
Akhirnya bu bunga melepaskan jewerannya dan menatap tajam kedua anak muridnya itu. "Kalian sekarang pilih ikut atau mau saya hukum keliling sekolah 25 kali hah?! " galak bu bunga memberi pilihan. Lesya dan Luna saling berpandangan saraya mengusap telinga mereka. "Ya milih jalur aman lah bu! Gimana sih, yoweess tak ikut! " kesal Luna mengambil satu pengki dan menarik Lesya yang masih diam di tempatnya.
Lesya hanya ikut saja tak lupa dia memeletkan lidahnya ke arah bu bunga hingga pastinya guru killer itu kesal sendiri dibuat Lesya. "Lesyaaa!! " geram bu bunga sedikit memekik. Lesya hanya terkikik kecil saja. "Iya-iya buuu! "
Bu bunga mendengus kesal dan kembali berpatroli mengawasi banyaknya siswa-siswi sekolah itu agar tak ada yang kabur ataupun melakukan hal yang aneh-aneh di area sekolah. Tunggu aneh? Baru saja di bilang aneh, pak Kevin datang dengan toa di tangannya seolah memberitahu bahwa sekolah itu memiliki box aneh yang dipastikan sangat asing.
"Tes satu dua TIGA! ANAK-ANAK SEMUANYA DIMOHON UNTUK DUDUK DIAM DI KELAS MASING-MASING! JANGAN RIBUT ATAUPUN PANIK OKE? KARENA TIM PENGAWASAN TANPA SENGAJA KETEMU BOX BERUKURAN SEDIKIT KECIL YANG DIISI BUBUK SABU DAN ADA JUGA BARANG PANJANG MERAH ENTAH APA ITU SAYA GAK TAU! DIMOHON KALIAN DUDUK DIAM JANGAN RIBUT DI KELAS MASING-MASING! BIAR PIHAK SEKOLAH YANG MENANGANI SEMUANYA! "
Sontak saja siswa-siswi itu berlari berhamburan ke arah kelas mereka yang sedikit jauh dengan halaman depan sekolah. Begitu juga dengan semua guru-guru yang ada. Dan yang tersisa hanyalah serakkan alat kebersihan dan beberapa orang termasuk Lesya dkk, letha dkk, Elvan dkk, pak Rio, pak Kevin, beberapa anak OSIS, dan terakhir Chatrin.
Lesya sontak saling berpandangan dengan luka. Mereka dengan cepat membanting sapu lidi atau pengki yang mereka pegang dan menggulungkan lengan panjang baju olahraga mereka hingga sesikut mereka. "Lets go! " ucap Lesya dibalas anggukan kepala Leon, Lisa dan Luna.
Semua yang ada di sana berjalan mendekat ke arah pak Kevin, pak Rio dan anggota OSIS yang berkumpul. "Ada apaan pak? Ada nark*ba kah? " tanya Lesya.
"Sok tau lo Sya! Eh, ini. . . Bom kan? " tanya Valen yang tak sengaja mengecek jika styrofoam merah itu berisi bom panjang merah. Pak Rio dan pak Kevin hanya terkejut bukan main mendengarnya. Bukan hanya mereka saja namun semua yang ada di sana termasuk Lesya dan Elvan. "Hah? Seriusan bom isinya? " tanya Lesya memastikan.
Valen mengangguk cepat. Sementara Ken mengambil alih bom yang dilapisi strerofoam merah itu dan membuka melihat waktunya. "Eiya bener, logonya es batu warna biru! Lah? Bukannya ini waktunya kan?! " delik
Spontan Chatrin dan Letha dkk melangkah menjauh mendengar kepastian jika memang benar isi kotak itu adalah bom. "Awas gays... Ada bom! " panik Nayla menjauh dan menutup telinganya.
__ADS_1
Luna berdecak malas mendengarnya. "Mending lo diem deh! Sekarang buang jauh-jauh ini bom! Jangan dibanting atau disentuh! Masukin balik ke kotaknya terus buangnya ditempat jauh-jauh yang sepi! " saran Luna diangguki oleh Valen.
"Waktu kita gak banyak! Frans, Leon sama Ken buang jauh-jauh bom ini di tempat yang sepi! Yang perempuan balik ke kelas dan pak Rio sama pak Kevin balik ke ruangannya aja! Umumin biar anak-anak lain gak keluar kelas! Sementara gw, Farel sama Valen bakal urus siapa pelakunya! " ucap Elvan membagi tugas.
"Ikutt! " ucap Lesya Elvan menghela nafasnya saja. Suara itu justru mengundang Luna dan Lisa yang ingin ikut terlibat dalam masalah ini. Mau tak mau, Elvan mengangguk menyetujui saja agar tak semakin panjang urusan perdebatannya nanti.
