Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
436: ValLun married


__ADS_3

Episode 436: ValLun married


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Acara mewah kini digelar di taman hotel dengan tema outdoor alias di luar gedung. Papan dengan nama yang bertulisan Valen & Luna juga sudah terlihat jika hendak memasuki kawasan acara. Tak hanya teman kampus mereka yang diundang, angkatan sekolah mereka juga ikut diundang dalam acara tersebut. Katanya, mereka mau semua orang tahu status resmi mereka.


Lesya kini berssandaran seraya memotret penampilan sahabatnya dari atas hingga bawah. Luna lah yang memintanya untuk berfoto agar waktu yang berlangsung dapat dikenang dan Lesya menyetujuinya.


"Udah woy fotonya nanti aja dilanjut! sekarang gw tanya, lo gugup gak Lun?" tanya Lisa penasaran.


Luna menatap Lisa juga Lesya secara bergantian. "Gugup pake bangettt! Demi apa jantung gw gak bisa gw kendaliin, rasanya kayak-- kok bisa sih gw mau-mau aja nikah sama wakil ketua OSIS yang dulu selalu buat gw kesel juga terpesona di waktu bersamaan." dramatis Luna jujur dengan ocehannya.


"Terpesona? Berarti dari dulu lo suka dong?"


Luna terdiam dan menyengir saja mendengar pertanyaan Lisa. Gadis itu mengangguk pelan dengan raut wajah malu-malunya karena berhasil mengeluarkan unek-uneknya. Mulutnya memang tak bisa diajak kompromi. Pantas saja Lesya sering memperingatinya. Pikir Luna menyesal.


"Cuman sekedar kagum sih,"


"Ya ampun Luna, parah ya! Gak cerita-cerita lagi sama kita kalau lo suka, harusnya cerita biar gw juga bantu pendekatan lo sama Valen, jamal." ucap Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka seraya duduk di salah satu sofa yang ada.


"Hehe… kalian gak nanya lho, makanya gw gak kasih tau! Lagian, siapa sih yang gak suka kalau dia secara gak langsung masuk juga usik hidup gw, kan jadi baper sekarang." oceh Luna lagi dengan bibir yang mengeruncut manyun.


"Terserah lo!" final Lisa jengah.


"Lun, gw liat tadi Mama mukanya agak pucat cerah, kenapa lagi?" tanya Lesya serius seraya duduk di sebelah sahabatnya. Lesya juga sedikit cemas melihat raut wajah keletihan Henny walau tertutup senyum bahagianya.


Sang empu hanya terdiam sejenak dan menghela nafasnya kasar. Akhir ini, kesehatan wanita yang melahirkannya mulai menurun. Namun, saat dirinya hendak menikah, secara dadakan mulai kesehatan sang mama sedikit membaik.


"Gw takut Sya! Gw takut, Mama ikut nyusul Papa ke sana, bahkan gw takutnya demi liat gw bahagia, Mama nahan rasa sakitnya di acara ini. Awalnya gw minta Mama istirahat aja, gak usah desain baju pernikahan gw, gakusah ikut atur rencana dekorasi." curhat Luna dengan nada sendunya.


"Tapi, Mama justru bilang gini sama gw 'demi putri tunggal Mama yang cantik ini, masa Mama gak turun tangan buat ikut persiapan hari bahagia kamu? Mama mau putri Mama ini dapat yang terbaik juga punya kenangan berkesan di hidupnya.' terus gw denger begitu, gw gak tega, Sya. Gw t-takut Mama kenapa-napa." lanjut Luna membuat Lisa juga Lesya berpandangan.


Tes!


Dengan segera Lesya menghapus jejak tangis Luna dengan jari telunjuknya. Segera dia menempelkan jari telunjuknya pada Luna yang hendak menangis.


"Diam Lun, jangan nangis! Acara ini acara bahagia yang selama ini lo nantiin, Mama nantiin juga. Mungkin waktu Mama liat Valen, Mama ngerasa dia pantas buat damping anak tunggalnya ini. Kalau Mama bahagia juga rela nahan rasa sakitnya di acara lo ini, harusnya lo juga begitu, Luna." hibur Lesya.


