Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
208: Chatrin!


__ADS_3

Berbeda dengan keadaan di sekolah Gregus saat ini. Elvan yang telat dalam rangka rapat OSIS, mengatur nafasnya sebelum masuk ke dalam ruangan. "Hufttt! " hela Elvan lalu membuka knop pintu yang ada di depannya.


Semua pandangan mengedar ke arahnya. Bahkan pak Kevin, selaku pembimbing semua anak-anak OSIS, heran di saat melihat Elvan yang telat tak seperti biasanya. "Maaf semua saya telat! "


Dengan nada biasa yang dia gunakan saat diluar, Elvan duduk di kursinya dan mengambil laptopnya yang dia bawa. "Dari mana kamu? Untung cuman telat 1 menit! Jika tidak? Ingat, kamu itu ketua OSIS! Jadikan contoh yang baik untuk anggotamu! " peringat pak Kevin.


Elvan hanya mengangguk tanpa menjawab. Sebagai wakil, Valen memulai pembicaraan yang membahas tentang kerja bakti yang akan dilakukan sebelum ulangan tengah dimulai. Hanya ada pembicaraan persepakatan dan musyawarah yang tercipta di ruangan itu.


Beberapa waktu berlalu, setelah rapat OSIS berlangsung, anggota OSIS termasuk pak Kevin mulai bubar dan menyisakan Elvan dkk saja yang berada di ruangan tersebut. Mereka mengemasi masing-masing peralatan mereka. "Lo dari mana? Tumben telat! " tanya Farel.


Elvan mengangkat kedua bahunya acuh. Jika salah jawab akan panjang pembicaraannya. Kan dia malas jawabnya! Ditambah dia belum sarapan karena tergesa-gesa berangkat sekolah.


"Jiwa badboy nya kambuh gays! Gw kangen sama masa-masa putih biru waktu itu! Bolos bareng, dihukum bareng, makan bareng, jailin guru bareng! " ucap Ken mengingat masa SMP-nya dulu bersama ke empat temannya.


Valen mengangguk setuju. "Gw juga! Males gw jadi goodboy gini! Harus jaga sikap mulu! Sekali salah, langsung ditegor! Lah dulu? Masih bisa kabur bareng ya gak? " ujar Valen diangguki oleh Frans, Ken, dan Farel.


"Gitu deh! Semua sisa kenangan yang gak bisa dilupain dan gak bisa diputer lagi! " sahut Frans. Farel mengangguk setuju. "Gw setuju! Gimana kalau masa OSIS kita habis, kita balik lagi kayak dulu! "


Valen dan Ken mengangguk antusias. "Wah, harus ini mah! Sisa 2 bulan kita nikmatin masa OSIS habis itu, kita bebas! Wuu.. Kangen kebebasan! " antusias Ken.


Elvan hanya menyimak seraya memainkan ponselnya balas berbalas pesan dengan Revan. Dia hanya mengangguk setuju juga dengan ide Farel yang mengajaknya memutar waktu selagi masih sekolah.


📩Revan.


Van, orangnya udah ketangkep lagi!


Gw boleh tidur nih ya!


📩Elvan

__ADS_1


Jangan biarin lolos!


📩Revan.


Iya, udah lah jangan gangu gw!


Gw udah rantai besi tuh anak!


Sempet kabur bell alarm darurat bunyi!


📩Elvan


Oke!


Frans yang melihat Elvan asik memainkan ponselnya, bertanya. "Gimana pendapat lo? Jangan asik mainin hape doang! " ujarnya. Elvan mengangguk. "Bolehlah!" jawab Elvan dibalas anggukan kepala mereka.


Setelah mengemas, mereka kembali ke kelas mereka. Jarum pendek jam saat ini berada di angka 7 yang artinya mereka sudah menghabiskan 1 jam untuk rapat.


Bu Sumi, selaku guru pengajar kali ini sekaligus wali kelas 12 IPA A, datang dan menatap tajam semua siswa-siswi yang membuat kerusuhan sejenak. "Ekhem! Semua, kalian kedatangan murid baru! Yang di depan, silahkan masuk! "


Sontak siswa-siswi kelas itu menatap ke arah penampilan murid baru yang akan menjadi teman mereka nanti. Lumayan! Lumayan cantik maksudnya! Hanya satu yang kurang, roknya terlalu pendek!


