " pikir Lesya bermolog. Dirinya mengingat-ingat kejadian sebelum dia hilang kesadaran.
Elvan membiarkan Lesya berpikir. Hingga suara cempreng Lesya mengagetkan-nya., "TENGGELAM-!! "
Elvan mengelus telinganya yang terasa pengang. Dia sendiri kaget selain pembuat onar, Lesya cukup cerewet plus cempreng.
Lesya seperti wanita lainnya. Hanya saja Lesya terkesan tomboy plus tak mempedulikan penampilan dirinya. Itulah Lesya menurut pemikiran Elvan.
__ADS_1
"Gw tadi tenggelam kan? Trus gw kok masih hidup? " Elvan memutar bola matanya malas, "Lo mau mat*? "
Lesya menggeleng cepat. Dia belum menyelesaikan misi atau tujuannya di dunia ini. Dia berpikir mengapa dia masih hidup? Siapa yang menyelamatkan dirinya?
"Trus yang nolongin gw siapa? " tanya Lesya pelan, "Gw! " jawab Elvan santai.
Lesya mangut-mangut paham akan penjelasan Elvan. Dia menoleh ke arah bajunya. Jika dia tenggelam, bajunya basah bukan? Mengapa dia tak merasa basah? Pikir Lesya.
"Wait! Baju gw siapa yang ganti? " Lesya menutup mulutnya. Padahal Elvan belum menjawab. Tapi, otaknya menerawang jauh.
"Jangan bilang kalo itu. . . " Elvan mengangguk., "Gw! Why? " Lesya terdiam. Dia tak tahu harus menyikapi bagaimana kali ini.
"Gak ush malu! Gw udh liat kok" Lesya memukul lengan Elvan keras. Malu? Jelas!
Dia merutuki mulutnya yang bertanya tadi. Seharusnya dia tak bertanya bukan? Bertanya berujung malu sendiri! Itu Lesya saat ini.
"Jangan aneh-aneh lo! " sewot Lesya menutup wajahnya menggunakan bantal.
Jika kalian bertanya keadaan kain basah tadi, sudah jatuh ke bawah karena Lesya yang kaget. Nasib-nasib, kasian kainnya!
Elvan terkekeh pelan. Sikapnya ternyata kekanak-kanakan juga. Elvan menarik wajah Lesya menghadap dirinya.
Dia bisa melihat wajah Lesya yang merah bagaikan tomat. Lesya menatap tajam mata di depannya ini.
Jarak mereka dekat bahkan sangat dekat! Bisa dipastikan jika Lesya bergerak sedikit, bibir mereka akan menempel.
"Jangan ditutup pake bantal! Mat* mamp*s lo! " Lesya melotot. Dia berontak saat pipinya ditangkup oleh Elvan. Dia menggeleng cepat menatap bawah.
Hasilnya sia-sia! Bukannya terlepas malah Elvan mengeratkan tangkupan-nya. Lesya menatap galak Elvan.
Ingin sekali dia membogem kepala Elvan yang berani menyentuhnya. Tapi dia tak bisa! Pasti dia akan dihukum entah apa hukumannya. Jadi lebih baik tahan saja keinginannya bukan?
"Lepas pan!" Elvan tak bergeming. Dia masih setia menatap manik mata hitam Lesya.
Dia masih mau menyakinkan dirinya bahwa sebagian data yang dia peroleh kemarin tak benar.
Lesya memang risih di tatap seperti itu. Bagaimana lagi? Dia kalah telak jika bersama Elvan.
"Ada yang lo sembunyiin dari gw? " tanya Elvan tiba-tiba.
__ADS_1
Lesya melotot. Tak mungkin bukan Elvan tau masalahnya? Tapi jika iya, dari mana? Pikir Lesya menerawang.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