Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
367: Rencana Kabur


__ADS_3

Di sisi lainnya Luna sedang asik duduk berjongkok di samping bocah lelaki yang tampan. Karena bosan terus-terusan hanya berdiam diri seraya mengamati pergerakan kedua sahabatnya, akhirnya Luna memilih berkenalan dengan Vay saja.


"Haii, nama kamu siapa ganteng? "


Vay yang merasa sedang dipanggil menoleh dan menatap datar Luna. Dia melihat Luna yang tiba-tiba mengulurkan tangannya seolah ingin berjabatan tangan. Merasa jika Luna adalah seseorang yang baik, akhirnya Vay menerima dengan tenang jabatan tangan Luna.


"Vayleen." jawabnya.


Luna menautkan alisnya bingung. "Cumen Vayleen aja nih namanya? Gak ada embel-embel nama lengkap gitu? " tanya Luna bingung. Vay yang kembali di tanya hanya menggeleng jujur saja. Memang benar, hanya Vayleen saja nama anak lelaki kecil itu. Itu nama dari sang mama sementara ayahnya—Revion bahkan tak mau menamainya satu kata atau huruf.


Luna yang melihat kesedihan tersirat di sorot mata Vay tak tega dibuatnya. Dengan senyum yang mengembang secara tulus dan tingkah kekanakannya, entah mengapa Luna ingin membuat Vay tersenyum. Dari sorot mata Vay, anak kecil itu tak menyimpan rasa dendam, benci ataupun jahat. Polos namun terlihat dewasa mandiri, tak seperti Vion dahulu.


"Okey... Oh iya by the way nama kakak Aluna Margaretha, panggil aja kak Luna oke! " ucap Luna antusias.


Luna yang menyadari jika jabatan mereka masih menyatu, dengan segera melepaskan jabatan mereka berdua. Vay yang mendengar hanya mengangguk pelan saja. Walaupun Luna tak memperkenalkan dirinya, Vay tetap tahu siapa remaja SMA di sampingnya. Sang mama—Felicia sering kali bercerita mengenai kisahnya dahulu jika mereka menghabiskan waktu bersama.


"Kalau kamu cuman Vayleen doang namanya, mau gak kakak tambahin namanya? " tanya Luna menawarkan. Vay tersentak mendengarnya. Enteng sekali Luna berbicara seolah tak adanya beban. Namun Vay hanya membalasnya dengan anggukan saja. Toh dia mau salah satu orang menambahkan nama lengkapnya.


"Eum, bentar kakak pikir dulu! Kalau diliat-liat kamu tuh ganteng, cakep, terus kayak punya jiwa pemimpin, wahh! Vayleen Sheixelle gimana? Keren kan namanya Vay? " tanya Luna yang justru meminta pendapat Vay. Sang pemilik nama hanya mengangguk antusias saja. Mereka saling bertepuk tangan dengan senyuman manis masing-masing mereka seolah sedang mendapatkan hadiah lotre.


"Vayleen Sheixelle, bagus kak! " antusias Vay tersenyum tanpa sadar. Akibat senyuman Vay yang tak disadari oleh empunya, justru membuat Luna yang bertepuk tangan melongo seketika. Ternyata Vay memiliki senyum yang manis walaupun tak tercetak lesung pipi.


"Baguslah, kan dari kakak pasti bagus-bagus semua! By the way, kenapa pelit sih bagi-bagi senyuman doang? Kan manisan gini, senyum." canda Luna yang tak mau suasana memudar. Vay hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Selama ini kakak punya dendam kah sama mama? " tanya Vay ragu. Luna sedikit kaget dengan pertanyaan lelaki kecil di sampingnya. Gadis itu berpikir sejenak lalu menggeleng jujur saja.


"Jujur ya Vay, jawabannya enggak! Cumen kakak masih gak nyangka aja kalau mama kamu dateng bawa dendam. Apalagi hubungan persaudaraan kita tuh dulu erat walaupun cuman beberapa bulan doang. Dan juga walaupun Lesya dulu susah banget dideketin, tapi kita fine-fine aja satu sama lain." ucap Luna menjawab.


"Bahkan sampai sekarang kakak inget banget kalau dulu tuh mama kamu masih punya satu permintaan sama kakak, walaupun kakak gak tau apa permintaan mama kamu nanti, tapi kakak pengen permintaan itu bisa nyembuhin hubungan kita yang retak! " lanjut Luna jujur.