"Tapi--

__ADS_1


"Setidaknya demi Mama yang mau liat anaknya bahagia, lo juga harus bisa bahagia di depan dia. Kabulin apa yang Mama mau, karena seharusnya di acara lo ini, jadiin Mama pondasi lo bahagia menjalani hidup baru sama Valen, bukan nangis gini." Lesya kembali menghibur Luna agar tak merusak moment bahagianya yang ada di depan mata.


"Sya, lo tau gak?"


"Apa?"


"Jadi gini, waktu kita ada di …


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Berbeda di ruangan mempelai perempuan, sementara di ruang mempelai lelaki kini para lelaki sedang bercanda gurau satu sama lain untuk menghilangkan rasa kegugupan mempelai lelaki di sana.


Bukannya berkurang, justru Valen merasa gugup sendiri dengan candaan juga godaan dari teman-temannya.


"Enak ya yang udah nikah, bisa ehem-ehem tanpa dosa." polos Ken dihadiahi toyoran yang lumayan keras dari Revan. Memang laknat ya isi pikiran Ken, hanya tau yang enaknya saja. Mohon jangan ditiru ya anak-anak!


"Otak lo kayaknya perlu di laundry ya, Ken." ujar Revan yang hanya dapat geleng-geleng kepala. Sang empu hanya dapat meringis seraya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal saja.


"Pak boss aja yang udah nikah belum tentu udah ehem-ehem sama Bu boss, ya gak Pak boss?" lanjut Revan bertanya pada Elvan hingga sang empu menoleh dan mengangguk-angguk pelan saja.


Para teman-teman Elvan menutup mulut mereka karena terkejut dengan pengakuan ketua mereka.


"Udah." jawab Elvan mengangguk.


"Maksudnya gimana sih? Udah liat tapi belom buat ponakan lucu buat kita?" polos Revan yang bingung sendiri dengan jawaban ketuanya yang tak selaras. Farel balik menginjak kaki Revan hingga sang empu meringis sakit.


"Kepo lo Rep!" sarkas Farel jengah.


"Tenggelem di kolam gara-gara pingsan."


"Oh gw paham! Waktu pingsan terus tenggelam di kolam, lo yang ganti gitu bajunya? Makanya lo udah liat ya 'kan? Yaelah Pak-pak, harusnya langsung terkam jangan kayak kelinci mulu!" ucap Revan dengan gampangnya dan dihadiahi pelototan tajam dari Elvan.


Revan hanya menutup mulutnya karena tersadar jika ucapannya salah hingga membuat singa mengamuk.


"Waktu begini, gugup gak Pak boss? Temen kita yang satu itu gugup amat keliatannya ya gak?" goda Ken mengalihkan pembicaraan.


Melihat wakil ketuanya—Valen yang tengah mengusap-usap kedua telapak tangannya tanpa menyahut membuat jiwa usil Ken meronta-ronta.


"Ganggu lo!" dengus Valen kesal.

__ADS_1


Ken hanya tertawa terbahak-bahak saja mendengarnya diikuti Farel, Frans juga Revan yang terkekeh. Berbeda dengan Elvan yang menggeleng dan menepuk-nepuk pundak Valen yang tampak gugup juga kesal digoda. Bahkan sepertinya sedikit keringat basah terlihat di pelipis sahabatnya sekaligus tangan kanan kepercayaannya itu.


"Tarik nafas terus buang, bentar lagi acara mau mulai, lap dulu noh keringet lo!" ucap Elvan seraya melempar tisu ke arah Valen. Sang empu hanya menerima dan mengusap pelipisnya yang basah. Sungguh, bolehkan Valen memutar jarum jam agar waktu berputar lebih cepat?


"Lo dulu gugup gak sih Pak?"


Elvan mengangguk jujur mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Valen. Tentu saja dahulu dia gugup, walaupun saat itu dalam keadaan terpaksa. Baginya, pernikahan adalah hal sakral yang wajib belaku seumur hidup, kecuali pasangannya sudah tiada, barulah dia mencari yang lain, jika ada.


