
Seorang gadis cantik sedari tadi hanya memperhatikan beberapa pelayan yang sedang sibuk membuatkan cemilan dan minuman untuk para tamu yang berada di ruang tamu. Dapur adalah tempat pembuatan dan pengolahan makanan mentah menjadi makanan jadi. Lesya bukannya tak ingin namun para pelayannya saja yang sudah gerak cepat sedari tadi membuatkan cemilan.
Tap..
Tap..
Tap..
Lesya menoleh karena melihat para pelayan yang bekerja langsung berpergian. Saat menoleh ke arah belakang, Lesya melotot tajam ke arah Elvan yang mengusir para pelayan dengan kode dari tangannya. Sekilas dia tertawa lucu karena bibir Elvan yang sedikit terdorong ke depan dengan rambut bak air mancur ditambah wajahnya yang sedikit kotor. Ya, itu ulahnya!
"Lo kan pelakunya? " tanya Elvan memastikan. Tatapannya kali ini mengintimidasi bukan seperti biasa.
Kalian tau kan? Lesya adalah anak yang baik dan jujur, tentu saja dia mengangguk polos tanpa beban. Elvan yang melihat hanya mendengus kesal saja dan berusaha menghapus noda spidol dari wajahnya. Dia juga sekarang sudah dalam posisi duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di dapur. Merasa sudah puas tertawa meledek Lesya beralih mengambil minyak kelapa yang ada dan menghampiri Elvan.
Dapur hanya diisi oleh kedua insan tersebut. Tak ada pelayan di sana. Namun jika mata-mata, sudah ada siap siaga di belakang tembok putih yang diisi oleh banyaknya remaja. Elvan juga sebenarnya menyadari keberadaan teman-temannya. Hanya saja dia masa bodoh sekarang.
"Mau ngapain? " tanya Elvan beralih menatap bingung Lesya. Gadis itu hanya mengangkat botol minyak kelapa yang dia ambil. "Bantuin bersihin lah, masa mau bikin kue! " jawab Lesya santai lalu mengangkat tangannya yang sudah diolesi minyak kelapa.
Tanpa bebannya Lesya hendak mengoleskan lagi ke wajah Elvan. Dengan sigap lelaki itu menahan dan mengambil alih posisi. Lesya dibuat bingung karena dirinya justru dituntun melangkah ke belakang dan berbalik untuk mencuci tangan di wastafel yang ada di sana.
"Lah kok di cuci sih Pann?! " kesal Lesya tak terima karena niat baiknya justru di pendam begitu saja oleh lelaki itu. Setelah selesai, dengan cepat Elvan menyentil kening Lesya pelan. "Ouch, " ringis Lesya pelan mengusap bekas sentilan Elvan.
"Gak mikir hm? Coba pikir kalau muka lo kena minyak gimana? " tanya Elvan menaikkan satu alisnya. Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Kedua tangannya masih basah dan dia tak peduli masalah itu. Kepalanya hanya menggeleng pelan saja menjawab pertanyaan Elvan.
"Ya ogah lah! " jawab Lesya ogahan.
"Yaudah, sama! " kata Elvan.
Lesya berdecak kesal. "Yaudah jadi ini ngilanginnya gimana dong? Mau lo bersihin sendiri hah? " tanya Lesya.
Elvan hanya memutar bola matanya malas. Dengan cepat lelaki itu merogoh satu pack tisu basah yang dia bawa sebelumnya di dalam saku celananya. Sebelumnya memang dia berpikir agar gadis di depannya tak memiliki alasan untuk kabur. Benar saja jika Lesya sekarang terdiam kaku sekarang ini.
"Gw gitu? " tanya Lesya menunjuk dirinya sendiri. Elvan mengangguk pelan tanpa beban dan kembali duduk di kursi yang ada. Dengan helaan nafas berat, gadis itu mengambil isi tisu dengan kasar. Mulutnya berkomat-kamit seolah menggerutu karena Elvan lebih dahulu mengetahui jika dirinya sudah menyusun siasat agar kabur sebelumnya.
