
Letha dengan cepat meninggalkan tempat itu yang menurutnya sangat tak patut dihuni. Dia sedikit merinding dengan rooftop sekolah. Ini adalah pertama kakinya dia menapakkan kaki di rooftop.
Nayla menepuk pundak Amel seolah memberikan dukungan. "Sabar Mel! I know how you feeling now! " Amel tersenyum. "Thank! "
"Yok ke kantin! " Dua gadis itu pergi menyusul keberadaan Letha yang sudah jauh di sana.
Setelah rooftop sudah sepi tak berpenghuni, tiba-tiba saja sosok berjubah hitam keluar dari tempat persembunyiannya. "Letha udah besar ya! Dia persis dengan sikap mily! "
Orang tersebut tak sengaja menjatuhkan satu kertas di sana di saat dirinya mengeluarkan tangannya dari saku jubahnya. "Gw gak guna! Gw gak pernah nganggap mereka dulu! Hufft.. Semoga mereka akur! "
Sosok tersebut pergi dengan tergesa-gesa melalui tebing rooftop yang ada. Dirinya takut sewaktu-waktu ada orang yang mengetahui keberadaannya di sana.
Kembali kepada Lesya yang berada di kantin segera pergi menuju ruang guru karena pemberitahuan satu siswa padanya tadi. Setibanya di sana, Lesya dengan cepat duduk dan menatap bu Lina yang memanggilnya. "Kenapa bu? "
Bu Lina memijit pelipisnya melihat kedatangan Lesya. "Lah? Ngapa bu? " Bu Lina menyodorkan satu kertas yang berisi nilai Lesya yang pasti nya masih kosong semua. "Masih nanya? "
Lesya menggeleng malas. Sudah biasa baginya di saat guru memberinya kertas berisi nilainya yang selalu kosong. "Sekarang tinggal 5 bulan lagi kamu di sekolah ini! Kenapa semua tugas belum selesai? "
Lesya hanya diam melihat kuku-kuku panjangnya sekali-kali menyenye tak jelas dengan celotehan bu Lina yang melebihi bu bunga. "Kamu maunya apa sih Sya? Kamu mau saya kasih kamu guru privat? Atau orangtua kamu saya panggil hah? "
Lesya sama sekali tak menanggapi ucapan bu Lina itu. Geram, bu Lina justru menggebrak mejanya hingga guru di sana terkejut. "Lesya! "
Brakk!
"Wuu.. Emejing! " gumam Lesya. Bu bunga yang di sana merasa terganggu dan menghampiri bu Lina yang menatap marah Lesya. "Hey! Bisa tidak jangan menggebrak meja? Kalo meja rusak anda bisa ganti rugi sekalian di skors! "
Bu bunga memang tak suka dengan keberadaan bu Lina yang sikapnya selalu sombong. Begitu juga dengan bu Lina yang tak suka dengan bu bunga yang berlagak menjadi seorang pemimpin hanya karena suaminya, pak Rio adalah kepala sekolah di tempat kerjanya.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja. Namun bu Lina juga jatuh hati kepada sosok pak Rio yang memang tampan di matanya. Dia sedikit tak percaya dan sakit hati saat tahu jika pak Rio sudah berpawang.
"Sombong bener! Lagian situ siapa saya hah? Ngatur-ngatur gak jelas! " sinis bu Lina. Lesya hanya menyaksikan perdebatan antara guru di depannya ini.
Bu bunga yang saat ini memang sedang berisi, memudahkan dirinya emosi di masanya kali ini. "Saya? Heh! Saya mem--- hoekk! " Bu bunga langsung lari menuju toilet yang ada di sana meninggalkan bu Lina dengan Lesya.
"Wuu.. Ibuk, saya pamit ya! Gerah di sini! Byee" Lesya langsung lari terbirit-birit dari ruang guru meninggalkan bu Lina di sana yang terbakar api. Bahkan dia tak menyangka jika bu bunga sedang berisi anak pak Rio. Sksk, miris dia!
