Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
176: Jadian?


__ADS_3

Elvan menggeleng dan menyodorkan botol aqua kepada Lesya. Lesya menerima saja dan meneguknya setengah botol seraya mendengarkan ucapan Elvan. "Karena Tuhan mau kalo lo tegar menghadapi masalah lo sekarang! "


Lesya tersenyum kecil mendengarnya. "Gw heran! Lo kutub tapi kenapa bisa nasehatin gw panjang kali lebar sih? " tanya Lesya menatap wajah Elvan dari samping.


Elvan memutar bola matanya malas. "Karena gw manusia! " Lesya mengambil ponsel di sakunya dan mengarahkan kamera ke arah mereka berdua. "Sekali-kali kita foto! " kata Lesya.


Cekrek!


Cekrek!


Dua hasil jepretan membuat senyum Lesya kembali mengembang. Menampakkan ke arah Elvan, Lesya kesal dengan Elvan yang sama sekali tak berpose. "Kenapa? " tanya Elvan bingung.


"Bisa gak sih lo itu bergaya dikit gitu gek! Terserah gayanya apaan tapi bergaya gitu loh! " ucap Lesya kesal.


Elvan menggeleng lalu mengangguk. "Kayak gitu aja gw bergaya! " Memutar bola matanya malas, Lesya melotot di saat Elvan memberikan dirinya gelang besi di pergelangan manisnya. "Ha? Apaan nih? "


"Menurut lo? " tanya Elvan mengangkat satu alisnya. Lesya dengan polosnya menjawab. "Gelang besi! Tapi, apaan nih pake ada tombol, angka, dan jam! " bingung Lesya.


Elvan menunjuk ke arah satu tombol yang ada. "Kalo bahaya, tekan itu aja! " Lesya mengangguk dan menunjuk angka yang ada. "Kalo ini buat apaan? " tanya nya polos.


"Suhu tubuh! " Lesya kembali mengangguk dan menunjuk ke arah jam yang ada di sana. "Ini? Jam buat? " Elvan menautkan alisnya. "Biar gak make jam lagi! "


Memang gelang besi tersebut dibuat dengan satu tombol yang ada yang berfungsi panggilan darurat di saat keadaan genting. Di gelang tersebut juga terdapat jam agar tak ribet menggunakan jam kembali.


Jangan lupakan adanya angka yang berada di sana sebagai pengecek suhu tubuh. Hal tersebut dibuat khusus oleh Elvan untuk Lesya karena dirinya merasa keadaan saat ini sangatlah berbahaya.

__ADS_1


Lesya mengembangkan senyumnya sumigrah. Mengapa tak dari dulu dirinya membuat hal ini? Pikir Lesya. "Beh mantap nih! Siapa yang bikin? " Elvan menunjuk dirinya sendiri. "Lo? " tanya Lesya memastikan.


Elvan mengangguk. "Keren kan? " Lesya mengangguk malas harus mengakui jika memang sangat keren gelang tersebut. "Itu gak bisa dilepas! " ucap Elvan tiba-tiba.


Lesya melotot. "Kok gak bisa? Kalo gw mandi gimana? Kalo berenang juga gimana? " Mengangkat alisnya satu, Elvan dengan santainya menjawab. "Itu gelang bukan handphone! "


Lesya mendengus lega mendengarnya. Itu artinya dia tak perlu membayar ataupun berbalas budi jika suatu saat rusak ataupun hilang. Tiba-tiba saja dia melihat gelang yang sama dengannya bedanya dirinya memiliki sedikit butiran permata.


Elvan melihat arah pandang Lesya di pergelangan tangannya. "Oh ini? Gelang yang sama! " Lesya mengangguk-angguk paham saja. "Kok warna punya lo lebih ke perak sementara gw ada permata nya sedikit? " tanya Lesya.


Menatap arah sungai, Elvan mengukir sudut bibirnya tipis ke atas. "Karena lo permata dari peraknya itu! " Lesya terdiam kaku. Tak salah jika dia mendengar gombalan kuno dari Elvan? Pikirnya.


