
Pegangan mereka sudah terlepas dan Lesya yang memimpin mengajak Luna agar lebih cepat. "Cepet Lun! Dibelakang lo noh! Aw! "
Puk! Cup!
Luna berhenti dan terdiam melihat pemandangan dimana Lesya yang tak terjatuh di dada bidang Elvan dan justru mencium pipi kiri Elvan.
Bukan hanya Luna namun anggota OSIS, bu Lina, teman-teman Elvan, Lisa, Leon, bahkan Letha dkk sama terkejutnya. Dengan cepat Lesya berdiri dan membersihkan bibirnya. "Huwwaaa! Bibir gw gak suci lagi! "
"Sya! " Lesya menoleh ke arah Luna yang memanggilnya dan mengangkat dagunya. Luna tak menjawab namun melirik Letha yang sudah mengeluarkan cairan bening di pipinya.
Lesya mengikuti arah pandang Luna seraya terus membersihkan bibirnya. Sementara Elvan sudah berdiri dan memasukkan satu tangannya ke sakunya menatap Lesya dan Letha bergantian.
Letha memang sudah keluar karena kondisinya yang sudah stabil. Namun dirinya harus memakai penyangga jika berjalan. Ditambah perban di kepalanya yang harus diganti setiap minggunya.
"Ar?" Letha berlalu begitu saja menarik Nayla agar menjauh dari Lesya. Amel mengikuti saja karena dirinya tak tahu harus memilih siapa.
Amel cukup dekat dengan Lesya dan juga Luna hingga menganggap mereka sahabatnya juga. Lesya mengejar Letha yang terus menjauh dengan bantuan kedua sahabatnya. "Ar tunggu! "
Lesya langsung menghadang Letha dkk karena larinya memang cukup cepat. Dengan susulan dari Luna, Luna juga tiba ditempat yang sama alias berada di belakang Letha.
"Apa? Kakak sengaja kan? Udah deh ngaku aja! Kasih sayang mami, papi, papa, kakek guru udah kakak rebut! Sekarang kakak sengaja kan? "
Lesya dengan cepat menggeleng. Dadanya sedikit sesak melihat pipi Letha yang sudah dibanjiri air mata. Dia merasa sedikit bersalah karena mengingkari janjinya kepada Arga untuk membuat Letha bahagia.
Lesya menghela nafas panjang, "Lo salah! Gw gak sengaja serius! " Letha dengan cepat mendorong Lesya agar tak menganggu nya.
Dungg!
Luna segera menghampiri Lesya yang terjatuh dan membantunya berdiri. Dia menatap marah ke arah Letha. "Heh! Kalo bukan karna Lesya lo juga gak bakal hi--- emmphh!"
Lesya segera membekap mulut Luna agar tak membocorkan rahasianya. "Redain emosi lo! " bisiknya.
Luna mengangguk dan menghirup banyak pasokan oksigen setelah mulutnya terlepas dari bekap-an Lesya. Letha menatap Luna seolah memandang remeh Luna. Lesya tak menyangka jika adiknya akan sama seperti tantenya, Mily!
__ADS_1
"Gak bakal apa? Gak usah sok tahu deh sama urusan gw! Gw gak peduli kalo lo sahabat kakak gw apa bukan paham lo! " sinis Letha.
Luna menyunggingkan senyum miring nya. "Heh! Gw juga sama! Mau lo adik Lesya atau bukan, gw gak akan diam kalo lo nyakitin dia paham lo?! "
Plakk!
Letha menatap kakaknya yang melindungi sahabatnya Luna dari tamparan nya. Luna terkejut bahkan menatap sudut bibir Lesya yang tak berdarah namun memerah. "BERANI LO?! "
Lesya menatap Luna agar tetap mengendalikan emosinya. Karena tak terima jika wajahnya disentuh bahkan ditampar, Lesya memberikan peringatan kepada Letha. "Inget ya Tha! Mau lo adik gw apa bukan, gw bakal ajar lo supaya gak salah jalan! "
Letha bercedih remeh. Dia sama sekali tak bersalah sudah menampar kakaknya itu. Bahkan dia yakin kakaknya itu akan tunduk dibawah kakinya nanti. "Harusnya lo yang lo ajarin! Karna lo salah jalan! "
Letha pergi dari sana dengan bantuan Nayla dan penyangga nya. Sementara Amel masih berdiam diri di sana. "Sya, gw ngerasa Letha itu udah berubah"
"Pa maksud? " Amel menghela nafasnya sebelum angkat bicara. "Dia akhir ini sering marah-marah tanpa sebab! Dia ngelampisi amarahnya ke gw dan Nayla"
"Gw minta maaf soal itu! Gw bakal ngomong tapi gak sekarang" Amel lagi-lagi menghela nafasnya. "Jujur gw bingung harus milih siapa! Lo atau Letha? Kalian berdua juga kan sahabat gw"
Lesya terdiam dan melirik Luna. Luna menatap Lesya dan beralih ke arah Amel. "Lo pilih Letha aja! Kita bisa temenan kok walau lo milih Letha. "
Lesya langsung menarik Luna agar meninggalkan tempat tersebut. Dia melihat sosok berjubah hitam melambaikan tangan kepadanya dan menyodorkan nya sebuah pisau.
