
Lesya terus mendesak agar menemani dirinya menghabiskan makanan sebanyak 2 kantong kresek hitam yang lumayan besar. Hingga akhirnya Elvan menghela nafas panjang, "Iya! "
"Gitu gek dari tadi! Nih" Lesya menyodorkan potongan pizza ke arah Elvan agar lelaki tersebut melahap nya.
Elvan yang melihat itu hanya tersenyum kecil di dalam hatinya. Sejak tadi, Lesya tak menyadari jika mereka berdua sangatlah akur. Berbeda dengan di sekolah!
Bahkan Lesya tak menyadari jika dirinya menyuapi Elvan makan. Sepertinya sikap bad girl Lesya hilang saat ini!
Setelah mereka selesai makan bersama dengan cemilan kecil, Lesya duduk di kursi balkon. Sementara Elvan masih sibuk dengan tugas-tugasnya.
Lesya tersenyum hangat menatap langit malam. Dia mengambil gitar yang tak jauh dari sana. Pintu balkon tertutup walau tak rapat.
Dengan lihainya, Lesya mulai memetik gitar. Dia tak menyanyi hanya saja memetik gitar menambahkan ketenangan dirinya saja.
Lesya memejamkan matanya dan menikmati alunan hasil dari petik kan gitarnya. Sementara Elvan yang sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya melirik arah balkon di mana Lesya masih asik memetik senar gitar.
Lesya tak menyadari kedatangan Elvan di balkon. Begitu juga dengan Elvan tak ingin menganggu waktu Lesya bersendiri. Hingga alunan gitar selesai, Lesya melirik Elvan yang menatapnya.
"Dari kapan lo di sini? " Terkejut? Jelas saja! Bahkan Elvan duduk dengan muka datarnya seraya menatapnya dari samping. "Gak lama" jujurnya.
Lesya mangut-mangut paham saja. "Bagus gak tadi? " Mendengar nada Lesya yang seperti pamer kepadanya, Elvan mengambil alih gitar. "Bagusan kalo lo nyanyi! "
Lesya menggeleng, "Suara gw fales ya! Lo mau malu-maluin gw hah?! " Elvan menutup kupingnya yang malas mendengar ocehan Lesya. "Coba dulu! "
__ADS_1
Melepas, jari Elvan perlahan memetik gitar hingga menghasilkan alunan musik yang tenang. Disusul Lesya yang menyanyikan 'Hanya Rindu' yang dipopulerkan oleh Andmesh Kamaleng itu.
Kerja sama kedua pasutri itu menghasilkan alunan musik dan nyanyian yang indah di bawah bulan sabit itu. Semilar angin menerpa wajah mereka dengan halus membuat siapapun yang merasakannya merasa tenang.
"Hati ini hanya rindu.. " Elvan mengakhiri lagu dan menatap Lesya yang kembali membuka mata. "Ups! Sebentar! " jeda Lesya.
Elvan menautkan kedua alisnya bingung. Lesya menatap aneh Elvan. "Sejak kapan kita akur? Bukannya musuhan ya?! "
Elvan menggedik-kan bahunya acuh. Gadis di sampingnya ini baru menyadari rupanya. Elvan langsung meletakkan gitar yang dia pegang di tempat semula. "Masuk di sini dingin! "
Lesya mengangguk pelan. Namun tangannya menahan tangan Elvan. "Bentar! Ya kali gw make baju tidur kek gini! Ada baju tidur gak yang pas gitu sama gw? "
Elvan mengangkat bahunya acuh. Namun sedetik dia menarik pergelangan tangan Lesya agar mengikutinya. Elvan melepaskan tarikkannya di saat mereka berada di walk in closet yang ada.
Mata Lesya yang sayu, kembali berbinar melihatnya. Dia dengan cepat menerima dan berjalan ke arah kamar mandi. "Jangan mandi! " ucap Elvan datar.
"Iyaa! " Tak butuh waktu yang mencapai satu menit, Lesya sudah keluar dengan pakaian tidur polos navy lelaki. "Muat? "
Lesya mengangguk, "Pas banget sama ukuran gw! Btw, baju siapa? " Elvan menunjuk dirinya sendiri sekilas menjawab pertanyaan Lesya.
Lesya mangut-mangut paham saja. Dia merebahkan dirinya di ranjang dan meletakkan 3 bantal guling di tengah sebagai perbatasan. Elvan yang melihat tak peduli saja.
Sekitar jam 11 malam mereka tertidur ditemani bulan sabit. Jendela balkon sudah tertutup erat-erat. Namun, entah mengapa kali ini tepat pukul 12 malam dia terbangun.
__ADS_1
Dia merasakan ketakutan sama seperti dirinya pertama kali dikejar oleh anj*ng. Tubuhnya sedikit bergetar namun hatinya merasakan kegelisahan yang mendalam.
Pikiran Lesya melayang memikirkan pria yang dia temui sekilas tadi siang. Di mana orang tersebut menghisap rokok di jembatan beton. "Not thingking him Sya! " gumam Lesya.
Setelah berkenala yang membuat dirinya pusing, Lesya akhirnya dapat kembali tertidur dengan lelap tanpa pikiran apapun di saat jam setengah satu.
~o0o~
Lesya tak berangkat sekolah paginya. Dia justru pamit akan pergi ke kediaman Grey saja. Dengan menggunakan baju yang sudah dipesan oleh Elvan tadi, Lesya keluar dengan gaya khasnya. Bad girl!
Rambut acak-acakkan, celana training hijau lumut dan kaos hitam membuat gaya tomboy Lesya terpancar. Elvan tak masalah akan itu karena Lesya tak akan bersekolah hari ini.
Toh juga dia seperti itu bukan? Di luar sekolah, dirinya tampil bagaikan bad boy. Sementara jabatan ketos di sekolah dia ambil karena permintaan Angga. Jika kalian ingin tahu, Elvan adalah seorang bad boy.
"Lo naek apa ke sono? Kan motor gw bawa! " Elvan menunjuk ke arah mobil navy yang baru saja tiba di depannya. Mereka berada di depan gedung apartemen saat ini.
Lesya mengangguk saja melihatnya. "Ya udah kalo gitu, gw pamit byee! " Lesya melajukan motor sport-nya menuju kediaman Grey.
Berbeda dengan Elvan langsung menancapkan gasnya menuju sekolah. Lesya tampak bersiul santai selama perjalanan. Dia tiba-tiba saja teringat dengan mimpinya semalam.
"Bod*lah! Dia juga gak anggap gw waktu itu bukan? " gumam nya menarik senyum sinis nya. "Heh! Sadar dia siapa lo! "
"Not hate him! Remamber?! " gumam nya lagi. Dengan pikiran bercamuk Lesya kembali ke kediaman Grey.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