Luna melihat ke arah depannya. Bayangan dimana Felicia dan dia membuat suatu janji terlintas. Saat itu Felicia meminta satu permintaan untuk Luna namun dia masih belum tahu apa permintaannya.


***

__ADS_1


"Gw masih punya satu permintaan lagi kan Lun? " ucap Felicia saat berusia 13 tahun pada Luna yang berusia 10 tahun. Mereka berdua berada di rooftop apartemen Lesya yang kosong. Lalu Lesya di mana? Dia sedang ke toilet dan mereka pergi dahulu berdua saja tanpa Lesya.


"Iya, emang kakak mau minta apa? Jangan yang aneh-aneh Luna gak mau kalau aneh-aneh! " malas Luna pasrah. Memang selama ini Felicia sering kali menjahili dirinya dengan permintaannya yang aneh.


"Hehe, iya gak aneh kok! Cumen nanti besar, kalau kita barengan, kakak mau minta satu permintaan yang selama ini kakak pengen! " cengir Felicia lalu serius beralih menatap jalanan malam yang ramai dipenuhi banyaknya kendaraan.


"Emang pengen apaan sih kak? " tanya Luna heran namun sedikit serius setelah melihat perubahan wajah Felicia yang serius. Sama-sama menatap jalanan ramai dengan tangan yang memegang pagar rooftop.


"Ada deh, tunggu besar nanti baru kakak tagih ya! " ucap Felicia dengan senyum manis yang selalu dia tampilkan. Luna hanya mengangguk paham saja.


"Oke, deal! Waktu kakak tagih perjanjian ini, Luna pastiin bakal Luna terima detik itu juga! " mantap Luna langsung menjawab. Felicia menautkan alisnya bingung. Padahal dia belum meminta namun sudah disetujui.


Mengukir senyum dengan tulus, Felicia beralih memeluk Luna yang dibalas oleh sang empu. "Serius nih ceritanya? Awww, love you dek.. " ucap Felicia girang.


"Love you kakk! Kakak tau gak selama papa pergi, baru kali ini Luna ngerasain sehangat ini! " balas Luna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya-iya kakak tau, udah seribu kali kamu ngomong begitu! " kekeh Felicia lalu mengusap punggung Luna dengan sayang.


"Dih, serius tauk kak! "


***


Luna tersenyum getir mengingatnya. Terlalu sakit. Felicia yang dia kenal saat ini bukanlah Felicia yang dahulu memberinya support. Felicia sekarang lebih banyak menciptakan luka besar di dalam dirinya. Tak hanya dia namun Lesya dan Cakra. Karena pada saat itu Leon dan Alam hanya sempat berkenalan sekilas dan hanya menghabiskan waktu beberapa hari saja dengan Felicia sebelum pergi.


"Kenapa kakak gak dendam? "


Pertanyaan Vay membuat Luna menoleh dan tersenyum lembut. "Karena kak Feli sendiri yang ukir satu warna di dalam hidup kakak! Warna itu yang selalu menguatkan kakak dan menyakinkan diri kakak untuk tetap setia menunggu perubahan mama kamu." jawab Luna.


Vay tersenyum tipis. Dia juga sama dengan Luna. Menunggu perubahan besar dalam kedua orang tuanya. Di dalam diri Luna, Vay merasa sebuah ketulusan tanpa dusta memancar. Ayolah, Vay tak bod*oh untuk sekedar membedakan baik dan jahat. Lingkungannya sedari lahir sudah jahat dan hingga kini masih tetap sama.


Vay hanya tetap setia mengikuti alur dan berusaha merubah semuanya. Dia baru tahu nama Aleesya dan Aluna setelah membaca dokumen sang papanya Vion yang terjatuh. Mendengar cerita sang mama yang pernah menyebutkan kedua nama itu membuat Vay merasa sebuah cahaya kecil menyinari dirinya.


Dan tujuannya tiba-tiba datang di kehidupan Luna dan Lesya adalah ingin bergabung untuk menyaksikan perubahan besar. Dan siapa sangka misi di dalam diri Vay berjalan tak mulus karena kekeras kepalaan papanya—Vion.