Dengan cepat Frans, Leon, dan Ken berlari pergi membawa barang itu yang sudah mereka tutup bungkus dengan box asalnya. Sementara kepala sekolah dan wakilnya berlari pergi ke ruangan mereka agar melindungi diri sekaligus menenangkan para siswa-siswi yang masih bingung ada apa di sekolah mereka.
"Aaaa.. Elvan, aku takutt! Gimana kalau nanti teman-teman kamu kehabisan waktu sesuai bom yang terpasang? " rengek Chatrin. Valen berdecak malas melihatnya. "Lo bisa diem gak?! Masih mending bukan lo yang disuruh buang itu kotak! Masih protes lagi lo?! " kesal Valen.
Chatrin mengerucutkan bibirnya. Tangannya ditarik oleh Letha agar tak mendekati area Elvan, Valen dan Farel tentunya. "Jangan deket-deket! " kesal Letha. Chatrin mendelik dan menepis kasar tangan Letha. "Suka-suka gw dong?! Lagian situ siapanya Elvan hah?! " balas Chatrin ikutan kesal.
Sementara Lesya mencari di sekelilingnya apakah ada jejak orang atau tidak. Luna? Dia tentunya menelepon Cakra yang pandai mencari informasi di markas LC. Lisa? Gadis itu juga menelepon Revan yang ahli pencari informasi di markas TW.
Lesya berbalik dan menatap Letha dkk yang masih bertengkar dengan Chatrin. "Lo berempat balik kelas sekarang! " tajam Lesya. Letha mendelik tak terima. "Enggak! Siapa lo ngatur-ngatur?! "
Tanpa ba-bi-bu lagi, Lesya menaikkan satu oktaf nadanya agar Letha mau menurut. "Sekarang gw bilang Tha! " Dengan terpaksa Letha menarik kedua temannya berlari kecil menuju kelas mereka. Tak terbiasa bagi Letha untuk melihat Lesya menaikkan nadanya begitu.
Chatrin yang melihat tatapan tajam Lesya mengarah padanya berdecak malas dan berjalan melangkah pergi menuju kelasnya. Setelah kepergian Letha dkk dan Chatrin, bunyi tembakkan melenggar di halaman sekolah itu. "Mencar! " tegas Elvan. Sontak mereka semua berpencar mencari asal sumber suara itu mengelilingi sekolah Gregus itu.
__ADS_1
Dari kejauhan Lesya melihat satu orang perempuan dengan jubah merahnya yang berlogo es biru di jubahnya. Ingat kan? Mata Lesya itu dapat melihat apapun dari jarak cukup jauh dan saat malam hari.
"KAK FELIII!! "
Sontak saja orang yang disebut sebagai ‘kak Feli’ oleh Lesya menoleh dan segera berlari kabur. Nama lengkapnya adalah Felicia Morn—seseorang yang dianggap kakak oleh Lesya. Dengan cepat Lesya ikut mengejar Felicia yang hendak kabur.
Srekk! Bugh!
Lesya yang sudah menangkap Felicia yang berlari menuju halaman depan sekolah justru mendapat pukulan dari Felicia. Tentu saja dia masih belum siap menerima serangan itu akhirnya mengenai pukulan Felicia hingga mundur beberapa langkah ke belakang. "Au! "
"Ini nih ceritanya pelakunya? "
Suara dari Valen mampu membuat Felicia terhenti di tempatnya. Niat hendak kabur terhenti karena Valen, Elvan, Lisa dan Luna sudah lebih dahulu berada di depannya. "Apa lo yang naro box tadi di sini? " tanya Luna.
Felicia masih diam tak menjawab. Selain kenal dengan Lesya, Felicia juga kenal dekat dengan Luna bagaikan kakak beradik. Namun sekarang beda cerita! Semua berubah begitu saja karena sikap Felicia sendiri yang berubah. Dan Felicia sadar akan hal itu! Dia memiliki satu alasan karena berubah yang entah apa itu.
"JAWAB GW KAK?! "
Felicia memejamkan matanya. Mulutnya sulit untuk bicara karena dia tak ingin menyakiti perasaan Luna. Dapat disebut jika Felicia memang benar-benar sayang dengan Luna. Sementara Luna sendiri, dia tak percaya jika hal ini karena ulah Felicia. Dia tahu jika Felicia tak ingin terlibat masalah gelap begini. Bagaimana Luna tahu? Tentu saja tahu! Felicia pernah diajak gabung oleh Lesya masuk ke dalam gangster Lion Claws namun dia menolak mentah-mentah tawaran Lesya dengan alasan jika Felicia takut memegang senjata ataupun menyerang orang lain secara langsung di tempat penyerangan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