
Walaupun tak paham dengan pola pikir Lesya, Elvan tetap memasukkan sandi yang merupakan tanggal dimana Lesya terakhir kalinya mengikuti olimpiade pelajaran apapun dan beralih pada olimpiade yang berbau karate. 2710 angka familiar di benak Elvan. Sepertinya ada kejadian tak terduga dari angka ini. Mengapa dia merasa familiar?
Elvan berhasil membuka dengan bantuan data hasil colongannya itu dan perlahan membuka knop pintu. Keadaan yang pertama dia lihat adalah dimana ruangan itu hanya ada kegelapan dengan cahaya sedikit. Ditambah aroma alkohol yang begitu menyengat di seisi ruangan itu.
Lesya yang tidur di ranjang dengan tangan yang memegang botol tak menyadari keberadaan Elvan sama sekali. Tanpa sengaja dia melepaskan pegangannya dari botol hingga botol tersebut pecah. Alhasil air yang masih tersisa sedikit di dalam botol ikut tumpah ke lantai. Saat ini Lesya benar-benar frustasi dengan keadaan dunianya. Rasanya dirinya hancur!
Pyarr! Tes!
Elvan menoleh ke arah sumber suara. Dia menghela nafas panjang setidaknya Lesya tak kenapa-kenapa walau kondisinya tak memungkinkan. Dengan cepat dia menghampiri Lesya dan berjongkok memunguti serpihan kaca yang pecah.
Elvan beralih menatap Lesya yang tertidur dengan kening yang berkerut. Apa Lesya bermimpi buruk hingga alisnya mengerut? Atau ada hal lain? Entahlah, hanya Lesya sendiri yang tahu! Bingung Elvan.
Elvan melempar tas ranselnya di samping ranjang Lesya dan mulai membuka gorden dan mulai membersihkan apartemen Lesya yang kotor karena sudah lama tak dihuni. Tanpa sengaja dia melihat banyaknya piala yang terpajang di lemari kaca. Mulai dari piala, bingkai piagam, medali-medali dan bahkan ada juga foto Lesya sendiri saat foto bersama dengan anggota pendiri Lion Claws. Banyak!
Tak hanya itu saja, Lesya juga memajangi foto kebersamaannya dengan keluarganya dahulu. Kedua kakak beradik kembar saat itu masih kecil dan masih imut. Tanpa sengaja juga Elvan melihat satu piala besar di letakkan di tengah-tengah lemari kaca itu. Tanggal piala tersebut sama dengan kata sandi apartemen ini.
< Champion 2 Olimpiade Global Math and Sains in Inggris 2710 > Elvan dapat tulisan itu dengan baik dan tiba-tiba teringat sesuatu di benaknya. Dirinya juga sedikit terkejut dan menatap Lesya yang tertidur dengan penuh arti. "Apa lo orangnya? " gumamnya kecil.
Elvan melanjutkan aktivitasnya mengemasi barang-barang apartemen milik Lesya yang sedikit berdebu itu. Jujur saja Lesya sudah 5 bulan tak mengemasi barang-barang apartemennya. Karena terlalu berisik dan merasakan silau, Lesya perlahan membuka matanya dan menoleh ke segala arah. "Ketbok? " gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
Lesya mendongkak melihat langit-langit kamar. "Ero. . . " gumamnya lirih. Elvan menoleh dan melihat ke arah Lesya setelah mendengar gumaman Lesya. Dengan cepat dia meletakkan box pack wine milik Lesya ke tempat semula dan menghampiri Lesya. "Siapa Ero? "
Lesya menoleh dan beranjak duduk di tepi ranjang. Dia merenggangkan ototnya yang terasa kaku. "Ero itu orang yang pernah ngalahin gw di olimpiade! Beda tipis sebenarnya nilai gw sama dia! Cuman beda tiga poin doang! " jawab Lesya.
Elvan mangut-mangut paham saja mendengarnya. "Minggir, gw cape! " keluh Elvan melemparkan dirinya di atas ranjang Lesya.
Lesya tersentak kaget mengelus dadanya. "Sabar-sabar jangan emosi! Btw, nih apartemen gw rapi bener! Lo yang rapiin atau orang lain nih? " tanya Lesya ikut merebahkan dirinya kembali dengan posisi badannya yang tengkurap.