"Tahan aja sih, kalau udah dibilang 'sah' nanti juga lega dengernya." ucap Elvan angkat suara membuat Valen menghela nafas dan mencoba tenang.


Kini mereka berenam mulai keluar karena memang acara sudah dimulai. Mengambil posisi masing-masing, kini mereka hanya menunggu pengantin perempuan menampakkan diri dengan para bridesmaid nya.


Kini setelah memanggil bridesmaid, Lisa datang menampakkan diri dengan gaya anggunnya dan mengkode yang lain jika yang mereka tunggu akan datang. Lisa juga duduk di kursinya bersama keluarganya yang kebetulan juga datang.


Valen hampir saja tersedak melihat betapa eloknya pujaan hati yang sebentar lagi akan menjadi 'istri sahnya', dia tak bermimpi bukan? Luna, dia merasa was-was ditatap demikian oleh Valen hingga tanpa sadar pipinya memerah tomat juga merasa gugup.


Bridesmaid Luna adalah sang mama--Henny juga sahabatnya—Lesya. Awalnya Lesya kaget dengan permintaan Luna yang meminta agar mendampinginya nanti. Namun, mendengar alasan Luna yang takut sang mama tak kuat, akhirnya mengiyakan.


"Blushing nya dipending dulu Lun,"


Luna ingin menangis mendengar ucapan Lesya yang begitu menusuknya. Untung Luna sudah bersabar, jadi dia tak perlu marah sini-sana karena Luna tahu jika sahabatnya akan meledeknya begini.


Berbeda dengan Henny yang menahan tawa melihat raut wajah sang putri yang hendak melepas masa lajangnya. Lesya segera berpamitan untuk kembali ke kursinya setelah menghantarkan Luna pada Valen. Selanjutnya biar Henny saja yang menangani pelaksanaan yang lain.


Setelah menitip pesan pada Valen agar menjaga putri sematawayangnya dengan baik, Henny juga ikut bergabung dengan kumpulan Lesya, Cakra, juga Alam yang sudah menunggunya di bagian paling depan altar.


Henny turut bahagia juga terharu melihat anak tunggalnya kini sudah resmi melepaskan status lajangnya dan sudah menjadi 'istri' orang. Sebagai sang ibu, sudah pasti Henny merasa kesepian, terlebih dia tak memiliki suami juga anak yang lainnya. Keluarganya hanya Luna, anaknya, tanpa keluarga besar.


"Mama jangan sedih, senyum dong ‘kan ini acara bahagia si Luna," hibur Cakra yang paham dengan kesedihan yang dirasa Henny. Dia juga sebatang kara dahulu, pasti paham dengan apa yang dirasakan oleh Henny saat ini.


Sang empu mengangguk dan mengusap sudut matanya yang basah. Perjuangannya menjaga, merawat, juga melindungi sang anak sudah usai, sudah ada Valen yang menggantikannya.


"Mama, denger Lesya ya, aku tau gimana rasanya, tapi percaya deh Luna pasti gak akan lupa sama Mamanya yang selalu rawat, jaga dan besarin dia sampai segini. Mama gak usah takut kesepian lagi yah, harusnya Mama senang ada Valen yang sekarang jadi anggota keluarga Mama, jadinya makin rame."


Henny hanya mengangguk dan memeluk Lesya saja. Benar sekarang dia tak boleh sedih, melainkan bahagia. Anaknya sudah menemukan kebahagiaan tersendiri, sebagai orang tua Henny juga merasa bahagia seharusnya.


Lagipula, anaknya yang 'bandel' sudah mendapatkan seseorang yang mengajarinya menjadi pribadi lebih baik lagi. Bahkan seseorang yang membela dan menjaga anaknya bertambah satu. Jika dahulu dia perlu bantuan Lesya atau Leon, sekarang bertambah kehadiran Valen yang cukup dia percayai.


>>><<<

__ADS_1


Bentar lagi kakak-kakak, sabar ya `^-^/


__ADS_2