"Perkenalkan namamu! " ucap bu Sumi di angguki siswi itu. Siswi baru itu tersenyum manis mengedarkan pandangannya ke segala ruangan kelas itu. "Hai semuanyaa! Aku Chatrin Arelan, aku pindahan dari Inggris! Semoga bisa berteman baik yah! "


Siswi baru yang bernama Chatrin membuat ke empat teman Elvan menoleh dan berpandangan satu sama lain. "Pst! Vano! " panggil Valen yang berada di belakang Elvan.


Meja mereka single chair membuat mereka kepisah namun mereka saling bersampingan. Elvan melirik ke arah belakangnya dan mengangkat alisnya seolah bertanya 'apa? ' pada Valen.


Valen yang paham, menunjuk ke arah Amanda yang masih berdiri manis dengan senyumannya. "Tuh liat! " ucapnya. Elvan hanya melirik Chatrin sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah buku.

__ADS_1


"Oh iya, silahkan duduk di bangku kosong! Semoga betah di sini! " ucap bu Sumi mempersilahkan Chatrin agar duduk. Chatrin hanya mengangguk kecil dan duduk di bangku yang tersisa.


Tak dipungkiri jika Chatrin sangatlah sebal karena tak ada seorangpun yang menyapa dirinya. Sombong sekali anak-anak di sekolahnya! Dia kira dengan dirinya mengucapkan lantang marganya yaitu ‘Arelan’ dapat memiliki banyak teman di sekolah barunya. Pikirnya.


Di saat kelas memulai pelajaran, Chatrin tak sengaja melihat kumpulan Elvan dkk di kelasnya. Senyum nya terbit begitu saja melihat kumpulan sahabatnya di kelasnya. Rupanya mereka satu kelas!


Kriinggg!


Setelah bell berbunyi dan bu Sumi menyudahi pembelajarannya, siswa-siswi kelas A itu berhamburan keluar kelas. Dan Chatrin yang melihat Elvan dkk beranjak pergi, ikut menyusul mereka. "Vano, tunggu! " panggil Chatrin.


Lisa dan Leon yang berada di belakang Chatrin, mengernyitkan alisnya bingung. "Kamu kenal dia yang? Kok dia kenal Elvan? " tanya Leon berbisik.


Lisa mengangguk. Dirinya teringat dengan sosok Lisa. Karena suaranya mirip dengan orang itu. Dia pernah bertemu dengan Chatrin sekali di rumah Elvan saat berada di Inggris. Setelah diceritakan oleh Elena perkara Chatrin, dirinya paham sekarang maksud tujuan dari Chatrin.


"Kok? Kok suaranya mirip sama Chatrin ya? " jawabnya bermolog. Leon menautkan alisnya bingung. Rasanya tak asing baginya nama itu. Tapi siapa? Pikir Leon bingung.


Lisa kembali bertanya. "Kenapa? Kamu suka sama dia? " tanya Lisa jutek. Leon menggeleng cepat. "Enggak! Enggak sayangkuu, serius deh! Aku tuh cuman ngerasa gak asing sama namanya! Jangan jutek dong sayang! " jawab Leon merayu.


Lisa mendengus kesal. "Sempat kamu main belakang aku pites leher kamu! " ancam Lisa. Leon mengangguk patuh bak anak kecil. Dengan Lisa lah, sifat kekanakan nya keluar. Seperti saat ini!


Leon juga tersenyum tipis mendengar ancaman Lisa. Itu artinya, Lisa mulai membuka hatinya untuknya kan? Pikir Leon. Hey, Leon! Kalaupun Lisa tak membuka hatinya untuk dia, untuk apa mereka dapat jadian seperti ini?


...~o0o~...


Leon mendelik di saat melihat gadis yang bernama Chatrin duduk sebangku dengan Elvan. Dan bahkan dia melihat jika kaki Chatrin dengan lantangnya hendak menyentuh kaki Elvan dari bawah.


Mengingat sahabatnya, Lesya di rumah sakit, dengan cepatnya dia menarik Lisa ke arah meja Elvan dan berdehem keras. "Ekhemm! Remamber wife! " ucap Leon.


Hal itu membuat ke empat teman Elvan menoleh termasuk Chatrin. Valen dan Lisa yang paham maksud dari Leon barusan menahan tawa mereka. Lisa tak jadi marah hanya karena Leon yang menarik tangannya secara tiba-tiba tadi.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2