Elvan hanya mengangguk membalasnya dengan mata yang terpejam. "Hem! Lo pernah ikut olimpiade pelajaran? " tanya Elvan tanpa mengubah posisinya dengan mata yang tetap terpejam. Pasalnya Elvan hanya tahu jika Lesya yang mengikuti olimpiade atau kompetisi karate saja.
Lesya memutar bola matanya malas. "Ngeremehin lo? Belom tau ya gw punya banyak penghargaan di sini! Mulai dari se-Indonesia, se-kabupaten, se-kecamatan, se-Asia, nyampe mendunia juga gw pernah kali! Jangan lo pikir gw itu gobl*k sama pelajaran hanya karena nilai gw yang minus! " cerocos Lesya malas.
Elvan membuka matanya dan ikut berganti posisi menjadi tengkurap. Menyentil kening Lesya, Elvan menunjukkan gelang tangannya. "Lo lupa sama gelang ini? " Lesya meringis dan mengangguk paham. "Oh, gara-gara gelang rupanya! Gw kira lo nebak gitu terus punya insting kalau gw di sini! "
Elvan geleng-geleng kepala saja dan memejamkan kembali matanya. Dirinya sengaja bergumam yang membuat mata Lesya membulat seketika. "Ziel! " gumamnya. Lesya terdiam mematung dengan gumaman Elvan. "Z-ziel? Zi-el itu siapa? " tanya Lesya menyembunyikan kegugupannya.
"Ziel? Dia anak kecil cengeng yang gw temuin setelah gw menang lomba olimpiade di Inggris! Lebih tepatnya pada tanggal 27 bulan Oktober! " jelas Elvan.
Lesya teringat hal itu. Apa bener Elvan adalah orang yang pernah menasehati dirinya? Kejadian itu sudah lama berlalu. Bahkan jika dihitung secara hitungan jari, kejadian itu sudah berlalu kira-kira kurang lebih 6 tahun yang lalu.
__ADS_1
—Flashback on—
Seorang gadis kecil memeluk lututnya seraya menahan tangisnya yang akan pecah. Umurnya masih 11 tahun dengan tangan yang meremas kertas ujian kompetisinya. Dia kecewa dengan hasil nilainya yang kurang memuaskan.
Gadis kecil itu bernama Zelyra Aleesya Michella Fyo. Dia saat ini berada di Inggris untuk mengikuti kompetisi Olimpiade Global Matematika dan Sains. Nilainya masih kurang 3 poin untuk mencakup peringkat pertama. "Hiks! " lirihnya.
Tes!
Lesya kecil itu tak dapat menahan tangisnya. Duduk di rerumputan pohon rindang taman belakang tempat acara, Lesya terisak kecewa dengan hasil nilainya. Dia yakin jika Mila, Letha, dan Gilang juga akan kecewa dan menghukumnya. Terlebih pada Gilang!
"Oy cengeng! "
Lesya mendongkak dan melihat lelaki tegap seusianya yang berhasil mengalahkan 3 poin nilainya. Itu Elvan saat kecil! Elvan yang dahulu badboy dengan rambut acak-acakkan, baju dikeluarkan dan raut wajah datar duduk di samping Lesya dan mengejek tanpa dosa.
"Cengeng lo! Padahal beda 3 poin doang! Toh lo tetap megang piala kan? " ejeknya. Lesya melirik piala dan medalinya yang berada di sebelahnya. "Tetep aja gw kecewa! Kalau keluarga gw tau, bisa dipukulin gw nanti! " ketusnya.
Elvan geleng-geleng kepala. "Itu artinya keluarga lo sayang sama lo makanya keras gitu! Dia mau lo jadi orang yang tegar di masa depan! Bukan cupu kek gini! Cengeng lagi! " ejek Elvan lagi.
"Tau apa b*bi? Dia mirip kek lo! " ketus Lesya tak mau kalah. Elvan menjitak kening Lesya pelan. "Ngomong yang bener! Tadinya gw niat pacarin lo, dilihat dari mulut lo. . .Gw pertimbangan deh! "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