__ADS_1
Berjalan menghampiri Elvan, tentu saja dengan berat hati dia membersihkan wajah lelaki itu hingga bersih. Bahkan tatapan Lesya yang fokus membersihkan wajah Elvan justru membuat para mata-mata yang ada di balik tembok iri. Tanpa mereka semua sadari, kepalan kuat dari salah satu mata-mata remaja itu sudah terbentuk kuat. Siapa lagi kalau bukan Letha? Elvan yang melirik ke arah para mata-mata secara diam-diam hanya mengukir senyum tipisnya saja.
"Dah, kelar! " kata Lesya menghela nafas.
Elvan hanya mengangguk dan mengambil ponselnya agar memastikan jika Lesya tak berbohong. Rupanya wajahnya sekarang sudah bersih. Tangan Elvan tiba-tiba saja memeluk pinggang Lesya. Tentu saja gadis itu terkejut dibuat Elvan.
"Eeh?! "
"Biarin gini! "
Lesya hanya terdiam saja. Posisinya yang berdiri dan Elvan yang duduk membuat dirinya merasakan kegelian di sekitar perutnya. Tentu saja merasa geli karena Elvan justru mendusel-duselkan kepalanya di perut rata gadis itu.
"Nanti kalau ada yang liat gimana? "
"Bagus kalau gitu! "
"Bagus dari mananya coba?! "
"Dari got, nanya mulu! Baguslah kita gak usah diem-dieman lagi pacarannya! " kata Elvan dengan nada bicara yang sedikit di keraskan. Tentu saja para mata-mata remaja no kerjaan itu menutup mulut mereka tak percaya. Berbeda dengan Lesya yang merasakan keanehan di sekitarnya. Bahkan dia juga merasa bingung karena Elvan diam-diam curi pandangan pada arah belakang dirinya.
Cup!
Sambaran kilat dari Elvan yang sedikit menarik tenguk leher Lesya membuat para mata-mata yang masih fokus memantau hampir pingsan. Untung saja iman mereka kuat jadi mereka hanya hampir mimisan saja. Berbeda jika Letha yang terkejut bahkan tak sadar jika satu tetes air dari pelupuk matanya turun bebas di pipinya. Dia berada di paling belakang jadi tak ada orang lain yang melihat keberadaannya selain Farel di sebelahnya dan Elvan yang memang sadar.
Plakk!
"Napas gw gebleg! " reflek Lesya.
Ctakk!
"Och! " ringis Lesya.
Lesya yang memang masih belum siap menerima dengan reflek memukul lengan Elvan. Sementara lelaki itu justru tak merasakan kesakitan padahal pukulan tangan Lesya lumayan keras. Dan anehnya Elvan balik menjitak bibir Lesya yang masih ada bekas salivanya. Lesya hanya meringis pelan saja dan mencebik kesal.
__ADS_1
"Omongannya! "
"Iya maap, kecoplosan! "
Masih dalam keadaan diamnya, Lesya melotot tak terima di saat Elvan mengambil ponselnya diam-diam. Yah, tangan lelaki itu sengaja mengambil ponsel Lesya karena dia tahu mungkin gadis ini mengambil fotonya. Saat dia membuka layar kunci Lesya, benar saja dugaannya. Menatap tajam Lesya, justru sang empu yang ditatap hanya membalas tatapan itu tak kalah tajam.
"Kata orang kalau pasang wallpaper handphonenya gambar orang, lo suka sama orang itu. Lo suka ya sama gw? " tanya Elvan menaikkan satu alisnya.
Gadis itu hanya diam dan menahan malunya. Tak terasa wajahnya memerah karena godaan Elvan itu. Dengan cepat dia menggeleng seolah membantah pertanyaan itu. Namun karena wajah Lesya yang memerah, Elvan semakin berniat gencar menggoda gadis itu.
"Enggaakk! I-itu cuman reflek doang ya karena kan lo mirip meong! Lagian ya gw suka sama lo? Idihh, geli gw! " bantah Lesya. Elvan mengangguk seolah menyetujui perkataan Lesya. Namun sedetik dia merangkul pinggang Lesya agar lebih dekat dengannya.