~o0o~
Lesya duduk di samping Luna yang menatap sinis ke arah Lisa. Begitu juga dengan Lisa yang menatap tajam ke arah Luna. Lesya yang tak tahu apa-apa melirik Leon yang berada di samping Lisa. "Mereka kenapa? " tanyanya tanpa suara.
Leon mengangkat bahunya acuh. Memang di saat dirinya balik setelah membawa pesanan mereka, Lisa dan Luna sudah bertengkar. "Gak tau! " jawabnya tanpa suara.
Di saat Leon ingin mengambil botol saus yang ada di samping Lisa, dengan cepat Luna mengambil nya dengan kasar. Leon menarik tangannya kembali merasa kikuk dengan kondisi sekarang. "Apa liat-liat?! "
Sontak Leon tersenyum penuh makna menerimanya. Luna dan Lisa menoleh dan tertawa melihat wajah Leon yang basah akibat ulah Lesya. "Uhuk! Maap Yon! Nih tisunya! "
Lesya dengan cepat memberikan tisu kering kepada Leon. Dan di saat dirinya ingin membersihkan wajah Leon, Leon merebut tisu tersebut. "Gak perlu gw aja! "
"Bwahaha.. Ngakak muka lo Yon! " Leon menatap ke arah dua gadis yang tadinya tajam berubah menjadi ceria. Berbeda dengan Lesya yang menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Sump*h gak ngapa-ngapa! Demi alex gw kagak ngapa-ngapa! "
Lesya membersihkan sudut bibirnya. Dia merasa bersalah terhadap Leon. "Maap Yon! " Leon yang membersihkan wajahnya yang basah mengangguk saja mendengarnya. "Iya! "
"Sini gw bantu! " Lisa merebut tisu dari tangan Leon dan mulai membersihkan wajah Leon dengan tisu. Leon tersenyum samar mendengarnya.
Luna yang melihat senyuman Leon sengaja berdiri dan berdehem kencang hingga satu kantin melirik ke arah mereka. "EKHEM!! MOHON MAAP HARGAI YANG JOMBLO NGAB-!! IYA KAN SYA? "
__ADS_1
Lesya mendelik dan berdiri seraya bersingkap di dada. "Kok bawa nama gw sih?! " Luna mengkode Lesya lewat matanya dan dipahami dengan baik oleh Lesya. "Btw BABAY LEON SEMOGA KENCANNYA BERHASIL! "
Luna dan Lesya pergi terbirit-birit meninggalkan mereka. Bahkan mereka sengaja mendorong Lisa agar memeluk Leon. Leon dengan sigap menahan Lisa agar tak jatuh.
Lisa menjadi bahan tontonan buat kaum jomblo di sana menunduk malu. Wajahnya sudah memerah bagai tomat. Dia melepas pelukkan nya dan menatap tak bersahabat kepada Lesya dan Luna yang masih ada di sana. "Sial*n! "
*"Gak rela udah berpawang! Inget temennya galak! "
"Mamak anakmu kok salting ya? "
"Tolong gw gak kuat! Ngapa gw yang baper mak?! "
"Devil sama Luna contoh temen yang setia nih! Nyatuin sahabatnya sendiri! "
"Jangan lupa traktirannya ditunggu! "*
Begitulah bisikan dari siswa-siswi yang membuat Lisa menunduk malu. Dia menggerutu tak jelas dengan ulah Lesya dan Luna yang sudah pergi.
Namun tidak dengan Leon yang justru mengembangkan senyumnya. Dia pasti akan berterima kasih kepada Lesya yang segaja mendorong Lisa kepadanya tadi.
Berbeda dengan Letha yang justru mencibir dengan ucapan orang yang menggoda Lisa. "Heleh! Caper banget sih?! " Nayla mengangguk. "Ganggu waktu makan kita gak sih? "
"Udah gak usah iri! Makan tinggal makan aja! " Letha berdecak malas. Dia tak terima jika Lesya mendukung Leon agar semangat menaklukkan hati Lisa sedangkan dia dengan Elvan saja tidak.
Mengingat betapa pilih kasihnya Lesya, membuat Letha tak berselera makan. Dia hanya mengaduk-aduk nasi lalu membuangnya di tempat sampah.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1