
Episode 419: Restauran
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Di sebuah restoran yang cukup besar terdapat seorang gadis yang sibuk mengurusi ini dan itu. Restoran yang memang sengaja dia pilih sebagai pekerjaan awalannya sebelum akan diharuskan terjun ke dalam dunia bisnis.
Dan di sebuah ruangan yang cukup luas, gadis itu kini sedang berbincang kecil dengan istri dari pendiri restoran yang kini sudah dia ambil alih. Tiba-tiba saja dia melamun karena pikirannya masih melayang pada ucapan kedua sahabatnya saat di kantin tadi.
***
"Why impossible? Kedudukan aja dia punya, wajah juga gak diraguin lagi, pinter juga iya, body masih cukup loh, gimana yang gak mungkin kalau dia mendekati kata sempurna?"
"Saran gw ya, jaga baik-baik laki lo! Kecantol satu cewek aja bisa getar hati dia."
"Bener tuh, Sya. Apalagi zaman sekarang kalau cewek sama cowok berduaan, yang ketiga nya settan. Lebih parah settan panggoda di luaran sana noh."
***
Dengan segera dia menggeleng-gelengkan kepalanya ggun untuk menepis pikiran negative nya mengenai sosok Elvan. Tak mungkin lelaki itu dengan mudahnya tercantol perempuan lain selain dirinya. Pada dasarnya saja, sifat Elvan saja sudah acuh pada yang namanya perempuan.
Iya, Elvan alergi kan sama perempuan?
Lesya terkisap dan menoleh ke layar iPad miliknya yang kini sedang menampilkan layar mommy tirinya. Iya, dia mulai menerima kehadiran sang mommy tiri walau masih belum sepenuhnya. Alisnya terangkat dan tersenyum tipis seolah sedang menetralkan mimik wajahnya.
📽 "Lesya?" panggil Sella.
📽 "A-apa Mom? Ada lagi kah yang lain?"
📽 "Enggak ada lagi kok kata Daddy mu, cumen Mommy mau ingetin kamu kalau lusa Daddy udah bisa operasi." antusias Sella dari seberang sana dengan senyuman yang mengembang ceria.
Alis Lesya berkerut mendengarnya. Mengapa mendadak sekali? Dia juga belum mengosongkan jadwalnya untuk lusa. Terlebih sekolah masih belum memberikan jadwal liburan setelah mereka selesai ujian. Katanya sekolah sedang mengadakan pertandingan untuk mengenang sebelum masa-masa SMA murid-murid kelas 12 habis.
📽 "Kok dadakan sih Mom? Lusa aku gak boleh bolos sama sekolah, katanya kalau bolos nilai ujian dapet merah."
__ADS_1
📽 "Haha… Lusanya kan libur, Sayang. Daddy emang sengaja pilih operasinya waktu hari libur karena Daddy tau kamu tiga hari lagi harus masuk sekolah."
Mata Lesya berbinar antusias. Dia merutuki otak kecilnya yang salah ingat. Giliran rumus mudah ingat, hari saja tak ingat. Hihh, benar-benar memalukan!
📽 "Oiya ya? Salah inget Lesya. Tapi kok dadakan sih kasih taunya?" cebik Lesya.
Di sebrang sana Lesya dapat lihat jika Sella menahan tawa melihat ekspresinya. Sebisa mungkin dia kembali bersikap biasa saja walau dengan raut wajah yang sedikit mengambek.
📽 "Harusnya sih kamu udah tau. Kemaren Mommy udah kasih tau kok sama Elvan, mungkin Elvan nya yang lupa kasih tau ke kamu."
Sebentar. Jadi Elvan sudah tahu dan belum kasih tahu berita sebesar ini padanya? Benar-benar. Padahal selama ini dia terus mencari pendonor lain sebagai ganti kedua mata sang daddy. Alasannya karena dia tak mau merasa memiliki hutang budi walau sedarah.
📽 "Sudah dulu ya, Sya. Mom harus urus adikmu dulu, kayaknya buang air deh."
Lesya mengangguk mendengarnya. Panggilan video mereka sudah selesai hingga itu saja. Lesya menyimpan iPad berwarna hitamnya dan sibuk mengurus perkembangan restoran milik keluarga Erthan itu. Iya, restoran keluarga Erthan, masih ingat kalau tempat ini pernah dikunjungi Lesya sebelumnya?
Tak terasa dia sudah dua jam berkutat dengan berkas dan layar laptop di depannya. Merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal, perlahan Lesya mulai mengemasi barang-barang yang berantakan akibat ulahnya. Dirasa sudah bersih dan rapi, barulah Lesya perlahan beranjak pergi dari ruangan itu.
Namun, saat sedang berada di resepsionis restoran, mata tajam Lesya menangkap sosok lelaki yang familiar sedang berjalan berduaan dengan tangan yang saling merangkul satu sama lain. Terlihat sangat mesra!
"$hit, gerah gw liatnya." gumam Lesya.