Dia berhenti dan menatap datar sosok berjubah itu. Luna yang heran melihat arah pandang Lesya. Rupanya tak ada orang di sana hanya pohon rindang saja di sana. "Sya? Are you okey? "
"Hm, I'm okey! " Sosok tersebut sudah menghilang bertepatan dengan Luna yang mengikuti arah pandang Lesya tadi.
Mereka berjalan menuju rooftop karena bosan belajar di kelas. Bahkan Luna tertidur di sana sementara Lesya memandang langit biru dan memasang earphones di telinganya.
"Before i love u , na na na
I'm gonna leave you , na na na
before i someone what u leave behind
__ADS_1
i break u heart so u don't break mine
before i love u , na na na
ur gonna leave me , na na na"
Lesya menyanyi mengikuti irama musik ponselnya. Dia menatap langit sore seraya merebahkan dirinya di satu kursi yang ada.
"Before i love u , na na na
ur gonna leave me , na na na"
Lesya merenggangkan otot-otot nya dan tertidur bersama Luna di sana dengan musik dari ponselnya masih berbunyi di earphones milik nya. Selang beberapa menit kemudian anggota intim OSIS mencari keberadaan mereka berdua.
Tak hanya mereka namun ada Lisa, Leon, Amel yang ikut mencari kedua gadis tersebut di rooftop. Bu Lina menugaskan agar 1 tim mencari tim lainnya yang belum terkumpul jika menyerahkan tugas mereka.
"Mereka mana sih? " gerutu Lisa yang tak kunjung mendapat petunjuk. Lesya dan Luna memang tertidur di balik bangku yang mampu menutupi seluruh tubuh mereka berdua. "Biasa mereka ke sini kok gak ada ya? " bingung Leon.
Lesya merenggangkan ototnya mendengar suara bising di telinganya yang mengganggu tidurnya. Rambutnya sudah acak-acakkan tak teratur ditambah seragam kemejanya yang keluar.
Dia menatap langit biru di depannya itu dan mengikuti irama nyanyinya kembali. "Semoga dia rasakan yang sama.. Hu hu hu.. Yeah! Eum.. Yang sama! "
Mereka yang mendengar suara khas Lesya melirik sekitar. Bahkan Luna terbangun karena suara serak Lesya. "Hoam! Ngapa lo sya? Aneh gitu suara lo"
"Haus! Gak tau ngapa badan gw pegel dari tadi" Luna menyodorkan aqua botol kepada Lesya dan bertanya. "Lo semalem mabok? "
Lesya meneguk minuman dan mengangkat kedua bahunya acuh. "WOY KALIAN NGAPAIN DI SINI? " tanya Amel yang menghampiri kedua gadis tersebut.
"Tidur lah! Gw gadang kemaren! " Lesya membuang begitu saja satu botol aqua di tong sampah yang ada. Beruntung tepat sasaran membuat Lesya tak perlu membuang lagi.
Amel duduk di sebelah Luna dan menatap Lisa yang masih berdiri menikmati langit biru. "Ngapa lo? " Lisa menggeleng cepat. "Gw ke sini aja ya kalo bolos? Enak! "
"Nyeh! Ini tempat gw sama Lesya bolos! Kalo lo mau pilih tempat lain aja sono! " Lisa menatap sengit Luna. "Tempatnya bukan punya lo kan? Punya om gw! "
__ADS_1
Lesya malas menghadapi perdebatan yang unfaedah di depannya ini memilih menyandarkan tubuhnya di sofa dengan posisi yang masih duduk.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