Lesya tersenyum kecil dan meneguk sedikit air aqua dari botol yang Elvan berikan. "Heleh! Paan si! Udah lo ngapain di sini? Ngintilin gw lo ya?! Ngaku lo! "


Elvan menautkan alisnya satu dan mengambil alih botol aqua dan menghabiskannya tanpa rasa jij*knya. Lesya melotot tak percaya. Sudah kesekian kalinya mereka tanpa langsung berc*uman di bibir mereka. "Kenapa? "


Lesya yang mendengar mengangguk kecil dan menatap kepergian Elvan. "Gw gak mau terlalu jauh berhubungan sama lo Pan! Gw gak mau kalau lo, bunda, kak Elen dan ayah harus menanggung beban amarah dendam Sakh! " gumam Lesya tak terdengar kecuali dirinya sendiri.


Menghembuskan nafas berat, Lesya berjongkok dan memungut sampah yang ada dan meletakkannya ke dalam tong besar. Karena waktu sudah berlalu sedikit lama, Lesya hampir selesai dengan hukumannya. "Hahh! Cape! "


Akhirnya selesai, Lesya terduduk di pinggir sungai dan melemparkan batu ke dalam sungai. Ricuhan murid datang mulai terdengar di telinga Lesya walau satu telinganya tertutup oleh alat kecil pemberian Luna.


Menoleh, Lesya seakan tak peduli dengan ricuhan siswa-siswi. Suara Luna yang sedikit kesal membuatnya menoleh ke arah sahabatnya itu yang menghampirinya. "Sya! "


"Ngapa lo? " tanya Lesya kembali melempar satu batu ke arah sungai. Luna mengerucutkan bibirnya manyun sejenak. "Kenapa gak bilang kalo lo yang dihukum sih tadi?! "

__ADS_1


Lesya mengangkat alisnya satu. "Buat apaan? Gak guna kalo gw bilang! Btw Leon mana? " tanya Lesya. Luna memutar bola matanya malas. "Pacaran sama Lisa! Udah jadian mereka barusan! "


Membulatkan mulutnya, Lesya tak percaya dengan ucapan Luna baru saja dia dengar. "Whatt?! Seriously?! Kapan? " tanyanya.


Luna mengerucutkan bibirnya manyun dan bercerita setelah berjongkok menyetarai Lesya. "Tadi tuh waktu lo pergi ke tempat persediaan makanan dan minuman di kemah sebelah barat, Leon narik si Lisa pergi dari sana! Karena penasaran, ya gw ikut dong! "


Flashback on


"Apaan sih lo pada! Gw Lesya ya! Zelyra Aleesya Michella Fyo! Gw tanya emang salah gw suka gitu? Hubungannya sama kalian apa? Lo juga Lisa bilang penyamaran gw gagal lagi! Ngajak bertumbuk? Bilang sini sama gw! Pilih tempat dan waktu! War kita! " kesal Lesya.


Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Ya aneh aja kali Sya! " Memutar bola matanya malas, Lesya meninggalkan mereka berniat mencari makanan. "Tauk dah! Gw mau makan laper bye! "


Menatap kepergian Lesya, Leon menarik tangan Lisa pergi dari sana menuju arah timur. "Eehh! Lah? Woy!! Tunggu gw woyy! Bangs*t! " ucap Luna menyusul kedua orang tersebut.


Setibanya di kemah timur yang tampak cukup sepi, Leon melepaskan tarikan nya dan mengalihkan pandangannya gugup. "Apaan si narik-narik?! " kesal Lisa.


"Em.. A-anu.. " Luna yang baru tiba, mengatur nafasnya agar kembali normal. "Hahhh! Kalian ngapain buru-buru amat sih?! Harusnya kalian tuh nungguin gw tauk!! " kesal Luna.


Leon tak menjawab. Dapat Luna perhatikan dari raut wajah Leon jika lelaki itu terlihat gugup. Bahkan tangannya terlihat bergetar. "A-anu!?.. Mungkin gw cowok yang sama sekali gak romantis tapi, gw sayang, gw cinta, gw suka sama lo Lis! So, will you be my girlfriend? "


Leon tak dapat mengontrol mimik wajah dan suaranya saat ini. Wajahnya berkeringat dingin dan suaranya sangatlah terburu-buru mengucapkan kata tadi hingga Lisa mengira jika Leon sedang menge-rap.


Bahkan tangannya yang terulur mengambil bunga mawar di belakang jaketnya terjatuh begitu saja saking gemetar nya. Saat hendak berjongkok mengambil bunga yang terjatuh, matanya melotot mendengarnya jawaban dari Lisa.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


>>><<<


Flashback or back to story? Like, like, like, like, like!! Komen, komen, komen, komen, komen!! Vote, vote, vote, vote, vote!! Gif, gif, gif, gif, gif!! Thank🖤


__ADS_2