"Mbak, mereka berdua mau ke ruang apa?" tanya Lesya dengan tatapan kini sudah semakin menajam. Bagaimana tidak? Dia jelas-jelas melihat pipi suaminya itu dikecup oleh gadis yang dirangkul. Oh no, mengencup pipi? Dia saja jarang melakukannya pada Elvan. Dia benar-benar tak menyangka!
"M-mereka mau ke ruangan khusus restoran kita Boss." jawabnya gagap.
Orang yang dipanggil dengan sebutan ‘Boss’ mengangguk samar. Memang berita mengenai pergantian pemilik restoran tempat mereka berkerja sudah menyebar. Dan syarat mereka adalah tak boleh memberi tahu mengenai info pergantiannya pemilik restoran atas perintah Lesya. Dan mereka hanya menurut saja tanpa berani membantah.
"Lanjutkan!" perintah Lesya diangguki cepat oleh resepsionis tersebut.
Kaki jenjang Lesya kembali berjalan dengan cepat dan memasuki sebuah lorong khusus yang memang biasa dimasuki oleh orang-orang yang berpengaruh. Mengepalkan tangannya kuat, ternyata Lesya dapat lihat kedua orang yang dia cari berjalan tepat di depannya. Tak lupa tangan yang saling merangkul membuat darahnya mendidih.
Puk! Plaakk!
__ADS_1
Gadis yang berada di samping Elvan menoleh. Matanya mendelik kaget saat lelaki yang dia rangkul tiba-tiba ditampar keras oleh gadis yang sama sekali tak dia kenal. Secara reflek dia terkejut hingga mengeluarkan satu kata kasar. Memang se-mengejutkan itu.
"Busyet!" kagetnya reflek.
"Le, apa-apaan sih?!" kesal Elvan mengusap pelan pipi kanannya yang ditampar oleh Lesya. Sang lawan bicara mengangkat satu alisnya dan tertawa hambar. Ekspresinya menampilkan wajah datar sementara kedua matanya menunjukkan sorot kekecewaan.
"Le? Jangan-jangan? ---" gumam seorang gadis yang sempat dirangkul oleh Elvan. Menelisik dari atas hingga bawah, senyum smirk terbit di wajah cantiknya. Dia mengkode ke arah lelaki di sampingnya yang menatapnya dengan penuh tanya karena maksud tatapannya.
"Heh, masih nanya lagi. Harusnya gw yang bilang apa-apaan sama lo! Kenapa lo bisa jalan berduaan, rangkul-rangkulan sama cewek lagi?! Udah mau malem loh, malah asik berduaan sambil pegang ini-itu." geram Lesya dengan galak.
"Bu---"
Ucapan Elvan tersela karena gadis yang berada di sebelahnya angkat bicara. Matanya mendelik dan sejenak hanya diam saja karena tahu maksud dari tatapan mata perempuan itu.
"Loh-loh? Kenapa gak boleh? Gw pacarnya, lo siapa dia? Ohhh, atau lo itu fans fanatic pacar gw ya? Wah cewek zaman sekarang udah ada yang terang-terangan deketin cowok orang ternyata ya." cibir gadis itu seolah menantang dengan gaya khas nya yang cukup terbilang cukup angkuh.
Tangan Lesya terkepal kuat. Kepalanya ingin pecah mendengar pengakuan dari perempuan yang berada di depannya. Tanpa basa-basi dia menjambak rambut perempuan di depannya dengan keras. Tak peduli lagi dengan keberadaan Elvan yang mendelik kaget atas tindakannya.
"Le? Hey lepasin dia Le!" lerai Elvan mencoba memisahkan keduanya yang sedang adu mekanik. Namun kedua perempuan itu tetap tak mendengarkan bahkan asik saling menunjukkan kekuatan jambak satu sama lain.
Rambut sang lawan lebih banyak rontok dibanding rambut Lesya. Semuaitu dikarenakan kekuatan Lesya yang meningkat jika emosinya terpancing. Rintihan demi rintihan sudah terdengar hingga Elvan bingung harus melerai keduanya dengan cara bagaimana lagi.
"Aleesya, lepasin tangan lo! Ingat, dia bukan lawan lo Le!" peringat Elvan.
Dengan kasar Elvan menarik kedua tangan mereka agar berpisah satu sama lain. Dan berhasil. Elvan menghela nafasnya dan menatap satu dan yang lain bergantian. Jika yang satu menatap tajam tanpa mempedulikan kondisi rambut, lain halnya yang satu menatap sengit lawannya dengan tangan yang berusaha merapikan rambutnya.
"Bisa jangan berantem? Jaga image kalau di luar, paham?" datar lelaki itu.
Lesya hanya menggeleng dengan tangannya yang mulai merapikan anak rambutnya. Wajah gadis itu kini benar-benar ditekuk manyun. Matanya mulai berkaca-kaca karena memang takut ditinggalkan. Terlebih ucapan Luna dan Lisa saat di kantin membuat pikirannya melayang kemana-mana.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
__ADS_1
Jhahaha...
Menurut kalian ini konflik atau enggak? Dan siapa perempuan yang dibawa Elvan? Pengen buat konflik tapi bingung penyelesaiannya gimana T›T