__ADS_1


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Di sebuah kediaman yang mewah sudah terisi beberapa orang di meja makan. Keluarga Grey sudah siap untuk pergi ke acara carnaval. Mereka semua sengaja ikut karena selain mereka pemilik sekolah, mereka juga ingin melihat perpindahan kekuasaan pemilik sekolah.


Stak-tak!


Suara dentingan sendok dan garpu terus beradu di sebuah ruang makan mewah milik keluarga Grey. Lesya, gadis itu duduk dengan pandangan mata yang tetap fokus mengarah ke makanannya tanpa oleng ke kanan atau kiri sedikitpun.


Kini baik Angga, Elena, dan Alam juga sudah tahu kondisinya yang tengah berbadan dua setelah mendengar penjelasan Mayang. Dia tak dapat mengelak karena di sini dia yang salah. Dia yang menyuruh Mayang menutupi masalahnya hingga wanita berhati malaikat itu terlibat dalam masalahnya.


Lesya juga sudah mendengar jika hubungan antara Elvan dengan Mayang sedikit berselisih dan itu karena nya. Memang harus Lesya akui jika kali ini dia salah dan bahkan sangat bersalah. Rasa kepercayaan pada setiap orang-orang di dekatnya sulit tumbuh walau sejenak. Untuk berbicara jujur mengenai dirinya tanpa ditanya sangat sulit dia rasakan.


Dia terlalu takut mengatakannya.


Ralat, lebih tepatnya tak ingin.


"Udah siap? Kalau gitu kita berangkat! " tanya Angga setelah acara sarapan selesai.


Mereka semua yang selesai sarapan hanya mengangguk kompak. Saat mereka mengambil persiapan sebelum berangkat sepenuhnya, Lesya di tarik sejenak oleh Elvan ke dalam kamar. Mayang dan Angga yang melihat hanya sedikit tersentak melihatnya, begitu juga dengan Alam dan Elena. Biasanya Elvan jika marah tak akan pernah melampiaskan kepada orang lain.


"Lepas Pan, sakit tau! Apaan sih lo asal narik-narik gw?! " kesal Lesya. Elvan tak menjawab. Setelah masuk ke kamar mereka, barulah Elvan melepaskan pegangan tangannya.


"Lo jangan ikut! " tegas Elvan.


"Dih? Gak mau lah, gw mau ikut ya ikut! Lagian gw udah janji sama tante Sella buat dateng ke karnaval! " balas Lesya menolak ucapan Elvan mentah-mentah.


"Gak usah, kalau lo ke sono yang ada ngerusuh! Jangan cape-capein diri, lo gak sendiri sekarang! " ucap Elvan.


"Jangan kabur atau lo nanti nyesel! " datar Elvan lalu berjalan keluar dengan mengunci pintu kamarnya dari luar agar Lesya tak kabur. Walau Elvan tahu jika Lesya tak akan tinggal diam. Pasti gadis itu memiliki banyak cara di benaknya agar ikut acara carnaval.


Lesya tersentak. Dia sedikit kesal juga bercampur kaget. Perkataan Elvan itu menyuruhnya diam menjaga janin yang dia kandung atau menyindir nya sebagai pembuat onar di sekolah? Lesya tak tahu namun dia sedikit tersentuh. Geli memang mengakui hadirnya 'anak' di kandungannya. Namun mau bagaimana lagi? Ini sudah jalan takdirnya yang begini dia hanya dapat menjalani saja.


Sejenak Lesya berpikir dan menampilkan senyum smirk nya karena memiliki ide di benaknya. Dia menolak mentah-mentah perintah Elvan padanya untuk tak keluar. Entah mengapa Lesya membuat sebuah rencana agar dapat ke carnaval bagaimana pun caranya. Jika tak datang sama saja dia mengabaikan kenangan masa SMA yang hanya tersisa 2 bulan lagi sebelum lulus.

__ADS_1


*Bukan Lesya namanya kalau gak bisa kabur! * batin Lesya ber smirk setelah mendengar suara dua mobil yang melaju meninggalkan perkarangan rumah. Pandangannya beralih pada satu benda. Jendela! Ya, mungkin dia akan turun dari jendela. Masa bod*h dengan peringatan Elvan nanti. Jangan khawatir mungkin dia hanya merasa lecet dikit! Tahu lah dia kan pro dalam hal turun dan manjat begini.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2