"Masa? "
Lesya mengangguk kecil. Wajahnya sengaja dia dekatkan di telinga Elvan seolah akan berbisik. "Bukannya kebalik ya kalau yang suka tuh elo duluan? " bisik Lesya tepat di telinga Elvan dengan sengaja. Lelaki itu hanya menggeleng dengan entengnya saja. Namun justru hal itu membuat mata Lesya melotot dan akhirnya menginjak kaki Elvan keras.
"Och! "
"Terus yang waktu di kemah rayain aniversary TW apaan dong?! Bullsh*t lo ya sama gw?! " kesal Lesya. Elvan terkekeh bahkan tanpa sadar mengukir senyum manisnya yang di mana membuat para mata-mata yang masih berjaga hampir pingsan. Eh, gak pingsan juga ya! Nanti gimana liatnya lagi kalau mereka pingsan? Wkwk, becanda ya gays...
"Eh enggak ya, kan gw emang gak suka sama lo tapi, je vous aime (aku cinta kamu) ! " kata Elvan mengoreksi. Lesya yang paham dalam artian bahasa itu sontak saja memukul lengan Elvan spontan. Dia juga bingung dari mana Elvan mendapatkan kata-kata itu. Elvan bukan blasteran Prancis dan mengapa bahasa Prancis yang terlontar cukup fasal? Harusnya dia bukan yang paham? Secara dia memiliki darah yang berasal dari Prancis. Bingung Lesya.
"Heh belajar dari mana lo?! " pelotot Lesya dengan wajahnya yang memerah kembali. Elvan menggedikkan bahunya tak tahu saja. Mereka menoleh secara bersamaan setelah mendengarkan suara familiar di telinga mereka. Bahkan saat ini posisi Elvan berdiri tepat di hadapan Lesya.
"Kalian semua ngapain? " tanya Mayang melihat gerombolan mata-mata di balik tembok putih. Mereka hanya menyengir saja dan melambaikan tangan mereka menyapa Mayang. Wanita itu juga beralih menatap Lesya dan Elvan yang terdiam.
Fix, mereka akan kena omel Lesya!
Gadis yang berada tepat di depan Elvan hanya mengerjap polos saja. Sedetik dia paham dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Elvan. Ayolah, dia malu sekarang. Dan bahkan Lesya juga paham sekarang jika para gerombolan mata-mata itu mendengar dan melihat semua interaksi dia dan Elvan kan.
"Aloo tante, kita tuh lagi ngintipin--- eh maksudnya lagi baris bikin kereta nih hehe.. " canggung Luna ngawur lalu memukul mulutnya yang hampir menyeplos. Mayang yang masih belum paham hanya mengangguk percaya saja walau ragu. Tentu saja setelah mendapat kode dari Leon agar kabur mereka semua berlari kecil meninggalkan tempat itu.
"Akh, tau dah! Kenapa gak bilang sih ada mereka di sini?! " kesal Lesya beralih menatap Elvan. Lelaki yang rambutnya masih bagaikan air mancur itu hanya mengerjapkan matanya polos dan mengembalikan ponsel Lesya kepada sang pemilik. "Kan lo gak nanya sama gw! " jawabnya dengan nada tak bersalah.
__ADS_1
"Bodo amat! " kesal Lesya lalu menghentakkan kakinya di kaki Elvan dengan sedikit keras. Lelaki itu hanya mengaduh sakit saja di bagian kakinya. Kali ini memang hentakan Lesya cukup membuat dirinya merespon sakit.
"Och! Ini yang salah gw atau mereka sih(mata-mata tadi) ? Perasaan gw gak salah deh. " gumam Elvan lirih bahkan hampir tak terdengar. Berbeda dengan Mayang, justru wanita itu hanya menahan tawanya saja dan mengantarkan cemilan yang ada ke ruang tamu tanpa mengasihani Elvan, anaknya sendiri.